NovelToon NovelToon
Angkara Murka : Kebangkitan Putri Es

Angkara Murka : Kebangkitan Putri Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Fantasi Wanita / Balas dendam pengganti
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: MellaMar

Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.

Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.

Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.


Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?

Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?

Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?


Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️


Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Day -3

Sampai keesokan harinya, tepatnya hari ke tiga setelah menerima tantangan di Gardarium. Aira enggan keluar dari Tenebrous sebelum menyelesaikan misinya dengan Guru Lyra.

Lyra mulai menjelaskan kepada Aira tentang kekuatan kristal Umbra dan bagaimana cara menggunakannya. Aira mendengarkan dengan sangat saksama, matanya yang biru berkilau dengan rasa ingin tahu.

"Baiklah, Nona Aira, sekarang cobalah untuk menghubungkan energi kristal Umbra dengan energi kristal Es dalam dirimu," kata Lyra

Aira mengangguk dan mulai memusatkan energinya. Kristal Umbra di tangannya mulai bergetar, dan energi kristal Es dalam dirinya mulai bangkit. Namun, Magnitius tiba-tiba mengganggu mereka.

"Jangan sekarang, Aira. Aku tidak ingin kamu menghabiskan energimu terlalu cepat," kata Magnitius dengan suara yang kasar.

Aira menatap Magnitius dengan mata yang menyipit, tapi Lyra segera campur tangan. "Kakak, biarkan Aira mencoba. Dia harus belajar untuk mengontrol energinya sendiri."

Magnitius mengerang, tapi akhirnya dia mengizinkan Aira untuk melanjutkan. Aira kembali memusatkan energinya, dan kali ini, kristal Umbra dan kristal Es dalam dirinya mulai bersinergi.

"Lyra! Ini terlalu beresiko untuk Aira". Bentak Magnitius pada adiknya.

"Diam kak! Bukankan tadi kakak juga yang memberi izin?". Sela Lyra.

"Kau tidak tahu sesuatu Lyra. PINTU ENERGI AIRA MASIH TERRUTUP". Bentak Magnitius

"APA!....". Lyra terkejut

"AIRA...HENTIKAN SEMUANYA. BERHENTI..". Teriak Lyra

Tetapi Aira yang jiwanya terjebak dalam kekuatan kristal Umbra dan Es tidak bisa mendengar Lyra. Energi yang keluar dari tubuhnya semakin kuat, membuat Magnitius dan Lyra terpaksa mundur.

"Aira, hentikan!" teriak Lyra lagi, tapi Aira tidak bisa mendengarnya.

Magnitius dengan cepat mengambil keputusan, dia mengangkat tangannya dan mengarahkan energi ke arah Aira.

"Tidak, kakak!" teriak Lyra, tapi Magnitius tidak peduli. Energi yang dia lepaskan mengenai Aira, membuatnya terlempar ke belakang dan kehilangan kesadaran.

(Author kasian banget sama Aira yang terpental-pental mulu...huhuu....)

Lyra dengan cepat berlari ke arah Aira, memeriksa kondisinya. Aira masih bernapas, tapi dia tidak sadarkan diri.

"Apa yang kamu lakukan, kakak?" Lyra menatap Magnitius dengan mata yang penuh kemarahan. "Kamu tidak perlu melakukan itu!"

Magnitius merasa bersalah, tapi tidak menjawab. Dia hanya menatap Aira dengan mata yang kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Kakak, kita harus membawa Aira ke tempat yang aman," kata Lyra dengan suara yang tegas. "Dia tidak bisa tinggal di sini."

"Tidak!". Tolaknya keras.

Kemudian Magnitius mengangkat tubuh Aira. Ia tidak membiarkan Lyra keluar dari Tenebrous. "Aku akan membawanya. BERHENTI IKUT CAMPUR!". Katanya menekankan beberapa kalimat.

"Ada apa dengan kak Magnitius? Dia sangat jauh berbeda". Gumam Lyra menatap kepergian kakaknya.

Akhirnya Aira di bawa kembali ke Selini. Magnitius membaringkan tubuh Aira di atas ranjangnya. Kemudian ia meninggalkan Aira sendirian di dalam Selini.

Magnitius berjalan ke arah kursi tahtanya yang terletak di tengah-tengah bangunan kastil. Ia duduk dengan wibawanya sebagai penguasa kerajaan vampir.

"Mana barang yang aku minta?". Ucapnya pada ksatria Ryker dengan tatapan tajam

Ksatria Ryker menundukkan badannya, bersimpuh di bawah sana menghadap sang raja. "Yang Mulia, semuanya telah hamba persiapkan di lapangan kerajaan". Jawabnya.

"Persiapkan untuk ritual malam ini". Titahnya

"Baik, Yang Mulia".

"Dan aku minta, dandani putri Es dengan pakaian yang telah aku siapkan! Jangan ada yang terlewat sedikitpun. MENGERTI!!". Magnitius menyeringai.

