Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Dua hari berlalu, dan suasana di kamar VIP itu berubah menjadi sibuk.
Dokter akhirnya memperbolehkan Rizal pulang setelah memastikan kondisi fisiknya stabil, meski ia masih harus menjalani rawat jalan.
Sebuah tongkat penyangga kayu yang kokoh diberikan kepada Rizal untuk membantunya berjalan.
Rizal mencoba berdiri, tangannya mencengkeram erat gagang tongkat tersebut.
Wajahnya meringis menahan nyeri yang masih berdenyut di kaki kanannya yang digips, namun matanya memancarkan keteguhan yang berbeda dari dua hari lalu.
Aisyah berdiri di ambang pintu, menghela napas panjang sambil menatap suaminya.
Ada gurat kecemasan di wajahnya, bukan karena kondisi Rizal, melainkan karena laporan dari Pak Wijaya bahwa pesawat jet pribadi Nenek Rimbi baru saja mendarat.
"Mas, sudah siap?" tanya Aisyah lembut sambil menghampiri Rizal dan merapikan kemeja barunya.
"Kita akan pulang ke rumah. Tapi aku harus memberitahumu, badai besar sedang menunggu di ruang tamu. Nenek Rimbi sedang dalam perjalanan dari bandara."
Rizal menoleh, menatap istrinya dengan tatapan yang kini jauh lebih tenang.
"Aku siap, Aisyah. Selama kamu di sampingku, aku tidak akan membiarkan mereka menginjak kita lagi."
Aisyah tersenyum bangga. Ia merangkul lengan Rizal, membantu pria itu menyeimbangkan tubuhnya dengan tongkat.
"Bagus. Ingat, Mas, rumah itu adalah milikmu sekarang. Jangan biarkan siapa pun membuatmu merasa seperti tamu."
Mereka keluar dari rumah sakit dengan pengawalan ketat dari anak buah Pak Wijaya.
Sesampainya di depan rumah besar keluarga Baskoro, pemandangan yang tak mengejutkan sudah menanti.
Sebuah taksi berhenti tepat di depan gerbang, dan Intan turun dari sana dengan wajah yang lecek namun penuh binar kemenangan.
Di belakang taksi itu, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam berhenti.
Sopir dengan sigap turun dan membukakan pintu belakang.
Seorang wanita tua dengan setelan wol mahal dan tongkat berlapis perak melangkah keluar.
Matanya yang tajam langsung menghunus ke arah mobil yang membawa Aisyah dan Rizal. Nenek Rimbi telah tiba.
"Mama! Itu Nenek!" teriak Intan kegirangan sambil berlari kecil menghampiri neneknya.
"Lihat, Nek! Dia benar-benar membawa si pengemis itu ke rumah Papa!"
Aisyah turun dari mobil terlebih dahulu, kemudian ia dengan sabar membantu Rizal turun dan memberikan tongkatnya.
Mereka berdiri bersisian di hadapan Nenek Rimbi yang tampak seperti gunung berapi yang siap meledak.
"Jadi ini..." suara Nenek Rimbi bergetar karena amarah yang ditahan, "wanita yang diberikan kepercayaan oleh anakku, tapi justru membawa sampah masuk ke dalam istana ini?"
Aisyah tidak menunduk. Ia justru melangkah satu tindak ke depan, menutupi sebagian tubuh Rizal, sambil tangan kirinya meraba tas yang berisi amplop hitam "Kartu AS" itu.
"Selamat datang kembali, Nenek Rimbi," ucap Aisyah dengan nada yang sangat sopan namun mematikan.
"Perjalanan dari Swiss pasti melelahkan. Mari masuk, ada banyak hal yang harus kita bicarakan secara pribadi, sebelum semuanya menjadi konsumsi publik."
Mendengar kata "konsumsi publik", mata Nenek Rimbi seketika menyipit.
Ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres dari nada bicara menantu tirinya itu.
Suasana di ruang tamu utama yang biasanya megah dan tenang, kini terasa mencekam seperti medan perang.
Nenek Rimbi duduk di kursi kebesarannya, mencengkeram tongkat peraknya dengan buku-buku jari yang memutih.
