Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.
Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.
Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.
Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUKAN ARLO, TAPI KAMU
Pagi hari di ulang tahun pertama Arlo dimulai dengan sorak-sorai kecil di ruang tengah. Rosa telah menyulap sudut ruangan menjadi miniatur hutan dengan tenda-tenda kain, balon hijau hutan, dan papan bertuliskan "Arlo's First Expedition". Arlo sendiri tampak sangat menggemaskan mengenakan setelan penjelajah cilik lengkap dengan topi safari yang berkali-kali ia lepas karena merasa risih.
Arsen berusaha keras membuang semua pikiran tentang orang asing di kontrakan lama. Ia ingin hari ini sempurna. Sambil menggendong Arlo, Arsen berkeliling halaman belakang, memastikan semua persiapan sudah matang. Ibu Arsen dan Salsa datang lebih awal membawa kue ulang tahun bertema binatang liar, sementara Ayah Arsen sibuk membantu memasang beberapa foto perkembangan Arlo dari bayi merah hingga bisa berjalan.
Satu per satu tamu mulai berdatangan. Rendy datang membawa kado besar yang ia klaim sebagai "peralatan detektif cilik", disusul Dito yang datang dengan gaya hebohnya sambil membawa balon-balon raksasa. Tawa pecah saat Arlo mencoba meniup lilin pertamanya, meski akhirnya justru Rosa dan Arsen yang meniupnya bersama-sama sambil memanjatkan doa dalam hati.
Di tengah riuhnya acara, saat para tamu sedang asyik menikmati hidangan, Arsen berjalan ke arah pagar depan untuk menyambut kerabat Rosa yang baru sampai. Namun, langkahnya terhenti. Di seberang jalan, agak jauh dari deretan mobil tamu, terparkir sebuah mobil SUV hitam dengan kaca yang sangat gelap. Mobil itu tidak bergerak, mesinnya mati, namun Arsen merasa ada sepasang mata di balik kaca tersebut yang sedang mengamati kemeriahan di dalam rumahnya.
"Sen? Kok malah bengong di depan? Itu sepupuku sudah datang," tegur Rosa yang muncul di belakangnya sambil menggendong Arlo yang mulai mengantuk.
Arsen segera mengalihkan pandangannya, mencoba tersenyum sealami mungkin agar Rosa tidak menyadari ketegangannya. "Eh, iya. Tadi cuma memastikan jalanan nggak terlalu macet buat tamu yang lain." Arsen merangkul bahu Rosa dan mengajaknya masuk kembali ke dalam. Namun, sebelum masuk, ia sempat melirik tajam ke arah mobil itu seolah memberikan peringatan bahwa ia tahu mereka ada di sana.
Momen potong kue pun dimulai. Arlo yang belepotan krim kue terlihat sangat bahagia, tidak tahu bahwa di luar sana, ada misteri yang mulai mendekat ke zona nyamannya. Arsen berbisik pelan di telinga Rosa saat mereka berfoto bersama, "Aku sayang kalian. Aku nggak akan biarkan apa pun merusak kebahagiaan kita." Rosa hanya tersenyum, mengira itu adalah bagian dari ucapan romantis di hari spesial putra mereka.
Setelah tamu terakhir pulang dan rumah kembali tenang, suasana haru sisa pesta mendadak berubah menjadi berat. Rosa sedang merapikan beberapa kado di atas karpet saat Arsen menghampirinya dengan langkah gontai. Wajah Arsen tidak menunjukkan kebahagiaan seorang ayah yang baru saja merayakan ulang tahun anaknya; ia justru tampak pucat dan gelisah.
Arsen duduk di samping Rosa, menatap Arlo yang sudah tertidur lelap di dalam tenda kecil mainannya. "Ros, aku takut perasaanku nggak enak soal Arlo," ucapnya dengan suara rendah yang bergetar.
Rosa menghentikan aktivitasnya, menatap Arsen dengan cemas. "Maksud kamu soal mobil di depan tadi? Atau soal orang yang cari kamu ke rumah lama?" tanya Rosa sambil menggenggam tangan Arsen yang terasa dingin. "Sen, kita sudah di sini. Kita sudah sah secara hukum. Nggak ada yang bisa ambil Arlo dari kita."
Arsen menggeleng pelan, ia menunduk dan memijat pelipisnya. "Aku nggak tahu, Ros. Tapi instingku terus-terusan berteriak kalau ada sesuatu yang mendekat. Mobil itu tadi... aku ngerasa mereka nggak cuma lewat. Mereka mengamati kita. Aku takut kalau ternyata ada pihak dari masa lalu Arlo yang tiba-tiba muncul dan mau mengusik ketenangan kita sekarang."
Rosa terdiam sejenak, mencoba mencerna ketakutan suaminya. Ia tahu Arsen bukan tipe orang yang mudah panik tanpa alasan. "Kalau memang ada yang datang, kita hadapi bareng-bareng, Sen. Kita punya Rendy, kita punya hukum yang melindungi kita. Kamu nggak sendirian lagi kayak dulu."
