Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.
Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.
Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.
Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.
"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."
Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 25 - AIR MATA YANG TIDAK DI KETAHUI
Ara tiba di minimarket titik kumpul pukul 07:58.
Dua menit lebih awal dari jam delapan yang ditetapkan, yang bagi Ara sudah merupakan pencapaian tersendiri mengingat ia menghabiskan lebih banyak waktu dari biasanya di depan cermin pagi ini untuk alasan yang tidak ia akui bahkan kepada dirinya sendiri.
Ia berdiri di depan minimarket, melihat ke kanan dan ke kiri.
Tidak ada Gill.
Ara mengangguk pelan ke dirinya sendiri dengan perasaan yang sangat spesifik, perasaan seseorang yang sudah menduga sesuatu akan terjadi dan sekarang mendapat konfirmasi bahwa dugaannya benar.
Ia datang duluan.
Tentu saja.
Gill yang selalu santai, Gill yang membalas chat lama-lama, Gill yang bahkan untuk urusan penting seperti bekal pagi saja bisa membiarkan Ara yang menyiapkan segalanya, sudah pasti Gill yang akan datang terlambat.
Ara menegakkan bahunya sedikit.
Tidak apa-apa. Ia akan menunggu dengan sangat elegan dan ketika Gill akhirnya datang terlambat ia akan menatapnya dengan tatapan yang menyampaikan: aku sudah di sini dari tadi dan aku tidak mengeluh tapi kamu perlu tahu bahwa aku sudah di sini dari tadi.
Ia mengeluarkan ponselnya.
Membuka chat Gill.
*Aku sudah di sini,* ia mengetik.
Balasan datang dalam lima detik.
*Aku tahu.*
Ara berkedip. Menatap dua kata itu.
Lalu mengetik: *Kamu di mana.*
*Deket situ.*
*Deket situ yang mana.*
*Warnet seberang jalan.*
Ara mengangkat kepalanya dari ponsel dan menatap ke seberang jalan.
Ada sebuah warnet kecil di antara toko fotokopi dan tukang kunci, yang papan namanya sudah agak pudar tapi lampunya masih menyala, dan melalui kaca depannya yang tidak terlalu bersih Ara bisa melihat beberapa orang duduk di depan komputer di dalamnya.
Ara menyeberang jalan.
Masuk ke warnet.
Bau khas warnet, campuran AC yang sudah lama tidak dicuci dan mie instan dari meja kasir dan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan tapi sangat konsisten di seluruh warnet di seluruh Indonesia, langsung menyambut hidungnya.
Di bilik ketiga dari kanan, dengan punggung ke arah pintu tapi kepala yang sangat khas dengan rambut hitam yang masih berantakan di sisi kirinya meski sudah Sabtu pagi, Gill duduk di depan komputer dengan cara yang sudah sangat nyaman untuk seseorang yang rupanya sudah ada di sini cukup lama.
Ara berdiri di belakangnya.
Di layar komputer di depan Gill, ada tampilan game yang sudah sangat Ara kenal dari deskripsi, interface RPG dengan berbagai status karakter dan peta dungeon yang sebagian sudah dijelajahi.
"Gill," Ara berkata.
"Sebentar." Jarinya bergerak di keyboard.
"Gill."
"Lagi di boss."
"Gill, kita mau ke pentas Fio."
"Aku tahu. Masih ada dua belas menit."
Ara menatap punggungnya. Lalu menatap jam di ponselnya. Lalu kembali ke punggung Gill.
"Kamu sudah di sini dari jam berapa?" ia bertanya, meski sudah bisa menduga jawabannya dari cara Gill duduk yang sangat settled di kursi warnet itu.
"Tujuh."
"Tujuh pagi."
"Iya."
"Kita janjian jam delapan."
"Aku tahu."
"Kamu datang satu jam lebih awal."
"Iya."
Ara menarik napas satu kali. "Dan kamu memilih untuk mengisi satu jam itu dengan main game di warnet."
"Warnetnya buka jam setengah tujuh." Gill menekan beberapa tombol dengan cepat. "Sayang kalau tidak dimanfaatkan."
Ara menatap langit-langit warnet yang catnya sudah menguning di beberapa sudut.
"Kamu datang lebih awal dari semua orang," ia berkata akhirnya, "dan kamu habiskan dengan cara yang paling tidak terduga."
"Efisien."
"Gill."
"Iya, sebentar, ini hampir mati."
Di layar, karakter game Gill sedang berhadapan dengan makhluk besar yang health bar-nya sudah menipis di ujung. Gill menekan kombinasi tombol beberapa kali, ada suara serangan dari speaker headset yang satu sisinya miring karena terlalu lama dipakai, dan kemudian layar berubah menjadi tampilan kemenangan dengan tulisan besar dan animasi koin yang berhamburan.
