Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Dahaga Sang Tuan
Keheningan malam di kamar bayi itu terasa kian mencekam dan panas. Kenzo, yang sudah merasa kenyang, perlahan melepaskan hisapannya dengan suara pelan. Bayi mungil itu mulai memejamkan mata, menyisakan keheningan yang justru membuat detak jantung Amara terdengar jelas di telinganya sendiri.
Amara masih terpaku, napasnya tersengal saat melihat Arlan tidak beranjak dari sisinya. Pria itu justru semakin mendekat, menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Jemari panjang Arlan bergerak perlahan, menyentuh sisa cairan di sudut mulut Kenzo sebelum akhirnya jemari kasar itu mendarat di atas kulit puncak þåɏµÐårå Amara yang masih terbuka.
"Merah sekali, Amara..." bisik Arlan dengan suara serak yang berat. Ia mengusap þµ†ïñg merah muda yang kini tegak dan §êñ§ï†ï£ itu dengan ujung ibu jarinya, memberikan tekanan halus yang membuat aliran listrik seolah menyengat tubuh Amara.
"T-tuan... a-apa yang Tuan lakukan?" Amara bertanya dengan suara yang bergetar hebat. Ia mencoba menarik diri, namun punggungnya sudah terdesak ke sandaran sofa.
Bukannya menjawab, Arlan justru melakukan hal yang lebih berani. Ia menjepit pelan þµ†ïñg itu di antara telunjuk dan ibu jarinya, memberikan pijatan sedikit kuat. Seketika, cairan putih manis itu memancar keluar, membasahi jemari Arlan dan kulit dada Amara yang putih bersih.
Amara tersentak, rasa nyeri bercampur sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan menjalar ke seluruh sarafnya. "Tuan, tolong... jangan..."
"Dadamu masih sangat bengkak dan keras, Amara," gumam Arlan, matanya kini berkilat dengan kegelapan yang penuh ñ壧µ. Ia memperhatikan bagaimana dada itu naik-turun dengan cepat akibat napas Amara yang memburu. "Kalau tidak dikosongkan, kau akan demam. Biar saya yang mêñghï§åþ sisanya agar kau tidak kesakitan."
Wajah Amara memerah padam sampai ke leher. "Tidak perlu, Tuan! Saya... saya bisa memerasnya sendiri nanti. Saya mohon, jangan begini."
Arlan adalah pria yang tidak terbiasa mendengar kata 'tidak'. Penolakan Amara justru memicu insting berburunya. Dengan gerakan yang cepat dan penuh dominasi, Arlan mengambil Kenzo dari pangkuan Amara. Ia meletakkan bayinya ke dalam boks dengan hati-hati namun terburu-buru, tanpa melepaskan pandangan dari mangsanya.
Melihat kesempatan itu, Amara yang didera kepanikan luar biasa segera menarik bra-nya ke atas dan mencoba memasukkan kembali þåɏµÐåråñɏå yang masih meneteskan ASI ke dalam kain. Ia berusaha mengancingkan seragamnya dengan tangan yang gemetar hebat, air mata mulai menggenang di sudut matanya karena merasa terhina sekaligus takut.
Namun, sebelum kancing pertama berhasil dikaitkan, Arlan sudah berbalik. Ia berdiri menjulang di depan Amara, menatapnya dengan pandangan tajam yang seolah-olah bisa mêñêlåñjåñgï gadis itu dalam sekejap.
"Apa yang kau lakukan, Amara?" tanya Arlan dengan nada rendah yang sangat mengancam. "Siapa yang mengizinkanmu menutupnya?"
"T-Tuan, ini salah... saya hanya pengasuh Kenzo," lirih Amara sambil terus mencoba menutupi dadanya dengan kedua tangannya yang disilangkan.
Arlan melangkah maju, mencengkeram kedua pergelangan tangan Amara dan menariknya menjauh dari dadanya. Ia memaksa Amara untuk memperlihatkan kembali keindahan yang sedang merembes membasahi pakaian dalamnya itu.
