Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 Di Atas Atap, Sebelum Matahari Terbenam
Senin sore pukul empat tiga puluh, Dimas berhenti di depan meja Lia dengan selembar kertas terlipat dan wajah yang sengaja terlalu datar.
"Titipan dari Pak Navin, Bu."
Lia menerimanya dengan curiga. Ia membuka lipatan itu dan membaca dua baris pendek dengan tulisan tangan yang tegas.
Atap gedung, pukul lima. Ada yang ingin saya sampaikan. — N.S.
"Soal kontrak?" tanyanya.
"Saya tidak dapat memberi tahu, Bu."
"Kenapa di atap?"
"Saya hanya kurir, Bu."
Dimas mengangguk kecil dan pergi. Lia menatap kertas itu, lalu menatap dinding kaca. Ruangan itu kosong. Kursi di balik meja kosong, dan hanya ada berkas-berkas yang tertata rapi.
Sejak Jumat malam, ia sudah berhasil menghindari pria itu dengan disiplin yang memalukan. Pagi hari ia melapor lewat pesan singkat. Siang hari ia makan di pantry, bukan di mejanya. Ia menyusun jadwal keluar-masuk lorong berdasarkan kapan lampu di ruangan kaca menyala. Dinda sudah dua kali bertanya kenapa ia berjalan seperti agen rahasia, dan Lia sudah dua kali menjawab bahwa ia sedang berolahraga.
Ia bahkan mengubah rute ke toilet, memutar lewat pantry, supaya tidak melewati dinding kaca. Ia tahu itu menyedihkan. Tapi ia tidak tahu bagaimana harus menatap wajah yang tadi malam hampir...
Berhenti, perintahnya pada diri sendiri.
Dinda memergokinya membaca kertas itu dan berbisik, "Kabar penting, ya?"
"Soal kontrak."
"Lia, tidak ada orang yang meminta bertemu di atap untuk soal kontrak."
"Kamu terlalu banyak menonton drama."
Pukul lima kurang tujuh menit, ia menaiki tangga darurat sampai pintu besi berkarat itu. Ia mendorongnya, dan angin sore menerpa wajahnya.
Dua botol air mineral kosong tergeletak di dekat pagar, dan di debu atap tergambar jejak sepatu yang bolak-balik, seperti jejak orang yang berlatih pidato yang tak pernah ia hafal. Langit Bandung berwarna jingga pucat, dengan garis-garis ungu tipis yang membelah awan. Di kejauhan, gunung-gunung berbaris seperti bayangan raksasa yang sedang tertidur. Atap gedung itu luas dan sepi, dan di ujungnya, dekat pagar pembatas, berdiri seseorang.
Navin membelakangi pintu. Ia tidak mengenakan jas. Lengan kemejanya digulung sampai siku, dan angin mengacak rambutnya sedikit. Ia berdiri dengan kedua tangan menggenggam pagar, seperti orang yang sedang menahan diri agar tidak terbang.
"Pak," panggil Lia.
Ia menoleh. Dan Lia terkesiap kecil, karena wajahnya berbeda. Tidak ada topeng dingin yang biasa. Yang ada hanya kegugupan, murni dan telanjang, seperti anak kecil yang berdiri di depan kelas untuk pertama kali.
"Kamu datang."
"Bapak minta saya datang."
"Ya. Saya minta." Ia menelan ludah. "Terima kasih."
Lia melangkah mendekat, berhenti dalam jarak yang aman. "Ada masalah dengan kontrak, Pak?"
"Bukan kontrak."
"Lalu?"
Navin membuka mulut, lalu menutupnya. Ia menarik napas, menghembuskannya, dan menatap lantai atap seolah jawabannya tertulis di sana.
"Saya tidak pandai dalam hal ini."
"Hal apa?"
"Mengatakan sesuatu yang tidak bisa dihitung."
Lia diam. Angin meniup helai rambut ke wajahnya, dan ia tidak menyingkirkannya.
"Sejak hari pertama saya melihat kamu di lobi," Navin mulai, suaranya pelan, sedikit bergetar, "kamu satu-satunya orang yang tidak menunduk. Semua orang lain menunduk. Kamu menatap lurus ke dinding di belakang saya, seolah saya bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Dan saya seharusnya marah. Tapi saya tidak marah."