Gill menarik headset dari kepalanya.
Berdiri.
Menatap Ara yang berdiri di belakangnya dengan ekspresi yang mengandung banyak hal yang tidak satu pun dari mereka akan ucapkan dengan keras.
"Ayo," ia berkata, mengambil tasnya dari bawah meja.
Ara menatapnya dua detik. "Kamu serius datang satu jam lebih awal."
"Aku tidak mau terlambat."
"Lalu kamu main game."
"Aku tidak mau terlambat dan masih ada satu jam tersisa." Gill berjalan ke kasir untuk membayar. "Dua hal itu tidak kontradiktif."
Ara menyaksikan Gill membayar di kasir, mengantongi kembaliannya, dan berjalan kembali ke arahnya dengan langkah yang sama seperti selalu.
Dan di dalam dirinya, di tempat yang sudah penuh dengan hal-hal kecil tentang Gill yang terus ia kumpulkan tanpa tahu kapan akan berhenti, ada sesuatu baru yang masuk hari ini.
Bahwa Gill datang satu jam lebih awal.
Untuk Fio.
Dan mengisi waktunya dengan cara yang paling Gill, paling tidak bisa diduga, paling tidak bisa direncanakan oleh siapa pun selain Gill sendiri.
Ara menarik napas.
Lalu berjalan mengikuti langkah Gill keluar dari warnet ke pagi Eldria yang masih segar.
---
Sekolah dasar Fio ada di jarak yang cukup untuk berjalan kaki tapi tidak terlalu jauh sampai perlu kendaraan.
Dua belas menit jalan santai, kata Gill ketika Ara bertanya, atau sepuluh menit kalau langkahnya cepat, atau lima belas menit kalau ada sesuatu yang mengalihkan perhatian di tengah jalan.
Mereka berangkat dengan target dua belas menit.
Dan menemukan bahwa ada sesuatu yang mengalihkan perhatian di tengah jalan.
Tepatnya di gang kecil antara toko kelontong dan bengkel motor yang sudah tutup di Sabtu pagi, di atas tumpukan kardus bekas yang tertata tidak rapi di pinggir gang, seekor kucing kampung berwarna oranye dengan bercak putih di kaki depan kirinya sedang duduk dengan ekspresi yang tidak peduli dengan keberadaan dua orang manusia yang baru saja melewatinya.
Gill berhenti melangkah.
Ara yang berjalan setengah langkah di belakangnya hampir menabrak bahunya. "Kenapa berhenti?"
Gill tidak menjawab.
Matanya sedang ke arah kucing itu.
Ara mengikuti arah pandangnya. Menemukan kucing yang sama. Menatap kucing itu sebentar. Lalu menatap Gill yang masih tidak bergerak.
"Gill."
"Hm."
"Itu kucing."
"Iya."
"Kita mau ke sekolah Fio."
"Iya."
Tapi kakinya tidak bergerak.
Ara menatap Gill dengan seksama. Ada sesuatu di ekspresi Gill yang tidak biasa, sesuatu yang sulit ia beri nama karena tidak punya referensi yang cukup untuk mengenalinya dari wajah Gill yang biasanya datar. Tapi kalau dipaksa mendeskripsikan, Ara akan berkata itu terlihat seperti seseorang yang sangat ingin melakukan sesuatu tapi sedang menimbang apakah ia akan terlihat aneh kalau melakukannya.
"Kamu mau menggendong kucing itu," Ara berkata.
Gill tidak menyangkal. Tidak mengonfirmasi juga. Hanya berdiri.
"Gill, kita sudah telat dua menit dari target."
"Dua menit masih aman."
"Gill."
"Sebentar."
Ia sudah bergerak ke arah gang.
Ara berdiri di trotoar menyaksikan Gill, yang di sekolah berjalan dengan cara yang tidak meminta perhatian siapapun dan yang hampir tidak pernah mengubah arah jalannya untuk hal yang tidak perlu, sekarang melangkah ke gang kecil itu dengan sangat hati-hati seperti seseorang yang tidak mau mengagetkan sesuatu yang sangat kecil dan oranye di atas tumpukan kardus.
Kucing itu memperhatikan Gill mendekat dengan ekspresi yang masih tidak berubah, masih tidak peduli, masih duduk dengan cara yang menunjukkan bahwa ia adalah raja dari seluruh kardus yang ada di gang ini dan Gill hanyalah tamu yang belum diundang.
"Hei," Gill berkata ke kucing itu.
Kucing menatapnya.
"Boleh aku pegang?"
Kucing tetap diam.
