Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.
Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.
Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.
Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.
Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Pandangan Pertama Dari Lobi Kampus
Suara hujan sore itu terdengar seperti ribuan kerikil yang dijatuhkan di atas atap seng kampus. Deras, berisik, dan dingin. Bagi kebanyakan mahasiswa di Universitas Cakrawala, hujan adalah pengganggu. Mereka akan menggerutu sembari berlari mencari tempat berteduh atau sibuk memesan ojek online yang harganya mendadak melambung tinggi.
Namun, bagi Liana, hujan sore itu adalah awal dari segala "detik" yang akan ia hitung selama bertahun-tahun ke depan.
Liana berdiri di lobi kampus yang luas, memeluk tas ranselnya erat-erat di depan dada. Ia baru saja menyelesaikan kelas matkul dasar yang membosankan dan sekarang terjebak di sini. Matanya menatap lurus ke lapangan basket terbuka yang letaknya tak jauh dari lobi. Lapangan itu sudah mulai tergenang air, warnanya berubah menjadi abu-abu gelap, senada dengan langit di atasnya.
Lalu, ia melihatnya.
Seorang laki-laki. Sendirian.
Dia tidak mengenakan jas hujan, tidak juga memakai payung. Tubuhnya yang tinggi dibalut kaus hitam yang kini sudah menempel ketat di kulit karena basah kuyup. Dia bergerak dengan lincah, mendribel bola basket yang suaranya sesekali tenggelam oleh guruh. Duk. Duk. Duk.
Liana terpaku. Ia tidak tahu siapa laki-laki itu, tapi ada sesuatu dari caranya melempar bola ke ring yang membuatnya tidak bisa memalingkan wajah. Laki-laki itu terlihat seperti sedang bertarung dengan hujan, atau mungkin, sedang berusaha menghanyutkan sesuatu yang menyesakkan di dadanya lewat setiap lemparan bola yang masuk dengan sempurna.
Liana tanpa sadar merogoh saku jaketnya, mengambil earphone dan memasangnya di telinga. Ia menekan tombol play pada ponselnya. Kebetulan sekali, lagu About You dari The 1975 mulai mengalun.
“I know you're somewhere, out there...”
Suara vokal Matty Healy yang dreamy dan sayup-sayup mulai memenuhi indranya. Detik itu juga, dunia di sekitar Liana seolah berubah menjadi gerakan lambat (slow motion). Hiruk-pikuk mahasiswa di belakangnya yang sibuk mengeluh soal hujan mendadak hilang. Fokusnya hanya tertuju pada satu titik: laki-laki di tengah lapangan basket itu.
Setiap kali bola itu memantul di lantai yang basah, setiap kali laki-laki itu menyeka wajahnya dari air hujan dengan tangan yang kekar, Liana merasakan sesuatu berdesir di dadanya. Sebuah perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Itu bukan sekadar rasa kagum. Itu adalah jenis ketertarikan yang langsung menusuk, seolah-olah hatinya baru saja menemukan sebuah magnet yang sangat kuat.
“There was something about you that I can't quite remember, but I can't forget.”
"Siapa dia?" bisik Liana pelan, hampir tak terdengar oleh dirinya sendiri.
Seolah menjawab pertanyaannya, seorang mahasiswi di dekatnya berbisik pada temannya, "Lihat itu, Kak Justin dari Fakultas Ekonomi. Gila, ya? Dia tetap latihan padahal badai begini. Dingin banget orangnya, tapi gantengnya nggak masuk akal."
Justin.
Nama itu berputar di kepala Liana seperti kaset rusak. Justin. Kakak tingkatnya. Sosok yang terlihat begitu berwibawa namun menyimpan kesepian yang sangat dalam di balik punggungnya yang tegap. Liana tidak tahu apa yang dialami Justin, tapi ia ingin tahu. Ia ingin menjadi bagian dari alasan kenapa Justin berhenti bermain basket sendirian di bawah hujan.
Liana masih mematung di tempatnya. Lagu itu belum selesai, masih berputar mengiringi setiap gerakan Justin di tengah lapangan. Air hujan yang tumpah dari langit seolah menjadi tirai panggung bagi pertunjukan tunggal yang memukau mata Liana. Justin melompat, tubuhnya melayang sejenak di udara sebelum bola oranye itu meluncur mulus masuk ke dalam ring tanpa menyentuh tepiannya sedikit pun. Swish.
Justin tidak merayakan lemparannya. Ia hanya berjalan gontai mengambil bola yang memantul di genangan air, lalu kembali ke garis tiga angka. Rambut hitamnya yang basah menutupi dahi, dan sesekali ia menyibaknya ke belakang dengan gerakan kasar. Dari jarak ini, Liana bisa melihat uap tipis keluar dari napas Justin, beradu dengan udara dingin yang menusuk tulang.
"Kenapa dia kelihatan sedih banget?" batin Liana.
Ada banyak orang yang tampan di universitas ini. Ada banyak atlet yang lebih populer. Namun, Justin memiliki aura yang berbeda. Dia tidak tampak seperti sedang pamer kekuatan; dia tampak seperti sedang melarikan diri. Setiap dentuman bola di lantai semen yang basah terdengar seperti detak jantung yang sedang protes pada keadaan.
Menit demi menit berlalu. Perlahan, guruh yang tadinya menggelegar mulai menjauh. Langit yang tadinya hitam pekat berubah menjadi kelabu muda. Hujan yang tadinya seperti badai, kini menyusut menjadi rintik-rintik halus yang menenangkan.
