Tak pernah mendapatkan cinta dari siapapun termasuk ibu kandungnya, Cinderella Anesya seorang gadis yang biasa di sapa Ella itu berharap ada setitik cinta dari tunangannya.
Sayangnya pria yang menjadi tunangannya itu tak pernah menganggapnya ada dan lebih cenderung pada adik tirinya yang selama ini selalu di sayang oleh keluarganya.
Merasa ketulusannya di khianati, Ella akhirnya menerima pinangan pria yang selama ini diam-diam mencintainya..
Akankah hidupnya berubah setelah bersama pria itu? Atau justru sebaliknya??
•••••
"Berjanjilah untuk selalu mencintaiku.." Cinderella Anesya
"Aku akan selalu mencintaimu, Baik sekarang, Nanti dan selamanya.." Davin Anggara Sanjaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Yang Paling Di Nantikan
Tubuh Ella mematung dengan bibir yang bergetar. Dan tak lama, Air mata Ella langsung mengalir begitu saja. Di hadapannya, Dia melihat seseorang yang ia rindukan selama ini tersenyum padanya..
"Pa..Papa.." Ucapnya dengan terbata. Ella mengucek matanya memastikan bahwa yang dia lihat itu nyata bukan halusinasi semata.
"Papa.." Ella melihat ke arah Davin yang tersenyum.
"Tuan.. Katakan, Ini bukanlah mimpi kan? Ini nyata kan? Tuan, Kalau ini mimpi tolong bangunkan saya.. " Ucap Ella dengan air mata yang mengalir semakin deras. Dia masih belum percaya dengan apa yang dia lihat ini. Dua puluh tahun Ella tak pernah bertemu dengan Papanya. Jangankan untuk bertemu, Kabar dari pria itupun tak Ella dengar.
Meski Mama dan ayah tirinya selalu berkata yang tidak-tidak tentang Papanya, Bagi Ella, Amran tetaplah ayah yang baik. Tak peduli apa yang mereka katakan.
Melihat itu, Hati Amran teriris. Selama itu dia menghilang dari pandangan putrinya hingga ketika dia benar-benar berada di hadapan putrinya ini, Dia menganggap semuanya palsu.
Amran melangkah semakin dekat, Sebelah tangan pria itu terangkat. Ibu jari Amran mengusap setitik air mata tersebut.
"Ella.. Ini nyata, Papa kamu ada disini.. " Ucap Davin, Ella menggelengkan kepalanya pelan. Selama dua puluh tahun ia dan Papanya tak pernah bertemu dan sangat mustahil sekali kalau tiba-tiba pria itu berada di hadapannya.
"Tapi ini bukan mimpi kan?"
Plak!
Plak!
Ella tiba-tiba saja menampar pipinya sendiri demi bisa menyadarkan bahwa ini nyata bukan mimpi seperti yang dia kira.
"Jangan, Jangan tampar nak.. Ini Papa. Ini bukanlah mimpi yang seperti kamu kira nak.. Ini Papa.." Amran peluk erat tubuh putrinya yang selama ini sempat ia lupakan itu. Sungguh sebagai seorang ayah, Amran sangat merasa bersalah sekali.
Dia mengalami kecelakaan hingga putrinya pun terlupakan. Dan semua itu butuh bertahun-tahun agar dua kembali sembuh.
"Papa.. Ini benar-benar Papa kan?" Ella mengurai pelukannya, Kedua tangannya menangkup wajah sang Papa. Mengamati wajah yang hanya bisa di pandang lekat melalui selembar foto.
Dulu pria ini masih terlihat muda dan tampan, Dan sekarang pun masih tampan hanya saja ada sedikit keriput di bagian mata serta rambutnya yang memutih.
"Iya nak.. Jangan sakiti diri kamu lagi ya.. Yang kamu lihat ini benar-benar Papa sayang. Bukan mimpi." Amran meneteskan air matanya, Andai dia tidak kecelakaan waktu itu, Mungkin sejak lama Amran membawa putrinya ini tinggal bersamanya dan hidup bahagia.
