NovelToon NovelToon
The Ustaz'S Dark Secret

The Ustaz'S Dark Secret

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

​Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Setelah administrasi rumah sakit dan proses kepulangan selesai, Musa dengan sangat hati-hati merangkul Laila, menuntun sang istri tercinta keluar dari gedung rumah sakit menuju mobil yang terparkir di pelataran.

Sebelum laju kendaraan meninggalkan area rumah sakit, Musa merogoh saku celananya dan mengetikkan pesan singkat kepada Yusuf untuk memastikan segala sesuatunya di kediaman baru mereka telah siap.

“Yusuf, pastikan rumah yang dulu kubeli sebelum menikah sudah bersih dan rapi. Sore ini kami akan langsung ke sana.”

Tak berselang lama, balasan singkat dari Yusuf masuk:

“Siap, Boss! Semua sudah beres dan bersih sesuai instruksi.”

Musa memasukkan ponselnya ke saku, lalu menyalakan mesin mobil.

Ia melajukan kendaraannya keluar dari gerbang rumah sakit dengan kecepatan stabil dan penuh kehati-hatian, memastikan tidak ada guncangan berarti yang mengganggu kenyamanan Laila di kursi penumpang.

Namun, beberapa belokan kemudian, Laila yang duduk tenang di samping suaminya menyadari ada yang ganjil.

Alih-alih mengambil jalur utama yang biasa mengarah ke rumah atau markas mereka, Musa justru membelokkan kemudi ke kawasan perumahan asri di sisi kota yang lain.

Laila menoleh, menatap suaminya dengan kening berkerut tipis di balik cadarnya.

"Musa, kita mau ke mana?" tanya Laila dengan nada penasaran.

"Kenapa bukan jalan ke arah markas?"

Musa melirik sekilas, lalu melempar senyum penuh misteri yang amat hangat.

"Ke rumah kita, Sayang."

Laila tertegun sejenak. "Rumah kita? Maksudnya, kita mau balik ke pondok pesantren?" tanya Laila lagi yang mengira mereka akan singgah ke kediaman keluarga besar.

Musa menggelengkan kepala perlahan sambil tetap fokus menyetir.

"Bukan, Sayang. Pokoknya nanti bidadariku lihat sendiri."

Tak lama kemudian mobil yang dikendarai Musa berbelok perlahan memasuki sebuah kawasan perumahan yang tenang, rindang, dan jauh dari kebisingan kota.

Pohon-pohon peneduh di sepanjang jalan perumahan bergoyang pelan ditiup angin sore, menciptakan suasana yang asri dan menyejukkan.

Laila menatap luar jendela dengan binar mata yang kian dipenuhi rasa penasaran.

"Mas, iini kan kawasan perumahan asri? Kita mau menemui siapa di sini?"

Musa tidak langsung menjawab. Ia hanya mengulas senyum hangat sembari menghentikan laju mobilnya tepat di depan sebuah rumah berdesain minimalis modern bertingkat dua.

Rumah itu tampak begitu cantik dengan halaman depan yang ditanami rumput hijau segar, bunga-bunga hias yang bermekaran, serta pagar kayu ukir yang anggun.

Musa mematikan mesin mobil, berbalik menghadap Laila, lalu meraih kedua jemari tangan istrinya.

"Kita sudah sampai, Sayang," tutur Musa lembut, matanya menatap lekat-lekat pada manik mata Laila.

Laila mengernyitkan keningnya, menatap bangunan indah di hadapannya lalu beralih menatap suaminya.

"Sampai? Ini, rumah siapa, Mas?"

Musa tersenyum penuh haru, membawa jemari Laila ke bibirnya dan menciumnya penuh kelembutan.

"Ini rumah kita, Bidadariku. Rumah yang aku beli dengan hasil kerjaku jauh sebelum kita menikah, rumah yang sengaja aku siapkan dan aku impikan untuk menjadi tempat kita membangun keluarga kecil kita sendiri."

Mata Laila seketika bergetar hebat. Sorot mata kebahagiaan dan keharuan yang membuncah terpancar jelas dari raut wajahnya.

"R-rumah kita?"

"Iya, Sayang," bisik Musa mesra.

"Dulu aku sengaja belum membawamu ke sini karena jadwal dan kesibukan kita. Tapi sekarang, dengan hadirnya calon buah hati kita di dalam kandunganmu, aku ingin kita mulai menata hari-hari baru di rumah ini. Tempat yang tenang, aman, dan penuh privasi untukmu dan anak kita beristirahat."

Tanpa terasa, sudut mata Laila berkaca-kaca oleh genangan air mata bahagia.

Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Musa, merasakan detak jantung suaminya yang begitu menenangkan.

"Mas, terima kasih banyak. Ini indah sekali," bisik Laila dengan suara bergetar.

"Sama-sama, Bidadariku," balas Musa sembari membelai lembut kepalanya.