"Aku anggap diam berarti iya."
Ara menekan bibirnya rapat-rapat dari tempatnya berdiri.
Gill mengulurkan tangannya ke arah kucing dengan gerakan yang lebih hati-hati dari cara ia melakukan hampir semua hal lainnya dalam hidup sehari-harinya. Jarinya hampir menyentuh kepala kucing itu, hanya satu sentimeter lagi.
Kucing itu bergerak.
Cepat.
HSSSSS.
Dan cakarnya mendarat di punggung tangan Gill dengan presisi yang memperlihatkan bahwa kucing ini sudah sangat berpengalaman dengan manusia yang salah membaca ekspresi diamnya.
Gill menarik tangannya.
Menatap tiga garis merah tipis di punggung tangannya yang sudah mulai muncul.
Kucing itu kembali ke posisi dudukannya yang semula dengan cara yang sangat tenang untuk seseorang yang baru saja menyerang orang lain, membersihkan cakarnya dengan lidahnya, dan kembali tidak peduli dengan keberadaan manusia di sekitarnya.
Hening tiga detik.
Ara berjalan ke arah gang.
Berdiri di samping Gill, melihat ke tangan Gill yang masih menatap cakarannya, lalu ke kucing yang sudah tidak tertarik dengan seluruh insiden ini.
"Kamu baik-baik aja?" Ara bertanya, tapi nada suaranya mengandung sesuatu yang ia berjuang untuk menahannya supaya tidak keluar dalam bentuk tawa.
"Iya."
"Sakit?"
"Sedikit."
"Hm." Ara menatap cakarannya. Tidak dalam, tidak perlu dikhawatirkan secara medis, tapi cukup untuk meninggalkan bekas merah yang akan terlihat selama beberapa hari. "Kamu tanya izin ke kucing sebelum pegang."
"Dia diam. Aku kira—"
"Gill." Ara akhirnya tidak bisa menahan sudut bibirnya yang bergerak ke atas. "Diam dari kucing tidak berarti iya."
"Itu tidak logis."
"Itu logika kucing. Berbeda dari logika manusia."
Gill menatap kucing yang masih duduk tenang di atas kardusnya. Kucing itu menatap balik dengan mata yang sangat bulat dan sangat tidak menyesal.
"Kucing ini tidak konsisten," Gill berkata.
"Kucing memang tidak konsisten." Ara mengeluarkan tisu kecil dari tasnya, karena Ara selalu membawa tisu kecil ke mana-mana sebagai salah satu dari banyak kebiasaan kecil yang terbentuk dari terlalu sering menghadapi situasi yang tidak terduga, dan menepuknya pelan ke cakar di tangan Gill. "Itu yang membuat mereka jadi kucing."
Gill membiarkan Ara membersihkan cakarannya tanpa berkata apa-apa.
Tapi matanya turun ke tangan yang sedang memegangnya.
Dan ia membiarkan itu beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan secara teknis sebelum berkata, "Sudah."
Ara mengangkat kepalanya. Melihat ke cakarannya sekali lagi. "Nanti diobati kalau ketemu kotak P3K."
"Aku tidak perlu—"
"Gill."
"Oke."
Ara menyimpan tisunya. Menatap kucing yang masih ada di atas kardus. Lalu menatap Gill. "Kamu masih mau coba gendong?"
Gill menatap kucing itu.
Kucing menatap balik.
"Tidak," Gill berkata akhirnya. Dengan nada seseorang yang sudah menerima kenyataan bahwa hari ini bukan hari yang tepat untuk mencapai tujuan tertentu.
"Bijak."
"Tapi dia seharusnya tidak mencakar orang yang bermaksud baik."
"Dia tidak tahu kamu bermaksud baik."
"Aku sudah bilang hei."
"Itu tidak cukup untuk seekor kucing."
Gill satu kali lagi menatap kucing oranye itu yang sudah kembali membersihkan dirinya sendiri dengan penuh ketenangan di atas kardusnya.
Lalu berbalik dan berjalan keluar gang.
Ara mengikutinya, dan ketika mereka sudah kembali di trotoar dan melanjutkan perjalanan ke arah sekolah Fio, ada sesuatu yang bergerak di dadanya yang ringan dan hangat dan tidak meminta untuk diberi nama.
Hanya ada.
Dan cukup.
---
Sekolah dasar tempat Fio belajar adalah gedung satu lantai yang panjang dengan halaman yang cukup luas di depannya, dan pagi Sabtu ini halamannya sudah lebih ramai dari hari biasa karena acara pentas seni rupanya cukup besar untuk menarik cukup banyak orang tua dan keluarga yang datang dengan berbagai tingkat semangat.
