Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Bunga Gugur di Musim Panas (Arc 2 End)
Agustus 1590. Tiga bulan penuh pengepungan yang menguras darah, kehormatan, dan kehendak hidup akhirnya bermuara pada satu titik tak terhindarkan.
Pagi itu, langit di atas Teluk Sagami tampak berwarna kelabu pucat, diselimuti awan tipis yang menahan teriknya matahari akhir musim panas. Bau amis darah, belerang, dan busuknya bangkai yang selama berminggu-minggu mengepul dari parit-parit luar Odawara perlahan disapu oleh angin laut yang dingin.
Dua ratus ribu prajurit klan Toyotomi dan sekutunya berbaris dalam keheningan yang menekan di sepanjang dataran Odawara. Panji-panji bernoda labu kuning milik Hideyoshi, daun aoi milik Ieyasu, hingga koin emas Rokumonsen milik klan Sanada berkibar kusam disapu angin. Tidak ada sorak-sorai kemenangan yang membahana; yang ada hanyalah ketegangan dingin dari perlawanan terakhir yang telah runtuh total.
KREEEKKK...
Suara kayu raksasa bergesek bergaung membelah keheningan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah unifikasi Jepang, Gerbang Utama Benteng Odawara—benteng terkuat yang pernah gagal ditembus oleh Uesugi Kenshin dan Takeda Shingen—terbuka perlahan dari dalam.
Dari balik kegelapan gerbang, sebuah rombongan kecil melangkah keluar.
Di barisan terdepan, Hojo Ujinori melangkah dengan pakaian duka polos, memegang bendera putih yang terikat pada sebatang bambu. Di belakangnya, melangkah sosok yang paling ditunggu oleh seluruh negeri: Hojo Ujimasa.
Mantan penguasa delapan provinsi Kanto itu berjalan tanpa mengenakan zirah perang indahnya. Ia hanya mengenakan kimono linen putih tipis yang kusam. Tubuhnya yang dulu tegap kini membungkuk parah, dadanya kempis akibat rasa lapar dan remuknya jiwa. Mata tua Ujimasa menatap lurus ke arah bukit Gunung Ishigaki—ke arah panggung kayu raksasa tempat Toyotomi Hideyoshi, Kuroda Kanbei, dan Tokugawa Ieyasu telah menunggu.
Di panggung utama Gunung Ishigaki, Toyotomi Hideyoshi duduk di atas tahta emas mewahnya, mengenakan jubah perang bersulamkan benang emas yang berkilau ditimpa sinar matahari. Di samping kirinya, Kuroda Kanbei berdiri menopang tubuh dengan tongkat kayunya, matanya yang dingin dan tajam menyapu setiap jengkal rombongan Hojo yang mendekat. Di sebelah kanan, Tokugawa Ieyasu duduk bersila dengan wajah tenang yang sukar diterjemahkan.
Ujimasa melangkah naik ke pelataran panggung, lalu merebahkan tubuhnya di atas lantai kayu yang dingin. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan dahinya menyentuh debu di depan kaki Hideyoshi.
"Hojo Ujimasa..." suara Hideyoshi meluncur nyaring, bergema melintasi ribuan prajurit di bawah panggung, "...tiga bulan kau mengurung dirimu di balik tembok batu ini, menantang kehendak Kaisar dan menghambat unifikasi tanah air. Apakah hari ini kau telah menyadari batas dari kesombongan klanmu?"
Ujimasa tidak mengangkat kepalanya. Suaranya meluncur parau dari tenggorokan yang kering dan pecah-pecah.
"Hamba... Hojo Ujimasa... mengakui kekalahan mutlak di hadapan Tuan Kampaku," ucap Ujimasa dengan nada pasrah yang meremukkan dada. "Tembok Odawara tidak diruntuhkan oleh pedang atau panah, melainkan oleh kebijaksanaan dan taktik agung Anda. Hamba tidak lagi memohon keselamatan bagi diri hamba sendiri..."
Ujimasa menegakkan tubuhnya sedikit, menatap lurus ke mata Hideyoshi dengan sisa-sisa martabat terakhir dari klan tua Kanto.
"...hamba hanya memohon satu hal dari Anda, Tuan Kampaku. Ampunilah nyawa puluhan ribu rakyat, prajurit, dan anak cucu klan Hojo di dalam benteng ini. Biarkan seluruh dosa dan kesalahan perang ini dibayar penuh oleh darah hamba seorang."
Atmosfer di panggung utama membeku. Kuroda Kanbei melangkah maju satu tapak, menancapkan tongkat kayunya.
