NovelToon NovelToon
Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kriminal dan Bidadari / Slice of Life / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​"Kau pikir aku akan menyentuhmu? Aku lumpuh."

​Ucapan dingin Elzian Drystan di malam pertama mereka langsung dibalas senyum miring oleh istrinya.

​"Otot betis kencang, tidak ada atrofi, dan pupilmu melebar saat melihatku. Kau tidak lumpuh, Tuan. Kau hanya pembohong payah."

​Dalam detik itu, kedok Ziva Magdonia sebagai istri 'tumbal' runtuh. Dia adalah ahli bedah syaraf jenius yang mematikan. Rahasia Elzian terbongkar, dan kesepakatan pun dibuat: Elzian menghancurkan musuh yang mencoba membunuhnya, dan Ziva memastikan tidak ada racun medis yang bisa menyentuh suaminya.

​Namun, saat mantan kekasih Elzian datang menghina, Ziva tidak butuh bantuan.

​"Hidungmu miring dua mili, silikon dagumu kadaluarsa... mau kuperbaiki sekalian?"

​Bagi Ziva, membedah mental musuh jauh lebih mudah daripada membedah otak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Teror CEO Kanak-kanak

​​"Minggir! Jangan menghalangi jalan!"

​Teriakan petugas logistik menggema di lobi rumah sakit yang biasanya tenang. Pagi itu, suasana RS Pusat Medika kacau balau, tapi bukan karena pasien darurat.

 Sebuah peti kemas raksasa dengan logo Drystan Group sedang didorong masuk oleh lima orang teknisi.

​Ziva baru saja melangkah masuk ke lobi, kopi pagi di tangannya nyaris tumpah karena tersenggol perawat yang berlarian antusias.

​"Ada apa ini? Rumah sakit mau buka cabang toko elektronik?" tanya Ziva pada Suster Maya yang sedang sibuk memotret peti kemas itu dengan ponselnya.

​Suster Maya menoleh dengan mata berbinar. "Dokter Ziva belum tahu? Kita dapat donasi alat MRI 3 Tesla terbaru! Harganya puluhan miliar, Dok! Katanya ini donasi pribadi dari suami Dokter."

​Ziva mengerutkan kening. MRI 3 Tesla? Elzian tidak pernah bilang apa-apa soal ini. Perasaannya mendadak tidak enak. Elzian bukan tipe orang yang beramal tanpa motif tersembunyi.

​"Dokter Ziva!"

​Suara panggilan dari pengeras suara terdengar. "Dokter Ziva dan Dokter Rayn, ditunggu di ruangan Direktur sekarang juga."

​Ziva bertukar pandang dengan Suster Maya, lalu bergegas menuju lift. Di depan pintu ruangan Direktur, dia bertemu Rayn yang juga terlihat bingung.

​"Tumben Pak Hadi panggil kita berdua pagi-pagi," sapa Rayn sambil merapikan jas putihnya. "Apa ada kasus malpraktik?"

​"Entahlah. Tapi perasaanku bilang ini bukan soal pasien," jawab Ziva datar.

​Mereka masuk. Direktur Rumah Sakit, Pak Hadi, sudah duduk di balik meja kerjanya dengan senyum lebar yang terlihat dipaksakan. Di tangannya ada sebuah map tebal berlogo Drystan Group.

​"Silakan duduk, Dokter Ziva, Dokter Rayn," sambut Pak Hadi ramah berlebihan. "Saya punya kabar gembira. Sangat gembira."

​"Soal MRI itu, Pak?" tebak Ziva langsung.

​"Benar! Suami kamu, Pak Elzian, benar-benar dermawan. Dia menyumbangkan alat diagnostik tercanggih untuk rumah sakit kita. Ini lompatan besar buat akreditasi kita," Pak Hadi menggosok tangannya antusias. Namun, matanya melirik Rayn dengan rasa bersalah. "Tapi... ada sedikit syarat administratif dalam perjanjian hibahnya."

​"Syarat apa?" tanya Rayn polos.

​Pak Hadi berdehem, menghindari tatapan Rayn. "Pihak donatur meminta adanya pemerataan tenaga medis berkualitas. Mereka ingin dokter terbaik kita memimpin klinik cabang baru di daerah perbatasan kota. Dan... nama yang mereka ajukan secara spesifik adalah Dokter Rayn."

​Hening.

​Ziva terbelalak. Rayn melongo.

​"Maksud Bapak... saya dimutasi?" tanya Rayn tak percaya. "Tapi Pak, spesialisasi saya bedah jantung. Di klinik perbatasan tidak ada fasilitas kamar operasi jantung. Di sana cuma ada poli umum dan bidan. Apa yang harus saya lakukan di sana? Mengobati batuk pilek?"