Gill dan Ara tiba tepat saat barisan anak-anak sedang diarahkan ke area pertunjukan yang sudah dipasang tenda besar di sisi kiri halaman.
Ara memindai barisan itu.
Menemukan satu anak dengan rambut ikal yang sedikit lebih berantakan dari teman-temannya karena rupanya tidak ada yang berhasil merapikannya dengan sempurna bahkan di hari pentas, mengenakan kostum yang terdiri dari baju hijau dan sesuatu di kepalanya yang terbuat dari karton dicat hijau dengan beberapa bentuk daun yang ditempel di sekelilingnya.
Pohon.
Ara menyenggol lengan Gill. "Itu Fio."
Gill sudah melihat.
Dan di wajahnya ada sesuatu yang sangat berbeda dari ekspresi yang biasa ia kenakan. Sesuatu yang lebih terbuka, lebih hangat, lebih manusiawi dalam artian yang paling sederhana dari kata itu.
Fio melihat ke arah penonton yang mulai memenuhi kursi-kursi plastik yang disusun menghadap panggung kecil dari papan kayu, matanya bergerak cepat mencari wajah yang ia cari, dan ketika menemukannya, tangan kecilnya langsung terangkat tinggi-tinggi ke udara.
"KAK GILL! KAK ARAAA!"
Beberapa orang tua di sekitar mereka menoleh.
Gill mengangkat satu tangan. Singkat. Tapi ada.
Ara melambaikan tangannya lebih besar, karena Fio layak mendapatkan lebih dari satu tangan yang diangkat diam-diam.
Fio masih melambai-lambai sampai guru pendampingnya menepuk bahunya pelan dan mengarahkan pandangannya kembali ke barisan.
Mereka duduk di kursi plastik baris ketiga dari depan, cukup dekat untuk melihat dengan jelas tapi tidak terlalu depan sampai mencolok. Di sebelah kiri Ara ada sepasang orang tua yang sudah memegang kamera dengan penuh persiapan. Di sebelah kanan Gill ada seorang nenek yang membawa kipas dan kantong plastik berisi jajanan yang tidak ia sembunyikan keberadaannya.
Ara menatap panggung kecil itu.
Tirai dari kain biru yang sudah agak kusut di satu sudut masih tertutup. Di baliknya, suara anak-anak yang sedang mempersiapkan diri bisa terdengar sayup-sayup, sesekali ada yang tertawa, sesekali ada bisikan keras yang mencoba menjadi bisikan tapi tidak cukup pelan untuk benar-benar jadi bisikan.
"Kelas berapa Fio?" Ara bertanya ke Gill.
"Satu."
"Ini pentas seni pertamanya?"
"Kedua. Beberapa bulan lalu dia jadi awan." Gill menatap tirai biru di depan. "Dia menangis sebelum pentas karena kostum awannya gatal."
"Menangis? Fio?"
"Tiga menit. Terus berhenti sendiri dan masuk panggung."
Ara tersenyum ke arah tirai itu. "Dan sekarang jadi pohon."
"Dan semak. Dia bilang semalam dia dapat dua peran."
"Pohon dan semak."
"Pohon di babak pertama. Semak di babak kedua."
"Itu promosi yang signifikan."
"Fio setuju." Gill mengangguk sedikit. "Dia bilang semak lebih dinamis dari pohon karena semak bisa bergerak sedikit."
Ara menoleh ke Gill dengan ekspresi yang mengandung kehangatan yang sudah tidak bisa disembunyikan sepenuhnya. "Kamu hafal penjelasan Fio soal perbedaan pohon dan semak."
"Dia menjelaskannya empat kali kemarin."
"Dan kamu mendengarkan empat kali."
"Tidak ada pilihan lain."
"Gill."
"Hm."
"Kamu mendengarkan karena kamu mau."
Gill tidak menjawab itu.
Tapi ia tidak menyangkalnya juga.
Dan sebelum Ara sempat melanjutkan, musik dari speaker kecil di sudut panggung mulai berbunyi, sinyal bahwa pertunjukan akan segera dimulai, dan seluruh hadirin yang sudah duduk di kursi plastik kompak menegakkan posisi duduk masing-masing.
---
Cerita Si Kerudung Merah versi kelas 1-C sekolah dasar itu dimulai dengan sebuah narasi yang dibacakan oleh anak perempuan kecil berambut pendek dengan suara yang lebih keras dari yang mungkin diperlukan untuk ruangan seukuran ini tapi penuh semangat yang tidak bisa disangkal.
*Di sebuah hutan yang lebat, tinggallah seorang gadis bernama Kerudung Merah.*
Kerudung Merah muncul dari balik tirai dengan langkah yang sangat serius untuk seseorang yang mengenakan kerudung merah dari kain flanel yang terlalu besar untuk ukuran badannya dan keranjang plastik berbentuk buah-buahan di tangannya.