Justin akhirnya berhenti. Ia memegang bola basketnya di pinggang kiri, berdiri diam di tengah lapangan sambil menengadah, membiarkan sisa-sisa air hujan membasahi wajahnya untuk terakhir kali sore itu. Ia tampak mengambil napas panjang, bahunya yang tegap naik turun dengan teratur. Kemudian, ia berjalan menuju tepi lapangan, mengambil tas ransel hitam yang ia letakkan di bawah bangku penonton yang memiliki sedikit atap.
Liana tersentak. Ia buru-buru melepas earphone-nya saat melihat Justin berjalan menuju arah lobi—arah tempat ia berdiri.
Jantung Liana berdegup kencang. Ia merasa seperti pencuri yang tertangkap basah. Ia segera memalingkan wajah, pura-pura sibuk memeriksa ponselnya yang sebenarnya tidak ada notifikasi apa pun. Dari sudut matanya, ia melihat bayangan tinggi itu mendekat.
Tap. Tap. Tap.
Suara sepatu basket yang basah itu terdengar semakin jelas. Aroma hujan yang bercampur dengan bau maskulin yang samar tercium saat Justin melintas tepat di belakangnya. Justin tidak menoleh. Ia berjalan terus dengan langkah lebar dan dingin, meninggalkan jejak kaki basah di lantai lobi yang kering. Punggungnya terlihat begitu kokoh, namun tetap terasa berjarak ribuan kilometer meskipun hanya terpaut beberapa langkah.
Liana hanya bisa menatap punggung itu hingga menghilang di belokan koridor menuju parkiran. Setelah sosok itu benar-benar hilang, Liana baru bisa mengembuskan napas yang sedari tadi ia tahan.
"Justin..." gumamnya lagi. Kali ini dengan senyum tipis yang tak mampu ia sembunyikan.
Hujan benar-benar reda tepat saat jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Udara terasa sangat lembap dan berbau tanah yang segar. Liana memutuskan untuk pulang. Ia berjalan menuju halte bus depan kampus dengan langkah yang terasa lebih ringan dari biasanya. Meski bajunya sedikit lembap karena uap air, hatinya terasa hangat.
Perjalanan pulang di atas bus kota yang padat tidak terasa membosankan seperti biasanya. Liana menyandarkan kepalanya di kaca jendela, menatap lampu-lampu jalanan yang mulai menyala dan terpantul di aspal yang basah. Pikirannya terbang kembali ke lapangan basket tadi. Ia membayangkan betapa dinginnya air hujan itu, dan betapa hangatnya perasaan yang tiba-tiba muncul di dadanya.
Sesampainya di depan rumah minimalis bercat putih miliknya, Liana menarik napas dalam sebelum membuka pintu.
"Liana pulang," serunya pelan saat memasuki ruang tamu.
Ibunya sedang duduk di sofa sambil melipat pakaian, sementara ayahnya sibuk membaca koran digital di meja makan dengan secangkir teh hangat di sampingnya.
"Lama sekali pulangnya, Sayang? Terjebak hujan ya di kampus?" tanya Ibu sambil menatap Liana dengan penuh perhatian.
"Iya, Bu. Tadi hujannya deras banget, jadi Liana nunggu di lobi sebentar sampai reda," jawab Liana jujur, meski ia tidak menyebutkan bahwa ia sengaja menunggu lebih lama hanya untuk menonton seseorang.
"Ya sudah, cepat mandi. Air hangatnya sudah Ibu siapkan. Jangan sampai sakit, besok kamu ada kelas pagi kan?"
"Iya, Bu. Liana ke kamar dulu ya."
Liana mencium pipi Ibunya singkat, lalu menyapa Ayahnya sebelum menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Begitu pintu kamar tertutup, Liana menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Ia melempar tasnya ke atas tempat tidur dan langsung merebahkan diri tanpa mengganti baju terlebih dahulu.
Kamar itu sunyi, hanya ada suara detak jam dinding dan sayup-sayup suara televisi dari lantai bawah. Liana menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih gading. Di kepalanya, adegan itu terulang lagi.
Hujan. Lapangan basket. Dan laki-laki bernama Justin itu.
Liana meraih ponselnya, kembali membuka aplikasi musik dan memutar lagu About You dari The 1975 sekali lagi. Ia memejamkan mata, membiarkan melodi dreamy itu membawanya kembali ke koridor kampus.
"There was something about you that I can't quite remember, but I can't forget..."
"Apa ya yang bikin dia kelihatan sangat kesepian?" bisik Liana pada kegelapan kamarnya.
Ada jutaan detik dalam hidup Liana sebelumnya, tapi detik-detik saat ia melihat Justin di bawah hujan adalah detik pertama yang benar-benar terasa berarti. Liana tahu, mulai besok, ia tidak akan lagi melihat koridor kampus dengan cara yang sama. Ia tidak akan lagi benci pada hujan yang turun di sore hari.
Karena sekarang, setiap tetes hujan dan setiap sudut lapangan basket itu, telah memiliki sebuah nama.
Justin.
Liana tersenyum, lalu beranjak dari tempat tidur untuk mandi. Namun, satu hal yang ia yakini malam itu: ia harus bertemu lagi dengan Justin. Ia harus tahu lebih banyak tentang laki-laki itu. Dan jika ia harus masuk ke dunia Justin yang dingin dan basah, maka Liana akan melakukannya dengan senang hati.