"Aku tahu," sahut Arsen sambil menatap wajah tenang Arlo dalam tidurnya. "Tapi melihat dia sebahagia tadi, aku jadi makin takut kehilangan semua ini. Aku akan minta Dito buat jaga di sekitar sini beberapa hari ke depan tanpa harus bikin tetangga curiga. Aku cuma mau memastikan, di ulang tahunnya yang pertama ini, Arlo benar-benar aman."
Rosa menghela napas panjang, ia menarik Arsen ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala suaminya di bahunya. "Malam ini kita tidur bertiga lagi ya, di kamar kita. Biar kamu bisa dengar napas Arlo, biar kamu tahu dia ada di sini, sama kita."
Gemini berkata
Pagi itu, suasana di kantor hukum tempat Arsen bekerja tampak seperti biasa—sibuk dan profesional. Namun, ketenangan Arsen pecah saat resepsionis menelepon ke ruangannya dengan suara yang terdengar agak ragu.
"Pak Arsen, ada seseorang di lobi yang ingin bertemu. Dia tidak punya janji, tapi dia bersikeras kalau ini urusan pribadi yang sangat mendesak," ucap resepsionis itu.
Arsen yang sedang merapikan berkas seketika teringat pada laporan Dito semalam. Jantungnya berdegup kencang. "Siapa namanya?"
"Namanya Laras, Pak."
Nama itu seperti hantaman keras di dada Arsen. Laras adalah sosok dari masa lalu yang ia kubur dalam-dalam, wanita yang dulu pergi meninggalkan luka dan kekacauan dalam hidupnya sebelum ia menemukan kembali arah bersama Rosa dan Arlo. Arsen sempat terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab dengan nada dingin, "Suruh dia masuk."
Pintu ruangan terbuka, dan sosok yang masuk bukanlah Laras yang diingat Arsen. Dulu, Laras adalah wanita yang selalu tampil glamor dan penuh percaya diri. Namun kini, wanita di hadapannya terlihat sangat memprihatinkan. Wajahnya pucat, tubuhnya tampak lebih kurus, dan pakaiannya terlihat kusam seolah ia telah melewati masa-masa yang sangat sulit.
"Saya mau ketemu Pak Arsen," ucap Laras dengan suara serak, nyaris berbisik saat matanya bertemu dengan mata Arsen.
Arsen berdiri di balik mejanya, tidak ada niat sedikit pun untuk menyambut atau mempersilakan wanita itu duduk. Mata tajamnya menatap Laras dari ujung kepala hingga ujung kaki, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi pada wanita ini hingga tampilannya berubah drastis menjadi sekusam ini.
"Laras. Setelah sekian lama... untuk apa kamu ke sini?" tanya Arsen dengan suara dingin dan datar.
Laras menunduk, tangannya gemetar memegang tas kecil yang sudah terkelupas kulitnya. Ia tampak ragu untuk menatap langsung ke mata Arsen. "Aku cari kamu ke mana-mana, Sen. Aku ke rumah lama kamu, tapi tetangga bilang kamu sudah pindah. Aku... aku nggak tahu harus ke mana lagi. Aku cuma butuh bantuanmu secara profesional."
Arsen mengerutkan kening. Ia sudah bersiap dengan benteng perlindungan untuk Arlo, namun Laras justru tidak menyinggung soal anak sama sekali. "Bantuan profesional? Kamu tahu kan aku pengacara bidang apa? Dan kenapa harus aku? Banyak kantor hukum lain di kota ini."
Laras mulai terisak, ia jatuh terduduk di kursi depan meja kerja Arsen tanpa diminta. "Aku sedang dalam masalah besar, Sen. Aku terjebak hutang piutang yang bukan sepenuhnya salahku. Aku dikejar-kejar orang... aku takut. Aku ingat kamu orang yang paling jujur yang pernah aku kenal. Aku cuma butuh perlindungan hukum, atau setidaknya saran supaya aku nggak terus-terusan diteror."
Arsen terdiam. Ia memperhatikan gerak-gerik Laras dengan teliti. Ada rasa iba yang sempat melintas, namun rasa curiga jauh lebih besar. Apakah ini hanya taktik Laras untuk masuk kembali ke hidupnya? Ataukah mobil SUV hitam kemarin ada hubungannya dengan orang-orang yang mengejar Laras?
"Aku tidak bisa membantumu, Laras," jawab Arsen tegas. "Urusan kita sudah selesai bertahun-tahun lalu. Kalau kamu butuh pengacara, aku bisa rekomendasikan teman, tapi jangan di kantor ini. Dan tolong, jangan pernah cari aku ke rumah lama atau mencoba mencari alamat baruku lagi. Hidupku sudah sangat tenang sekarang."
Laras mendongak dengan mata sembab. "Aku nggak punya uang buat bayar pengacara lain, Sen. Aku mohon... cuma sebentar saja. Kamu satu-satunya orang yang aku percaya."
Arsen membuang muka, hatinya berkecamuk. Ia ingin mengusir Laras saat itu juga, tapi ia juga takut jika Laras terus berkeliaran, ia akan secara tidak sengaja memancing para pengejarnya ke arah Rosa dan Arlo.