*Suatu hari, neneknya yang tinggal di seberang hutan sedang sakit.*
Nenek muncul dari sisi kanan panggung, duduk di kursi kecil, mengangguk-anggukkan kepala dengan cara yang sangat sakit. Terlalu bersemangat dalam sakit-sakitannya sampai kepalanya nyaris membentur lutut sendiri, dan beberapa orang tua di barisan depan tertawa kecil.
*Ibu Kerudung Merah memintanya mengantarkan makanan.*
Ibu Kerudung Merah, yang rupanya diperankan oleh anak laki-laki yang tidak terlihat terlalu senang dengan perannya tapi menjalankannya dengan serius, muncul dari sisi kiri dan menyerahkan keranjang ke Kerudung Merah dengan cara yang lebih menyerupai transaksi bisnis daripada adegan ibu dan anak.
Dan kemudian, dari balik tirai di sudut belakang panggung, muncul dua pohon.
Satu pohon di sisi kiri, berdiri tegak dengan karton hijau di kepala dan tangan direntangkan ke samping menyerupai cabang.
Satu pohon di sisi kanan, berdiri tegak dengan karton hijau di kepala yang sedikit miring ke kiri karena rupanya tidak terpasang dengan cukup kuat, dan tangan yang direntangkan ke samping tapi satu tangannya lebih tinggi dari yang lain.
Pohon kedua di sisi kanan adalah Fio.
Yang langsung melirik ke arah penonton ketika ia berdiri di posisinya, menemukan wajah Gill dan Ara di baris ketiga, dan untuk sepersekian detik melupakan bahwa ia seharusnya menjadi pohon yang tidak bergerak dan memberikan senyum lebar yang sangat tidak pohon-pohonan ke arah mereka.
Guru pendampingnya dari balik tirai memberi isyarat.
Fio kembali menjadi pohon.
Tangan di rentangkan. Badan tegak. Ekspresi serius yang tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan semangat yang ada di baliknya.
Kerudung Merah mulai berjalan melewati hutan, yang dalam konteks panggung ini berarti berjalan di antara dua pohon yang berdiri sangat diam mencoba terlihat seperti pepohonan.
Serigala muncul.
Besar, dalam artian anak yang memerankannya adalah anak yang paling tinggi di kelas dan sudah memaksimalkan kostum serigala yang terdiri dari telinga abu-abu di kepala dan ekor yang diikatkan di pinggang, dan langkahnya sangat dramatis untuk seseorang yang seharusnya menjadi hewan liar yang mengintai mangsa tapi lebih terlihat seperti seseorang yang baru belajar berjalan sambil berpura-pura menjadi hewan.
*Halo, Kerudung Merah!* Serigala berkata dengan suara yang sudah sangat dipersiapkan untuk terdengar mengancam tapi keluarnya lebih mirip seseorang yang menawarkan bantuan. *Ke mana kamu pergi?*
*Ke rumah nenek,* Kerudung Merah menjawab dengan sangat serius. *Dia sakit.*
*Oh.* Serigala mengangguk dengan cara yang mengandung simpati yang tidak seharusnya ada di karakter serigala jahat. *Semoga nenekmu cepat sembuh.*
Beberapa orang tua tertawa lagi.
Serigala, yang rupanya baru menyadari bahwa kalimatnya tidak sesuai dengan naskah, langsung memperbaiki ekspresinya menjadi jahat kembali. *Maksudku. Hahaha. Aku serigala jahat dan aku akan mengikutimu!*
Di baris ketiga, Ara menutup mulutnya dengan tangan.
Di sebelahnya, Gill menatap panggung dengan ekspresi yang sangat serius untuk seseorang yang sedang menyaksikan serigala yang hampir mendoakan kesembuhan nenek korbannya.
---
Babak kedua dimulai setelah jeda singkat di mana pohon-pohon berganti menjadi semak-semak.
Fio muncul kembali sebagai semak, kostumnya sedikit berbeda dari pohon karena sekarang ada tambahan bola-bola kertas hijau yang ditempel di jaketnya untuk menyerupai daun semak, dan posisinya lebih rendah dari tadi karena semak memang lebih pendek dari pohon.
Tapi seperti yang ia janjikan semalam, semak lebih dinamis dari pohon.
Karena Fio bergerak.
