Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Suasana di ruang rapat direksi yang tadinya tegang karena pembahasan laporan keuangan, mendadak berubah menjadi ricuh. Aurel, yang sudah tidak bisa membendung rasa iri nya melihat kedekatan Aditya dan asisten barunya, berdiri dengan emosi yang meledak.
"Kalian semua harus tahu siapa sebenarnya wanita yang dibawa kak Aditya ini!" teriak Aurel sambil melangkah lebar ke arah Nadine. "Dia ini hanya pelayan rendahan di rumah! Dia bersembunyi di balik masker ini karena wajahnya buruk rupa dan penuh tipu daya!"
Sebelum ada yang bisa mencegah, tangan Aurel menyambar tali masker hitam yang dikenakan Nadine dan menariknya dengan kasar hingga putus.
srakkk....
Masker itu jatuh ke lantai. Seluruh dewan direksi terkesiap. Mereka melihat wajah Mona yang kusam, dengan polesan bedak yang tidak rata dan bibir yang terlihat pucat. beberapa staf yang ikut dalam rapat itu mulai berbisik meremehkan, sementara Aditya mengepalkan tangannya, siap meledak melihat asistennya dipermalukan.
Namun, Nadine tidak menunduk. Ia tidak menutupi wajahnya dengan tangan. Ia justru berdiri dengan punggung tegak, menatap lurus ke arah Aurel, lalu beralih menatap seluruh dewan direksi dengan ketenangan seorang ratu.
"Nona Aurel," suara Nadine terdengar jernih dan berwibawa, menggema di seluruh ruangan. "Terima kasih telah menunjukkan kepada semua orang di sini apa yang selama ini Nona cari, yaitu bungkusnya, bukan isinya." ucap Nadine tersenyum.
Nadine melangkah maju satu langkah, suaranya tetap lembut namun menusuk.
"Wajah yang kusam ini bisa dibersihkan dengan air, atau bisa juga dengan skincare mahal tanpa operasi plastik. Bibir yang pucat ini bisa diwarnai dengan gincu. Tapi, hati yang penuh kebencian dan lisan yang gemar merendahkan sesama... tidak ada kosmetik di dunia ini yang bisa menutupinya."
Nadine beralih menatap para direksi. "Bapak dan Ibu sekalian, kita berada di ruang dewan direksi, tempat di mana keputusan besar diambil berdasarkan kecerdasan, integritas, dan data. Saya di sini bukan untuk kontes kecantikan. Saya di sini karena Tuan Muda Aditya membutuhkan analisis yang jujur, bukan wajah yang penuh polesan namun kosong isinya. Bukankah nilai seorang manusia terletak pada apa yang ia berikan, bukan pada apa yang ia pamerkan?"
Seluruh ruangan mendadak hening. Beberapa direktur senior tampak mengangguk setuju, kagum dengan ketenangan dan cara bicara Nadine yang sangat berkelas.
Aditya terpaku. Ia tidak melihat wajah kusam itu, ia justru melihat pancaran cahaya dari mata Nadine. Kata-kata itu... cara bicara itu... sangat identik dengan prinsip hidup yang pernah ia dengar dalam mimpinya.
"Cukup, Aurel!" bentak Aditya. Suaranya rendah namun penuh ancaman. "Kamu baru saja mempermalukan dirimu sendiri, bukan dia. Kamu menunjukkan bahwa kamu tidak memiliki etika profesional."
Aditya kemudian berdiri, ia mengambil masker baru dari laci mejanya dan memberikannya kepada Nadine dengan tangannya sendiri, sebuah gestur yang sangat intim di depan publik.
"Pakai ini kembali, Mona. Bukan untuk menutupi wajahmu, tapi untuk melindungi dirimu dari polusi hati orang-orang di ruangan ini,..., aku juga tahu, dengan memakai masker, kau akan lebih leluasa tanpa ada yang memperhatikan" ucap Aditya lembut.
Aurel berdiri mematung, harga dirinya hancur berkeping-keping. tangannya terkepal kuat.
Di telinga Nadine, suara Noah terdengar penuh kemenangan. "Ibu sangat keren! Skor hari ini, Ibu 100, Nona Aurel 0. Ayah mulai sadar kalau kecantikan Ibu itu ada di dalam hati."