Jantung Lia berdetak satu kali, keras.
"Saya tidak bisa berhenti memikirkanmu. Sejak hari itu. Sampai sekarang." Ia mengangkat mata, dan tatapan itu menembus semua pertahanan yang Lia susun sepanjang minggu. "Stabilo. Payung. Mesin kopi. Semua alasan konyol untuk memanggilmu ke ruangan saya. Itu bukan pekerjaan. Itu saya, tidak tahu cara lain untuk berada di dekatmu."
"Pak..."
"Saya juga ingin tahu hal-hal kecil. Film apa yang kamu suka. Kenapa kamu menyingkirkan kerupuk dari nasi. Kenapa kamu meminum kopi hitam seperti sedang menelan obat. Saya ingin tahu semuanya, dan saya tidak punya hak untuk bertanya." Ia menghela napas. "Tolong, biarkan saya selesai. Kalau tidak, saya tidak akan berani mengulanginya."
Lia terdiam.
"Saya menyukaimu, Ophelia." Suaranya nyaris hilang di tengah angin. "Tidak. Itu bukan kata yang benar. Saya jatuh cinta padamu. Saya tidak tahu kapan itu terjadi, tapi sekarang tidak ada bagian dari diri saya yang bisa menyangkalnya."
Dunia berhenti. Hatinya, yang selama ini ia jaga rapat-rapat, menerima kalimat itu seperti tanah kering menerima hujan pertama. Dan justru itu yang membuatnya takut.
Lia mendengar angin. Mendengar bunyi klakson yang jauh dari jalan raya. Mendengar detak jantungnya sendiri, yang kini terlalu cepat dan terlalu keras. Kata-kata itu terus bergema di dalam kepalanya seperti gema di dasar sumur: jatuh cinta padamu.
"Saya tidak minta kamu menjawab hari ini," lanjut Navin, cepat, seolah takut kehilangan keberanian di tengah jalan. "Saya tidak tahu apa yang layak saya harapkan. Tapi saya ingin kamu tahu. Saya ingin menjadi orang yang berdiri di sisimu. Bukan sebagai atasan. Bukan sebagai orang yang memberimu perintah. Hanya..." Ia menghembuskan napas gemetar. "Maukah kamu menjadi kekasihku?"
Sunyi.
Matahari mulai turun, dan cahaya jingga menyapu wajahnya. Lia melihat sisa-sisa keberanian yang rapuh di sana, seperti bangunan kaca yang berdiri di tepi jurang. Ia melihat tangan yang berpegangan pada pagar dengan buku jari memutih, dan bahu yang berusaha tetap tegak meski angin mendorongnya sedikit ke depan. Ia melihat mata yang tidak berkedip, menunggu. Ia melihat pria yang tak pernah meminta apa pun kepada siapa pun, kini berdiri seperti pengemis di depan pintu yang ia sendiri belum tahu sanggup dibuka.
Dan pada saat yang sama, sesuatu yang lain juga muncul di kepalanya, sesuatu yang tidak mau pergi bahkan ketika hatinya memohon agar pergi.
Ruangan Bu Retno. Kursi kulit. Suara dingin yang tenang berkata, tiga puluh satu tahun, belum menikah.
Senyum sopan yang ia paksakan. Jemari yang bergetar di gagang pintu. Tangga darurat yang dingin. Basti di telepon. Kalimat yang masih sesekali datang tengah malam, tanpa diundang.
Wajah Ibu melintas, yang tidak pernah menuntut apa pun, dan Ayah yang selalu menuangkan teh lebih dulu untuk istrinya. Ia menginginkan seseorang seperti itu. Bukan seseorang yang harus belajar lebih dulu bagaimana caranya tidak melukai.
Ia menatap pria di depannya. Pria yang baru saja mengucapkan hal-hal paling jujur yang pernah ia dengar dari seorang laki-laki. Pria yang memberinya payung. Yang menyampirkan jas di bahunya. Yang berkata saya di sini.
Dan pria yang sama, yang dua minggu lalu, menghancurkan sesuatu di dalam dirinya hanya dengan satu kalimat.
Lia menarik napas dalam-dalam, dan menutup mata sejenak. Ketika ia membukanya, ia tahu apa yang harus ia katakan.