Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Bayang-Bayang di Tepian Sungai
Pagi yang cerah di Jakarta terasa mencekam bagi Paul Danola. Sejak fajar menyingsing, ia sudah seperti orang gila yang memutari sudut-sudut kota. Matanya merah, kantung matanya menghitam karena tidak tidur barang sekejap pun. Sean, yang biasanya ceria, kini hanya meringkuk di kursi belakang mobil, menangis sesenggukan hingga suaranya serak, terus-menerus memanggil "Onty Kath".
Paul menghentikan mobilnya di depan gerbang kampus Kathryn. Ia menghadang setiap teman sekelas adiknya yang lewat.
"Di mana Kathryn? Kalian melihatnya?!" tanya Paul dengan nada mendesak, mencengkeram bahu salah satu teman pria Kathryn.
"Kak, tenang dulu... Kathryn tadi masuk kelas pagi. Tapi setelah dosen keluar, dia langsung pergi. Kami pikir dia pulang ke rumah karena wajahnya pucat sekali," jawab teman itu ketakutan.
"Dia tidak pulang! Dia tidak ada di rumah!" bentak Paul frustrasi.
Semua teman Kathryn menggeleng serempak. Tidak ada yang tahu ke mana gadis itu pergi. Ia seolah-olah hadir hanya untuk menggugurkan kewajibannya, lalu lenyap ditelan hiruk-pikuk kota. Paul kembali ke mobil, memukul kemudi dengan keras. Rasa bersalah yang semalam menghantuinya lewat mimpi kini menjelma menjadi ketakutan yang nyata. Ia merasa telah membunuh jiwa adiknya sendiri dengan kata-kata kasarnya.
Paul memacu mobilnya tanpa arah, mengikuti insting yang tumpul karena kepanikan. Hingga ia sampai di sebuah jembatan tua yang melintasi sungai besar di pinggiran kota. Arus sungai di bawah sana sedang meluap karena hujan semalam, berwarna cokelat pekat dan menderu ganas.
Di kejauhan, di atas trotoar jembatan yang sepi, Paul melihat siluet seorang wanita. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Wanita itu mengenakan dress biru muda yang sama dengan yang dipakai Kathryn kemarin. Rambut panjangnya yang terurai diterpa angin kencang, menari-nari liar di udara.
Wanita itu berdiri sangat dekat dengan pagar pembatas. Ia tidak bergerak, hanya menatap kosong ke arah derasnya air di bawah sana. Tubuhnya tampak rapuh, seolah satu hembusan angin lagi akan menjatuhkannya ke dalam pelukan maut.
"Kathryn..." desis Paul pelan, suaranya tercekat di tenggorokan.
Tanpa memedulikan mobilnya yang berhenti di tengah jalan, Paul menghambur keluar. Ia berlari sekuat tenaga, mengabaikan teriakan klakson kendaraan lain. Di pikirannya hanya ada satu: jangan sampai ia kehilangan Kathryn seperti ia kehilangan ibunya.
"Kathryn! Jangan!" teriak Paul saat melihat adiknya mulai menumpukan tangan di pagar pembatas.
Paul langsung menerjang dan memeluk tubuh kecil itu dari belakang, menariknya menjauh dari tepian dengan kekuatan penuh. Ia mendekap Kathryn begitu erat, seolah-olah jika ia melonggarkan pelukannya, adiknya akan menguap menjadi asap.
"Maafkan Kakak, Sayang... Maafkan Kakak! Jangan lakukan ini, Kakak mohon!" Paul meracau, air matanya jatuh membasahi pundak Kathryn. "Kakak bodoh, Kakak jahat... tapi tolong jangan tinggalkan Kakak dan Sean. Kakak tidak akan memaksamu lagi, Kakak tidak akan membela Dimas lagi, Kakak janji!"
Di saat yang sama, sebuah mobil mewah berwarna perak berhenti tepat di belakang mobil Paul. Seorang pria muda bernama Rendy seorang pengusaha muda yang sejak tadi sudah mengawasi gerak-gerik mencurigakan Kathryn dari kejauhan turun dengan wajah tegang. Rendy melihat segalanya; ia melihat keputusasaan di mata Kathryn sebelum gadis itu hendak melompat.