"Mari, aku bimbing masuk ke dalam."

Musa melompat keluar, memutari mobil, dan membukakan pintu untuk Laila dengan sangat hati-hati—memastikan sang istri tidak perlu mengeluarkan tenaga berlebih.

Saat Laila berdiri, Musa merangkul pinggang istrinya dengan protektif, menuntun langkah demi langkah menuju pintu utama rumah baru mereka yang siap mengukir lembaran kisah manis keluarga kecil mereka.

Musa menuntun Laila melangkah melewati ruang tamu yang tertata rapi, menuju ke arah pintu kaca geser di bagian belakang rumah.

"Mas, rumahnya bersih sekali, tapi, dimana Yusuf" tanya Laila penasaran sambil melangkah perlahan.

"Nanti juga kamu tahu, Sayang. Jalan pelan-pelan ya," jawab Musa penuh rahasia, membimbing Laila membuka pintu kaca tersebut.

Begitu pintu terbuka, embusan angin sore yang sejuk menyambut mereka bersamaan dengan pemandangan taman belakang rumah yang asri.

Namun, bukan hanya hijaunya rumput dan bunga-bunga yang mencuri perhatian, melainkan sebuah kejutan manis yang telah disiapkan oleh Yusuf dan anak buah Musa.

Di tengah taman, terbentang spanduk atau papan hiasan berukuran besar dengan tulisan tangan yang cantik dan penuh warna:

SELAMAT UMI LAILA YANG SEDANG HAMIL

Balon-balon warna-warni tertata rapi di sekitarnya, menambah suasana hangat dan meriah.

Tak jauh dari hiasan tersebut, sebuah meja kayu telah dipenuhi oleh berbagai mangkuk berisi buah-buahan segar dan cobek batu besar—menampilkan sajian rujakan spesial lengkap dengan bumbu kacang gula merah yang menggugah selera, sengaja disiapkan untuk memanjakan lidah sang ibu hamil.

Yusuf dan beberapa orang anak buah Musa yang berdiri di sudut taman langsung tersenyum lebar dan membungkuk hormat.

"Selamat atas kehamilannya, Dokter Laila! Semoga sehat selalu bersama calon bayi dan Bos Musa!" seru Yusuf mewakili rekan-rekannya dengan penuh semangat.

Laila menutup mulutnya dengan kedua tangan, takjub bercampur terharu hingga air matanya menetes perlahan di balik cadarnya.

Ia menoleh ke arah Musa dengan tatapan penuh cinta.

"Mas, jadi ini semua ulah kalian?" bisik Laila, suaranya bergetar menahan haru.

Musa tersenyum hangat, merangkul bahu istrinya dengan penuh kasih sayang.

"Iya, Sayang. Yusuf dan anak-anak sengaja menyiapkan ini untuk menyambut bidadari kecil kita dan uminya di rumah baru ini. Dan lihat itu," Musa menunjuk meja berisi rujak buah segar,

"Mereka tahu betul apa yang biasanya dicari oleh ibu-ibu yang sedang hamil muda."

Laila tertawa kecil, menghapus air mata bahagianya.

Perasaan hangat dan dicintai menyelimuti seluruh relung hatinya, membuat hari itu menjadi salah satu momen paling indah dalam hidup mereka.

Laila menatap deretan buah-buahan segar—mangga muda, bengkuang, kedondong, dan nanas segar—yang tersusun rapi bersanding dengan cobek berisi bumbu rujak kecokelatan.

Bau asam manis yang khas mendadak membuat selera makannya terbit seketika.

"Mas, bumbu rujaknya kelihatan enak sekali," gumam Laila jujur, matanya berbinar menatap meja hidangan.

Musa yang melihat respons istrinya langsung tertawa renyah.

Ia menuntun Laila menuju kursi taman yang empuk dan nyaman, memastikan posisi duduk istrinya benar-benar rileks.

"Silakan duduk dulu, Ibu Dokter," puji Musa penuh kelembutan. Ia kemudian berbalik menatap Yusuf dan anak buahnya dengan senyum puas.

"Terima kasih banyak, Yusuf. Kalian benar-benar menyiapkan ini semua dengan sangat baik."

"Sama-sama, Bos!" jawab Yusuf menyeringai bangga.

"Kami tahu Dokter Laila butuh kejutan manis setelah seharian melelahkan. Kami permisi dulu ke depan ya, Bos, memberi waktu untuk Bos dan Dokter Laila menikmati tamannya."

"Iya, terima kasih ya semuanya," sahut Laila tulus, menganggukkan kepalanya pada anak-anak buah

Musa yang pamit mundur dengan sopan.

Setelah area taman belakang kembali tenang dan hanya menyisakan mereka berdua, Musa duduk di samping Laila.

Dengan sigap dan telaten, Musa meraih piring kecil, mengambil beberapa potongan buah segar, lalu mencampurnya sedikit dengan bumbu rujak yang tidak terlalu pedas.