Sangat sedikit, dalam batas yang tidak bisa dibilang melanggar aturan semak tapi cukup untuk memperlihatkan bahwa ada kehidupan di dalam semak itu. Kepalanya bergerak sedikit ke kiri ketika Kerudung Merah lewat. Tangannya turun setengah sentimeter ketika Serigala lewat dengan langkah dramatis. Dan satu kali, ketika ada momen sunyi di panggung dimana Kerudung Merah sedang mengetuk pintu rumah Nenek, Fio menoleh ke arah penonton selama dua detik penuh dengan mata yang mencari wajah tertentu di baris ketiga.
Menemukan Gill.
Memberikan gerakan kecil yang hanya bisa diartikan sebagai: aku keren kan sebagai semak.
Gill, yang seluruh kehadirannya di kursi plastik itu sudah sangat fokus ke panggung sejak awal, mengangguk satu kali.
Sangat kecil. Hampir tidak terlihat.
Tapi Fio melihatnya.
Dan kembali menjadi semak dengan semangat baru yang membuat bola-bola kertas di jaketnya bergetar sedikit.
---
Pertunjukan berakhir dengan Kerudung Merah diselamatkan oleh seorang pemburu, diperankan oleh anak perempuan yang ternyata jauh lebih cocok dengan peran pahlawan dari Serigala, dan Nenek yang sembuh secara mendadak begitu serigala pergi dengan cara yang tidak dijelaskan oleh naskah tapi diterima oleh semua orang sebagai hal yang wajar.
Seluruh pemain berbaris di depan panggung untuk memberi hormat.
Tepuk tangan dari orang tua dan keluarga yang hadir mengisi tenda itu dengan suara yang hangat dan tulus, tipe tepuk tangan yang hanya bisa dihasilkan oleh orang-orang yang benar-benar bahagia melihat apa yang baru saja mereka saksikan bukan karena pertunjukannya sempurna tapi karena orang-orang yang ada di panggung itu adalah orang-orang yang mereka sayangi.
Ara bertepuk tangan.
Kerasnya tidak berlebihan tapi sungguhan, tangan yang bergerak sendiri tanpa perlu diputuskan terlebih dahulu.
Di antara barisan pemain, Fio berdiri di posisinya sebagai semak yang sudah selesai menjadi semak, karton-karton dan bola kertas masih menempel, matanya langsung mencari ke baris ketiga dan ketika menemukannya tangannya terangkat lagi dalam lambaian yang mengandung seluruh semangat enam tahun hidupnya.
Ara melambaikan balik.
Lalu menoleh ke Gill.
Dan menemukan sesuatu yang tidak ia duga.
Gill duduk di kursi plastiknya dengan postur yang sama, tangan di lutut, bahu yang tidak berubah dari posisi biasanya. Tapi ada sesuatu di wajahnya yang berbeda dari semua ekspresi yang sudah Ara kumpulkan selama ini.
Di sudut matanya.
Kiri dan kanan, keduanya.
Ada yang mengkilap.
Sangat kecil. Hanya ada di sudut, belum turun ke pipi, masih bisa diperdebatkan apakah itu yang terlihat adalah apa yang tampaknya terlihat oleh Ara dari jarak satu kursi.
Tapi Ara sudah cukup lama memperhatikan wajah Gill untuk tahu perbedaan antara mata yang mengkilap karena debu dan mata yang mengkilap karena sesuatu lain.
"Gill," Ara berkata pelan, suaranya hampir tenggelam di antara tepuk tangan yang masih berlangsung.
Gill berkedip. Sekali, cepat. "Hm."
"Kamu baik-baik aja?"
"Baik-baik aja."
"Matamu."
"Angin." Gill memalingkan wajahnya setengah ke kiri, bukan ke arah Ara, ke arah yang tidak ada apa-apanya kecuali deretan kursi plastik yang sudah mulai ditinggalkan orang tuanya yang berdiri. "Anginnya kencang tadi."
Ara menatap sisi wajahnya.
Tenda ini tertutup di tiga sisi.
Tidak ada angin yang cukup kencang di dalamnya untuk membuat mata mengkilap.
Tapi Ara tidak mengatakannya.
"Kenapa?" Ara bertanya dengan cara yang sudah mengubah pertanyaannya menjadi lebih dekat, lebih pribadi, lebih bukan tentang mata atau angin.
Gill diam dua detik.
Di depan mereka, Fio masih melambai dari panggung dengan tangan yang tidak kunjung lelah.
"Aku bangga sama dia," Gill berkata akhirnya. Pelan. Sangat pelan, lebih pelan dari nada bicara normalnya yang sudah tidak keras, dengan cara yang terdengar seperti seseorang yang mengucapkan sesuatu untuk dirinya sendiri dan kebetulan ada yang mendengar.
Ara menatap sisi wajah Gill yang masih tidak menghadap ke arahnya.
