Seorang pemuda yang sejak lahir telah ditakdirkan menderita. Bakatnya dicuri, keluarganya dihancurkan, ia dijual sebagai budak. Namun dari abu kehancuran itu, ia bangkit sebagai api yang membakar segalanya.
Xu Hao bukan pahlawan biasa. Ia adalah pemberontak sejati, seseorang yang menolak takdir, menentang kehendak Langit, dan menempuh jalannya sendiri: Dao Pemberontakan. Dengan kekuatan ini, ia mampu melampaui batas-batas kultivasi konvensional, menghancurkan hukum alam, dan bahkan melukai makhluk yang dianggap dewa.
Namun di balik keganasannya, tersimpan luka yang tak pernah sembuh. Cintanya pada Lianxue, gadis yang setia menanti ribuan tahun, menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Dan saat cahaya itu padam, Xu Hao kehilangan segalanya. Enam ribu tahun ia terpuruk dalam kegilaan, hanya mampu menyebut satu nama: Xue'er.
"Ayah ibuku dibunuh. Cintaku mati di pelukanku. Takdir telah mempermainkanku! Kini giliranku mempermainkan takdir."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pecahan Jiwa!
Naga hitam itu memejamkan matanya. Namun telinganya tetap tegak, menangkap setiap getaran di udara. Pergerakan Xu Hao sedikit saja akan terdengar.
Satu jam berlalu.
Sunyi. Hanya desir anging yang membawa kabut hitam.
Dua jam berlalu.
Xu Hao tidak bergerak. Naga hitam itu mulai gelisah. Ia membuka matanya, menatap ke arah Xu Hao. Manusia itu masih duduk bersila seperti patung.
Tiga jam berlalu.
Xu Hao masih tidak bergerak.
Naga hitam itu mulai ragu. "Mungkin dewa rendahan itu benar-benar duduk bermeditasi. Atau mungkin dia sudah mati? Tidak, tidak mungkin. Aura kehidupannya masih terasa."
Naga itu mengangkat kepalanya, sedikit mendekat. Ia ingin melihat lebih jelas.
Saat itulah, dalam sekejap mata, Xu Hao menghilang dari tempatnya.
Naga hitam itu terkejut. Ia langsung bangkit, siap melarikan diri. Tapi sudah terlambat.
Xu Hao muncul tepat di depan kepalanya. Matanya bersinar ungu terang, memancarkan cahaya yang menerangi seluruh area di sekitarnya. Di belakangnya, bayangan pohon willow raksasa muncul samar-samar, dengan ranting-ranting yang menjulur seperti tangan-tangan dewa kematian.
"PUKULAN SUTRA PENGHANCUR!"
Suara Xu Hao dingin seperti es.
Tinjunya melesat. Di ujung tinju itu, energi ungu pekat berputar membentuk pusaran kecil.
Naga hitam itu tidak sempat menghindar.
KRAKK! BOOMM!!
Tinju itu menghantam tepat di pelipis kirinya. Kepala naga itu muncratkan darah hitam pekat ke segala arah. Darah itu bersifat korosif, membuat bebatuan di sekitarnya meleleh. Sisik-sisik di sekitarnya hancur berantakan, memperlihatkan daging di bawahnya yang terluka parah.
Naga hitam itu terhuyung. Tubuh raksasanya hampir roboh. Matanya berkunang-kunang, penglihatannya kabur.
Namun dalam kekaburan itu, ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya hampir berhenti.
Ia melihat Xu Hao.
Bukan Xu Hao yang dikejarnya. Tapi bayangan raksasa di belakang Xu Hao. Sosok itu sangat besar, mencapai ribuan meter, berpakaian jubah hitam dengan mata menyala ungu terang. Di tangannya, ia memegang pedang hitam raksasa yang memancarkan aura kematian. Di sekelilingnya, mayat-mayat bergelimpangan, menggunung hingga mencapai langit.
Sosok itu bagaikan Dewa Kematian.
Dan ia menatap langsung ke arah naga hitam itu.