Di sampingnya, Intan berdiri dengan senyum kemenangan, sementara Hadi mengekor di belakang seperti bayangan.
Rizal duduk di sofa seberang, kakinya yang digips ditumpukan di atas bantal, sementara Aisyah berdiri tegak di samping suaminya, tetap tenang meski badai hinaan mulai menerjang.
"Taufik pasti sedang menangis di dalam kuburnya!" suara Nenek Rimbi menggelegar, serak namun penuh kebencian.
"Dia begitu bodoh memberikan kepercayaan pada wanita sepertimu, Aisyah. Ternyata benar kata orang, wanita yang dinikahi karena belas kasihan hanya akan menjadi benalu yang membusukkan dahan pohonnya sendiri!"
Nenek Rimbi menoleh perlahan ke arah Rizal, menatapnya dari ujung kaki hingga ujung perban di kepalanya dengan pandangan jijik.
"Dan kau, pemuda cacat," ejek Nenek Rimbi.
"Berapa banyak harga yang kau pasang untuk melayani wanita kesepian ini? Apa kau begitu lapar sampai rela memakan sisa-sisa anakku?"
"Nenek! Jaga bicara Nenek!" Rizal mencoba bersuara, namun Aisyah menyentuh bahunya, memberi isyarat agar suaminya tetap tenang.
"Biarkan saja, Mas. Orang tua yang merasa terancam biasanya memang akan bicara tanpa saringan," ucap Aisyah dingin.
Nenek Rimbi tertawa sinis, sebuah tawa yang menghina.
"Terancam? Oleh siapa? Oleh kalian? Taufik adalah kesalahan terbesar dalam hidupku karena dia tidak mendengarkan saranku untuk tidak menikahimu. Dia mati dengan membawa aib karena meninggalkan harta pada wanita yang bahkan tidak bisa menjaga kesetiaannya setelah tanah kuburannya kering!"
Intan ikut menimpali, "Betul, Nek! Mama benar-benar menghancurkan martabat Papa Taufik demi pria yang bahkan tidak punya uang untuk bayar parkir!"
Nenek Rimbi mengetukkan tongkatnya ke lantai dengan keras.
"Aisyah, serahkan semua dokumen aset sekarang juga. Aku akan membatalkan pernikahan sampah ini melalui pengadilan agama dan mengusir kalian berdua tanpa sepeser pun! Kamu telah mencemari nama Baskoro!"
Aisyah menarik napas panjang. Ia perlahan merogoh tasnya dan mengeluarkan amplop hitam yang tersegel.
Ia tidak tampak marah, justru ada binar kasihan di matanya.
"Nenek bicara soal mencemari nama Baskoro?" Aisyah bertanya dengan nada rendah yang menusuk.
"Nenek bilang mendiang suamiku adalah kesalahan? Lucu sekali..."
Aisyah melangkah mendekat ke arah Nenek Rimbi, meletakkan amplop hitam itu di meja marmer tepat di hadapan wanita tua itu.
"Nenek sangat mencintai martabat, bukan? Mari kita lihat seberapa besar martabat Nenek jika dunia tahu tentang kejadian di 'Panti Asuhan Melati' tiga puluh tahun lalu. Tentang bayi yang Nenek buang hanya karena dia lahir dari hubungan gelap Nenek dengan sopir pribadi kakek..."
Seketika, wajah Nenek Rimbi yang tadinya merah karena amarah berubah menjadi putih pucat, sedalam warna rambutnya. Tongkatnya bergetar hebat.
"A-apa yang kamu bicarakan?" suara Nenek Rimbi mendadak menciut.
"Mendiang Papa Taufik tahu semuanya, Nek," lanjut Aisyah sambil membuka amplop itu, memperlihatkan selembar surat pernyataan dan foto lama yang sangat rahasia.
"Papa Taufik merahasiakan ini untuk menjaga martabat ibunya. Tapi dia memberikannya padaku sebagai perlindungan. Jadi, siapa yang sebenarnya mencemari nama Baskoro di sini?"
