Seri ke-satu
Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.
Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan yang tidak pernah pulang
Seperti biasa, Clara jarang memulai percakapan. Ia lebih suka menjadi pendengar dan mengamati, membiarkan dunia bergerak tanpa harus ikut bersuara. Hal itu sangat kontras dengan Thalia yang ceria, penuh energi, dan seolah selalu punya bahan cerita tanpa habisnya.
Di dalam mobil, Thalia menyetir dengan satu tangan, tangan lainnya sesekali bergerak mengikuti ceritanya sendiri.
“Clar, aku capek banget hari ini,” katanya tiba-tiba, lalu tertawa kecil. “Praktek lagi. Dan tebak pasiennya siapa?”
Clara melirik sekilas, lalu kembali menatap jalanan. “Siapa?”
“Dosenku sendiri.”
Nada Thalia terdengar setengah tak percaya, setengah geli. “Sama asisten dosen pula.”
Clara sedikit terkejut, tapi hanya mengangguk pelan, memberi isyarat agar Thalia melanjutkan.
“Hari ini kami simulasi menghadapi pasien dengan gangguan psikologis yang dipicu oleh beban emosional berlebih,” jelas Thalia, suaranya kini sedikit lebih serius. “Pasiennya dosenku itu berperan sebagai orang yang kelihatannya baik-baik saja. Produktif, berprestasi, selalu terlihat tenang.”
Thalia menarik napas sebentar sebelum melanjutkan.
“Tapi di dalamnya penuh,” katanya sambil mengetuk pelan dadanya sendiri. “Terlalu banyak emosi yang dipendam. Marah, kecewa, sedih… semuanya ditahan karena merasa harus kuat, harus rasional, harus jadi contoh.”
Mobil melaju pelan, lampu merah menyala di persimpangan. Thalia berhenti, lalu menoleh sekilas ke arah Clara.
“Tahu nggak, Clar? Pas aku duduk di depannya dan mulai ngajak dia bicara, bukan sebagai dosen tapi sebagai ‘pasien’ dia tiba-tiba terdiam lama.”
Clara mengerjap. Tangannya yang sejak tadi bertumpu di pangkuan sedikit menegang.
“Asisten dosenku bilang itu wajar,” lanjut Thalia. “Orang yang terlalu lama memendam emosi biasanya bahkan bingung harus mulai dari mana buat bicara. Mereka terbiasa menelan semuanya sendirian.”
Lampu hijau menyala. Mobil kembali melaju.
“Aku nggak langsung nanya hal berat,” kata Thalia sambil tersenyum kecil, seolah mengingat kembali momen itu. “Aku cuma bilang; Capek ya, harus selalu terlihat kuat.’”
Clara menelan ludah. Dadanya terasa sedikit sesak, entah kenapa.
“Dan Clar…” suara Thalia melembut, “reaksinya itu yang bikin aku merinding. Dia ketawa kecil, tapi matanya berkaca-kaca. Katanya, itu pertanyaan pertama yang dia dengar setelah bertahun-tahun.”
Angin sore masuk melalui celah jendela, menyentuh wajah Clara. Ia memejamkan mata sejenak.
“Penyakitnya bukan karena dia lemah,” Thalia melanjutkan. “Tapi karena dia terlalu lama bertahan sendirian. Emosi yang nggak pernah dikeluarin itu numpuk, jadi sesak, lalu pelan-pelan merusak dari dalam.”
Thalia terdiam sesaat, lalu tertawa kecil lagi, mencoba mengembalikan keceriaannya.
“Makanya aku pulang agak telat. Dapet evaluasi panjang banget,” katanya. “Tapi jujur… aku jadi sadar, banyak orang di sekitar kita yang kelihatannya baik-baik aja, padahal aslinya lagi tenggelam.”
Clara tetap diam. Thalia seakan menyindir dirinya.
“Iya ya,” jawab Clara akhirnya. Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh suara mesin mobil.
Thalia tersenyum kecil, tanpa memaksa Clara bicara lebih jauh.
Saat hari benar-benar merunduk ke malam, mobil Thalia berhenti di parkiran taman bermain yang mulai dipenuhi cahaya lampu. Lampu warna-warni berpendar di kejauhan, berkelip seperti janji yang terlalu sering diingkari waktu.
Clara menatap kosong ke arah itu.
Tempat ini saksi bisu dari satu sore bertahun-tahun lalu, ketika Noel berdiri dengan suara gemetar dan mata penuh harap. Kata-kata yang diucapkannya dulu masih berputar di kepala Clara, berulang-ulang, seperti komedi putar yang tak pernah tahu kapan harus berhenti.
Dadanya terasa sesak. Pandangannya berkunang-kunang. Dunia seolah miring perlahan.
