Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17
****
Angin sore berembus pelan menyapu halaman belakang kediaman megah keluarga Wiliam di kawasan elite Jakarta. Gemericik air kolam renang berukuran olympic beradu lembut dengan suara dedaunan rimbun yang menaungi teras marmer. Di sana, duduk Clara seorang diri di atas kursi rotan mahal, memangku kedua kakinya seraya menatap kosong ke arah kilau air yang memantulkan warna jingga keemasan langit sore.
Rumah empat lantai bertema klasik modern ini selalu terasa terlalu luas dan dingin bagi Clara. Meskipun seluruh fasilitas kemewahan, pengawal berseragam, dan puluhan pelayan siap melayaninya dua puluh empat jam, kehampaan itu tak pernah benar-benar pergi dari dadanya.
BZZZ. BZZZ.
Ponsel di atas meja kaca bergetar nyaring, memecah keheningan teras. Clara melirik layar tanpa minat, mengira itu adalah pemberitahuan media sosial atau grup obrolan kuliah. Namun saat matanya membaca deretan digit nomor luar negeri yang amat familier, tubuhnya seketika menegak kaku.
Jantung Clara berdetak tak beraturan. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Setelah tiga tahun berlalu tanpa kabar—sejak wanita itu melangkahkan kaki keluar dari rumah ini membawa seluruh koper mewahnya dan meninggalkan dirinya serta sang ayah demi pria lain—nomor itu kembali berkedip di layar.
Mami.
Dua belas detik berlalu dalam keraguan yang membakar dada. Dengan jemari yang gemetar hebat, Clara akhirnya menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"H-halo...?" bisik Clara serak.
"Clara...? Ini Mami, Sayang..." suara wanita di ujung telepon terdengar amat lembut, bernada gundah dan penuh keharuan. "Apakah ini benar nomor anak Mami, Clara?"
Clara meremas pinggiran kursi rotannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa benci, amarah, dan pengkhianatan masa lalu mendadak meledak di dalam dadanya, beradu tajam dengan gumpalan kerinduan mendalam akan sosok seorang ibu yang telah lama hilang.
"Mau apa Mami meneleponku lagi?" jawab Clara dingin, menahan getaran di suaranya. "Bukannya Mami sudah bahagia di Eropa bersama pria pilihan Mami itu? Kenapa baru ingat punya anak sekarang?"
Di ujung sana, terdengar desah napas berat dan isak tangis yang tertahan. "Maafkan Mami, Clara... Mami tahu Mami salah. Mami sangat menyesal telah meninggalkan kamu dan Papamu... Mami begitu buta dan bodoh saat itu..."
"Penyesalan Mami sudah terlambat!" potong Clara dengan nada naik satu oktav, air mata emosi mulai menggenang di pelupuk matanya. "Mami tahu bagaimana hancurnya aku saat Mami pergi?! Mami tahu bagaimana Papa bekerja siang dan malam tanpa henti hanya untuk memastikan rumah ini tidak makin terasa sepi?! Mami tidak ada di sini saat aku butuh Mami!"
"Mami tahu, Sayang... Mami sangat tahu Mami berdosa pada kalian," sahut ibunya dengan suara memelas, memohon ampun. "Tetapi Mami sudah menyelesaikan semuanya di sini. Mami sudah berpisah dengannya. Mami menyadari bahwa tempat Mami hanya di sisi kamu dan Papamu... Mami ingin pulang ke Jakarta, Clara. Mami ingin kita berkumpul lagi sebagai keluarga utuh seperti dulu."
DEG.
Kata-kata itu menghantam dada Clara dengan telak. Kembali membina keluarga...?
"Mami... Mami bicara apa sih?!" bisik Clara membelalak.
"Mami serius, Clara. Mami ingin bicara dengan Papamu. Mami ingin kita bicara bertiga. Mami yakin Wiliam masih memiliki perasaan untuk Mami... Pintu rumah itu selalu terbuka untuk Mami kan, Sayang? Mami sangat merindukan kalian..."
"Papa tidak akan pernah mau menerima Mami lagi!" seru Clara panik bercampur kebingungan luar biasa. "Papa sudah berubah, Mi! Papa sangat dingin dan kaku sekarang!"
"Tidak, Mami kenal Papamu. Wiliam adalah pria yang sangat bertanggung jawab. Dia pasti mau mendengarkan Mami demi kamu, Clara," desak sang ibu mantap. "Tolong bantu Mami ya, Sayang? Biarkan Mami memperbaiki semuanya..."
