Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alergi yang sama
Arel sudah sembuh. Dira bernafas lega. Meski agak tidak enak pada dokter Julian karena merasa merepotkan pria itu, tapi Dira juga tidak bisa menolak karena yang sakit adalah putra kesayangannya, yang bahkan jauh lebih penting dari nyawanya.
Hari ini Arel tampak bahagia sekali. Dira juga tidak perlu lagi memikirkan biaya rawat Raka selama satu minggu ke depan, karena kemarin teman-teman Raka datang tiba-tiba. Yang namanya Bian sudah membayar semua biaya pengobatan Raka. Katanya mereka yang bersalah pada Raka, jadi mereka yang harus bertanggung-jawab.
Sebenarnya sudah dari awal operasi Bian dan teman-temannya pengen bantu, cuma waktu itu Dira menolak dengan alasan dia ada biaya. Kali ini semua uangnya benar-benar sudah habis, jadi dia tidak bisa menolak lagi. Setidaknya perawatan Raka aman sekarang. Bian bahkan sudah memindahkan Raka ke ruang VIP. Katanya biar Raka lebih nyaman.
Dira tidak menolak. Dia juga sudah merasa kasihan pada adiknya yang harus di rawat terus di rumah sakit. Apalagi dokter bilang perawatan Raka masih berlangsung sampai bulan depan.
Satu hal lagi, ternyata Bian itu anak tiri Damian. Dia baru tahu, tidak sengaja dengar cerita dari Zora. Hidup ini memang penuh kejutan yang tidak pernah ia duga. Entah kenapa semua orang yang terkait dengannya sekarang, berhubungan dengan masa lalunya.
Sementara itu di tempat lain, Ethan duduk di taman yang ia datangi terakhir kali. Taman tempat ia bertemu dengan si bocah kecil bernama Arel. Ia masih ingat jelas cara bocah itu menyebut namanya. Beberapa hari terakhir ini dia selalu kepikiran bocah itu. Entah kenapa.
Ethan berharap bisa melihatnya lagi. Tapi sepertinya ia tidak akan melihat bocah itu. Karena tiap kali dia datang ke sini, ia sudah tidak pernah melihatnya.
"Om ganteng!"
Baru saja Ethan hendak berdiri untuk kembali ke mobilnya, bocah yang sedang dia pikirkan itu tiba-tiba muncul. Pria itu tidak jadi pergi. Ia duduk kembali, ada senyuman yang terpancar di wajahnya. Walau tipis. Sangat tipis. Bocah itu, langsung melompat senang ke tubuhnya.
Ethan refleks menangkap tubuh kecil itu sebelum terjatuh. Arel tertawa lepas, tangannya melingkar di leher Ethan tanpa ragu, seolah mereka sudah sangat akrab.
"Om ganteng ke mana aja? Kok nggak pernah ada?" tanyanya polos.
Ethan menahan napas sesaat. Ia tidak menyangka akan merindukan suara kecil ini.
"Kamu yang ke mana saja?"
"Arel sekolah, habis sekolah langsung pulang. Kata mama, Arel gak boleh sering keluar rumah tanpa mama. Arel bisa keluar tapi tunggu mama libur kerja."
Ethan menatap bocah itu lama. Yang pertama kali dia sadari adalah, tubuh anak kecil ini lebih kurus dari saat pertama kali dia lihat.
"Kamu habis sakit?" ia bertanya.
Bocah itu mengangguk.
"Tiga hari yang lalu, Arel demam. Arel mimpiin papa yang ninggalin Arel, terus mama juga."
Mendengar itu, rasanya hati Ethan seperti terpukul. Dia juga bingung kenapa perasaannya jadi aneh begini.
"Tapi Arel udah sehat, udah kuat lagi!"
"Terus kenapa jalan-jalan sendirian ke sini? Pengasuh kamu mana?"
"Oh, bibi Ella lagi di jalan mau jemput Arel."
Ethan menghembuskan nafas kasar. Harusnya anak-anak tidak boleh dibiarkan sendirian seperti ini. Apalagi anak ini masih kecil sekali. Usianya seumuran Kamara, anak Kara, keponakannya.
"Om, Arel laper." kata bocah itu.
Ethan tertawa kecil. Ia lalu berdiri, masih menggendong bocah itu berjalan ke restoran seberang taman. Kali ini restoran besar, bukan warung makan kecil seperti kemaren.