"Ini, Sayang, coba sedikit dulu. Bumbunya dibuat tidak terlalu pedas supaya perutmu aman," ucap Musa sembari menyodorkan sepotong mangga berbalut bumbu rujak ke hadapan Laila.

Laila membuka sedikit cadarnya, lalu menerima suapan manis dari suaminya.

Rasa asam segar bertumpu manisnya gula jawa meledak di lidahnya, membuat wajahnya berbinar bahagia.

"Enak sekali, Mas. Segar!" tutur Laila gembira.

Musa tersenyum lega, mengusap pelan sisa bumbu di sudut bibir Laila dengan ibu jarinya.

"Alhamdulillah. Kalau kamu senang, rasa lelahku hilang seketika, Sayang."

Kemudian Musa menggeser posisinya sedikit merapat.

Tangannya merengkuh pinggang Laila dengan lembut, sementara tangan satunya perlahan diusapkan ke atas perut Laila yang masih rata.

"Assalamu'alaikum, Anak Ayah dan Umi." bisik Musa lurus ke arah perut Laila dengan pendar mata sarat kasih sayang.

"Sehat-sehat di dalam sana ya, Nak. Mulai hari ini, ini rumah baru kita. Tempat Ayah dan Umi akan membesarkanmu dengan penuh cinta."

Laila menyandarkan kepalanya di bahu tegap Musa, menggenggam jemari suaminya yang mengelus perutnya.

Hembusan angin sore yang sejuk di taman belakang rumah baru mereka seolah menyempurnakan kebahagiaan keluarga kecil yang baru saja memulai lembaran barunya.

1
Rahmawati Amma
akhirnya tamat juga bagus ceritanya ngak terlalu panjang babnya saya suka karna saya suka ceritanya kuberi gift nonton iklan 10× traktir kopi 🍵 plus kasih vote maaf thor cuma itu yg bisa saya beri😖😢🙏
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Muft Smoker
cerita ny bagus kak ,, aq suka ma ceritanya 😁🤗
Muft Smoker
akhirnya semua udh bertemu dengan kebahagiaan masing2 ,,

makasih buat cerita ny yx kak ,,
Muft Smoker: sama2 kak ,, semangat buat cerita terbaru ny
total 2 replies
Yani Agustin
thor, katanya dua2nya keturunan kyai tapi koq ga ada shalat2 nya, trus ga ada ritual ahalat sunat dulu sebelum MP, trs kelakuan bu nyainya tdk mencerminkan bu nyai seh thor 🙏
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
alhmdulillah versi mini dr kalian telah lahir dg sehat dan selamat ,,
Muft Smoker
waah bayi ny aj janjian mau keluarnya ,, 🤭 ,, semoga ibu dan bayi ny sehat2 ,, baik Laila atau pun Musdalifah ,,,
Rahmawati Amma
kok sepi pembaca ya padahal novelnya lumayan bagus 🤔
Rahmawati Amma
bagus ceritanya
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🙏
total 1 replies
Rahmawati Amma
ya berhubung nonton iklan sisa 7kali ya aku cuma bisa ngasi segitu plus traktir kopi 🍵 😅
Rahmawati Amma
ini aneh laila lah katanya bisa bela diri lah ini kenapa lembek 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
weh thor kok nama doang yg di sebut ngak sopan itu panggil abang ke atau mas lah ini nama doang tampa embel2 😔
my name is pho: terima kasih kak. tapi nanti ada di bab ke sekian ada panggilan mas
total 1 replies
Rahmawati Amma
lah bukannya laila bercadar di sampul novelnya 🤔😅
Yati Susilawati: mungkin nnt klu sdh nikah😌
total 1 replies
Muft Smoker
akhirnya semua udh berdamai dg masa lalu ,, begitu juga dg Zafar ,, semoga stelah masa hukuman km telah selesai segera pertanggung jawabkan perbuatan mu terhadap Musdalifah ,,
Muft Smoker
alhmdulillah smua udh baik2 aj ,,
semoga ,,

lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
semoga Musdalifah bnr2 berubah ,,
hingga tinggal bahagia ny aj niih ,,
sri hastuti
semoga selanjutnya bahagia semua thor, semua rukun ,🙏
sri hastuti
bagus, musa tegas sbg pria tau batasannya, jd gak semua wanita brani goda, siippp Musa, 👍👍
sri hastuti
semoga sdh tdk ada gangguan lagi, atau pelakor,atau kejahatan ,biar mereka berdua bahagia thor 🙏
Muft Smoker
putri angkat???
bukan ny Laila ank ny kyai Adi dr almarhum istri pertama kiyai Adi yx kak ,,
apa aq yg salah baca waktu tu🤭🤭🤭😁😁😁😁
Muft Smoker: 🤭🤭🤭😁gpp kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!