Dan sesuatu di dalam dadanya bergerak dengan cara yang sudah tidak bisa lagi ia pura-pura tidak rasakan.
"Iya," ia berkata. "Dia luar biasa."
Gill mengangguk pelan.
Tidak ada yang menambahkan apapun setelah itu.
Mereka duduk di sana, di kursi plastik baris ketiga dari depan, sampai Fio akhirnya turun dari panggung dan berlari ke arah mereka dengan bola-bola kertas semak yang sudah satu mulai lepas dari jaketnya.
---
Makan siang setelahnya di warung makan kecil dekat sekolah Fio yang dipilih oleh Fio sendiri karena, katanya, warung ini punya ayam goreng yang paling enak di seluruh dunia, klaim yang Gill tidak konfirmasi tapi juga tidak dibantah.
Mereka duduk di meja kayu panjang dengan kursi plastik yang berbeda warna karena rupanya pemilik warung membeli kursinya secara bertahap selama beberapa tahun.
Fio sudah berganti dari kostum semaknya ke baju casual yang ia bawa dalam tas kecil bergambar kelinci yang sudah ia siapkan dari rumah, dan kini duduk di antara Gill dan Ara dengan cara yang sudah sangat nyaman di tempat yang paling strategis untuk bisa bicara ke dua arah sekaligus.
Gill memesan untuk Fio.
Ara menyaksikan proses itu dengan perhatian yang tidak ia rencanakan.
Karena cara Gill memesan untuk Fio berbeda dari cara Gill melakukan hampir semua hal lainnya. Tidak ada nada datar yang biasa, tidak ada efisiensi singkat yang menjadi default-nya. Ia bertanya ke Fio apa yang mau diminum dua kali karena pertama kali Fio menjawab dengan nama minuman yang tidak ada di menu. Ia memastikan tidak ada makanan yang terlalu panas sebelum makanannya datang. Ia memotongkan ayam goreng Fio menjadi bagian yang lebih kecil tanpa diminta karena Fio masih kesulitan dengan potongan besar.
Semua itu dilakukan dengan cara yang sudah sangat otomatis, sangat terbiasa, cara seseorang yang sudah melakukannya berkali-kali sampai tidak perlu dipikirkan lagi.
Fio makan dengan semangat yang tidak berbeda dari saat ia menjadi semak di panggung tadi.
Di antara suapan-suapannya, ia bercerita tentang pertunjukan tadi dari sudut pandang yang hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang ada di dalamnya.
"Kak Ara tahu nggak, waktu semak masuk, ada anak kelas dua yang nonton dan bilang semaknya hidup." Fio mengangguk-angguk puas. "Karna Fio gerak dikit-dikit."
"Fio kan bilang semak lebih dinamis," Ara merespons.
"Iya! Ternyata bener!" Fio menoleh ke Gill. "Kak Gill lihat Fio gerak?"
"Lihat," Gill menjawab.
"Bagus nggak?"
"Bagus."
Fio puas. Makan lagi.
"Kak Gill nangis ya tadi," Fio berkata tiba-tiba, dengan nada yang sangat santai untuk informasi yang cukup eksplosif.
Gill berhenti mengambil nasinya.
"Fio lihat dari panggung," Fio melanjutkan, sama santainya. "Waktu kami hormat. Mata Kak Gill merah."
"Angin," Gill berkata.
"Di dalam tenda?"
"Fio."
"Iya Kak?"
"Makan."
Fio menatap Gill dengan ekspresi yang sangat serius. "Kak Gill, nangis itu nggak apa-apa."
"Aku tidak menangis."
"Fio pernah nangis waktu lihat film anjing yang mati," Fio berkata dengan sangat filosofis untuk anak enam tahun, "dan Kak Gill bilang itu nggak apa-apa. Jadi kalau Kak Gill nangis juga nggak apa-apa."
Gill menatap Fio.
Fio menatap balik dengan mata yang sangat bulat dan sangat tidak mau mengalah.
Di sebelah Ara, ada suara yang keluar dari Ara yang tidak bisa dikategorikan sebagai tawa tapi juga bukan bukan tawa, sesuatu di tengah-tengahnya yang berhasil ia tahan sebelum berkembang menjadi lebih.
"Makan, Fio," Gill berkata akhirnya, dengan nada yang sudah menyerah pada tingkat tertentu tapi tidak akan mengakui menyerah secara eksplisit.
Fio mengangguk puas. Kembali ke ayam gorengnya.
---
Fio pergi bermain dengan beberapa teman sekolahnya yang juga masih ada di halaman sekitar warung makan setelah selesai makan, membawa es krim yang sudah Ara belikan sesuai janji dengan wajah yang sangat bahagia untuk ukuran siapa pun.