Sambungan telepon itu akhirnya terputus setelah ibunya berjanji akan terbang ke Jakarta dalam waktu dekat.
Clara menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, membiarkan air matanya menetes membasahi pipi. Dadanya terasa begitu sesak, terhimpit oleh dilema emosional yang teramat berat. Di satu sisi, bagian terdalam dari jiwanya—seorang anak perempuan yang merindukan kehangatan keluarga yang utuh—sangat mendambakan kehadiran ibunya kembali. Ia ingin rumah dingin ini bernyawa lagi. Namun di sisi lain, rasa sakit akibat penelantaran masa lalu dan rasa tak tega pada sang ayah yang telah berjuang sendirian membuat hatinya ragu setengah mati.
"Aku harus bicara dengan Lyn..." gumam Clara terbata-bata.
Dalam kondisi mental yang tertekan dan rapuh, hanya sosok Evelyn—sahabat terbaiknya, tempat ia selalu berbagi duka dan rahasia—yang ingin ia temui. Clara butuh pelukan Lyn, butuh sudut pandang sahabatnya untuk menenangkan kepalanya yang serasa mau pecah.
Dengan terburu-buru, Clara mengusap air matanya dan menekan tombol panggilan cepat ke nomor Lyn.
Tut... Tut... Tut...
Panggilan itu tersambung, namun tak ada jawaban. Suara operator wanita yang kaku menyambutnya: "Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan saat ini..."
"Aduh, Lyn! Kenapa tidak diangkat sih?!" cicit Clara panik.
Clara mencoba menelepon kembali. Dua kali, tiga kali, hingga lima kali panggilan berturut-turut dikirimkannya, namun hasilnya tetap sama. Ponsel Lyn mati atau berada di luar jangkauan. Clara kemudian beralih mengirimkan pesan singkat beruntun:
[Lyn, kamu di mana?! Tolong angkat teleponku, Lyn!]
[Aku butuh kamu banget sekarang... Mami meneleponku, dia mau pulang ke Jakarta dan mau rujuk dengan Papa!]
[Aku bingung setengah mati, Lyn... tolong balas pesanku!]
Tanda centang pada pesan tersebut tetap berwarna abu-abu, tak kunjung dibaca.
Clara melempar ponselnya ke atas meja dengan perasaan kecewa dan frustrasi yang makin menumpuk. Ia tidak tahu bahwa saat ini, di tempat yang berbeda, Lyn sama sekali tidak bisa memegang ponselnya.
Ponsel milik Lyn tergeletak tak berdaya di atas meja kaca ruang tengah, dalam kondisi mati total karena Wiliam sendiri yang sengaja mematikan dayanya sejak sejam yang lalu.
Di balik pintu kamar utama yang tertutup rapat dari dalam, Lyn tersudut kaku di antara tepi ranjang king size dan tubuh tegap Wiliam yang mengurungnya tanpa celah. Aroma sandalwood yang pekat menguasai seluruh indra penciumannya.
"W-Wiliam... ponsel saya bergetar tadi..." bisik Lyn dengan napas yang memburu pelan, matanya yang sayu menatap Wiliam dengan pandangan pasrah. "Bagaimana kalau itu dari Clara...?"
Wiliam tidak menunjukkan sedikit pun riak kepanikan di wajah tampannya yang dingin. Pria paruh baya itu justru menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kepemilikan mutlak. Tangannya yang besar dan hangat mengusap rahang lembut Lyn, lalu turun membelai gelang emas putih berhiaskan berlian yang melingkar di pergelangan tangan gadis itu.
"Abaikan dunia luar saat kamu sedang bersamaku, Little Lady," suara berat dan dalam milik Wiliam menggelegar tenang di depan wajah Lyn, mematikan seluruh logika gadis 21 tahun itu. "Di ruangan ini, fokusmu hanya padaku. Tidak ada Clara, dan tidak ada orang lain."
Wiliam menundukkan kepalanya, membungkam bibir manis Lyn dengan ciuman yang amat dalam, pekat, dan mengikat. Lyn melenguh pasrah dalam kungkungan sang tuan, membiarkan dirinya makin tenggelam dalam sangkar emas terlarang itu—sama sekali tidak menyadari bahwa di luar sana, sahabat terbaiknya sedang menangis sendirian meratapi kehancuran keluarganya.
Bersambung....
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