Clara membuka pintu mobil dengan tergesa, langkahnya goyah sebelum akhirnya ia menunduk dan muntah di tepi parkiran. Tubuhnya gemetar, napasnya terengah, seolah kenangan itu baru saja menghantamnya tanpa ampun.
“Ya ampun, Clar!”
Thalia langsung turun, wajahnya panik. Ia memijat tengkuk belakang Clara dengan gerakan cepat tapi hati-hati.
“Kita pulang aja ya. Kalau kamu nggak enak badan.”
Clara tertawa getir, tawa yang pahit dan rapuh. Ia menggeleng, rambutnya yang terurai ikut bergerak lemah.
Bagaimana bisa aku seegois ini, Thal, batinnya berdesir, ketika kamu selalu baik padaku…
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu bangkit perlahan. Tangannya meraih tangan Thalia, menggenggamnya dengan tekad yang dipaksakan.
“Ayo,” ucap Clara lirih. “Kita masuk.”
Thalia berhenti melangkah, menahan Clara dengan lembut.
“Kamu yakin? Beneran nggak apa-apa? Mau aku antar ke rumah sakit aja?”
Clara menoleh, lalu tersenyum, senyum tipis yang berusaha meyakinkan, entah Thalia atau dirinya sendiri.
“Aku beneran nggak apa-apa. Tadi mungkin… aroma mobilmu aja yang bikin aku mual.”
Thalia refleks mengangkat ketiaknya sendiri dan menciumnya cepat.
“Hah? Aku bau, ya?”
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung merogoh tas, mengambil parfum, dan menyemprotkannya ke mana-mana dengan ekspresi serius berlebihan.
Clara tersenyum kecil.
Ia berbalik dan mulai berjalan lebih dulu menuju pintu masuk taman bermain, membiarkan langkahnya sedikit lebih ringan dari sebelumnya.
“Eh! Tuh kan!” teriak Thalia sambil setengah berlari mengejar.
“Kebiasaan banget ya ninggalin temen!”
Di balik riuh lampu dan suara tawa orang-orang, Clara terus melangkah.
Kenangan itu masih ada. Lukanya belum hilang.
Tapi malam ini, ia tidak ingin menyakiti orang lain hanya karena dirinya sedang terluka.
Di tempat lain, di sebuah rumah mewah yang berdiri angkuh di pusat Jakarta, lampu kristal menggantung seperti mahkota yang dingin. Ruang tamu itu luas, terlalu luas untuk sekadar dua orang yang duduk berhadap-hadapan.
Sepasang suami istri menunggu. Bukan dengan sabar, melainkan dengan ekspektasi.
Tak lama, pintu utama terbuka. Suaranya menggema pelan, disusul langkah seorang pria tinggi dengan rahang tegas dan sorot mata yang dingin. Jaket hitamnya rapi namun ekspresinya datar, nyaris kosong. Ia masuk tanpa basa-basi, seolah rumah itu hanyalah persinggahan, bukan tempat pulang.
“Kamu dari mana saja beberapa hari ini? Selalu kelayapan!” bentak pria tua itu, suaranya meninggi, penuh tuntutan.
Pria muda itu berhenti melangkah. Ia menoleh sedikit, cukup untuk menatap balik dengan sorot tajam yang dingin dan tak bersahabat. Tak ada sepatah kata keluar dari bibirnya. Diam, tapi menantang.
“Sudahlah, sayang,” sela perempuan di samping pria tua itu. Usianya jauh lebih muda, wajahnya terawat sempurna. Suaranya dibuat lembut, seolah peduli.
“Kasihan, dia kan baru pulang.”
Pria muda itu mendecakkan lidahnya pelan. Sebuah senyum miring terbit dengan sinis dan hambar. Di matanya, semua ini hanyalah sandiwara murahan yang diputar berulang kali dengan aktor yang sama.
Tanpa permisi, tanpa menoleh lagi, ia melangkah pergi meninggalkan ruang tamu. Langkahnya mantap, angkuh, seolah tak ada satu pun suara di belakangnya yang layak didengar.
“Minggu depan,” ujar perempuan muda itu, suaranya meninggi sedikit agar terdengar,
“saat peresmian cabang Helvatek , Anna akan datang ke Indonesia.”
Pria itu berhenti sesaat, punggungnya masih membelakangi mereka.
“Temani dia selama di sini,” lanjutnya. Bibir berlipstik merah menyala itu tersenyum manis, tapi penuh maksud.
Pria itu tertawa kecil. Pelan dan dingin.
“Tentu,” jawabnya akhirnya, tanpa menoleh. “Bukankah itu memang yang selalu kalian mau?”
Ia melangkah pergi, meninggalkan ruang tamu yang kembali sunyi, sunyi yang dipenuhi ambisi, kepalsuan, dan rencana yang tak pernah benar-benar bersih.
Di balik pintu kamarnya yang tertutup, pria itu berdiri diam. Tangannya mengepal perlahan.