Nadine tersenyum mendengar ucapan putranya yang selalu menyemangati diri nya.
Aurel berbalik badan dan meninggalkan ruang rapat dengan wajah memerah karena menahan marah yang luar biasa...
Di ruangannya, Aurel membanting tas branded-nya ke atas meja kerja hingga menimbulkan dentuman keras yang menggema di ruangannya. Napasnya memburu, matanya merah karena menahan malu sekaligus dendam yang membara. Kejadian di ruang rapat tadi adalah penghinaan terbesar dalam hidupnya.
"Sialan! ,kurang ajar...Pelayan busuk itu benar-benar harus dimusnahkan!" teriak Aurel pada dinding hampa.
Ia mondar-mandir dengan gelisah. Ia tahu, meskipun Aditya membelanya, ia masih punya satu kartu as yang paling kuat, Ardan Pratama. Di mata publik dan seluruh karyawan perusahaan, restu sang pemilik takhta adalah segalanya.
ia tersenyum penuh arti...Aurel mengambil ponselnya, lalu dengan sengaja keluar dari ruangan dan berjalan menuju area pantry dan lounge karyawan tempat para staf biasanya bergosip saat jam istirahat. Dengan akting yang luar biasa, ia memasang wajah sedih yang dibuat-buat, namun tetap terlihat berkuasa.
Para karyawan yang sedang berbincang menghentikan ucapannya melihat Aurel datang.
"Kalian semua harus tahu," ucap Aurel dengan suara yang sengaja dikeraskan agar menarik perhatian. "Aditya belakangan ini sedang tidak stabil. Amnesianya membuatnya mudah dipengaruhi oleh orang-orang licik seperti pelayan baru itu."
Beberapa karyawan wanita mendekat, tampak penasaran.
"maksud nona Aurel apa ya...?, bukankah Mona hanya asisten Tuan Aditya...?, tanya karyawan bagian keuangan.
Aurel mengangguk" walaupun hanya asisten... bisa saja kan, ada kelihatan untuk menggoda atasannya " jawab Aurel pelan.
"Sepertinya itu tidak mungkin..., wajah jeleknya tidak mungkin bisa menjerat Tuan Aditya, yang ada... Tuan Aditya jijik padanya" timpal karyawan yang lain.
" Tentu saja, Tuan Aditya hanya mengandalkan otak gadis buruk rupa itu... tidak mungkin ia terpesona dengan wajah menjijikannya" sahut temannya yang lain terkekeh.
"benar juga...., ow iya, dengarkan ini baik-baik ya ," lanjut Aurel sambil mengulas senyum penuh arti. "Om Ardan sudah bicara padaku tadi pagi. Pernikahan kami akan segera diumumkan bulan depan. Aku ke sini bukan hanya sebagai Direktur, tapi sebagai calon Nyonya Pratama. Jadi, siapa pun yang berpihak pada pelayan kusam itu, artinya kalian sedang berhadapan langsung dengan keputusan keluarga besar Pratama."
Para karyawan saling pandang, lalu mengangguk setuju"tentu saja... siapa yang berani menolak pesona nona Aurel, cantik, juga berpendidikan..., nona tidak usah khawatir..., kalau asisten jelek itu macam-macam, kami akan mengerjainya" ucap karyawan wanita yang paling licik.
Aurel tersenyum penuh arti, karena kali ini ia memiliki sekutu, bukan hanya di rumah keluarga Pratama, namun... di perusahaan, ia juga memegang kendali.
setelah kepergian Aurel, para karyawan memegang ponselnya masing-masing, lalu mengetik sesuatu.
Dan benar saja...Berita itu menyebar seperti api di atas bensin. Dalam hitungan menit, grup WhatsApp internal karyawan heboh. Mereka yang tadinya kagum pada keberanian Mona di ruang rapat, kini mulai berbalik arah karena takut pada kekuasaan Ardan Pratama.
Aurel mengambil ponselnya, lalu membuka aplikasi grup WhatsApp yang baru dimasuki olehnya... ia tersenyum puas, saat melihat sekutunya menyebarkan gosip yang tidak-tidak bahwa, asisten Aditya mencoba untuk menggoda atasannya dengan tubuhnya, yang mereka lihat memang proporsional, seperti gitar Spanyol, meski Nadine memakai baju tertutup dan wajahnya buruk rupa