NovelToon NovelToon
Gadis Milik CEO Posesif

Gadis Milik CEO Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Anak Genius / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Tiara Pratiwi

Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Minta Tolong pada Adrian

Gwen berjalan menyusuri trotoar dengan pikiran kosong. Langit mulai gelap. Sebenarnya dia tidak berharap Dennis menikahinya sekarang juga toh dia tidak berniat pertahankan kandungannya, dia juga belum siap menjadi ibu.

Gwen hanya ingin mereka mencari solusi bersama, berharap Dennis setidaknya menemaninya jika dia memutuskan aborsi atau setidaknya kata-kata penenang. Tapi yang dia dapatkan adalah pengkhianatan.

Gwen berjalan tanpa menyadari bahwa langkahnya semakin condong ke arah jalan raya yang ramai. Suara klakson mobil tidak terdengar di telinganya.

Di saat yang sama, Sierra baru saja keluar dari gedung sekolah setelah menyelesaikan kelas tambahan Mr. Lawson untuk persiapan olimpiade matematika yang waktunya sudah semakin dekat. Dia melihat sosok yang dikenalnya berjalan dengan cara yang aneh di pinggir jalan. Saat menyadari sosok Gwen semakin melangkah masuk ke jalur kendaraan, insting Sierra bergerak lebih cepat dari pikirannya.

Sierra meninggalkan sepedanya dan berlari kencang. Tepat saat sebuah mobil sedan hitam melaju dengan kecepatan tinggi, Sierra menyambar lengan Gwen dan menariknya sekuat tenaga ke arah trotoar.

Citttt!

Ban mobil berdecit keras. Sang pengemudi membuka kaca dan memaki-maki tentang orang gila yang ingin bunuh diri, namun Gwen tidak mendengarkan, dia masih linglung.

Sierra masih memegang lengan Gwen yang gemetar hebat.

Gwen tersadar dari linglungnya dan melihat Sierra berdiri di sampingnya.

Melihat Gwen baik-baik saja, Sierra pun melepaskan lengan Gwen dan berbalik untuk pergi.

Tanpa aba-aba, Gwen merosot ke aspal, berjongkok, dan mulai menangis dengan suara yang sangat keras, melepaskan semua rasa sakitnya.

Pejalan kaki yang lewat mulai menoleh. Mereka menatap Sierra dengan curiga, mengira gadis itu baru saja melakukan sesuatu hingga membuat temannya menangis histeris. Sierra merasa sangat tidak nyaman menjadi pusat perhatian.

"Hei, jangan menangis di sini!" bisik Sierra, merasa canggung, dia tidak tahu apa yang terjadi pada Gwen dan apa yang harus dia lakukan di situasi ini.

Namun tangisan Gwen justru semakin kencang. Sierra menghela napas panjang, lalu mengulurkan kedua tangannya untuk menarik Gwen agar berdiri.

Saat jemari Sierra melingkari pergelangan tangan Gwen untuk membantunya bangkit, sesuatu yang tidak biasa terasa di bawah kulitnya. Denyut nadi Gwen terasa sangat kuat, cepat, dan memiliki ritme ganda yang unik, sebuah pengetahuan medis dasar yang pernah dipelajari Sierra.

Sierra terdiam sejenak, matanya menatap Gwen dengan tatapan yang berubah.

"Kau... hamil?" tanya Sierra dengan nada rendah yang membuat tangisan Gwen seketika berhenti.

Gwen terkesiap. Matanya yang sembab melebar, menatap Sierra dengan tatapan cemas, seolah-olah rahasia paling kelam dalam hidupnya terbongkar. Jantungnya berdegup kencang karena panik. "Bagaimana Sierra bisa tahu? Apakah tanda-tanda itu begitu nyata di wajahnya? Apa Sierra akan memberitahu anak-anak lain? Dia pasti senang kan? Melihat kondisiku seperti ini... Sebelumnya di hadapannya, aku dengan bangganya menyombongkan Dennis, tapi sekarang..." batin Gwen berkecamuk.

