NovelToon NovelToon
Golden Girl, Silver Boy

Golden Girl, Silver Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.

Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.

Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.

Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.

"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."

Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 32 - AIR MATA YANG TAK MAU DI AKUI

Bel pulang berbunyi.

Ara sudah berdiri sebelum suaranya selesai.

Mengambil tasnya dengan cara yang tidak menunggu siapapun, tidak menoleh ke Via yang ada di sebelahnya, tidak memperhatikan apakah ada yang melihat atau tidak, dan berjalan keluar kelas dengan langkah yang sudah memiliki tujuan sejak tadi siang ketika satu centang abu-abu tidak berubah sampai bel istirahat selesai.

Via menyebut namanya dari belakang.

Ara tidak berhenti.

Lorong lantai dua gedung B tidak terlalu ramai di menit-menit pertama setelah bel pulang karena kebanyakan siswa masih mengemas barang, dan Ara memanfaatkan itu untuk berjalan dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya ke arah yang sudah ia tuju dari tadi.

Kelas XI-C.

Tiga pintu dari tangga. Ujung lorong.

Ara mendorong pintu masuk.

Tidak mengetuk.

Tidak mencari izin dari siapapun di dalam.

Langsung masuk dengan pandangan yang sudah mencari satu titik di antara semua meja dan kursi dan siswa yang masih ada di sana, dan menemukannya di baris kedua dekat jendela kiri.

Gill ada di sana.

Duduk dengan posturnya yang biasa, mengemas sesuatu ke dalam tasnya, belum mengangkat kepala ketika pintu terbuka karena mungkin mengira itu suara biasa dari lorong.

Ara berjalan ke mejanya.

Berhenti di depannya.

"Kamu kemana tadi siang?"

Gill mengangkat kepala.

Nada suara Ara bukan nada yang biasa ia dengar dari Ara, bukan nada yang ramah atau nada yang santai atau bahkan nada yang kesal dengan cara yang masih terkontrol. Ini nada yang lebih tinggi dari semua itu, nada yang mengandung sesuatu yang sudah dipanaskan terlalu lama dan sekarang sudah tidak bisa sepenuhnya ditahan di dalam.

Seluruh kelas XI-C yang masih ada di sana, yang tadinya beroperasi dengan ritme pulang masing-masing, bergeser perhatiannya ke arah meja baris kedua dekat jendela kiri.

"HP kamu kemana?" Ara melanjutkan sebelum Gill sempat menjawab yang pertama. "Kenapa nggak bales chat aku?"

Nada yang terus meninggi.

Bukan teriak. Tapi cukup keras untuk terdengar dengan jelas di seluruh ruangan yang sekarang sudah sangat senyap dibanding dua menit yang lalu.

Bisik-bisik mulai muncul dari berbagai penjuru kelas.

Dari baris belakang, suara yang tidak terlalu berusaha untuk pelan: "Ada apa?"

Dari sisi kanan: "Mereka berantem?"

Dan dari sudut kiri, suara yang mengandung antisipasi yang tidak disembunyikan dengan baik: "Asik, kayaknya bakal putus."

Gill menatap Ara.

Bukan dengan ekspresi terkejut. Lebih dengan cara seseorang yang sedang membaca sesuatu dengan sangat cepat dan sudah menemukan kesimpulannya sebelum data selesai masuk sepenuhnya.

Matanya turun sebentar ke wajah Ara.

Ke matanya.

Ara tidak sadar bahwa matanya sudah berkaca-kaca sampai ia merasakan hangat di sudut kelopak yang tidak seharusnya ada di sana. Ia tidak tahu sejak kapan itu ada. Tidak tahu apakah itu sudah ada sejak di lorong atau baru muncul sekarang. Yang ia tahu adalah dadanya terasa panas dari dalam dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata yang tepat, panas yang bukan marah sepenuhnya dan bukan sedih sepenuhnya tapi sesuatu yang ada di antara keduanya dan lebih intens dari keduanya.

Gill berdiri.

Tangannya terangkat, menyentuh kepala Ara sebentar, satu usapan singkat yang tidak punya penjelasan tapi ada, lalu turun ke pergelangan tangan Ara.

"Ayo ngomong di luar," Gill berkata. Pelan. Hanya untuk Ara.

Ara tidak menolak.

Membiarkan dirinya ditarik keluar dari kelas XI-C dengan tangan yang masih dipegang Gill, melewati pintu yang tadi ia dorong masuk, kembali ke lorong yang sekarang sudah lebih ramai dari tadi karena jam pulang sudah berjalan beberapa menit.

Di belakang mereka, kelas XI-C kembali bersuara.

Mereka tidak mendengarnya.

