Cerita ini menceritakan seorang gadis yang mengalami peristiwa yang sangat tragis, karena kecelakaan yang dialami nya, dia harus duduk di kursi roda sebagai penyangga hidupnya, entah lelaki mana yang masih mau menerima nya sekarang, dokter mengatakan semuanya sementara, namun ini sudah hampir lima tahun da dirinya masih duduk di kursi roda. Entahlah, hidupnya mungkin akan berakhir seperti itu selamanya, namun di saat detik detik terakhir dalam hal terpuruk nya. Dia datang, seolah membawa harapan yang selama ini dia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MegaHerdian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Mungkin jika di hitung dari sekarang itu sudah sekitar sepuluh tahun yang lalu.
Sebuah rahasia besar terkubur bersama deru mesin mobil yang ringsek di pinggir jalan kota.
Malam itu, Teo menginjak gas mobilnya terlalu dalam. Kecepatan maksimal, adrenalin yang memuncak, dan kilatan lampu jalanan berakhir dengan dentuman keras. Di depan kap mobilnya, seorang gadis yang mungkin seumuran dengannya terhempas kuat.
Gadis itu adalah Layla.
Benturan hebat itu membuat Layla jatuh koma dan di vonis lumpuh, dari yang dia dengar lumpuh itu sementara tapi entah apa yang terjadi hingga delapan tahun ini Layla masih terduduk di kursi roda nya.
Namun alih alih mendekam di penjara, Teo tetap berjalan bebas di koridor sekolahnya,tetap menjadi cowok yang di agungkan dan di puja oleh gadis gadis yang sudah mengantri padanya.
Ayah Teo yang memiliki kekuasaan dan kekayaan bergerak dengan cepat dari balik layar saat kejadian itu terjadi, mencari pria malang yang mau menjadi tersangka pengganti demi bayaran besar yang akan di terimanya.
Di mata hukum dan publik kasus itu selesai. Teo bersih dari tuduhan, bahkan tidak ada yang tau seorang pun bahwa Teo pelakunya.
Namun rasa bersalah yang teramat aneh di rasakan Teo kian hari berubah menjadi obsesi yang aneh, saat Layla berbaring tak berdaya di rumah sakit dengan berbagai selang medis yang memenuhi tubuh gadis itu.
Teo mulai datang berkunjung, menutup wajahnya menggunakan masker saat dia datang berkunjung. Dia menyelinap ke ruang rawat Layla, sesekali menjenguk dengan dalih sebagai teman sekolah.
Di depan ibu Layla, Teo berakting sebagai remaja berhati emas, tak ada satu orang pun yang menaruh curiga bahwa pemuda tampan yang duduk di samping ranjang Layla adalah sosok yang telah menghancurkan hidup anaknya.
Teo menatap wajah Layla yang pucat saat koma. Sejak saat itu, pandangan matanya tidak pernah bisa lepas dari Layla.
Kunjungan formal di rumah sakit berubah menjadi kebiasaan yang gelap . Ketika Layla akhirnya terbangun dari koma dan harus menjalani hidup di atas kursi roda, Teo tidak berhenti, dia mulai mengikuti Layla kemana pun gadis itu pergi, walaupun dari jarak aman, atau dari kaca mobilnya dan terkadang Teo berjalan di seberang yang sama hanya untuk mengawasi gerak gerik Layla.
Sepuluh tahun telah berlalu, namun hukuman yang di buat Teo untuk diri nya sendiri belum selesai. Dia tetap menjadi bayangan yang melekat di hidup Layla, seorang pengintai yang mengatasnamakan rasa bersalah, menjaga korban yang dihancurkannya sendiri tanpa berani mengungkap kebenarannya.
Sepuluh tahun itu juga, bayangan Layla telah menjelma menjadi penjara tak kasat mata bagi Teo.
Anehnya, Teo terus mendekati Layla tanpa rasa bersalah sedikitpun. Hatinya seakan telah membatu atau mungkin ego dan statusnya sebagai pria yang diagungkan membuat hati nuraninya menjadi tumpul.
Teo merasa kebal dari dosa karena sanga Ayah yang telah membereskan segalanya, namun ada satu hal yang gagal di bereskan oleh kekayaan ayahnya sendiri yaitu pikiran Teo sendiri.