Begitu masuk, hawa dingin pendingin ruangan langsung menyambut. Ethan memilih meja dekat jendela agar ia tetap bisa melihat ke arah taman. Ia mendudukkan Arel di kursi empuk, lalu duduk di seberangnya.
"Kamu mau makan apa?" tanyanya sambil membuka buku menu.
Arel memiringkan kepala, pura-pura berpikir keras.
"Yang enak." Ethan terkekeh.
"Semua di sini enak. Tapi kamu nggak boleh pedas."
"Iyaaa…" jawabnya panjang.
Akhirnya Ethan memesan nasi, sup ayam hangat, dan jus jeruk untuk Arel. Untuk dirinya sendiri, ia hanya memesan kopi. Selama menunggu, Arel sibuk bercerita, tentang sekolahnya, tentang temannya yang suka merebut pensil, tentang mamanya yang sering pulang malam karena kerja.
Ethan mendengarkan dengan serius. Ia jarang sekali melakukan ini, duduk, mendengar cerita anak kecil, tanpa merasa terganggu. Anehnya, ia justru menikmati setiap detiknya.
Pada saat makanan mereka datang, Arel menatap lurus ke sup ayam. Ethan menyadarinya. Bocah itu menatap laki-laki dewasa di depannya yang menatapnya dengan alis terangkat.
"Makanlah,"
"Arel gak makan ayam uncle."
Dahu Ethan mengernyit.
"Kenapa?"
"Arel alergi ayam. Alergi udang juga."
Jawaban itu membuat Ethan agak kaget. Pasalnya bocah itu punya alergi yang sama dengan dia. Ia berusaha tenang dulu, agar bisa memesan makanan yang lain untuk anak kecil itu. Ethan segera memanggil pelayan.
"Iya tuan, ada yang bisa dibantu?"
"Saya mau ganti sup ayamnya. Ada menu tanpa ayam? Kentang tumbuk, ikan, atau pasta polos?"
Pelayan itu mengangguk cepat dan membawa kembali mangkuk sup yang belum tersentuh.
Ethan menoleh pada Arel.
"Kenapa nggak bilang dari tadi?"
Arel mengedikkan bahu kecilnya.
"Lupa. Soalnya kelihatan enak."
Ethan menghela napas pelan, tapi ada senyum tipis di bibirnya.
"Kalau alergi itu nggak boleh lupa. Bisa bahaya."
"Mama juga bilang gitu."
Ethan makin merasa Arel seakan punya ikatan dengannya. Ia memperhatikan wajah bocah di depannya lebih lama. Bentuk alisnya. Garis rahangnya yang halus. Bahkan cara dia mengerutkan dahi, terlalu familiar. Mirip dengannya. Waktu pertama kali melihatnya, ia belum terlalu peduli. Mungkin hanya kebetulan. Tapi sekarang, ia ingat, anak kecil ini bahkan makan menggunakan tangan kiri. Dia juga.
"Kamu alerginya dari kecil?" tanya Ethan hati-hati.
"Iya. Kata Mama, turunan."
Turunan.
Ethan makin curiga. Ia mulai mengumpulkan semua hal yang berhubungan untuk menguatkan kecurigaannya. Waktu bertemu Arel pertama kali, dia juga sempat bertemu Dira di tempat yang sama. Ia juga ingat waktu Ethan menyebut mama, pengasuh anak itu tampak gugup, lalu cepat-cepat membawa Arel meninggalkannya. Hari itu Ethan merasa aneh, tapi tidak begitu peduli. Sekarang, semuanya makin mencurigakan. Ia menatap Arel lagi. Lama.
"Arel, om boleh tahu? Nama mama kamu siapa?"
"Dira! Mama Dira!"
Detik itu juga Ethan langsung membeku di tempatnya. Nafasnya tercekat. Tangannya mengepal kuat.
Dira? Tanpa anak itu bilang nama panjang Dira, Ethan langsung tahu siapa wanita yang dimaksud. Bukan anak laki-laki lain, pasti bukan. Karena anak itu persis dirinya. Bahkan riwayat alerginya. Tapi dia tetap harus membuktikan. Tes DNA adalah bukti yang paling
Rasa senang dan bahagia semua bercampur menjadi satu dalam hati Ethan. Bahagia karena ia kemungkinan besar punya putra dari Dira, dan marah, karena wanita itu menyembunyikan rahasia sebesar ini darinya.
Aku akan melakukan tes DNA. Kita lihat kau akan mengelak atau tidak.
Gumamnya dalam hati. Tangannya masih terkepal.