Naga itu gemetar hebat. Pikirannya berputar cepat. Apa yang baru saja dilihatnya? Apakah itu ilusi? Ataukah itu wujud asli dari dewa rendahan di depannya?
"Manusia ini... manusia ini bukan manusia biasa. Ia adalah iblis. Iblis yang menyamar sebagai manusia."
Dalam pikirannya yang kacau, ia melihat Xu Hao mengangkat tinjunya lagi. Pukulan kedua akan segera datang. Dan pukulan itu pasti akan mengakhiri hidupnya.
Namun tiba-tiba, Xu Hao terhenti.
Tubuhnya kaku. Tangannya yang terangkat tidak bisa bergerak.
Naga hitam itu mengerjapkan matanya. Ia melihat sesuatu yang aneh. Tubuh Xu Hao dililit oleh sesuatu. Sesuatu yang berwarna putih, panjang, dan berkilau.
Ekor ular.
Ekor ular putih raksasa melilit tubuh Xu Hao dari kaki hingga leher, mengikatnya erat. Xu Hao berusaha bergerak, tapi lilitan itu terlalu kuat. Setidaknya untuk saat ini.
Dari balik kabut, sesosok wanita muncul.
Wanita itu sangat cantik. Anggun dan berwibawa. Ia mengenakan gaun kuning panjang yang menjuntai hingga ke tanah. Rambutnya hitam panjang tergerai, dihiasi bunga-bunga kecil yang memancarkan cahaya redup. Wajahnya putih bersih, dengan alis lentik dan bibir merah tipis yang tersenyum lembut.
Namun dari pinggang ke bawah, tubuhnya adalah ular. Ular putih raksasa dengan sisik berkilauan seperti mutiara. Ekornya yang melilit Xu Hao adalah bagian dari tubuhnya sendiri.
Wanita ular itu mendekati Xu Hao dengan gerakan lambat dan anggun. Setiap gerakannya memancarkan pesona yang bisa membuat pria mana pun kehilangan akal.
Ia berhenti tepat di depan Xu Hao. Tangannya yang lentik terulur, menjulur ke dagu Xu Hao. Jari-jarinya yang halus menyentuh kulit Xu Hao, mengelusnya lembut.
Xu Hao diam. Matanya dingin menatap wanita itu. Tidak ada rasa takut, tidak ada gairah, hanya kewaspadaan dan perhitungan.
Naga hitam itu melihat kesempatan. Ia tidak berpikir panjang. Tubuhnya yang terluka langsung berbalik dan melesat menjauh secepat mungkin.
Di kejauhan, suaranya terdengar menggema, "Kuserahkan dia padamu! Jika ada tulang tersisa, aku siap menerimanya!"
Wanita ular itu tidak menoleh. Ia tetap fokus pada Xu Hao. Senyumnya semakin lebar.
Naga hitam itu terus melesat, tidak berani menoleh ke belakang. Ia baru beberapa tahun keluar dari persembunyiannya. Kekuatannya belum terkonsolidasi sempurna. Jika harus berurusan dengan Dewa Bumi aneh yang bisa memukulnya separah itu, ditambah lagi dengan wanita ular yang tidak kalah anehnya, ia bisa mati konyol.
Lebih baik pergi. Masih banyak mangsa lain di jurang ini.
---
Wanita ular itu menatap Xu Hao dalam-dalam. Matanya yang berwarna emas bersinar lembut.
"Akhirnya aku mendapatkan pria yang layak," bisiknya pelan.
Xu Hao menjawab dingin, "Apa maksudmu?"
Wanita itu mendekatkan wajahnya. Jarak antara bibir mereka hanya beberapa sentimeter. Nafasnya yang wangi, bercampur aroma bunga dan madu, menyentuh wajah Xu Hao. Bibirnya yang merah tipis hampir menyentuh bibir Xu Hao.
"Dewa Bumi yang kuat sepertimu, pasti rasanya sangat enak."
Lalu ia menggigit bibir bawah Xu Hao.
Sssttt...
