NovelToon NovelToon
Putri Yang Dicuri Takdir

Putri Yang Dicuri Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Finda Pensiunawati

Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 — Menunggu di Antara Langit dan Sunyi

Dua bulan telah berlalu sejak malam penembakan itu.

Musim berganti pelan di luar jendela rumah sakit. Daun-daun yang dulu hijau kini mulai menguning, seolah waktu terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.

Namun di ruang ICU itu—

Waktu terasa berhenti.

Valeria Hernández masih terbaring tenang. Mesin monitor berdetak stabil. Tubuhnya sudah jauh lebih kuat dibanding minggu-minggu pertama. Luka-lukanya mulai pulih.

Tapi matanya…

Masih tertutup.

---

Alexander Alejandro Castillo berdiri di depan pintu ICU pagi itu dengan seragam pilotnya yang rapi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia mendapatkan kembali jam terbang profesionalnya.

Langit memanggilnya kembali.

Namun sebelum kembali mengudara, ada satu tempat yang harus ia datangi.

Ia masuk perlahan ke ruangan itu.

Sudah dua bulan.

Dua bulan berbicara pada gadis yang belum menjawab.

Alexander duduk di kursi yang sama seperti malam pengakuannya dulu. Tangannya terulur, menyentuh tangan Valeria yang kini tak sedingin sebelumnya.

“Aku akan terbang lagi,” ucapnya lembut. “Akhirnya.”

Ia tersenyum kecil, meski matanya menyimpan lelah yang panjang.

“Kau selalu bilang aku terlihat paling hidup saat membicarakan langit.”

Ia menghela napas.

“Tapi kau tahu? Dua bulan ini… aku merasa hidupku ada di ruangan ini.”

Hening.

Daniel, Camille, dan Alexander telah bergantian menjaganya hampir setiap hari. Tidak pernah ada jadwal resmi, tapi seolah mereka memiliki kesepakatan tak tertulis.

Satu datang pagi.

Satu siang.

Satu malam.

Dan mereka tidak pernah membahas persaingan lagi.

Karena di hadapan ranjang itu… cinta mereka sama-sama tulus.

---

Di ruang dokter, Eduardo Alejandro Castillo masih memantau kondisi Valeria secara langsung. Ia hampir setiap hari turun mengecek hasil lab, memastikan tidak ada komplikasi tersembunyi.

Jarang sekali seorang profesor sekaligus pemilik saham besar begitu terlibat pada satu pasien.

Namun tak seorang pun berani mempertanyakannya.

Ia hanya berkata singkat pada tim medis,

“Gadis itu harus bangun dalam kondisi terbaik.”

---

Orang tua Valeria pun tak pernah absen.

Sofía Hernández sering membacakan doa di sampingnya. Miguel Hernández menceritakan kabar desa, kebun kecil mereka, dan rumah yang masih menunggu tawa putrinya.

Mereka belum mengetahui hasil tes DNA.

Sampel sudah dikirim. Prosesnya sedang berjalan.

Semua menunggu.

Tanpa desakan.

Tanpa spekulasi.

---

Sementara itu, Vincenzo Salvatore De Luca dan Isabella Conti De Luca terpaksa terbang ke Kanada.

Perusahaan cabang mereka di sana mengalami kekacauan manajemen. Beberapa pihak mencoba mengambil alih kendali dalam ketidakhadiran Vincenzo.

Dengan berat hati mereka meninggalkan Manhattan.

Sebelum berangkat, Isabella berdiri lama di depan ranjang Valeria.

“Jika kau memang putriku…” bisiknya lirih, “…tunggulah kami kembali.”

Vincenzo hanya menyentuh ujung ranjang dengan tangan gemetar.

“Aku tidak akan pergi lama.”

Pesawat mereka lepas landas dengan hati yang tertinggal di ruang ICU.

---

Kembali ke pagi itu.

Alexander menatap wajah Valeria dalam diam.

“Aku akan terbang sore ini. Rute internasional pertama setelah semua ini.”

Ia menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya.

“Kalau kau bangun saat aku di udara… tunggu aku kembali. Jangan membuka mata untuk orang lain dulu.”

Kalimat itu diucapkan setengah bercanda, setengah berharap.

Ia berdiri, merapikan seragamnya.

Sebelum pergi, ia menatap monitor sekali lagi.

Detaknya stabil.

Tubuhnya bertahan.

Kini yang mereka tunggu hanya satu—

Kesadarannya.

Alexander melangkah keluar ICU dengan hati campur aduk.

Di luar, Daniel baru saja datang menggantikannya. Camille menyusul beberapa menit kemudian dengan map praktik di tangannya.

Mereka bertiga bertemu di lorong.

Saling menatap.

Tidak ada lagi ego.

Hanya doa yang sama.

"Tolong jaga dia baik-baik, kabari aku kalo ada hal yang terjadi dengannya." ucapnya lembut.

"Pasti, hati-hati. Kami menunggumu kembali." menepuk pelan bahu Alexander. Dan berjalan masuk ke Ruang ICU.

Dan di dalam ruangan itu, di balik kelopak mata yang tertutup—

Seolah ada gerakan kecil.

Hampir tak terlihat.

Seperti seseorang yang sedang berjuang dari dalam kegelapan…

Menuju cahaya.

1
Finda Pensiunawati
love love 😍
Septriani Margaret
kk lanjut doang seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!