Intan dan Hadi tertegun, bingung melihat perubahan drastis pada Nenek Rimbi yang tiba-tiba tampak seperti akan terkena serangan jantung.
Nenek Rimbi terdiam sejenak, matanya menatap nanar isi amplop itu. Namun, detik berikutnya, ia justru tertawa terbahak-bahak—sebuah tawa yang terdengar hambar dan dipaksakan untuk menutupi kepanikan yang luar biasa.
"Tawa yang menarik, Nek," ucap Aisyah tenang, melipat kembali dokumen itu.
Nenek Rimbi tiba-tiba berdiri, napasnya sedikit tersengal. Ia menatap Intan dan Hadi dengan tajam.
"Kalian berdua, keluar! Aku ingin bicara berdua saja dengan Aisyah di kamar. Sekarang!"
Intan kebingungan. "Tapi Nek, kita belum mengusir mereka—"
"KELUAR!" bentak Nenek Rimbi dengan suara yang membuat Intan ciut dan segera melangkah pergi bersama Hadi yang ketakutan.
Nenek Rimbi kemudian menoleh pada Rizal yang masih terduduk tenang di sofa. "Dan kamu, tunggu di sini."
Aisyah membantu Nenek Rimbi berjalan menuju kamar utama di lantai bawah.
Begitu pintu kayu jati itu tertutup rapat dan terkunci, sisa-sisa keangkuhan di wajah Nenek Rimbi luruh seketika.
Tubuhnya yang renta seolah kehilangan tulang penyangga.
BRUK!
Wanita tua yang tadinya begitu jumawa itu jatuh berlutut di hadapan Aisyah.
Tangannya yang gemetar mencengkeram ujung gamis Aisyah.
"Jangan sebarkan itu, Aisyah," bisik Nenek Rimbi dengan suara parau yang penuh ketakutan.
"Jika dunia tahu, jika kolega bisnis Baskoro tahu aku memiliki anak haram dari seorang sopir, seluruh hidupku akan berakhir. Harga diriku adalah nyawaku, Aisyah. Tolong..."
Aisyah menatap wanita tua di bawah kakinya itu tanpa rasa dendam, melainkan dengan rasa iba yang dingin.
Ia perlahan berjongkok agar sejajar dengan ibu mertua tirinya tersebut.
"Nenek merendahkan Rizal karena dia miskin. Nenek menghina Taufik karena dia memilihku. Tapi Nenek lupa, bahwa rahasia gelap Nenek jauh lebih kotor dari kemiskinan mana pun," ujar Aisyah pelan.
"Aku akan memberikan semua aset yang kau mau! Kembalikan martabatku!" mohon Nenek Rimbi.
Aisyah menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku tidak butuh hartamu, Nek. Aku sudah memiliki segalanya. Aku akan tetap merahasiakan ini, tapi ada satu syarat mutlak."
Aisyah menatap tajam mata Nenek Rimbi yang berkaca-kaca.
"Jangan pernah sakiti hati Rizal lagi. Jangan pernah rendahkan suamiku, baik dengan kata-kata maupun perbuatan. Mulai hari ini, Nenek harus menghormati Rizal sebagai kepala keluarga di rumah ini, sama seperti Nenek menghormati mendiang Papa Taufik. Jika aku mendengar satu saja hinaan keluar dari mulut Nenek atau Intan terhadapnya, dokumen ini akan menjadi berita utama di seluruh media besok pagi."
Nenek Rimbi menundukkan kepalanya dalam-dalam, air mata penyesalan dan ketakutan membasahi karpet mahal di bawahnya.
"Baik... aku janji. Aku akan melakukan apa pun asal rahasia itu mati bersamamu."
Aisyah berdiri, merapikan pakaiannya, dan membantu Nenek Rimbi berdiri dengan sopan—sebuah gestur yang menunjukkan bahwa kini dialah yang memegang kendali penuh.
"Mari keluar, Nek. Ayah tiri Intan sudah menunggu di luar. Dan pastikan Nenek memberitahu cucu kesayangan Nenek siapa yang sekarang berkuasa di sini."