Arabelle, seorang barista, tak menyangka hidupnya akan berubah ketika Lorenzo Devereaux, pemimpin dunia bawah yang dikenal sebagai Damon, datang menagih utang ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Lebih dari satu jam berlalu bersama para gadis itu, dan Arabelle tak menyangka akan secepat ini merasa nyaman. Mereka punya banyak kesamaan, dari selera musik hingga cara memandang dunia. Obrolan mengalir deras, tawa pun tak pernah benar-benar berhenti.
"Oke, kita turun. Kita sudah terlalu lama meninggalkan para cowok di bawah," kata salah satu dari mereka.
Mereka bergegas turun. Di ruang pesta, Lorenzo dan yang lainnya tampak duduk santai sambil mengobrol. Arabelle mengambil tempat di sebelah Lorenzo. Lelaki itu menoleh sebentar, lalu tersenyum.
"Apa?" tanya Arabelle.
"Kamu cantik," jawabnya pelan, nyaris tenggelam di antara musik yang menggelegar.
Arabelle hanya tersenyum dan menyimpan kata-kata itu diam-diam.
Malam itu berlanjut hangat. Semua orang saling bercanda dan bercerita. Arabelle pun membiarkan dirinya menikmati beberapa gelas minuman, tanpa benar-benar menghitung. Tak butuh lama hingga kepalanya mulai terasa berputar. Ia duduk di sofa, dan Hana menghampirinya.
"Kamu baik-baik saja?"
Arabelle mengangguk dengan senyum yang sedikit berat.
"Kamu minum? Berapa banyak?" desak Hana.
Arabelle mencoba menghitung dengan jari-jarinya, tapi justru terkikik sendiri. Hana menggeleng sambil menariknya berdiri.
"Sudah, ayo nari dulu!"
Arabelle ikut menari sebentar di tengah keramaian, tapi rasa pusing itu makin menjalar. Ia menghampiri Lorenzo yang dudur di kursi dan berbisik bahwa ia ingin naik ke kamar. Lorenzo langsung berdiri. Arabelle sempat melarangnya ikut, tapi Lorenzo tidak bergeming, ia mengantar Arabelle ke atas tanpa banyak bicara.
Di kamar, Arabelle baru saja duduk di tepi tempat tidur ketika perutnya bergolak hebat. Ia berlari ke kamar mandi.
Lorenzo menyusul. Tanpa sepatah kata, ia mengumpulkan rambut Arabelle dan mengikatnya menjadi kuncir sederhana, menahan sampai semuanya reda.
"Sekarang bilang, kenapa kamu minum sebanyak itu, Kecilku?" tanyanya lembut.
"Maaf," bisik Arabelle.
"Tidak apa-apa. Akulah yang seharusnya menjagamu," jawab Lorenzo.
Arabelle berdiri perlahan. Lorenzo mengirim pesan singkat, dan dalam hitungan menit, musik di bawah berhenti. Langkah-langkah kaki terdengar menjauh satu per satu.
"Kenapa mereka pergi?" tanya Arabelle.
"Karena aku minta. Sudah larut," kata Lorenzo singkat.
Arabelle masuk ke lemari pakaian, mengganti bajunya yang kotor dengan kaus dan celana pendek. Rumah Lorenzo terasa hangat meski di luar sedang musim dingin. Rambutnya digulung asal, dan ketika ia keluar, Lorenzo sudah berbaring di tempat tidur tanpa baju, matanya setengah terpaku pada layar televisi.
Arabelle rebah di sisinya. Lorenzo menariknya lebih dekat, kepala Arabelle jatuh di atas dadanya yang bidang, tangan Lorenzo melingkar di pinggang gadis itu. Mereka menonton televisi dalam diam yang nyaman, hingga mata Arabelle terasa semakin berat.
"Lorenzo... aku ngantuk," ujarnya pelan.
"Kalau begitu tidurlah, Sayangku."
Arabelle terlelap di atas dadanya, dengan irama detak jantung Lorenzo menjadi pengantar tidur yang paling tenang malam itu.