"Syarat penyerahan diri telah ditentukan, Ujimasa-dono," terang Kanbei dingin tanpa emosi. "Tuan Kampaku menerima penyerahan Benteng Odawara. Seluruh prajurit dan rakyat di dalam benteng akan dijamin keselamatannya. Namun... demi menegakkan hukum istana dan memastikan tidak ada lagi benih pemberontakan di Kanto, kau dan adikmu, Ujiteru, diwajibkan melakukan seppuku sore ini juga."
Ujimasa memejamkan matanya rapat-rapat. Sebuah senyuman pahit yang tipis terukir di bibirnya. Persyaratan itu adalah persis seperti yang telah diperkirakannya.
"Hamba... menerima keputusan ini dengan penuh kelapangan dada," jawab Ujimasa membungkuk sekali lagi.
Matahari mulai meluncur ke arah barat, membiaskan warna merah darah di atas langit Teluk Sagami.
Di pelataran taman dalam sebuah kuil kecil di kaki Gunung Ishigaki, sebuah tikar jerami putih telah dibentangkan di atas rumput hijau. Di sekeliling taman, belasan komandan tertinggi dari kedua belah pihak berkumpul dalam keheningan ritual yang sakral. Sanada Nobushige dan Date Masamune berdiri di barisan belakang, menatap peristiwa bersejarah itu dengan tatapan mata yang dipenuhi emosi mendalam.
Hojo Ujimasa duduk bersila di atas tikar putih tersebut. Di hadapannya, terhampar sebilah belati sanjo bertangkai kayu yang dibalut kain putih bersih, serta selembar kertas washi dan kuas untuk menulis puisi kematian.
Ujimasa mengambil kuas bulunya, mencelupkannya ke dalam wadah tinta hitam, lalu mengukir bait-bait terakhir kehidupannya dengan jemari yang tenang tanpa gemetar:
Bagaikan embun pagi yang memudar disapu angin sore, Begitulah kehidupan manusia di dunia yang fana. Awan musim panas di Kanto kini telah berlalu, Meninggalkan nama klan Hojo di dalam keheningan bulan.
Ujimasa meletakkan kuasnya. Ia membuka bagian depan kimono putihnya, memperlihatkan perutnya yang kurus. Dengan gerakan yang penuh martabat, ia mengambil belati sanjo di depannya, melepas balutan kain putih, dan mengarahkan ujung bilah besi yang tajam itu tepat ke sisi kiri perutnya.
Ia mendongak sejenak, menatap langit Kanto yang kian memerah untuk terakhir kalinya dalam hidupnya.
"Semoga tanah Kanto menemukan kedamaian..." bisik Ujimasa lirih.
SRAK!
Bilah besi itu menderita menusuk dalam ke dalam perutnya. Tanpa meringis atau melontarkan jeritan sedikit pun, Ujimasa menarik belati itu secara mendatar ke arah kanan dengan tekad besi yang luar biasa.
Di belakangnya, sang kaishakunin mengangkat katana panjangnya yang telah terhunus. Kilatan besi perak menyambar membelah udara sore—
SRAATTT!
Kepala Hojo Ujimasa terpisah dari badannya, jatuh menggelinding di atas tikar putih. Darah segar menyemprot membasahi rumput taman.
Kekuasaan lima generasi klan Hojo—penguasa legendaris yang mendominasi wilayah Kanto selama hampir satu abad—resmi berakhir pada sore hari itu di Odawara.
Di panggung Gunung Ishigaki, Hideyoshi berdiri menatap ke arah Benteng Odawara yang kini telah dikibarkan panji-panji perang klan Toyotomi. Raksasa Kanto telah runtuh, dan unifikasi tanah Jepang di bawah telapak kakinya kini telah sempurna secara mutlak.
Hideyoshi berpaling menatap Tokugawa Ieyasu yang berdiri di sampingnya.
"Perang telah usai, Ieyasu-dono," ujar Hideyoshi dengan senyuman lebar yang memancarkan kekuasaan tanpa batas. "Dan sesuai dengan janji kita... seluruh delapan provinsi Kanto ini, termasuk bekas wilayah klan Hojo, kini resmi menjadi milik klan Tokugawa."
Ieyasu membungkuk dalam-dalam dengan penuh rasa hormat. "Klan Tokugawa menjunjung tinggi kemurahan hati Tuan Kampaku."
Namun di balik lambaian rasa hormat itu, mata Ieyasu memancarkan kilatan kalkulasi yang teramat jauh ke depan. Hideyoshi percaya bahwa dengan memindahkan Ieyasu dari Mikawa ke tanah Kanto yang baru hancur oleh perang, ia sedang mengasingkan sang serigala jauh dari pusat kekuasaan di Kyoto.
