⚠️Area yang khusus orang besar. ^_^ nak kecil hus hus...
Kisah cinta slow-burn antara siswi petakilan dengan guru muda PJOK yang terlalu cool untuk jadi nyata. Isinya 30% latihan fisik, 70% adu mekanik perasaan.
Mulai dari drama salah kirim stiker WhatsApp ke grup kelas, sampai momen panas di gudang sekolah yang hampir bikin profesionalitas Pak Radit runtuh.
Ini cerita tentang masa transisi jadi dewasa, di mana batas antara guru dan murid cuma sebatas "status" yang siap dihapus setelah hari kelulusan.
"Pak, lari keliling lapangan saya sanggup. Asal finish-nya di pelaminan kita." — Gia, 18 tahun, pejuang remedial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 (Part 1) The Lion’s Den & A Taste of Forbidden Fruit
Kalau ada kompetisi "Momen Paling Awkward Se-Jagat Raya" , Gia yakin dia bakal bawa pulang piala emas, sertifikat, plus bonus saham perusahaannya.
Bayangin aja, Gia baru aja meleyot gara-gara dikasih kata-kata manis sama Pak Radit di mobil, rambut masih agak berantakan, liptint juga udah agak pudar. Eh, pas turun dari mobil di depan rumah mewah yang gedenya kayak satu kecamatan, pemandangan pertamanya adalah mobil Range Rover hitam milik Pak Baskoro.
"Pak... itu mobil si Penguasa Yayasan kan?" bisik Gia, tangannya mendadak dingin lagi. "Kita putar balik aja yuk? Saya mending dikurung di perpustakaan seminggu daripada harus ketemu dia sekarang."
Pak Radit menatap mobil itu dengan rahang mengeras. Dia narik napas panjang, terus nengok ke arah Gia. Dia benerin poni Gia yang berantakan dengan gerakan lembut yang kontras banget sama mukanya yang lagi serius.
"Gia, dengerin saya. Jangan takut. Ayah saya ada di dalem. Pak Baskoro nggak akan berani macem-macem kalau ada beliau. Kita masuk sekarang, oke? Stay cool, stay slay," kata Pak Radit, mencoba mencairkan suasana pakai bahasa yang (dia pikir) Gen Z banget.
Gia terkekeh dikit. "Bapak kalau bilang stay slay malah kedengeran kayak mau ngajak tawuran, tau nggak?"
...
Begitu masuk ke dalem rumah, suasananya kerasa kayak lagi di film Godfather. Ruang tamunya luas banget, penuh sama barang antik dan bau kayu jati yang mahal. Di sofa besar, duduk dua orang laki-laki tua yang auranya bikin oksigen di ruangan itu kerasa tipis.
Yang satu adalah Pak Baskoro, yang wajahnya langsung berubah drastis pas liat Gia dateng bareng Pak Radit. Yang satu lagi adalah seorang pria berambut putih dengan kacamata perak—Pak Dirgantara, ayahnya Pak Radit.
"Nah, ini dia anak saya. Dan... ah, ini Gianna ya?" Pak Dirgantara berdiri, senyumnya ramah banget, beda 180 derajat sama Pak Baskoro.
"Sore, Om," sapa Gia sopan, sambil salim (biar dapet poin attitude).
Pak Baskoro berdehem keras. "Dirga, kamu beneran mau biarin anak kamu main-main sama muridnya sendiri? Kamu tau kan reputasi yayasan taruhannya?"
Pak Dirgantara duduk lagi, dia nyilangin kaki dengan santai. "Baskoro, Baskoro... Kita ini udah kenal puluhan tahun. Dulu waktu kita masih muda, kamu juga kan yang ngejar-ngejar guru magang kita sampai mau keluar dari kampus? Jangan munafik lah."
Gia hampir aja kelepasan bilang "Mampus!" pas denger Pak Baskoro kena spill masa lalu. Pak Baskoro mukanya langsung merah padam.
"Itu beda! Sekarang zaman udah beda! Radit itu guru, dan anak ini... dia punya masa depan di London. Saya cuma mau mastiin dia nggak terhambat gara-gara drama picisan," sahut Pak Baskoro ketus.
Pak Radit melangkah maju, dia berdiri di samping Gia. "Pak Baskoro, masa depan Gia itu Gia yang nentuin. Bukan Bapak. Soal beasiswa, kalau Bapak mau narik tawaran itu karena alasan pribadi, silakan. Ayah saya sudah setuju buat membiayai Gia secara mandiri tanpa embel-embel yayasan."
Gia nengok ke Pak Radit dengan mata melotot. Hah? Biayain mandiri?! Ini namanya gue dipelihara sugar daddy jalur resmi?!
"Bener, Bas. Saya suka sama anak ini. Dia pinter, buktinya dia bisa bikin Radit yang kayak robot ini jadi punya perasaan lagi," tambah Pak Dirgantara sambil ketawa kecil. "Jadi, stop nekan mereka. Atau saya bakal tarik semua saham keluarga Dirgantara dari sekolah kamu."
Skakmat. Pak Baskoro nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Dia berdiri, ngerapiin jasnya, terus natap Gia dan Pak Radit dengan pandangan dendam. "Kalian pikir ini selesai? Kita liat aja nanti."
...
Thor bikin Gia jangan ngejar2 nih guru lagi,Bikin gia cuekin nih guru biar tau rasa dia..