Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23: Kekuatan Tersembunyi di Balik Makam Laut
Setelah berhasil menyelamatkan Desa Pasuruan dari badai misterius yang muncul setelah buku kuno terbuka, Sri dan Jaka merasa bahwa perjuangan mereka belum selesai. Malam itu, bulan purnama bersinar terang di atas laut Pasuruan, menerangi permukaan air yang tiba-tiba menjadi tenang seperti cermin. Cahaya keemasan menyembur dari arah pulau kecil yang pernah mereka kunjungi bersama nenek Sri, seolah mengundang mereka untuk kembali menjelajah.
“Sri, kamu rasakan kan? Ada sesuatu yang menarik kita kesana,” ujar Jaka sambil mengamati laut yang semakin terpancarkan cahaya hangat. Tangan kirinya secara tidak sengaja menyentuh kalung perak yang selalu dia kenakan—kalung yang dulunya milik kakeknya, seorang nelayan yang hilang saat mencari rahasia laut pada tahun-tahun silam. Saat kulitnya menyentuh logam perak, kalung itu tiba-tiba bersinar dengan warna jingga yang sama dengan cahaya dari pulau kecil.
Sri mengangguk perlahan, matanya terpaku pada buku kuno yang sedang terbuka di atas meja kayu di rumah neneknya. Halaman terakhir yang semula kosong kini mulai muncul tulisan-tulisan kuno yang terbuat dari warna emas. “Hanya mereka yang memiliki hati suci dan cinta pada laut yang bisa membuka gerbang makam laut, di mana kekuatan untuk melindungi semua makhluk hidup berada,” baca Sri dengan suara pelan namun tegas. Ia kemudian menunjukkan bagian gambar di samping tulisan—suatu makam berbentuk patung ikan paus raksasa yang berada di dasar laut, tepat di bawah pulau kecil tersebut.
Tanpa berpikir panjang, mereka segera menyiapkan perahu nelayan yang sudah diperbaiki nenek Sri. Saat mereka menjelajah menuju pulau kecil, arus laut yang biasanya ganas malah membimbing perahu mereka dengan lembut. Di sekitar perahu, ribuan ikan warna-warni muncul seolah menjadi pengawal, bahkan lumba-lumba pun muncul mengikuti perahu sambil melompat-lompat di atas permukaan air.
Setelah sampai di tepi pulau, mereka menemukan lorong tersembunyi di balik rerumputan tinggi yang hanya bisa dilihat saat cahaya bulan purnama menyinariinya. Lorong itu mengarah ke dalam gua yang jauh di bawah permukaan tanah, dan di ujung gua terdapat sebuah kolam air laut yang sangat jernih. Di tengah kolam tersebut, ada pilar batu besar dengan ukiran ikan paus yang sama dengan gambar di buku kuno.
“Sri, ini dia tempatnya,” kata Jaka sambil mengambil kalungnya dan menghampiri pilar batu. Saat kalung itu menyentuh ukiran ikan paus, seluruh gua terangnya oleh cahaya keemasan yang luar biasa. Kolam air mulai bergoyang dan membentuk pusaran kecil, kemudian terbuka seperti pintu yang mengarah ke dasar laut. Tanpa ragu, Sri dan Jaka melompat ke dalam pusaran tersebut.
Saat mereka terbuka mata, mereka berada di sebuah ruangan bawah laut yang megah dengan dinding dari batu karang berkilau dan hiasan mutiara serta permata berwarna-warni. Di tengah ruangan, berdiri makam besar berbentuk ikan paus yang sedang menyembuhkan diri—kulitnya yang semula retak-retak kini mulai tertutup oleh lapisan cahaya keemasan. Di dekat makam tersebut, berdiri sosok wanita cantik dengan rambut berwarna laut biru dan baju dari sisik ikan yang bersinar.
“Kamu datang pada waktunya, penerus dari keluarga penjaga laut,” ujar sosok wanita tersebut dengan suara yang merdu seperti aliran air. Ia memperkenalkan diri sebagai Dewi Laut Pasuruan, penjaga kekuatan alam yang telah melindungi wilayah tersebut selama ribuan tahun. “Makam ini adalah tempat aku menyimpan kekuatan terakhir untuk melawan bahaya yang akan datang. Badai yang kamu lawan sebelumnya hanya permulaan—ada kekuatan jahat yang ingin mengambil alih kekuasaan laut dan merusak keseimbangan alam.”
Dewi Laut kemudian menjelaskan bahwa Sri adalah penerus dari garis keturunan penjaga laut yang telah ada sejak zaman nenek moyangnya, sedangkan Jaka adalah penerus dari keluarga nelayan yang selalu membantu menjaga perdamaian di laut. Bersama-sama, mereka harus menguasai kekuatan dari makam laut tersebut untuk menghadapi bahaya yang akan datang.
Dalam beberapa jam berikutnya, Dewi Laut mengajari mereka cara berkomunikasi dengan alam laut, merasakan kebutuhan makhluk hidup di sana, dan menggunakan kekuatan cinta serta kesetiaan untuk membangkitkan perlindungan alam. Sri belajar bahwa kalung perak milik Jaka dan kalung mutiara miliknya adalah dua bagian dari kunci untuk membuka kekuatan penuh makam laut. Saat mereka menyatukan kedua kalung tersebut, seluruh ruangan bawah laut bersinar terang, dan kekuatan hangat mengalir ke dalam tubuh mereka keduanya.
Sebelum mereka kembali ke permukaan, Dewi Laut memberikan pesan penting: “Kekuatan ini bukan untuk menyakiti, melainkan untuk melindungi. Ingatlah selalu bahwa laut adalah bagian dari kita, dan kita adalah bagian dari laut. Bahaya akan segera tiba, jadi kamu harus siap melindungi semua yang kamu cintai.”
Saat mereka muncul kembali di permukaan laut, matahari mulai muncul dari balik ufuk timur, menerangi laut Pasuruan dengan warna jingga dan merah muda yang indah. Di kejauhan, mereka melihat kapal-kapal besar yang tidak dikenal mulai mendekati wilayah Desa Pasuruan—bahaya yang diperingatkan Dewi Laut sudah tiba, dan perjuangan baru bagi Sri dan Jaka akan segera dimulai…