Teo di rundung kebingungan yang luar biasa dan menjadi pukulan telak pada dirinya sendiri, sekuat apapun, Teo menolak bahwa ini adalah karma. Teo tidak percaya akan hal itu, dirinya hanya berpikir dan percaya bahwa ini semua hanya lah perasaan bingung dan renta sementara.
Teo tau pasti bahwa dia sebenarnya tidak mencintai Layla. Tidak ada getaran asmara, tidak ada rasa kagum dan tidak ada keinginan untuk memiliki nya seperti pria pada umumnya.
Namun, wajah pucat Layla saat koma dan sosoknya yang kini duduk di kursi roda selalu terbayang bayang di benak Teo, entah itu siang dan malam, atau di sela-sela obrolan dengan teman temannya bahkan di dalam mimpinya sekalipun. Bayangan itu terus berputar di kepalanya tanpa henti.
Obsesi aneh ini perlahan membuat Teo ikut terjebak di dalam ruang yang sama bersama Layla.
Secara fisik Teo bebas melangkah kemana saja, mengendarai mobil mewah apa saja dan mendekati wanita mana saja sesuai dengan yang dia inginkan. Namun secara mental, jiwanya terkurung di dalam lingkaran hidup Layla yang sempit.
Setiap kali Teo mencoba pergi menjauh untuk menjalani hidupnya sendiri, tarikan tak kasat mata selalu menyeretnya kembali ke tempat Layla berada. Teo menjadi pengintai yang terikat pada korbannya sendiri dan mulai terperangkap dalam rutinitas memantau hidup gadis yang telah di hancurkan nya sendiri.
Kehidupan Teo seperti tidak bisa maju ke masa depan, seperti ada hal yang tertinggal saat dia mencoba melangkah dan melanjutkan hidupnya tanpa peduli pada hal apapun, bahkan dengan kekuasaan dan kepemilikannya, Teo bisa saja melakukan apapun dan pergi ke belahan dunia manapun yang dia inginkan, namun ikatan ini semakin mencekik dan menariknya ke lingkaran keputusasaan yang tidak ada ujungnya.
Pikiran yang terus menerus terjebak pada Layla membuat Teo merasa semakin sempit dan tercekik. Menggunakan ketampanan, pesona dan kekayaan nya di masa muda yang sanggup menjangkau puncak manapun, baik itu wanita tercantik, status sosial teratas, hingga kemewahan tanpa batas yang Teo memiliki, dia mulai memiliki kecanduan berganti ganti wanita, mencari yang tercantik dari yang tercantik lainnya.
Teo mencoba menenggelamkan dirinya dalam pelukan satu wanita ke wanita yang lain, melemparkan tubuhnya dan atensi nya pada siapa saja demi satu tujuan, yaitu menghapus nama dan wajah Layla dari kepalanya.
Namun semakin Teo melampiaskan emosi nya, rasa bersalah itu tak kunjung datang. Teo merasa tidak berdaya, nuraninya mungkin tidak menangis atau menyesali kecelakaan sepuluh tahun yang lalu, tetapi jiwanya menolak untuk melepaskan korban yang telah di hancurkan nya, terdengar egois tapi itu telah menjadi ketetapan mutlak yang sulit untuk di hindari.
Berganti wanita justru semakin memicu hasrat nafsu aneh yang ada di dalam dirinya sendiri. Nafsu itu bukan di dasari oleh cinta atau ketertarikan fisik yang sehat, melainkan sebuah dorongan gelap yang mendominasi, mengontrol, dan mencari sensasi kehancuran yang serupa dengan malam kecelakaan itu.
Setiap kali Teo bersama wanita lain, bayangan Layla yang pucat saat koma dan sosoknya yang kini tak berdaya di kursi roda justru semakin kuat memenuhi pikiran dan akal sehatnya yang mulai menyusun berbagai rencana licik yang tidak akan pernah di bayangkan oleh siapapun. Teo mungkin berdiri di puncak dunia, namun dia bertekuk lutut di hadapan bayangan seorang wanita yang lumpuh karena ulahnya sendiri.
Teo sendiri pun bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Apakah ini bentuk kutukan atau karma yang selama ini dia tidak percayai? Apakah obsesi aneh ini adalah wujud lain dari rasa bersalah yang bertopeng sebagai kegilaan?.
Teo tidak tau. Yang dia tau pasti hanyalah ruang di kepalanya sudah sepenuhnya disita oleh Layla, dan mungkin tidak ada satu wanita manapun yang bisa mengobati rasa aneh yang menggerogoti pikirannya sendiri.