NovelToon NovelToon
Melati Diantara Lima Cinta

Melati Diantara Lima Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

Melati hanyalah gadis desa yang tak pernah bermimpi menjadi pusat dunia. Namun satu langkah ke istana menyeretnya ke dalam permainan cinta, kekuasaan, dan rahasia yang berbahaya.

Lima pria dari lima dunia berbeda datang dengan janji, ambisi, dan perasaan yang tak sederhana. Di balik gaun indah dan perjamuan megah, Melati belajar membaca kebohongan, membangun aliansi, dan melindungi harga dirinya.

Ketika gosip menjadi senjata dan cinta menjadi strategi, Melati harus memilih: bertahan sebagai pion… atau bangkit sebagai pemain yang mengubah sejarah.

Karena di tengah intrik dan perasaan yang rumit, satu kebenaran perlahan muncul — Melati bukan sekadar perempuan yang diperebutkan.
Ia adalah simbol masa depan yang belum ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: PERTEMUAN RAHASIA 5 KEKUATAN

Malam itu di Batavia menebar kabut lembap, aroma garam laut dan rempah menempel di udara. Angin selatan berdesir di antara pohon mahoni halaman rumah kolonial, menggerakkan dedaunan dan tirai berat yang menutupi jendela besar. Lampu minyak bergetar lembut di ruang tamu, bayangan panjang menari di dinding hijau pucat, sementara meja panjang berlapis kain tebal dipenuhi peta, dokumen, dan gulungan kertas lusuh yang menandakan sering dibuka.

Pangeran Willem van Oranje-Nassau duduk tegap di ujung meja, seragam militer Belanda menempel rapi, medali-medali perang berkilau dalam cahaya redup. Di sisi lain, Pangeran Kenjiro Tokugawa menatap peta dengan ketelitian seorang jenderal, kimono hitam berlapis sutra menambah aura dingin dan tegas. Raja Edward VIII dari Gloucester duduk di tengah, jas formal rapi, tangan memainkan cincin pernikahannya, wajah lesu tapi tetap angkuh, mata tajam mengamati setiap gerak Willem dan Kenjiro.

Di lorong belakang, di balik tirai tebal, berdiri Melati. Napasnya tercekat, hatinya berdebar setiap kali salah satu dari mereka mengucapkan namanya. Ia tahu, malam itu, kata-kata yang keluar bisa mengubah hidupnya selamanya.

Willem mengetuk meja, suara kayu bergema. “Kita semua memahami situasi ini. Belanda tidak bisa menunggu. Setelah perang berakhir, kontrol atas seluruh wilayah timur harus jelas. Pelabuhan, rempah, hak perdagangan… semua harus berada di tangan yang tepat.”

Kenjiro mencondongkan tubuh, matanya menatap peta. “Tanggung jawab, ya? Jepang membawa ketertiban dan kemajuan. Tapi ada satu hal yang tidak bisa diabaikan… gadis itu, Melati. Ia bukan sekadar simbol, ia istimewa.”

Edward menepuk meja dengan ringan, senyum tipis muncul di wajahnya. “Istimewa? Bagi Inggris, orang-orang seperti dia hanyalah hadiah dari sejarah. Bukan simbol, tapi hak. Hak itu harus dipertahankan, meski hati kita terlibat. Gadis ini… sungguh menarik.”

Willem menatap Edward tajam. “Jangan berpura-pura sombong. Kau sudah menikah. Aku di sini bukan untuk membicarakan moralitasmu, tapi untuk memastikan Belanda mendapat haknya. Dalam urusan wilayah dan kepemilikan, hati bukan faktor yang relevan.”

Edward mencondongkan tubuh. “Hati selalu ada hubungannya, Willem. Bahkan jika kau menolaknya, hatiku telah memilih. Namun mari kita tetap bermain sesuai aturan permainan.”

Kenjiro menekan jarinya di peta yang menggambarkan kepulauan timur. “Kalau begitu, mari kita jujur. Kita semua menginginkan hal yang sama: Melati. Tapi berbeda dengan wilayah atau peta, gadis ini memiliki pilihan sendiri. Pilihan yang mungkin tidak kita hargai.”

Melati menahan napasnya. Kata-kata itu menusuk hatinya. Mereka berbicara seolah dirinya hanyalah objek—hadiah yang bisa diperebutkan, bukan manusia dengan perasaan dan kehendak sendiri.

Willem menarik napas panjang. “Aku menghormati Jepang, tapi jangan mengira kau lebih berhak daripada Belanda. Melati lahir di tanah ini, di tengah rakyatku. Hakku atasnya jelas—murni karena darah dan sejarah.”

Kenjiro tersenyum dingin. “Darah dan sejarah? Dunia berubah. Kekuatan menentukan segalanya. Siapa yang bisa menjamin masa depan Melati? Aku yang bisa, atau kau yang hanya mengandalkan warisan nenek moyang?”