**
Pagi menyapa dengan cahaya lembut yang menyelinap masuk ke celah tirai.
Arabelle membuka mata. Lorenzo sudah terjaga di sisinya, menatap langit-langit dengan ekspresi yang tenang.
"Selamat pagi," kata Arabelle, suaranya masih serak.
"Selamat pagi, Baby. Tidurnya nyenyak?"
"Nyenyak sekali," jawabnya jujur.
"Pesawat tiga jam lagi. Bersiap-siaplah."
Arabelle bangkit, menggosok gigi, lalu menyalakan shower. Ia menikmati mandi air hangat yang panjang, seperti yang selalu ia suka. Setelah selesai, ia berpakaian di dalam lemari, memilih sepatu bot bertumuk hitam, lalu berjalan keluar.
Tepat saat itu, Lorenzo keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di pinggangnya.
"Kamu kelihatan bagus," katanya.
"Terima kasih, Sayangku," balas Arabelle.
Senyum kecil naik di sudut bibir Lorenzo dan jantung Arabelle rasanya meledak karenanya.
Sebelum ia sempat beranjak, Lorenzo menariknya ke dalam sebuah ciuman. Meski Arabelle memakai hak tinggi, ia tetap saja jauh lebih pendek darinya. Ketika mereka akhirnya terlepas, napas Arabelle nyaris habis.
"Aku mau berpakaian," kata Lorenzo.
Arabelle mengangguk, pipinya sedikit memanas.
Ia menyisir rambut, mengoleskan produk rambut, mengerjakan riasan, lalu menutup semuanya dengan semprotan parfum favoritnya. Setelah itu ia menunggu di balkon dengan ponsel di tangan.
Beberapa menit kemudian Lorenzo muncul celana hitam elegan, kemeja putih berkancing dengan beberapa kancing bagian atas yang sengaja dibiarkan terbuka. Tampak sempurna dengan cara yang terasa begitu alami.
"Kita langsung berangkat?" tanya Arabelle.
"Sarapan dulu, baru kita pergi," jawabnya.
Mereka berjalan menuju tangga. Lorenzo menyatukan jari-jarinya dengan jari Arabelle begitu saja, seperti kebiasaan lama. Arabelle menatap genggaman itu sebentar. Ada sesuatu yang masih mengganjal di sudut pikirannya, apakah ia benar-benar siap pergi ke Italia bersamanya? Perasaannya nyata, tapi segalanya terasa bergerak terlalu cepat.
Di ruang makan yang megah, meja panjang sudah penuh dengan berbagai hidangan. Asisten rumah tangga menyambut mereka.
"Selamat pagi, Tuan Devereaux. Mau minum apa?"
"Espresso, setengah sendok gula," jawab Lorenzo.
"Dan Anda, Nona?"
Arabelle tersenyum kecil pada sebutan itu. "Panggil aku Arabelle saja. Kopi susu, satu sendok gula. Terima kasih."
Arabelle menyendok dua pancake ke piringnya dan menuangkan saus cokelat di atasnya. Lorenzo hanya mengambil sepotong kecil, ia memang tidak pernah makan banyak di pagi hari.
Minuman tiba. Mereka makan dalam keheningan yang nyaman.
"Enak?" tanya Lorenzo.
"Enak sekali," jawab Arabelle.
Setelah selesai, mereka naik kembali ke kamar. Arabelle mencabut ponselnya dari charger. Para penjaga sudah bersiap dengan koper-koper yang telah diambilkan dari lemari.
"Kita berangkat?" tanya Lorenzo.
"Ayo."
Lamborghini sudah menunggu di depan. Mereka masuk, dan di belakang mereka, dua SUV hitam mengikuti tanpa suara, seperti bayangan yang selalu setia.
"Aku mau pasang lagu," kata Arabelle.
"Lakukan apa yang kamu mau, Baby."
Arabelle mencari stasiun lagu-lagu berbahasa Inggris favoritnya. Musik mengalun mengisi ruang di antara mereka, hangat, seperti sesuatu yang belum punya nama, tapi sudah terasa nyata.