Pertahanan Gwen runtuh kembali. Ketakutan yang sempat membeku itu mencair menjadi tangisan yang jauh lebih pilu dari sebelumnya. Bahunya berguncang hebat. Dia tidak punya tenaga lagi untuk menyangkal. Keheningan jalanan di sore hari itu hanya diisi oleh suara tangis Gwen yang pecah.

Sierra menghela napas pendek. Dia tidak suka keramaian, dan dia lebih tidak suka menjadi tontonan orang asing. "Hei," ucap Sierra dengan nada rendah namun tegas. "Apa kau butuh teman bicara? Ayo ikut aku ke tempat lain. Jangan menangis di sini, kau membuat orang-orang mengira aku sedang merundungmu."

Gwen mendongak pelan. Bulu matanya basah oleh air mata. Dia mengira akan menemukan tatapan mengejek, hinaan, atau senyum kemenangan di wajah Sierra, mengingat betapa buruknya perlakuan Gwen dan teman-teman Nora lainnya kepada gadis itu selama ini. Namun, mata Sierra tetap datar. Tidak ada kebencian, tidak ada rasa kasihan yang berlebihan, hanya sebuah tatapan netral yang entah mengapa justru membuat Gwen merasa nyaman.

Gwen menyeka pipinya dengan punggung tangan, lalu mengangguk pelan. Dia bangkit dengan kaki yang masih terasa lemas. Sierra mengambil sepedanya dan menuntun sepedanya, ia berjalan beriringan dengan Gwen. Mereka berjalan kaki menuju area tepian sungai yang letaknya tak jauh dari sana.

Tempat itu adalah area terbuka dengan deretan bangku kayu yang menghadap ke air. Di sepanjang jalan setapak, terdapat banyak warung kaki lima yang menjajakan beraneka jajanan, mulai dari gorengan hingga minuman hangat.

Sierra memarkir sepedanya, lalu mendatangi salah satu penjual. Dia membeli dua gelas minuman teh susu hangat dan beberapa kantong cemilan.

"Ayo duduk di sana," tunjuk Sierra ke sebuah bangku yang agak menjauh dari kerumunan orang.

Mereka duduk bersebelahan. Angin sungai yang dingin mulai berembus, membuat uap dari gelas plastik di tangan mereka menari-nari. Selama beberapa menit, tidak ada percakapan. Mereka hanya diam menyantap cemilan. Sierra mengunyah makanannya dengan tenang, yah sebenarnya dia juga memang lapar. Sierra tidak tahu apakah Gwen akan bercerita tentang apa yang terjadi padanya, saat ini dia hanya fokus pada ubi kukus di tangannya.

Sebenarnya Sierra juga sudah bisa memperkirakan apa yang mungkin terjadi. Kalau mengingat adegan dalam drama, biasanya si wanita hamil dan si pria tidak mau bertanggung jawab, lalu si wanita putus asa dan ingin bunuh diri.

Gwen adalah yang pertama memecah keheningan. Suaranya serak dan nyaris hilang ditelan bunyi arus sungai.

"Aku hamil, ini... anak Dennis," ucap Gwen tanpa menoleh ke arah Sierra. Kata-kata itu keluar seperti pengakuan dosa yang berat. "Dia adalah pria pertama untukku dan aku memimpikan masa depan dengannya. Tapi anak ini, aku tidak siap memilikinya sekarang. Tadi aku datang ke apartemennya. Aku hanya ingin memberitahunya kalau aku hamil tapi aku ingin menggugurkannya... aku pikir dia setidaknya akan menemaniku melewati semua ini. Tapi dia malah mencaci makiku. Dia bilang aku wanita murahan yang tidur dengan pria lain hanya untuk menjebaknya. Dia tidak mau mengakui kalau anak ini anaknya. Meskipun aku tidak menginginkan kehadiran anak ini sekarang tapi aku tidak terima dia tidak mau mengakui anak ini. Dasar bajingan"

Gwen meremas gelas plastiknya hingga retak. "Padahal aku hanya melakukannya dengannya. Belum ada dua bulan sejak aku mulai berpacaran dengannya, tapi sekarang... dia bahkan sudah menyimpan wanita baru di dalam kamarnya. Kau pasti berpikir aku bodoh sekali kan, padahal sudah banyak rumor buruk tentangnya tapi masih saja aku jatuh pada rayuannya."