Edward menepuk meja. “Cukup dengan kata-kata romantis itu. Aku melihat dengan mata sendiri. Dia tidak hanya lahir di tanahmu, Willem. Dia adalah sesuatu yang langka—dan Inggris selalu menginginkan yang langka.”

Percakapan itu terus memanas, berpindah dari wilayah ke wilayah, dari hak milik ke hak pribadi. Kata-kata mereka dipenuhi nada dominasi, kepentingan, dan obsesi.

Melati tetap di balik tirai, mendengar setiap pernyataan dengan rasa jijik dan sedih. Ia merasakan kemarahan yang membara, sekaligus ketakutan yang membuat tubuhnya kaku. Ia ingin berteriak, ingin menghentikan percakapan itu, tapi tirai yang menutupi dirinya terlalu tipis untuk melindungi dari pandangan mereka jika ia bergerak. Ia harus diam.

Willem menekankan jarinya di peta. “Mari kita buat kesepakatan sementara. Wilayah tetap Belanda, tetapi beberapa hak perdagangan dapat disetujui untuk Jepang dan Inggris. Kita fokus pada strategi, bukan perasaan pribadi. Perasaan pribadi biarlah menjadi urusan lain.”

Edward mengangguk perlahan, matanya tetap dingin. “Setuju… untuk saat ini. Namun ingat, hak-hak pribadi tidak akan diabaikan. Gadis itu akan menjadi milik seseorang suatu hari nanti.”

Kenjiro menutup matanya sejenak, menghela napas panjang. “Dan aku akan memastikan orang itu adalah aku, jika sejarah dan kekuatan berpihak padaku.”

Melati menunduk, air mata menetes di pipinya tanpa suara. Selama ini, ia berpikir bahwa para pria yang mengaguminya memiliki hati yang luhur. Namun kenyataannya, mereka membicarakannya seolah dirinya hanyalah hadiah perang, bukan manusia yang memiliki kehendak sendiri.

Ia menyentuh tirai, seolah ingin memisahkan dirinya dari dunia itu, namun tubuhnya gemetar. Malam itu, ia sadar sesuatu yang menyakitkan: Melati bukan bagian dari rencana mereka. Ia hanya target dari ambisi, ego, dan obsesi mereka.

Percakapan berlanjut dengan nada semakin menekan. Willem membahas strategi militer, Edward menekankan diplomasi Inggris, dan Kenjiro menegaskan kekuatan Jepang. Kata-kata mereka saling bersaing, terkadang terselip ejekan atau sindiran yang menusuk.

Melati menunduk lebih dalam di balik tirai, hatinya hancur. Mereka berbicara tentangnya, memperdebatkan siapa yang berhak memilikinya, siapa yang paling pantas, siapa yang bisa menjaminnya… tetapi tidak satu pun yang bertanya padanya. Tidak satu pun yang melihatnya sebagai manusia.

Willem menekan peta lagi. “Belanda telah mengabdi untuk tanah ini berabad-abad. Apa yang kami tuntut adalah wajar, bukan semata-mata ego. Melati lahir di sini, dan masa depannya seharusnya selaras dengan sejarah tanah ini.”

Kenjiro menatap Willem, matanya berkilat dingin. “Sejarah bukan jaminan, Pangeran. Dunia ini bergerak, dan kekuatan menentukan segala sesuatu. Jika kau menginginkan Melati, kau harus membuktikan bukan sekadar darah dan warisan, tapi kemampuan menjaga dan melindunginya.”

Edward tersenyum tipis, namun mata tajamnya menatap keduanya. “Dan aku, sebagai wakil Inggris, juga memiliki hak moral dan hukum untuk menuntutnya. Perkawinan, status, keturunan… semua ini menjadi alasan mengapa gadis itu akan menjadi milik seseorang yang tepat, menurut hukum dan kekuatan kita masing-masing.”

Melati merasakan jantungnya tercekat. Kata-kata mereka penuh ambisi dan obsesi, seakan ia hanyalah alat politik dan simbol, bukan manusia dengan kehendak. Ia menunduk, berbisik pelan di antara giginya: “Aku bukan hadiah. Aku bukan harta. Aku bukan simbol. Aku manusia. Aku memilih jalanku sendiri.”

Namun kata-kata itu hanya terdengar di telinganya sendiri. Ruangan tetap tegang, kata-kata mereka saling memotong, berputar di antara strategi politik, hak kepemilikan, dan obsesi pribadi.

Jam-jam berlalu, lampu minyak hampir habis, tapi percakapan tetap berlangsung. Melati menyadari pahitnya kenyataan: perang merampas tanah, kekayaan, bahkan kebebasan hati. Ia berjanji dalam diam, suatu hari ia akan menulis sejarahnya sendiri, bukan menjadi bagian dari sejarah mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!