Namun karena kecelakaan yang menimpanya. Dia lumpuh, Otaknya yang kacau itu tak mampu mengingat siapa orang yang berada di dekatnya.
"Papa.. Ella kangen Papa..huhuhu..." Tangis Ella semakin menjadi. Dia peluk lagi tubuh sang Papa dengan erat.
Amran pun tak kalah memeluk erat sang putri. Sepasang ayah dan anak yang sempat terpisah selama bertahun-tahun itu akhirnya kini melepas rasa rindu yang sempat terbendung di waktu yang tak sebentar.
Di belakang mereka, Maureen dan Ariel juga saling berpelukan. Mereka tak bisa menahan tangis melihat suaminya memeluk erat seorang wanita yang tak lain adalah putri kandungnya. Seorang putri yang suaminya rindukan selama ini.
"Pa.." Setelah cukup lama berpelukan, Ella mengurai. Matanya melihat ke arah belakang dimana ada dua wanita beda usia berdiri disana.
"Mereka siapa Pa.." Amran menoleh ke belakang. Pria paruh baya itu tersenyum..
"Ma, Ariel.. Kemari.." Dengan senyumnya yang manis. Maureen mengajak Ariel sang putri mendekat.
"Sayang.. Kenalin, Dia Maureen Istri Papa.. Dan yang ini.." Amran menarik pergelangan tangan Ariel.
"Dia putri Papa juga, Dia adik kamu.." Ella diam dengan perasaan yang entahlah. Setelah Lentera, Kenapa dia kembali punya adik dari orangtuanya dengan orang lain. Bukan apa-apa, Ella seperti merasa trauma mengingat Lentera yang sangat tak suka bahkan membencinya.
Amran yang paham akan perasaan sang putri pun mengusap pundak Ella dengan lembut.
"Nak.. Papa akan jelaskan setelah ini. Papa akan jelaskan kenapa Papa menikah lagi.." Ucap Amran. Dia harus menjelaskan semuanya pada putri sulungnya setelah ini. Dia tidak mau Ella salah paham dan merasa trauma akan pernikahan baru orang tuanya.
Ariel maju dan tersenyum manis di depan Ella.
"Kak.. Kenapa kakak hanya diam saja, Kita belum kenalan loh.. Kenalkan, Ariel.. Aku adik kak Ella.." Gadis delapan berusaha hampir delapan belas tahun itu mengulurkan tangannya.
Ella lihat tangan itu, Ia tersenyum tipis menyambut uluran tangan adiknya.
"Cinderella..
"Yeeeyy!! Akhirnya aku punya kakak.. Cantik banget lagi.." Ariel melompat memperlihatkan betapa senangnya dia bisa bertemu dengan kakaknya. Biasanya dia hanya bisa melihat foto Ella di balik foto kecilnya. Tapi sekarang dia bertemu dengan kakaknya secara langsung.
"Udah, Sekarang mending kita lanjutkan acara ulang tahunnya.." Davin memecahkan adegan haru biru itu.
"Iya.. Ayo kita rayakan ulang tahunmu.. " Ella mengangguk. Inilah yang dia harapkan, Merayakan ulang tahun bersama orang-orang tersayangnya dan juga orang yang bisa menerimanya dengan baik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ulang tahun Ella berjalan dengan lancar. Ia memotong kue lalu mengarahkan suapan pertama untuk cinta pertamanya, Siapa lagi kalau bukan Amran.
Selanjutnya Ella juga menyuapi seorang wanita yang baru saja ia kenal. Maureen tersenyum, Ia membuka mulutnya.
"Makasih sayang..." Suapan ketiga ia berikan pada Ariel, Tentu saja gadis itu langsung memakannya.
"Hap! Biar aku aja yang habisin.. Kakak potong lagi buat suapin Tuan muda yang ganteng ini.." Ella menunduk, Sungguh wanita itu merasa salah tingkah.
