Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30
Pagi itu, kediaman Isabella di kawasan perbukitan yang asri tampak sangat tenang. Isabella sedang duduk di teras belakang, menikmati teh paginya, ketika Zayn datang membawa seorang gadis yang wajahnya tampak tidak asing.
"Mami," sapa Zayn sambil mengecup pipi ibunya. "Ini Luna, teman kampusku yang waktu itu menabrak mobil Mami."
Isabella tersenyum lebar. Ia tentu ingat gadis cantik yang sangat bertanggung jawab itu. "Ah, Luna! Senang sekali melihatmu lagi, Sayang. Mari, silakan duduk."
Luna tersenyum sopan, meski ia merasa gugup luar biasa. Isabella belum tahu bahwa Luna adalah gadis yang selalu diceritakan Zayn saat mereka di London dulu, gadis yang membuat Zayn rela terbang kembali ke California dan menolak semua perjodohan. Isabella mengira ini hanyalah kunjungan pertemanan biasa.
Tiba-tiba, seekor anjing Golden Retriever berbulu emas yang sangat lebat berlari keluar dari dalam rumah. "Guk! Guk!"
"Zella!" panggil Zayn.
Mata Luna membelalak. Makhluk yang selama ini ia cemburui setengah mati ternyata benar-benar seekor anjing yang sangat menggemaskan. Zella langsung menghampiri Luna, mengendus ujung sepatunya, lalu dengan manja menyandarkan kepalanya di pangkuan Luna.
"Oh, lihat! Sepertinya Zella menyukaimu, Luna," seru Isabella senang.
Luna tertawa kecil, rasa bersalah sekaligus lucu menggelitik dadanya. Ia mengelus bulu Zella yang lembut. Maafkan aku ya, Zella, sudah menganggap mu pelakor, batin Luna geli.
Saat Luna membungkuk untuk bermain dengan Zella, baju dress yang ia kenakan tanpa sengaja memperlihatkan bentuk tubuhnya dari samping. Isabella, yang memiliki ketajaman insting seorang ibu, terdiam sejenak. Matanya melirik ke arah perut Luna. Perut itu... buncitnya tampak berbeda. Itu bukan tipe perut orang yang baru saja makan banyak, melainkan benjolan yang bulat dan kaku.
Isabella merasa ada yang aneh, namun ia terlalu sopan untuk bertanya langsung. Ia hanya memperhatikan bagaimana Zayn menatap Luna, tatapan yang penuh pemujaan, protektif, dan sangat dalam.
"Zayn, bisa tolong ambilkan air minum lagi di dapur? Mami haus," pinta Isabella sengaja.
Begitu Zayn masuk ke dalam rumah, Isabella segera bangkit dan menghampiri putranya di dapur. Ia memastikan Luna masih asyik bermain dengan Zella di taman sebelum ia berbisik dengan nada serius pada Zayn.
"Zayn," panggil Isabella, menyentuh lengan anaknya.
"Ya, Mi?" Zayn menoleh sambil mengisi gelas.
Isabella menarik napas panjang, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tulus. "Mami tahu Luna itu anak yang sangat baik dan manis. Tapi, Sayang... Mami ingin memberi nasehat padamu sebagai ibu."
Zayn mengernyitkan dahi. "Nasehat apa, Mi?"
"Sebaiknya jangan terlalu dekat dengan Luna secara romantis ya, Nak," bisik Isabella lembut namun tegas. "Mami perhatikan tadi... sepertinya Luna sedang hamil saat ini, Zayn. Mami lihat perutnya benar-benar membuncit, tidak biasa untuk gadis seusianya."
Zayn hampir saja menjatuhkan gelas di tangannya. Ia menahan senyum sekuat tenaga.
"Jangan didekati secara berlebihan ya, Sayang," lanjut Isabella lagi. "Takutnya dia sudah punya kekasih atau bahkan suami. Mami tidak mau anak Mami yang tampan ini jadi perusak hubungan orang atau sakit hati karena mencintai wanita yang sudah membawa benih pria lain. Mama lihat cara pandang mu ke dia terlalu memuja, itu berbahaya kalau dia milik orang lain."
Zayn terdiam sejenak, menatap ibunya dengan tatapan jenaka. Ia merasa inilah saatnya meledakkan bom kebenaran.
Zayn meletakkan gelasnya, lalu merangkul bahu ibunya. "Mami benar. Luna memang sedang hamil."
Isabella membelalakkan mata. "Tuh kan! Benar dugaan Mami! Jadi dia punya kekasih? Siapa pria yang tidak bertanggung jawab membiarkan dia menyetir sendiri dalam kondisi begitu?"
Zayn terkekeh pelan, ia membawa ibunya berjalan menuju ambang pintu kaca yang menghadap ke taman, di mana Luna sedang tertawa sambil dipeluk oleh Zella.
"Pria itu ada di depan Mami sekarang," ucap Zayn tenang.
Isabella membeku. "Maksudmu...?"
"Luna itu kekasihku selama tiga tahun ini, Mi. Gadis yang selalu aku ceritakan di London. Dan benih pria lain yang Mami maksud itu... adalah cucu Mami sendiri. Anak-anak kami."
"APA?!" Isabella menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya beralih dari Zayn ke arah Luna yang masih belum sadar sedang dibicarakan. "Jadi... dia calon menantuku? Dan Mami tadi hampir menyuruhmu menjauhinya?"
Isabella langsung berlari keluar menuju taman tanpa memedulikan Zayn lagi. "Luna! Sayang! Oh Tuhan, kenapa tidak bilang dari tadi?!"
Zayn hanya bisa bersandar di pintu sambil tertawa puas, melihat ibunya kini gantian memeluk Luna dan mulai mengelus perut Luna dengan penuh semangat, sementara Luna tampak bingung sekaligus tersipu malu.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