NovelToon NovelToon
Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pelakor jahat / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Duda / Berbaikan
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.

​Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:

​"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."


​Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Racun di Gelas Crystal

​​"Namanya puitis sekali. The Last Breath?"

​Zoya mengangkat gelas kristal ramping itu sejajar dengan matanya. Cahaya lampu chandelier menembus cairan biru laut di dalamnya, membiaskan kilauan yang memukau namun mematikan.

​Pelayan di hadapannya mengangguk pelan. Di balik masker hitam dan kacamata tebalnya, mata pria itu tidak berkedip. Dia menunggu. Menunggu cairan itu menyentuh bibir merah Zoya.

​"Benar, Nyonya. Ini campuran Blue Curacao dan sedikit ekstrak almond rahasia. Rasanya meledak di tenggorokan," jawab pelayan itu. Suaranya serak, dibuat-buat.

​Zoya mendekatkan bibir gelas ke hidungnya. Dia berpura-pura menikmati aromanya sebelum minum.

​Satu detik.

​Hidung Zoya yang terlatih—hidung yang bisa membedakan bau bangkai tikus dan bangkai manusia dari jarak sepuluh meter—mendeteksi sesuatu yang janggal.

​Di antara aroma manis alkohol dan jeruk nipis, terselip bau samar yang sangat spesifik. Bau kacang almond pahit. Bukan sirup almond biasa yang manis creamy, tapi bau tajam yang menusuk saraf olfaktori.

​Sianida.

​Zoya tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai mata. Dia menatap pelayan itu lurus-lurus.

​"Ekstrak almond, ya? Atau Kalium Sianida?" batin Zoya.

​"Kenapa belum diminum, Nyonya? Esnya mulai mencair," desak pelayan itu, nada suaranya mulai terdengar tidak sabar. Tangannya yang memegang nampan mengetuk-ngetuk pelan, sebuah tik gugup yang tersembunyi.

​Zoya menurunkan gelas itu sedikit.

​"Kamu tahu, Mas Pelayan," ucap Zoya santai, matanya menatap tajam ke arah sepatu pria itu. "Saya punya kebiasaan buruk. Kalau tangan saya kena dingin, pegangan saya jadi lemah."

​"Apa maksu—"

​PRANG!

​Tanpa peringatan, Zoya melepaskan gelas itu dari tangannya. Bukan jatuh tidak sengaja, tapi sengaja dijatuhkan dengan sudut kemiringan tertentu.

​Gelas kristal itu menghantam lantai marmer dengan suara nyaring yang memekakkan telinga. Pecahannya berhamburan. Cairan biru yang mematikan itu muncrat deras, membasahi celana bahan dan sepatu pantofel si pelayan.

​"Ups," ucap Zoya datar. "Licin."

​Reaksi pelayan itu di luar dugaan. Dia melompat mundur dengan gesit—terlalu gesit untuk seorang pelayan biasa. Dia mengibaskan kakinya dengan panik, seolah cairan itu adalah asam sulfat yang bisa membakar kulitnya. Dia tahu apa isi gelas itu.

​"Apa yang Anda lakukan?!" desis pelayan itu, suaranya meninggi, melupakan sandiwara sopan santunnya.

​"Maaf, saya kikuk," Zoya melangkah maju, justru mendekat ke arah pelayan yang sedang sibuk membersihkan celananya dengan serbet. "Biar saya bantu bersihkan."

​"Jangan sentuh!" bentak pelayan itu, menepis tangan Zoya kasar.

​Gerakan menepis itu membuat angin berhembus dari arah tubuh si pelayan ke wajah Zoya. Dan saat itulah, Zoya mencium bau kedua.

​Bau yang lebih mengerikan daripada Sianida.

​Di balik bau parfum murah yang dipakai pelayan itu, tercium bau bahan kimia yang sangat akrab di hidung Zoya. Bau tajam, menusuk, dan 'bersih'.

​Formalin.

​Zoya terpaku. Bau ini bukan bau rumah sakit biasa. Ini bau kamar jenazah. Bau pengawet mayat dosis tinggi yang meresap ke dalam pori-pori kulit dan tidak akan hilang meski dicuci dengan sabun berkali-kali.