Gill dan Ara duduk di meja yang sama, meja kayu dengan sisa gelas dan piring yang sudah dibersihkan pelayan warung.
Hening yang nyaman turun di antara mereka.
Ara melihat ke arah Fio yang berlari kecil ke arah teman-temannya dengan senyum yang tidak pernah kecil di wajahnya, rambut ikal yang sudah semakin berantakan dari tadi pagi, dan semangat yang tampaknya tidak pernah habis tidak peduli sudah melakukan apa saja.
Lalu menatap Gill yang menatap Fio dari tempatnya duduk dengan cara yang sudah Ara kenal sejak malam di minimarket pertama kalinya mereka bertiga duduk bersama. Cara tatap yang tidak menuntut apa-apa, tidak meminta Fio untuk menjadi lebih dari yang ia sudah menjadi, hanya ada dan mengikuti setiap gerakannya dengan perhatian yang tidak pernah berhenti meski Fio tidak sedang melihat ke arahnya.
"Gill," Ara berkata pelan.
"Hm."
"Kamu sayang banget sama Fio ya."
Bukan pertanyaan. Tapi Gill menjawabnya seperti pertanyaan, dengan jeda yang cukup untuk memilih jawaban yang paling tepat, dan kemudian berkata dengan cara yang tidak pernah Ara dengar dari Gill sebelumnya.
"Fio adalah segalanya."
Tiga kata.
Diucapkan dengan nada yang sama datarnya dengan cara Gill mengucapkan semua hal, tapi berat di dalamnya berbeda dari kata-kata datar yang biasanya. Lebih dalam. Lebih sungguhan, dalam artian ini adalah sesuatu yang sudah ada jauh sebelum Gill belajar cara mengucapkannya dan tidak memerlukan persiapan untuk disampaikan karena sudah sangat benar adanya.
Ara menatap Gill yang masih menatap Fio.
Fio sedang diajak bermain loncat-loncatan oleh temannya, tertawa dengan suara yang bisa terdengar dari meja ini, rambutnya memantul-mantul mengikuti lompatannya.
Ara tersenyum.
Bukan senyum yang ia persiapkan. Senyum yang muncul karena tidak bisa tidak muncul ketika melihat sesuatu yang terlalu tulus untuk tidak direspons.
Karena Gill yang ada di sini, hari ini, di meja kayu warung makan dekat sekolah dasar yang ayam gorengnya adalah terenak di seluruh dunia menurut sumber yang sangat terpercaya, sangat berbeda dari Gill yang berdiri di ambang pintu kelas XI-A setiap pagi dengan kotak susu di tangan dan ekspresi yang tidak meminta persetujuan siapapun.
Bukan lebih baik atau lebih buruk.
Hanya berbeda lapisan.
Lapisan yang lebih dalam, yang tidak semua orang diberi akses untuk melihatnya.
Dan kemudian, tanpa Ara rencanakan dan tanpa peringatan apapun, ia merasakan sesuatu yang aneh.
Fio berlari kecil kembali ke arah mereka karena rupanya es krimnya sudah hampir habis dan ia ingin memberitahukan fakta itu, dan Gill langsung menegakkan posisi duduknya sedikit, sudut bibirnya bergerak ke atas dengan cara yang terlalu kecil untuk dilihat dari jarak jauh tapi sangat jelas dari jarak ini.
Dan sesuatu di dada Ara bergerak ke arah yang tidak ia duga.
Sesuatu yang aneh.
Sesuatu yang, kalau ia jujur, terasa sangat mirip dengan iri.
Bukan iri yang jahat. Bukan iri yang ingin mengambil sesuatu dari Fio. Lebih seperti iri yang bertanya-tanya, yang ingin tahu, yang memperhatikan cara Gill menjadi seseorang yang sepenuhnya berbeda ketika ada Fio dan bertanya-tanya dalam diam apakah ada cara untuk membuat seseorang melihatmu dengan cara itu juga.
Dengan cara yang tidak meminta kamu menjadi apapun selain yang sudah kamu jadi.
Ara mengalihkan pandangannya.
Menatap es krim Fio yang tinggal sedikit.
Menatap meja kayu di depannya.
Dan mencatat, di tempat yang sudah penuh dengan hal-hal kecil tentang hari ini, bahwa ternyata ada satu jenis cemburu yang tidak ada hubungannya dengan pesaing atau ancaman atau takut kehilangan sesuatu.
Hanya ingin, dengan cara yang sederhana dan tidak dramatis dan sangat tidak siap untuk diakui, untuk dilihat seperti itu juga.
Dan bahwa keinginan itu sudah ada di sana lebih lama dari yang ia sadari.