NovelToon NovelToon
Academy Of Fallen Marks

Academy Of Fallen Marks

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:218
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Tatapan Elang

Suasana di lapangan latihan Crimson Crest seketika berubah riuh. Ketegangan yang baru saja mereda berganti dengan derap sepatu bot berat dan denting zirah. Para siswa pengguna pedang yang tadi terpaku melihat aksi terjun bebas Seraphina kini berkerumun di sekitar Lucien. Debu tipis beterbangan, bercampur dengan aroma amis darah monster yang mulai menguap di udara.

Master Kaelen menerobos kerumunan dengan langkah mantap. Bekas luka melintang di pipinya tampak semakin tegas saat wajahnya menegang oleh kekhawatiran yang disembunyikan di balik disiplin. Ia mengulurkan tangan kasar dan berototnya pada Lucien.

“Vlad! Kau masih bernapas?” tanyanya dengan suara bariton parau. Tatapannya menyapu tubuh Lucien, memastikan tak ada luka fatal. “Itu hantaman keras. Jika fokusmu benar, kau seharusnya merasakan pergerakan udara dari samping. Berdirilah. Jangan biarkan tanah ini mengisap harga dirimu.”

Lucien menerima uluran tangan itu dan bangkit perlahan, menahan denyut perih di punggungnya—bukan lagi karena benturan, melainkan karena simbol terlarang yang baru saja ia paksa diam. “Saya baik-baik saja, Master. Hanya sedikit kehilangan keseimbangan,” jawabnya datar, meski napasnya masih sedikit memburu.

Kehangatan Kaelen belum sempat menetap ketika bayangan jangkung berjubah hitam mendekat. Master Silas—si “Elang Hitam”—menatap dengan mata setajam pisau. Wajahnya memerah oleh amarah yang tertahan.

“Baik-baik saja, katamu?!” bentaknya, suaranya menggema hingga barisan belakang berjengit. Tongkat sihir pendeknya terangkat, menunjuk lurus ke dada Lucien.

“Kau pewaris keluarga Vlad! Nama yang identik dengan keunggulan dan kewaspadaan absolut! Tapi hari ini kau dijatuhkan monster kelas rendah yang bahkan tak cukup cerdas untuk merangkak!” Silas melangkah semakin dekat. “Kecerobohanmu memalukan—bukan hanya bagi dirimu, tapi bagi akademi ini. Jika bukan karena intervensi Seraphina, kau mungkin sudah menjadi bangkai di lantai ini!”

Lucien menundukkan kepala, bukan karena takut, melainkan untuk menyembunyikan kilat emosi di matanya. Membalas hanya akan memancing penyelidikan lebih dalam.

“Maafkan saya, Master Silas. Saya akan mengevaluasi diri,” ucapnya dengan nada monoton yang terkontrol.

“Evaluasi tidak akan cukup untuk menutupi kebodohanmu!” Silas berbalik ke arah siswa lain. “Lihat dan ingat! Musuh paling berbahaya adalah yang tak terlihat. Jika kau lengah lagi, Vlad, aku sendiri yang akan menyeretmu ke Dewan Kedisiplinan dan mencabut hak latihan lapanganmu!”

Seraphina, di samping Lucien, memutar suling peraknya dengan ekspresi bosan. Namun di balik sikap acuhnya, matanya tetap mengamati Lucien—seolah tahu bahwa kelengahan itu hanyalah permukaan dari sesuatu yang lebih gelap.

Lucien tetap mematung hingga Silas akhirnya mendengus kesal. “Pergi dari hadapanku! Bersihkan dirimu dan renungkan kegagalanmu!” Kibasan jubah hitam itu menjadi penutup dramatis sebelum ia berlalu.

Kerumunan pun bubar cepat. Lucien memungut pedangnya, menyarungkannya dengan bunyi klik mantap, lalu berjalan menuju asrama tanpa menoleh. Ia bisa merasakan tatapan Seraphina mengikuti langkahnya.

Sore harinya, ketika langit berubah merah tembaga, seorang kurir akademi mendatanginya.

“Tuan Muda Vlad, Anda dipanggil ke Ruang Dewan Kedisiplinan sekarang juga.”

Lucien mengangguk. Di akademi lain, panggilan itu mungkin berarti akhir karier. Namun di Crimson Crest, Dewan dipimpin oleh Master Alaric—sosok yang lebih mirip kakek bijak daripada hakim kejam.

Lucien memasuki ruangan beraroma kayu cendana dan buku tua. Master Alaric duduk di balik meja kayu ek besar, menuangkan teh dengan tangan keriput yang tenang.

“Duduklah, Lucien,” ucapnya lembut. “Aku dengar Silas mengamuk lagi. Katanya, kau dijatuhkan Void Crawler?”

Lucien duduk. “Benar, Master. Saya kehilangan fokus.”

Alaric terkekeh pelan dan mendorong secangkir teh hangat ke arahnya. “Silas lupa bahwa penyihir sehebat apa pun tetap manusia. Katakan padaku, apa yang membebani pikiranmu? Bebanmu tampak lebih berat daripada sekadar latihan pedang.”

Lucien terdiam. Kelembutan itu hampir membuatnya tergoda untuk mengaku—tentang simbol di punggungnya, tentang Hutan Abyss, tentang ketakutan yang terus membayangi. Namun ia tahu, di balik kelembutan itu tersimpan kekuatan yang mampu meratakan benteng dalam sekejap.

“Hanya kelelahan pasca ujian Hutan Abyss, Master,” jawabnya dengan senyum tipis.

Alaric menatapnya beberapa detik, seolah membaca aliran energi di balik kulitnya. Lalu ia menghela napas dan mengeluarkan stempel sihir kecil.

“Karena Silas secara resmi melaporkanmu atas ‘kecerobohan fatal’, prosedur mengharuskanku memberimu ini.”

Ia menyentuhkan stempel ke udara di dekat bahu kiri Lucien. Seketika, simbol daun hijau bercahaya lembut muncul melayang di atasnya—tanda Pelanggaran Ringan yang dapat dilihat seluruh akademi.

“Tenang saja,” bisik Alaric sambil mengedip. “Bantu perpustakaan atau bersihkan ruang latihan besok. Daun itu akan layu dengan sendirinya. Anggap saja ini jeda agar kau tak perlu bertemu Silas di kelas praktik.”

Lucien menunduk hormat, merasakan kehangatan simbol itu—hukuman yang terasa seperti perlindungan.

Namun saat ia melangkah keluar, satu kesadaran muncul. Selama daun hijau itu masih bersinar di bahunya, semua mata akan tertuju padanya. Ia harus lebih waspada dari sebelumnya—agar cahaya hitam di punggungnya tidak pernah menelan warna hijau itu di hadapan siapa pun.

1
gempi
h
Sean Sensei
/Shame/ Vivienne baru saja kena 'mental' dua kali: pertama karena tanda misterius di tulang selangkangannya, kedua karena disindir soal nilai ujian sama Daefiel. Suka banget sama dinamika karakternya, Daefiel kelihatan tipe cowok yang menyebalkan tapi bikin nagih. Semangat nulisnya!
REY ASMODEUS
aku suka 💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!