Rendy berlari mendekat, ia ikut berlutut dan mencoba membantu menstabilkan posisi Kathryn yang terus meronta. "Tenang, Mbak... Tenang. Segalanya bisa dibicarakan," ucap Rendy dengan suara berat namun menenangkan, ikut merangkul bahu Kathryn agar gadis itu tidak kembali ke tepi jembatan.
Namun, kehadiran mereka berdua justru menyulut ledakan emosi yang lebih hebat. Kathryn tidak menangis karena haru. Ia menangis karena amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.
"LEPASKAN! LEPASKAN AKU, PENIPU!" teriak Kathryn histeris.
Ia mulai memukul dada Paul dengan tinjunya. Ia meronta seperti orang kesurupan, mencoba melepaskan diri dari dekapan kakaknya. "Kenapa Kakak di sini?! Kenapa Kakak menyelamatkanku setelah semalam Kakak membunuhku dengan kata-katamu?!"
"Kathryn, Kakak khilaf, Dek..."
"BOHONG!" teriak Kathryn, suaranya melengking menyayat hati. "Kakak lebih sayang pada Dokter Dimas! Kakak mengusirku demi pria itu! Aku benci Kakak! Aku sangat membenci Kakak lebih dari apa pun di dunia ini!"
Kathryn berhasil menyentak tangan Rendy dan mendorong bahu Paul hingga pegangan kakaknya terlepas. Ia berdiri dengan kaki gemetar, menatap Paul dengan tatapan yang penuh dengan kebencian murni.
Orang-orang mulai berkumpul di kejauhan, memperhatikan drama keluarga itu. Sean yang berada di mobil mulai keluar dan berlari kecil sambil menangis, "Onty... Onty..."
Melihat Sean, tangis Kathryn pecah semakin hebat. Ia jatuh terduduk di atas aspal jembatan yang kasar, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya terguncang hebat. Ia merasa sangat lelah, lelah menjadi orang baik, lelah menjadi adik yang penurut, dan lelah menjadi target kebohongan pria-pria di hidupnya.
Rendy, yang merasa situasi ini sangat privat, perlahan mundur namun tetap mengawasi. Sementara Paul, dengan wajah hancur, perlahan berlutut di depan adiknya. Ia tidak berani memeluknya lagi. Ia hanya menunduk, membiarkan air matanya jatuh ke aspal.
"Kakak akan pergi jika itu maumu, Kath," bisik Paul dengan suara hancur. "Tapi tolong... jangan benci Sean. Dia tidak tahu apa-apa. Dan tolong, jangan pergi ke tempat yang tidak bisa Kakak jangkau. Kakak akan memberikan rumah itu untukmu sendiri, Kakak yang akan pergi jika perlu. Asal kamu tetap aman."
Kathryn berhasil menyentak tangan Rendy dan mendorong bahu Paul hingga pegangan kakaknya terlepas. Ia berdiri dengan kaki gemetar, menatap Paul dengan tatapan yang penuh dengan kebencian murni.
"Jangan pernah sebut nama Sean untuk menahanku! Kakak sudah merusak segalanya! Kakak merusak rumah kita, Kakak merusak kepercayaanku!" Kathryn berteriak sambil memukul-mukul kepalanya sendiri. "Aku ingin mati karena aku tidak tahan melihat wajah kalian yang penuh kebohongan!"
Sean, yang melihat tantenya berteriak-teriak, merangkak keluar dari mobil sambil menangis keras. "Onty... Onty Kath... ikut..."
Melihat Sean, Kathryn bukannya luluh, ia justru semakin terisak hebat. Ia merasa gagal menjadi tante yang baik karena ia sudah tidak sanggup lagi hidup di antara Paul dan Dimas. "Maafkan Onty, Sean... Onty sudah mati sejak kemarin!"
Rendy mencoba menenangkan, "Mbak, tolong... Kakak Anda sangat menyesal. Lihat dia, dia hancur."
Kathryn menoleh tajam pada Rendy. "Kamu jangan ikut campur! Kalian pria sama saja! Selalu berpikir kalian bisa mengatur hidup wanita dengan uang dan kekuatan kalian!"
Paul merangkak di aspal, mencoba memegang kaki Kathryn. "Bunuh Kakak saja, Kath. Jangan bunuh dirimu sendiri. Kakak mohon..."
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