Hideyoshi tidak sadar bahwa di atas reruntuhan Odawara inilah, Ieyasu akan membangun pondasi bagi sebuah benteng kekuasaan baru yang kelak akan menelan seluruh warisan klan Toyotomi menjadi abu.
***
Jauh di sebelah barat, di dalam kesunyian suci Gunung Kurama, Mumei kecil membuka matanya dari meditasi subuh, merasakan getaran raksasa dari timur yang menandai berakhirnya sebuah zaman kuno dan dimulainya takdir baru bagi seluruh tanah Jepang.
"Guru... bunga-bunga sakura di Kurama mendadak berguguran."
Suara Mumei meluncur halus bagaikan getaran dawai koto di dalam aula pertapaan Gunung Kurama yang sunyi. Anak perempuan itu masih bersila di atas batu meditasi pelataran timur, namun tatapannya kini terangkat penuh keheranan menatap kanopi pepohonan di sekelilingnya.
Padahal Agustus baru saja menapakkan kakinya di pertengahan musim panas. Udara siang harusnya diselimuti terik matahari yang menyengat dan derik jangkrik yang tak henti. Namun di puncak gunung suci itu, sebuah keajaiban gaib tengah terjadi. Dahan-dahan pohon sakura tua yang seharusnya lebat oleh daun hijau mendadak merekah memuntahkan ribuan kelopak bunga berwarna merah muda pucat—lalu gugur serentak seketika, seolah-olah waktu telah dilompati secara paksa menuju puncak musim semi yang dingin.
BZZZT...
Pendaran cahaya keunguan di mata kanan Mumei berdenyut semakin terang, memantulkan bayangan ribuan helai kelopak yang melayang-layang lembut mengitari tubuh mungilnya.
Biksu Tenkai yang duduk di hadapannya perlahan membuka mata, memperhatikan tarian kelopak bunga yang aneh tersebut. Tasbih kayu hitam di tangannya melambat.
"Bunga yang gugur di luar musimnya tidak pernah membawa pesan yang biasa, Mumei," puji Tenkai pelan, suaranya dipenuhi beban keharusan zaman. "Di timur sana... di tanah Sagami yang jauh, jiwa seorang raja tua baru saja terlepas dari raga. Klan Hojo di Odawara telah runtuh, dan keagungan lima generasi Kanto kini resmi menjadi debu."
Mumei menundukkan kepalanya sejenak, mengamati sehelai kelopak sakura yang jatuh tepat di atas telapak tangannya yang mungil.
"Raja tua itu... telah mati?" gumam Mumei pelan. "Lalu mengapa bunga-bunga ini berguguran ke arah yang berbeda?"
Tiba-tiba, embusan angin gunung yang teramat dingin meletus dari puncak Kurama. Angin itu bukan meniup kelopak-kelopak sakura menuju ke arah timur tempat abu Odawara mengepul, melainkan berputar deras, membawa ribuan kelopak berwarna merah muda itu melayang tinggi ke angkasa, lalu terlempar deras menyusuri garis pegunungan menuju ke arah barat.
Menuju wilayah Mimasaka. Menuju melintasi pulau Kyushu.
Tenkai menengadah, matanya yang tua menatap sapuan angin kebaratan itu dengan pandangan yang dalam dan penuh rahasia.
"Darah yang tumpah di Odawara menandai berakhirnya panggung para penguasa tua," bisik Tenkai, suaranya bagaikan gaung lonceng perunggu yang bergema di dasar lembah. "Tetapi gugurnya bunga-bunga ini menuju barat adalah pertanda dari alam... bahwa angin zaman sedang membawa kesadaran baru menuju jiwa-jiwa muda yang akan mengguncang masa depan."
Embusan angin dari Kurama melaju kencang membelah langit malam Jepang. Kelopak-kelopak sakura gaib itu melayang menembus awan, melintasi wilayah Kansai yang mulai tenang, menyapu perbukitan terjal Mimasaka tempat Bennosuke kecil sedang tertidur lelap memeluk pedang kayunya di bawah naungan pohon persik—sebelum akhirnya terbang jauh melintasi Laut Dalam Seto menuju tanah Kyushu di ujung barat.
Satu zaman telah mati di tanah timur Odawara, namun benih-benih takdir dari Kurama dan Mimasaka kini telah sepenuhnya ditebarkan oleh angin barat, siap bertumbuh menyongsong badai besar berikutnya yang akan melanda seluruh tanah Jepang.