---

Atap.

Sama seperti selalu, tapi terasa berbeda hari ini karena mereka tiba di sana dengan cara yang berbeda dari biasanya, bukan dengan bekal dan ritme siang yang sudah sangat terbiasa dengan dirinya sendiri, tapi dengan sesuatu yang masih panas dan belum selesai yang berjalan di antara keduanya.

Gill menutup pintu atap.

Berbalik.

Membuka tasnya, mengeluarkan botol minum yang sudah setengah isi, dan menyodorkannya ke Ara tanpa berkata apapun.

Ara menatap botol itu.

Mengambilnya.

Minum.

Air dingin turun dengan cara yang langsung terasa berbeda dari panas yang ada di dadanya sejak tadi, bukan menghapusnya tapi memberi jarak yang cukup untuk bernapas.

Ara minum sampai setengah isi botol itu habis.

Memberikannya kembali ke Gill.

Gill mengambilnya. "Sudah tenang?"

Ara mengangguk.

Tapi kemudian Gill mengusap sudut matanya yang masih sedikit basah dengan cara yang sangat singkat dan sangat hati-hati, ibu jari yang bergerak pelan di sisi tulang pipi, dan sesuatu yang tadi sudah hampir turun ke posisi yang lebih tenang bergerak lagi ke atas.

"Tadi siang kemana?" Ara berkata. Nada yang masih lebih tinggi dari normalnya meski sudah turun beberapa oktaf dari tadi di kelas.

"Kantin." Gill menyimpan botol minumnya kembali ke tas. "Sama Marco."

"Kenapa HP nggak aktif?"

Gill diam satu detik.

Ara menunggu dengan dada yang masih tidak sepenuhnya dingin.

"Lupa dicas semalam," Gill berkata akhirnya, dengan nada yang sangat datar untuk mengakui sesuatu yang menghasilkan seluruh hari ini. "Keasikan ngasih makan t-rex."

Ara menatapnya.

"Ngasih makan t-rex," Ara mengulang kata-kata itu.

"Iya."

"Kamu lupa ngecas HP karena sibuk nyuapin mainan dinosaurus."

"Iya."

Ara mengambil napas satu kali yang panjang.

Menahannya dua detik.

Menghembuskannya.

"Terus kenapa nggak ngabarin dulu?" ia berkata. Nada yang sudah jauh lebih rendah dari sebelumnya tapi masih mengandung sesuatu di dalamnya.

"Iya." Gill menatapnya langsung. "Maaf."

Dua kata.

Diucapkan dengan cara yang tidak bertele-tele dan tidak meminta maaf atas hal lain selain yang memang perlu dimintakan maaf, tidak memenuhi udara dengan penjelasan tambahan yang tidak diminta, hanya ada dan langsung.

Dan sesuatu yang dari tadi terasa terbakar di dalam dada Ara perlahan turun ke ukuran yang lebih kecil, lebih bisa dipegang, lebih bisa dilihat dengan jelas tanpa terhalang asapnya sendiri.

Ara mengangguk pelan.

Menarik tasnya dari bahunya.

Membuka saku depan.

Mengeluarkan kotak bekal yang sudah ada di sana sejak pagi dan sudah melewati satu hari tanpa berpindah ke tangan yang seharusnya menerimanya.

"Nih." Ia menyodorkannya ke Gill. "Makan."

Gill menatap kotak bekal itu.

Lalu menatap Ara.

"Tapi aku sudah kenyang."

"Makan."

Gill mengambilnya. Duduk di sudutnya yang biasa. Membuka kotak bekal itu dengan cara yang tidak terburu-buru.

Ara duduk di sudutnya sendiri.

Menyaksikan Gill mulai makan dengan ritme yang pelan, tidak seperti seseorang yang lapar tapi seperti seseorang yang menghormati sesuatu yang sudah melewati perjalanan panjang sebelum sampai ke tangannya.

Beberapa menit berlalu dalam hening.

Hening yang sudah sangat berbeda dari hening yang tadi. Lebih dingin dalam artian yang baik. Lebih bisa dihuni.

"Kemarin ngapain aja sama Via?" Ara berkata akhirnya.

"Ya cuma begitu." Gill mengambil satu suapan.

"Begitu yang gimana." Ara menoleh ke Gill. Lalu, tanpa peringatan yang cukup, tangannya bergerak ke arah pinggang Gill dan mencubit. Tidak keras tapi cukup untuk ada.

Gill meringis. Menarik sedikit ke sisi yang berlawanan. "Bantu Marco."

"Bantu gimana." Ara tidak menarik tangannya sepenuhnya, masih ada di sana sebagai peringatan bahwa cubitan berikutnya sudah siap kalau jawabannya tidak cukup lengkap.