Ella pun akhirnya memotong kue khusus untuk Davin.
"Ini untuk Tuan.." Davin menerima sepotong kue dari calon istrinya, Pria itu juga memakannya hingga menghabiskan setengah.
"Terimakasih Tuan, Sudah memberi kejutan yang indah dan mewah ini untuk saya Tuan.. Saya sangat bahagia sekali.. " Sebelah tangan Davin terangkat menyelipkan anak rambut Ella.
"Apapun yang kamu inginkan akan aku kabulkan.. Termasuk keinginan kamu untuk bertemu dengan Papa kamu.." Ella menoleh, Papanya tersenyum begitu pun Maureen. Wanita itu harus bisa menunjukkan kalau dia bisa menjadi seorang ibu yang baik..
"Tuan.. Tuan benar-benar menepati janji Tuan..
"Ya, Dan akupun juga akan menepati janji yang lainnya.." Davin beranjak, Pria itu berdiri di hadapan Amran dengan sopan.
"Sebelumnya saya minta maaf Om, Tante. Mungkin ini terlalu dadakan dan terburu-buru. Tapi saya sudah sejak lama memendam rasa untuk putri Om, Cinderella. Maka dari itu, Di hadapan Om dan Tante, Saya dengan kesadaran penuh ingin melamar serta menjadikan Cinderella istri saya.. Tolong restui saya.." Davin menunduk hormat. Dia benar-benar meluruskan tekadnya melamar Ella di hadapan kedua orangtuanya terutama pria yang akan menjadi wali Ella kelak.
Amran tersenyum, Pria paruh baya itu bangkit dari duduknya. Dia menepuk pelan pundak Davin.
"Om restui, Dan Om pasrahkan semuanya pada Ella sendiri.." Davin terlihat berbinar. Sungguh tak dia sangka akan mendapatkan restu secepat ini. Setelah mendapatkan restu, Davin melangkah dab berdiri di hadapan Ella sendiri.
Davin memasukan tangannya ke dalam saku jasnya lalu meraih sesuatu dari dalam sana.
Sebuah kotak beludru berwarna merah berada di tangan putra sulung Daddy Nalendra itu. Davin berlutut di hadapan Davin seraya membuka isi dari kotak beludru berwarna merah tersebut.
"Cinderella Anesya.. Dengan kesadaran penuh. Aku Davin Anggara Sanjaya ingin melamarmu untuk menjadi istriku.." Ella menutup mulutnya, Lamaran inilah yang menjadi impian semua wanita termasuk Ella sendiri.
Sayangnya dia tak mendapatkan lamaran indah ini dari Araka. Pria yang di gadang-gadang menjadi suaminya. Tapi malam ini, Ella mendapatkan lamaran romantis ini dari seorang pria yang menyimpan rasa cukup lama padanya.
"Terima!
"Terima!
"Terima!
Ella menoleh, Dia melihat ke arah Papa, Ibu sambung serta pada adiknya..
"Ayo kak terima..
"Terima...
Ella menatap Davin, Wanita itu mengangguk dengan senyum yang malu.
"Iya, Saya mau menjadi istri anda Tuan.." Betapa bahagianya Davin, Dia langsung menyematkan cincin itu di jari manis Ella.
Davin bangkit, Dia berdiri dengan senyum penuh haru. Kedua tangannya meraih tangan Ella lalu menggenggamnya erat..
"Terimakasih sudah menerimaku untuk yang kedua kalinya. Dan besok, Aku akan ajak kamu untuk menemui seluruh keluargaku.." Ella tersenyum, Ada rasa senang dan ragu. Dia senang karena ternyata masih ada pria yang tulus mencintainya. Ragu nya adalah, Ella takut kalau dia kembali di tolak oleh keluarga besar Davin mengingat keluarga Davin bukan orang biasa.
•
•
•
TBC