Air mata kembali menetes di pipinya.

"Apa kau sudah yakin soal aborsi?", tanya Sierra.

"Iya..."

Sierra menyesap minumannya, matanya menatap lurus ke arah aliran sungai yang berwarna perak terkena sisa cahaya senja. "Apa keluargamu sudah tahu?"

Gwen tertawa miris, tawa yang terdengar menyakitkan. "Aku tidak berani mengatakannya. Aku sudah bisa membayangkan reaksi mereka. Mereka akan mengamuk mungkin juga memukuliku, lalu mengusirku saat itu juga. Di keluargku, hanya kakak laki-lakiku yang dianggap berharga. Dia adalah ahli waris, masa depan keluarga dan perusahaan. Sedangkan aku? Aku cuma aksesori yang perlu dibesarkan, disekolahkan di tempat bergengsi hanya untuk branding, lalu dinikahkan dengan anak keluarga kaya lain yang bisa membantu bisnis keluarga Preston serta memperkuat posisi Kakak di perusahaan."

Sierra terdiam. Dia sangat memahami hal itu. Di dunia mereka, anak perempuan sering kali dipandang sebagai aset diplomatik. Hamil di luar nikah tentu akan menurunkan harga jual.

"Jadi sekarang, apa yang akan kau lakukan?"

Gwen gemetar. "Aku ingin aborsi dulu tapi... Aku... Jujur aku tidak seberani itu untuk melakukannya. Apalagi jika aku harus pergi ke sana sendirian. Aku pernah mendengar berita tentang wanita yang meninggal karena pendarahan hebat saat aborsi. Aku masih takut mati."

"Bukannya tadi kau hampir menabrakkan diri di jalan?", tanya Sierra.

"Hei, itu tidak sengaja, aku hanya sedang shock dan tidak fokus. Aku sama sekali tidak bermaksud bunuh diri!! Lagipula aku kan korban, kenapa aku yang harus mati? Harusnya pria bajingan itu yang mati, supaya tidak merusak lebih banyak gadis lain!! Huft!", ucap Gwen emosi karena teringat Dennis lagi.

"Mereka yang meninggal karena aborsi biasanya Itu karena mereka melakukannya di klinik ilegal dengan dokter yang entah punya izin praktek atau tidak. Ditambah semakin tua usia kandungannya semakin beresiko. Tapi usia kandungamu masih sangat muda, kan?" sahut Sierra realistis.

"Memangnya di rumah sakit legal, praktek aborsi diperbolehkan?" suara Gwen naik satu nada karena putus asa. "Setahuku aborsi hanya diizinkan untuk alasan resiko membahayakan kesehatan atau korban pemerkosaan. Aku tidak termasuk keduanya. Aku melakukannya atas dasar suka sama suka, meski sekarang aku menyesal setengah mati."

Sierra menoleh sedikit. "Jika usia kandungannya masih sangat muda, kau bisa menggunakan obat tertentu untuk aborsi tidak perlu dengan prosedur operasi. Walaupun tentu saja, konsumsi obat semacam itu jauh lebih aman di bawah pengawasan dokter yang kompeten."

Gwen menatap Sierra dengan mata penuh harap sekaligus bingung. "Aku tidak punya kenalan dokter seperti itu. Jika aku menggunakan dokter pribadi keluarga Preston, orang tuaku pasti akan langsung tahu. Apa tidak bisa aku langsung mencari lewat internet saja bagaimana cara menggugurkan kandungan secara mandiri?"

Sierra membuang gelas plastiknya yang sudah kosong ke tempat sampah di dekat bangku. Dia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel. Ada satu orang yang terlintas di pikirannya, seseorang yang memiliki jaringan luas dan yang paling penting, seseorang yang bisa menjaga rahasia.

Adrian.

1
Tiara Pratiwi
Diusahakan update tiap hari tapi mungkin cuma 3 episode per hari. pengalaman ynag udah-udah sekalinya ngebut lebih dari 10 episode, tangan jadi agak tremor trs jd butuh istirahat lama /Sweat/ sudah tidak muda lagi akika
Narti Narti
aku hadir kak selamat untuk karya baru ya👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!