"Ampun Yang Mulia, kami mengerti". Ucap seluruh maid bersujud patuh.

Magnitius tersenyum dengan kepuasan, matanya berkilau dengan rencana yang sedang dia susun. Dia tahu bahwa semuanya akan berjalan sesuai dengan rencananya, dan Aira akan menjadi bagian dari ritual malam itu.

"Baik, kalian semua bisa pergi sekarang. Tinggalkan aku sendiri," perintah Magnitius,

Suaranya yang dalam dan berwibawa membuat semua orang di ruangan itu langsung berdiri dan meninggalkan tempat itu.

Setelah semua orang pergi, Magnitius menatap ke arah pintu yang tertutup, matanya berkilau dengan rencana yang sedang dia susun.

...

Sementara di dalm Selini, Aira baru terbangun setelah dirinya selesai dirias. Ia kebingungan meliat banyaknya para maid yang berdiri mengitarinya.

"Selahati nona, Selamat malam". Sambut seorang maid yang diduga adalah kepala maid.

"Ada apa ini?". Aira menatap maid satu-persatu.

"Nona sudah ditunggu oleh Yang Mulia di Ruang Tahta".

"Ruang Tahta?"

"Benar, nona. Karena kurang dari satu jam lagi, Yang Mulia Raja akan mengadakan ritual tahunan yang selalu dilaksanakan saat malam bulan purnama ke tujuh". Jelas maid.

"Baiklah, aku akan menemuinya. Tapi aku akan pergi ke kamarku sebentar".

"Tapi nona?".

"Sebentar! Hanya sebentar". Aira kesal melihat raut wajah maid itu.

Aira berjalan ke arah kamarnya, diikuti oleh beberapa maid yang tampaknya tidak ingin meninggalkannya sendirian. Aira menyuruh para maid untuk tetap tinggal di luar ruangan.

Aira mengetuk cermin dimana Nocturna berada. Sebelumnya, Aira memeriksa penampilannya yang telah dirias dengan sangat cantik.

"Tapi, apa-apaan ini?" Aira terkejut melihat penampilannya yang sangat berbeda dari biasanya. Dia mengenakan gaun malam yang sangat mewah, dengan perhiasan yang berkilau-kilau.

"Waw...kau sangat cantik Aira! ". Nocturna memuji penampilan Aira

"Aku hanya punya sedikit waktu. Nocturna, jelaskan padaku, apa maksud dari ritual tahunan di malam purnama ke tujuh?".

Nocturna tersenyum. "Ritual tahunan di malam purnama ke tujuh adalah upacara yang sangat penting bagi kerajaan vampir. Mereka percaya bahwa pada malam itu, energi bulan purnama akan memperkuat kekuatan vampir dan memperpanjang umur mereka."

Aira mendengarkan dengan sangat saksama, matanya yang biru berkilau penuh dengan kegelisahan.

"Dan apa yang terjadi pada orang yang dipilih untuk ritual itu?" Aira bertanya, suaranya sedikit bergetar.

Nocturna ragu sejenak sebelum menjawab. "Orang yang dipilih akan menjadi... Tawaaran. Mereka akan menjadi sumber energi bagi Raja untuk memperkuat kekuatannya."

"lalu aku? apakah aku yang akan menjadi Tawaaran nya?"

"Tidak Aira, kau sangat di butuhkan oleh Magnitius. Ini bukan saat yang tepat untuk dia menggunakanmu. Tenang saja."

Aira merasa sedikit lega, tapi masih ada rasa tidak yakin di hatinya. "Tawaaran... apa artinya itu?" dia bertanya, suaranya hampir berbisik.

Nocturna menatap Aira dengan mata yang penuh belas kasihan. "Aira, kau tidak perlu tahu apa artinya itu. Yang penting sekarang adalah kau harus tetap aman dan tidak menarik perhatian Magnitius dengan membuatnya marah"

Aira mengambil napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan dirinya. "Baiklah, aku siap," kata Aira, menatap maid yang menunggunya.

Magnitius tersenyum saat Aira datang menemuinya. Semua mata tertuju pada sosok cantik jelita dengan gaun mewah dan elegan yang terpasang pada tubuh Aira.

Aira merasa tidak nyaman dengan semua perhatian yang tertuju padanya, tapi dia mencoba untuk tetap tenang. Magnitius melangkah maju, matanya memandang Aira dengan intens.

"Kamu terlihat sangat cantik, Aira," kata Magnitius, "Aku hampir tidak bisa mengenali kamu."

Aira tersenyum lemah, mencoba untuk tidak menunjukkan rasa tidak nyaman yang dia rasakan. "Terima kasih, Yang Mulia," dia menjawab.

Aira mengedarkan pandangannya. "Dimana Lyra? Aku akan sangat senang kalau dia ada di sini". Bisik Aira

"Tentu". Jawab Magnitius dengan senyumnya.

"Benarkah?". Aira sumringah

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!