"Kau sudah berjanji akan melakukan apa saja agar tidak dipecat, bukan?" Arlan menunduk, bibirnya kini hampir menyentuh þµñ¢åk dada Amara yang kembali terbuka karena tarikan tangannya. "Dan tugasku adalah memastikan pengasuh anakku dalam kondisi terbaik. Sekarang, diam dan biarkan aku membantumu mengosongkan beban ini."
Udara di dalam kamar bayi itu seolah tersulut api, menjadi begitu pekat dan menyesakkan. Amara tidak lagi mampu melawan ketika Arlan perlahan menundukkan kepalanya. Saat bibir hangat pria itu menyentuh puncak þåɏµÐåråñɏå yang bengkak, Amara merasakan sentakan yang jauh lebih kuat daripada saat Kenzo menyusu.
Ini bukan sekadar isapan bayi yang mencari asupan; ini adalah ï§åþåñ seorang pria dewasa yang penuh gåïråh dan tuntutan.
"T-tuan... åhh..." Amara tak mampu menahan rïñ†ïhåñ yang lolos dari bibirnya.
Tubuh Amara mendadak melengkung ke depan, tangannya secara tidak sadar mencengkeram bahu kokoh Arlan yang tak berbaju. Sensasi lidah Arlan yang memutar di sekitar þµ†ïñgñɏå yang sensitif menciptakan gelombang panas yang menjalar ke seluruh sarafnya. Rasanya begitu berbeda—isapan Arlan lebih dalam, lebih kuat, dan seolah menghisap hingga ke dasar jiwanya.
Arlan mendongak sejenak, menatap wajah Amara yang berantakan dengan mata yang sayu karena kenikmatan yang belum pernah dirasakan gadis itu sebelumnya. Sebuah senyum puas dan nakal tersungging di bibir Arlan yang kini basah oleh cairan putih manis milik Amara.
"Kau menikmatinya, bukan? Tubuhmu tidak bisa berbohong," bisik Arlan serak.
Sambil terus mêñghï§åþ dengan rakus, tangan Arlan yang satunya tidak tinggal diam. Ia meremas þåɏµÐårå Amara yang sebelah lagi dengan gerakan dominan, merasakan kekenyalan dan kepadatan dada yang tengah memproduksi kehidupan itu. Remasan itu membuat ASI di sisi sebelah lagi memancar lebih deras, membasahi perut Arlan.
Seolah tak pernah puas dengan satu sisi, Arlan berpindah ke þåɏµÐårå sebelahnya. Ia melahap þµ†ïñg merah muda itu dengan lapar, sesekali menggigitnya pelan dengan gigi-giginya, memicu Ðê§åhåñ Amara yang kian tak terkendali. Amara merasa seluruh tenaganya terkuras, ia hanya bisa bersandar pasrah pada sofa sambil terus merasakan bibir sang tuan yang terus berpesta di dadanya.
Namun, kegilaan Arlan tidak berhenti di situ. Dengan gerakan yang penuh kuasa, ia menggunakan kedua tangannya untuk menyatukan kedua þåɏµÐårå Amara yang bengkak itu ke tengah. Ia menempelkan kedua þµ†ïñg merah muda yang kini sangat tegang itu berdampingan, lalu mêñghï§åþ keduanya secara bersamaan dengan mulutnya yang besar.
"Mmmphh... Tuan... ahh, hentikan..." Amara meracau, namun tangannya justru semakin erat menekan kepala Arlan ke dadanya sendiri.
Arlan terus menyesap habis setiap tetes yang keluar, seolah-olah cairan itu adalah obat paling nikmat bagi jiwanya yang selama ini mati rasa. Kamar bayi yang seharusnya menjadi tempat yang suci kini berubah menjadi saksi bisu sebuah perbuatan terlarang yang penuh gåïråh. Amara menyadari, mulai malam ini, ia bukan lagi sekadar pengasuh bagi Kenzo, melainkan juga oase bagi dahaga sang tuan yang tak pernah terpuaskan.