​Pelayan itu menyadari perubahan tatapan Zoya. Dia melihat kilatan pengakuan di mata wanita itu. Penyamarannya terbongkar.

​"Sial," umpat pelayan itu pelan.

​Dia melempar nampan peraknya ke arah Zoya untuk menghalangi jalan, lalu berbalik badan dan melesat membelah kerumunan tamu pesta yang sedang kaget melihat gelas pecah.

​"Aaa!" Beberapa ibu-ibu sosialita menjerit kaget saat nampan itu menggelinding ribut di lantai.

​Zoya tidak mengejar. Gaun sempit dan hak tingginya tidak memungkinkan dia lari maraton. Matanya dengan cepat menyapu ruangan, mencari sosok tinggi besar dengan tuksedo hitam yang sejak tadi mengawasinya.

​Di sudut ruangan, Kalandra sedang berjalan cepat ke arahnya dengan wajah masam. Dia mendengar bunyi gelas pecah dan instingnya langsung berteriak 'Zoya'.

​"Zoya! Kamu ngapain lagi sih?" omel Kalandra setengah berbisik saat sudah dekat. Dia memegang bahu Zoya, mengecek apakah istrinya terluka. "Baru ditinggal lima menit sudah bikin keributan. Pecahin gelas hotel pula. Nanti Mama ngomel—"

​Zoya tidak menjawab omelan itu. Dia langsung mencengkram kerah tuksedo Kalandra, menarik wajah suaminya mendekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.

​Kalandra kaget, jantungnya mau copot. "Eh, kenapa? Jangan cium di sini, banyak orang..."

​"Diam dan dengar," potong Zoya, suaranya mendesis dingin di telinga Kalandra.

​Jari telunjuk Zoya menunjuk lurus ke arah pintu keluar ballroom, tempat punggung seorang pelayan pria baru saja menghilang di balik pintu dorong.

​"Lihat pelayan yang baru keluar itu?" bisik Zoya cepat.

​"Yang mana? Banyak pelayan di sini," Kalandra bingung, tapi dia merasakan ketegangan di tubuh istrinya.

​"Yang jalannya pincang sedikit karena sepatunya basah," lanjut Zoya, matanya berkilat marah. "Tangannya bau formalin, Mas. Bau mayat yang diawetkan. Dan dia baru saja menyuguhkan Sianida rasa almond buat aku."

​Mata Kalandra terbelalak lebar. Pupilnya mengecil. Mode santainya langsung lenyap, digantikan oleh aura membunuh yang pekat.

​"Hanggara?" desis Kalandra.

​"Tangkap dia," perintah Zoya mutlak. "Sebelum dia ganti kostum lagi."

​Tanpa membuang waktu satu detik pun, Kalandra langsung berlari. Dia menubruk beberapa tamu yang menghalangi jalannya, tidak peduli pada sumpah serapah mereka. Dia melompati meja prasmanan kecil, mengejar bayangan pelayan maut itu. Pesta ini baru saja berubah menjadi medan perang.

1
olyv
🤣🤭 pak komandan fall in love bu dok
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
olyv
hahah dadah ulat bulu 🤣
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
olyv
🤣🤣🤣🤣 ngakak...senjata makan tuan
Savana Liora: tau rasa dia
total 1 replies
olyv
👍👍
Yensi Juniarti
mulai posesif mas pol ini 🤣🤣🤣
Savana Liora: hahaha iya
total 1 replies
Warni
Wah sdh di teror gais
Savana Liora: mulai ya
total 1 replies
Warni
🤣
Warni
😫
Warni
🥰😂
Warni
😂
tutiana
hadir Thor⚘️⚘️⚘️
Savana Liora: selamat baca kk
total 1 replies
Warni
😂
Warni
Di sentil
Warni
🥰
Warni
Wauuu🥰
Warni
😱
Warni
🥰
olyv
wokeh thor... semangat 👍👍💪💪💪
Savana Liora: siap kk
total 1 replies
Warni
Akur🤣
Warni
Wau
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!