Gill menatap kotak bekalnya. "Marco bilang mau nembak Via tapi nggak berani masuk kelas langsung. Minta tolong."

"Dan kamu mau."

"Iya."

"Kenapa?" Ara menoleh ke Gill. "Kamu bukan tipe yang ikut campur urusan orang lain. Kenapa tiba-tiba mau repot?"

Gill diam sebentar.

Makan satu suapan lagi.

Lalu berkata dengan nada yang sangat biasa, sangat datar, sangat tidak mempersiapkan Ara untuk apa yang ada di dalamnya, "Balas budi."

Dua kata.

Dan di sudut bibirnya ada senyum yang muncul sangat pelan, senyum yang berbeda dari senyum sombong di lapangan kemarin dan berbeda dari senyum tulus yang sesekali muncul saat ada Fio. Ini senyum yang lebih sepi dari keduanya. Senyum yang mengandung sesuatu yang sudah lama ada dan tidak pernah diminta untuk pergi tapi juga tidak pernah diberi ruang yang cukup untuk diselesaikan.

Senyum kosong.

Ara melihatnya.

Dan di dalam dirinya ada sesuatu yang langsung berhenti dari semua yang sedang dilakukannya, berhenti bertanya dan berhenti mendorong dan berhenti ingin tahu, digantikan oleh sesuatu yang lebih tenang dan lebih dalam dari semua itu.

Pemahaman yang tidak butuh penjelasan lebih lanjut.

Gill pernah ada di posisi yang sama dengan Marco. Posisi seseorang yang menyimpan sesuatu yang tidak tahu caranya disampaikan. Dan seseorang, atau beberapa orang, atau situasi tertentu, sudah pernah membantunya dengan cara yang ia rasakan cukup untuk dibalas.

Balas budi.

Ara tidak menanyakan lebih lanjut.

Tidak karena tidak peduli. Justru karena terlalu peduli untuk mendorong ke arah yang belum Gill pilih untuk dibuka.

---

Gill menyelesaikan bekalnya dengan pelan.

Atap Eldria sore ini berbeda dari siang, cahayanya lebih hangat dan lebih rendah, bayang-bayang yang lebih panjang dari biasanya memanjang ke arah yang berbeda dari jam dua belas.

Ara duduk di sudutnya, tidak makan karena sudah makan bekalnya sendiri tadi di atap waktu menunggu, hanya ada dan membiarkan sore ini berlangsung dengan caranya sendiri.

Gill menutup kotak bekalnya.

Menyodorkannya ke Ara.

"Besok-besok kasih dari pagi," ia berkata.

Ara mengambil kotak bekal itu. Menatapnya sebentar. Lalu menoleh ke Gill dengan ekspresi yang sudah memutuskan sesuatu sejak beberapa detik yang lalu. "Nggak mau."

Gill menatapnya.

"Nggak mau gimana."

"Nggak mau." Ara menyimpan kotak bekal itu ke tasnya dengan cara yang sangat santai untuk seseorang yang baru saja menolak permintaan yang sangat masuk akal. "Besok lihat saja."

"Ara."

"Hm?"

"Itu bekalku."

"Aku yang buat."

"Berarti milikku."

"Berarti aku bisa memutuskan kapan memberikannya." Ara menarik tasnya ke bahunya dan berdiri dengan cara yang mengandung kepuasan yang tidak ia sembunyikan sepenuhnya. "Besok lihat saja."

Gill menatapnya dari tempatnya duduk dengan ekspresi yang sedang memproses apakah ini adalah konflik yang perlu ia tangani lebih lanjut atau bukan.

Ara berjalan ke pintu atap.

Membuka pintunya.

Lalu berhenti sebentar, tidak berbalik, hanya berdiri di ambang pintu dengan punggung ke arah Gill.

"Gill."

"Hm."

"Lain kali cas HP-mu."

Tidak ada jawaban selama dua detik.

Lalu: "Iya."

Ara masuk ke dalam.

Pintu atap tertutup di belakangnya.

Dan di atap, Gill masih duduk di sudutnya dengan kotak bekal yang sudah kosong di sampingnya dan sore Eldria yang pelan-pelan bergerak ke arah gelap.

Di sudut bibirnya ada sesuatu yang berbeda dari senyum kosong tadi.

Senyum yang kecil.

Yang tulus.

Yang muncul bukan karena ada yang melihat atau karena ada yang perlu diperlihatkan, tapi karena ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya yang sudah lama tidak bergerak ke arah ini.

Ke arah yang hangat.

1
Varss V
terimakasih
wan auw
Bagus thor novelnya, semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!