Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Darah yang Terbangun, Pedang yang Memilih**
Fajar menyingsing di atas puing-puing Desa Awan Hijau.
Kabut tipis bercampur asap membentuk tirai kelabu yang menutup sisa-sisa kehidupan semalam. Bau darah dan kayu terbakar masih memenuhi udara.
Wang Long berdiri diam di tengah abu.
Semua yang ia kenal telah hilang.
Lelaki tua berjubah abu-abu berdiri tak jauh darinya. Wajahnya keras, tetapi sorot matanya menyimpan kesedihan panjang.
“Ayo,” ucapnya pelan.
Wang Long tidak bertanya ke mana.
Ia melangkah meninggalkan desa tanpa menoleh lagi.
Gunung Sunyi
Perjalanan menuju pegunungan memakan waktu tiga hari.
Lelaki tua itu tidak memperkenalkan namanya. Ia berjalan ringan seperti tidak menyentuh tanah. Wang Long yang tubuhnya belum sepenuhnya pulih harus mengerahkan seluruh tenaga untuk mengikutinya.
Di hari ketiga, mereka tiba di sebuah gunung berkabut tebal.
“Gunung Sunyi,” kata lelaki tua itu akhirnya. “Tempat ini tersembunyi dari mata dunia persilatan.”
Di lerengnya terdapat gua batu alami. Di depannya mengalir air terjun kecil yang jernih.
“Mulai hari ini, di sinilah kau berlatih.”
Wang Long menatap lelaki tua itu.
“Guru… siapa sebenarnya Anda?”
Lelaki tua itu terdiam sejenak.
“Aku bernama Shen Tianlong.”
Nama itu seperti gema kuno.
Shen Tianlong.
Salah satu dari Sembilan Master Naga.
“Namun,” lanjutnya pelan, “aku bukan yang terkuat di antara kami. Hanya yang paling keras kepala.”
Untuk pertama kalinya, sudut bibirnya terangkat tipis.
Wang Long berlutut.
“Guru, ajari saya.”
Shen Tianlong mengangguk.
“Tapi sebelum kau belajar teknik… kau harus memahami darahmu sendiri.”
Rahasia Darah Naga
Di dalam gua, Shen Tianlong menggambar lingkaran besar dengan bubuk mineral merah. Simbol-simbol kuno memenuhi permukaan tanah.
“Duduk di tengah.”
Wang Long menurut.
Shen Tianlong menusuk ujung jarinya sendiri, lalu meneteskan darahnya ke simbol di tanah.
Lingkaran itu menyala redup.
“Keluarkan setetes darahmu.”
Wang Long menggigit ujung jarinya. Darah merah segar jatuh ke pusat lingkaran.
Dalam sekejap—
Lingkaran itu meledak cahaya keemasan.
Angin berputar liar di dalam gua.
Air di luar gua bergetar.
Darah Wang Long tidak menyatu dengan simbol. Ia justru melayang, berubah menjadi butiran cahaya merah-emas.
Shen Tianlong membelalakkan mata.
“Ini… tidak mungkin…”
Cahaya itu membentuk bayangan seekor naga besar dengan sembilan cakar.
Bukan satu.
Bukan dua.
Sembilan cakar.
Shen Tianlong mundur satu langkah.
“Darahmu bukan hanya keturunan naga… ini adalah Darah Inti Warisan!”
Wang Long gemetar. Tubuhnya terasa panas luar biasa.
“Guru… apa artinya ini?”
Shen Tianlong menatap bayangan naga itu dengan tatapan campuran antara kagum dan takut.
“Ketika kami, Sembilan Master Naga, mengalahkan Raja Iblis Hitam tiga puluh tahun lalu… kami menyegel kekuatan kami agar dunia tidak hancur oleh perebutan kekuasaan.”
Ia mengepalkan tangan.
“Kami membagi inti kekuatan naga menjadi sembilan segel darah… dan menyebarkannya.”
Wang Long terdiam.
“Kau… membawa kesembilan segel itu sekaligus.”
Gua bergetar.
Bayangan naga di udara mengaum tanpa suara.
“Tidak… aku bukan Naga Kesepuluh,” gumam Shen Tianlong pelan.
Matanya menyala.
“Kau adalah pewaris sembilan naga.”
Cahaya itu tiba-tiba tersedot kembali ke dada Wang Long.
Tubuhnya terhempas ke belakang.
Ia merasakan sembilan aliran energi berbeda mengalir dalam meridiannya. Panas, dingin, tajam, berat, ringan—semuanya bercampur.
Ia menjerit.
