Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di balik Gerbang
Pesawat taktis Liora terombang-ambing di atas permukaan laut yang kini nampak seperti cairan merkuri yang mendidih. Ledakan antara Bahtera Exodus dan Menara Hitam tadi telah menciptakan anomali gravitasi lokal. Namun, perhatian Liora tidak lagi tertuju pada puing-puing di langit, melainkan pada pemandangan di dasar laut yang tersingkap akibat surutnya air secara ekstrem.
Di bawah sana, di balik jalan setapak emas yang muncul dari perut bumi, berdiri sebuah gerbang monolitik yang memancarkan frekuensi "suara putih" yang sangat murni. Tulisan FEBRUARI 2026 bukan sekadar pahatan; itu adalah jam digital kosmik yang sedang berdetak menuju angka nol.
"Adam... kenapa tahun ini? Kenapa sekarang?" tanya Liora sambil berusaha menstabilkan napasnya.
Batu memori di genggaman Liora berpendar redup, menyalurkan suara Adam yang kini terdengar lebih tenang, namun penuh dengan kepasrahan. "Liora, tahun 2026 bukan sekadar angka dalam kalender manusia. Ini adalah titik di mana orbit bumi bersilangan dengan sisa-sisa energi dari 'Ledakan Besar' yang pernah membentuk kesadaran pertama. Elit global menyebutnya sebagai The Reset Point. Unit 731 menyadari bahwa di bulan Februari tahun ini, gerbang antar-dimensi ini akan terbuka secara alami akibat pergeseran kutub magnetik yang kita picu di Antartika tadi."
"Jadi semua perang ini... semua kematian ini... hanya untuk memastikan mereka berada di depan pintu ini saat ia terbuka?"
"Lebih buruk dari itu, Liora. Mereka ingin masuk ke dalamnya dan menulis ulang sejarah dari titik awal. Mereka ingin menjadi 'Tuhan' yang menciptakan kita di masa lalu. Ini adalah paradoks waktu yang ingin mereka kuasai."
Tiba-tiba, dari arah sisa-sisa Bahtera yang tenggelam, muncul beberapa kapsul penyelamat yang bersinar perak. Kapsul-kapsul itu melesat menuju gerbang di dasar laut. Di dalamnya adalah sisa-sisa petinggi Elit yang masih hidup mereka yang tidak lagi memiliki tubuh manusia, melainkan kesadaran digital yang terbungkus dalam wadah bio-logam.
"Mereka mencoba masuk, Adam!" Liora menarik tuas kendali pesawatnya, menukik tajam menuju dasar samudera.
"Liora, jangan! Tekanan di sekitar gerbang itu akan menghancurkan molekulmu! Kau bukan dirancang untuk menembus batas itu!"
"Aku tidak peduli! Jika mereka masuk, maka semua penderitaan di Singapura, Gunung Padang, dan Sektor Zero akan terulang kembali dalam siklus yang abadi!"
Saat Liora mendekati gerbang, ia melihat sosok yang paling ia benci: Sang Pemegang Kendali. Pria itu nampak berdiri di depan gerbang dalam bentuk proyeksi astral yang sangat padat. Ia menoleh ke arah pesawat Liora, wajahnya tidak lagi menunjukkan amarah, melainkan sebuah kepuasan yang mengerikan.
"Kau terlambat, Putri Samudera," suara sang Pemegang Kendali bergema di seluruh frekuensi radio. "Hari ini, 25 Februari 2026, bukan akhir dari dunia. Ini adalah hari di mana kami mengambil alih pena takdir. Kau telah membantu kami dengan menghancurkan semua 'alibi' kami. Sekarang, tidak ada lagi yang bisa menghalangi kami untuk menyatu dengan Sumber."
Pintu monolitik itu mulai terbuka secara perlahan. Cahaya yang keluar darinya bukan putih atau hitam, melainkan warna yang tidak pernah dilihat oleh mata manusia warna yang membuat otak terasa seperti terbakar.
"Liora... dengarkan aku," suara Adam mendesak. "Hanya ada satu cara untuk mengunci gerbang itu dari luar. Kau harus menanamkan batu memori ini ke dalam inti gerbang, tapi itu berarti kau harus berada di dalam radius ledakan dimensionalnya. Kau tidak akan bisa kembali ke realitas ini."
Liora menatap batu di tangannya. Ia melihat bayangan dirinya di kaca kokpit seorang wanita yang telah kehilangan segalanya demi sebuah kebenaran yang pahit.
"Hendrawan... kau masih di sana?" Liora mengaktifkan pemancar global.
Di Muara Takus, Hendrawan menatap layar monitornya dengan air mata yang mengalir deras. "Aku di sini, Liora. Seluruh dunia sedang menontonmu. Frekuensi 'The Silence' sudah mulai luntur. Orang-orang mulai terbangun... mereka butuh kau kembali."
"Katakan pada mereka..." Liora tersenyum pahit sambil mengarahkan pesawatnya langsung ke jantung gerbang. "Katakan pada mereka untuk tidak lagi mencari 'alibi' atas ketakutan mereka. Kebenaran tidak ada di gurun, tidak ada di laut, dan tidak ada di kutub. Kebenaran ada pada keberanian untuk menjadi manusia yang bebas."
Liora melepaskan sistem pengaman pesawatnya. Ia meluncur seperti anak panah cahaya menuju Sang Pemegang Kendali. Saat pesawatnya menghantam medan energi gerbang, dunia seolah berhenti. Liora melompat keluar dari kokpit, menggenggam batu memori Adam, dan berlari menuju celah gerbang yang sedang terbuka.
"Kalian tidak akan pernah menjadi Tuhan!" teriak Liora.
Ia menancapkan batu itu ke pusat sirkuit emas gerbang.
Seketika, resonansi dari seluruh situs megalitikum di dunia Borobudur, Gunung Padang, Stonehenge, hingga Piramida Giza menyatu dalam satu denyutan raksasa. Gerbang itu meledak dalam sebuah kilatan yang menelan seluruh samudera Hindia.
Saat cahaya itu meredup, Samudera Hindia kembali tenang. Daratan purba itu tenggelam kembali ke dasar yang paling dalam. Bahtera Elit telah musnah. Dan gerbang 2026 telah tersegel secara permanen.
Di permukaan air, hanya ada satu kepingan kecil dari pesawat Liora yang terapung. Di atasnya, terdapat sebuah alat perekam yang masih berfungsi, memancarkan satu pesan terakhir ke seluruh dunia.
Dunia telah berubah. Elit telah jatuh. Namun, di balik awan yang mulai menipis, bulan nampak bersinar lebih terang dari biasanya, seolah-olah ia sedang berterima kasih kepada penghuni bumi yang akhirnya berhasil memenangkan jiwanya kembali.