​"Itu... itu cuma sementara, Rayn," Pak Hadi mencoba berkilah, keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. "Mungkin setahun atau dua tahun. Anggap saja pengabdian masyarakat. Gajimu akan dinaikkan dua kali lipat, fasilitas rumah dinas ditanggung Drystan Group."

​"Ini gila," potong Ziva tajam. Dia berdiri, menatap tajam Pak Hadi. "Rayn itu aset bedah jantung terbaik di sini. Memindahkannya ke klinik yang bahkan tidak punya mesin EKG yang layak itu sama saja mematikan karirnya! Bapak setuju dengan ide bodoh ini?"

​"Saya tidak punya pilihan, Dokter Ziva!" Pak Hadi ikut berdiri, wajahnya memerah. "Nilai donasi ini lima puluh miliar! Kalau saya tolak, yayasan akan memecat saya. Lagipula, ini permintaan langsung dari Pak Elzian. Katanya dia ingin Dokter Rayn 'mencari suasana baru'."

​"Suasana baru apanya..." desis Ziva.

​Tangan Ziva menyambar map perjanjian di meja Pak Hadi. Dia membuka lembar terakhir dengan kasar.

​Di sana, di atas materai sepuluh ribu, tertera tanda tangan tegas dengan tinta hitam. Dan di kolom 'Syarat Tambahan', tertulis kalimat singkat yang diketik rapi:

​Mutasi segera Dr. Rayn Mahendra ke Klinik Pratama Drystan wilayah Selatan. Efektif per hari ini.

​Di bawahnya, tertulis nama pemberi perintah: Elzian Drystan.

​Darah Ziva mendidih. Wajahnya panas bukan main. Ini bukan donasi. Ini deportasi. 

Elzian menggunakan kekuasaan dan uangnya hanya karena dia melihat Rayn mengambil ranting di rambut Ziva kemarin sore.

​Pria itu benar-benar kekanak-kanakan! Dia pikir rumah sakit ini papan monopoli di mana dia bisa melempar orang sesuka hati?

​"Ziva, sudahlah," ucap Rayn pelan, mencoba menenangkan. Dia tersenyum kecut. "Mungkin ini memang takdirku. Lagipula, gajinya besar. Aku bisa menabung buat nikah."

​"Jangan bodoh, Rayn! Dia melakukan ini bukan karena peduli padamu atau klinik itu!" seru Ziva emosi.

​Ziva meremas kertas perjanjian itu di tangannya sampai lecek tak berbentuk. Bunyi kertas diremukkan terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu.

​"Dokter Ziva! Itu dokumen asli!" pekik Pak Hadi panik.

​Ziva tidak peduli. Dia melempar gumpalan kertas itu kembali ke meja Pak Hadi.

​"Jangan tanda tangani surat pindah Rayn dulu," perintah Ziva dengan aura membunuh yang membuat Pak Hadi kicep.

​Ziva melepas jas putih kebanggaannya dengan gerakan kasar, lalu menyampirkannya di lengan. Dia menyambar tasnya.

​"Ziva, kamu mau ke mana? Kita ada jadwal operasi jam sepuluh!" panggil Rayn khawatir melihat mata Ziva yang berkilat marah.

​Ziva berbalik di ambang pintu, menatap Rayn dan Pak Hadi bergantian.

​"Operasi jam sepuluh ditunda," ucap Ziva dingin. Dia mengikat rambutnya tinggi-tinggi, bersiap untuk perang.

​"Aku harus pergi. Ada satu pasien sakit jiwa yang harus kuoperasi otaknya sekarang juga. Namanya Elzian Drystan."

1
Warni
🥰🤭🤭🤭🤭😂
Warni
Lebih galak Ziva.
Warni
😫
Warni
😂
Warni
🤭
Warni
Ngambek nanti si Suami klu tulisannya di ejek jelek.
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
kalau orang mengira Elzian lumpuh maka kakinya adalah istrinya sendiri. good job Ziva
Ma Em
Akhirnya Ziva bisa mengalahkan Elzian akibat egonya yg terlalu tinggi dan keras kepala orang lain tdk ada yg berani melawan Elzian tapi Ziva bisa mengalahkan nya hebat kamu Ziva .
Savana Liora: iya. mantap
total 1 replies
Warni
🥰
Warni
Mengamuk.🤣
Warni
😂
Warni
😁
Warni
😂
Warni
Jangan bilang Dokter Rayn di pindah tugaskan.🤭
Warni
😂🥰🥰🥰
Warni
🥰
Warni
🤣
Warni
Oh mampus.
Savana Liora: tau rasa dia
total 1 replies
Aanisa aliya
lanjutkan
Savana Liora: besok ya
total 1 replies
Warni
Ohhh,mantap pak.Suami siaga.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!