Pembuluh darah di lengannya menyala samar seperti ukiran naga.
Shen Tianlong segera menekan beberapa titik akupuntur di punggungnya.
“Tahan! Jika tidak, tubuhmu akan hancur!”
Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, energi itu perlahan stabil.
Wang Long terengah.
“Guru… apa yang akan terjadi padaku?”
Shen Tianlong menatapnya dalam.
“Jika kau gagal mengendalikan sembilan inti itu, tubuhmu akan meledak dari dalam.”
Sunyi.
“Tapi jika kau berhasil…”
Suaranya berat.
“Kau akan menjadi sesuatu yang belum pernah ada dalam sejarah dunia persilatan.”
Pusaka yang Bangkit
Malam turun perlahan.
Wang Long duduk bersila di depan air terjun, mencoba merasakan sembilan aliran energi dalam tubuhnya.
Ia memejamkan mata.
Mengatur napas.
Tiba-tiba—
Tanah bergetar.
Air terjun terbelah dua.
Dari dasar kolam muncul cahaya biru keemasan.
Shen Tianlong yang sedang bermeditasi langsung membuka mata.
“Tidak mungkin…”
Cahaya itu membumbung tinggi ke langit seperti pilar.
Dari dalam air perlahan terangkat sebuah pedang.
Pedang itu panjang dan ramping. Bilahnya berwarna perak kebiruan, namun di sepanjang sisi bilahnya terukir sembilan naga kecil yang saling melilit.
Gagangnya berwarna hitam pekat dengan mutiara merah di ujungnya.
Pedang itu melayang ke arah Wang Long.
Shen Tianlong membeku.
“Itu… Pusaka Naga Sembilan Langit…”
Pedang legendaris yang dahulu hanya muncul dalam kitab kuno. Konon hanya akan bangkit jika sembilan segel naga bersatu.
Wang Long membuka mata.
Pedang itu berhenti tepat di depannya.
Tanpa sadar ia mengulurkan tangan.
Begitu jari-jarinya menyentuh gagang—
Ledakan energi memancar.
Langit di atas Gunung Sunyi tertutup awan hitam.
Petir menyambar tanpa hujan.
Aura naga membubung tinggi hingga menembus lapisan awan.
Shen Tianlong terdorong mundur oleh tekanan energi itu.
“Pedang itu… memilihnya…”
Wang Long menggenggam pedang tersebut.
Seketika sembilan aliran energi dalam tubuhnya menyatu lebih harmonis.
Tidak lagi saling berbenturan.
Pedang itu bergetar pelan, seolah mengenali tuannya.
Sebuah suara kuno bergema dalam benaknya.
“Pewaris telah bangkit…”
Wang Long terengah.
“Guru… saya mendengar sesuatu…”
Shen Tianlong mendekat perlahan, masih tak percaya.
“Pedang itu adalah simbol tertinggi dari kami sembilan orang.”
Ia menatap Wang Long dengan sorot mata yang kini berbeda.
“Dulu kami hanya disebut Master Naga. Tapi jika semua inti dan pusaka ini bersatu…”
Suaranya pelan namun tegas.
“Kau bukan Naga Kesepuluh.”
Ia berlutut perlahan di hadapan muridnya sendiri.
“Kau adalah pewaris kami semua.”
Wang Long terkejut.
“Guru, jangan!”
Shen Tianlong menggeleng.
“Mulai hari ini, jalanmu jauh melampaui kami.”
Angin gunung berhembus kuat.
Petir kembali menyambar.
Shen Tianlong mengucapkan dengan suara mantap:
“Kelak dunia persilatan akan mengenalmu dengan satu gelar.”
Shen Tianlong menatap lurus ke mata Wang Long.
“King Master Naga.”
Nama itu menggema seperti takdir yang ditetapkan langit.
Wang Long menggenggam pedang di tangannya.
Kilatan cahaya biru menyelimuti tubuhnya.
Di kejauhan, jauh di markas tersembunyi Partai Tengkorak Hitam, seorang pria berjubah hitam yang duduk di singgasana batu perlahan membuka mata.
Ia merasakan aura itu.
“Sembilan segel… telah bangkit.”
Senyum tipis muncul di balik topengnya.
“Menarik.”
Kembali ke Gunung Sunyi.
Wang Long berdiri di bawah langit gelap, memegang pusaka naga yang kini menjadi bagian dari dirinya.
Kesedihan dalam hatinya belum padam.
Dendam masih membara.
Namun kini ia membawa sesuatu yang jauh lebih besar dari amarah.
Takdir.
Bersambung....