Gigitan itu lembut, tidak sampai melukai. Hanya menggigit sedikit, lalu melepaskan. Wanita itu mendesah pelan, suara desahannya begitu lembut dan menggoda.
Ahhhh...
Aroma nafasnya semakin kuat. Begitu wangi dan menenangkan, seperti berada di taman bunga di musim semi. Xu Hao bisa merasakan kehangatan dari tubuh wanita itu, meskipun bagian bawahnya adalah ular.
Xu Hao berbicara dengan suara dingin. "Lepaskan aku. Jika tidak..."
Wanita itu memotong cepat. "Jika tidak, kau akan membunuhku?"
Ia mengedipkan matanya dengan genit. Matanya yang emas berbinar-binar, penuh dengan rasa ingin tahu dan kegembiraan.
Lalu tiba-tiba, ia membenamkan wajahnya di leher Xu Hao. Hidungnya menghirup dalam-dalam, mengambil aroma tubuh Xu Hao.
Huufffttt...
Ia menghirup panjang, memejamkan mata, menikmati setiap partikel aroma yang masuk ke indra penciumannya.
Aaaahhhhhh!
Desahannya kali ini panjang, penuh kepuasan. Tubuhnya bergetar sedikit, ekornya yang melilit Xu Hao mengencang lalu mengendur bergantian.
Xu Hao ingin meledak marah. Amarah membara di dadanya. Tangan kanannya mengepal, energi ungu mulai berkumpul.
Namun ia menghentikan dirinya.
Ia menahan amarah itu, menekannya kembali ke dalam. Tubuhnya tetap rileks, meskipun dililit erat. Ia membiarkan wanita itu menghirup aromanya sesuka hati.
Beberapa saat kemudian, wanita itu mengangkat wajahnya. Matanya yang emas kini bersinar lebih terang. Pipinya merona merah.
Ia menatap Xu Hao dengan tatapan berbeda. Ada rasa hormat di sana. Juga rasa penasaran yang semakin besar.
"Kenapa kau tidak melawan?" tanyanya. "Padahal kau bisa melakukannya, bukan? Aku bisa merasakan kekuatan di tubuhmu. Kekuatan yang cukup untuk melukai bahkan membunuhku, meskipun aku setara Raja Dewa."
Xu Hao menatapnya tajam. Matanya dingin, tapi di dalamnya ada gejolak yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Jawab aku," katanya dengan suara penuh niat membunuh. "Kenapa seseorang yang sangat familiar bagiku, auranya bisa berasa di tubuhmu?"
Wanita itu mengerjapkan mata. Ia terdiam sejenak, mencerna pertanyaan Xu Hao.
Lalu ia tersenyum. Senyum yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini senyumnya tulus, sedikit heran.
"Baiklah," katanya. "Setelah aku menghirup aromamu, aku bisa merasakan pecahan jiwa itu ada hubungannya denganmu."
Xu Hao mengernyitkan dahi. "Pecahan jiwa?"
Wanita itu mengangguk. Perlahan, ia melepaskan lilitan ekornya dari tubuh Xu Hao. Xu Hao bebas. Ia turun ke tanah, berdiri di depan wanita itu.
"Ayo ikut aku," kata wanita itu. "Aku akan menunjukkan kediamanku. Di sana aku menyimpan pecahan jiwa seseorang. Mungkin kau mengenalnya."
Xu Hao mengangguk. Hatinya bergetar.
Satu nama terlintas di pikirannya. Satu nama yang selalu ada di sana, di sudut tergelap hatinya, tidak pernah benar-benar pergi meskipun ribuan tahun telah berlalu.
Xue'er.
Mungkinkah ini tentang Lianxue? Karena aura Lianxue menempel pada wanita ular itu.
Xu Hao mengikuti wanita ular itu melangkah masuk ke dalam kabut. Di belakang mereka, jurang yang gelap kembali sunyi, hanya menyisakan desir angin dan kabut hitam yang terus bergulung.
dan Tahta tertinggi untuk Cinta adalah Cinta kpd Tuhan
"...sepertinya pertarungan kita setahun yang lalu tidak memberikan efek jera padamu"