NovelToon NovelToon
00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Sepuluh tahun bersahabat, satu menit untuk jatuh cinta, dan dua belas menit untuk mempertaruhkan segalanya.

Tepat pukul 23:48 di malam pergantian tahun, Arka memiliki satu misi gila: Menyatakan cinta pada Lala, sahabat masa kecilnya, sebelum kembang api pertama meledak. Namun, semesta seolah sedang bercanda. Mulai dari sinyal yang timbul tenggelam, serangan video call grup keluarga yang heboh, hingga baterai ponsel yang tersisa 1%.

Di tengah riuhnya Jakarta, setiap detik adalah pertaruhan. Apakah pesan "Aku suka kamu" akan sampai sebelum jam berubah menjadi 00:00? Ataukah Arka harus menahan rindu dan penyesalan satu tahun lagi?

"Ikuti perjalanan chat paling mendebarkan dalam 12 menit terakhir tahun ini!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Napas yang Tersengal

Bab 14: Napas yang Tersengal

Menit 23:48. Angka itu belum bergeser, namun efisiensi biologis tubuhku sedang berada di titik nadir. Setelah menolak godaan untuk menyerah di Bab 13, aku mendapati sebuah anomali baru dalam sistem pertahananku: aku lupa cara bernapas dengan benar.

Secara fisiologis, otot diafragma di bawah rongga dadaku seolah-olah mengalami spasme ringan. Ia tidak lagi melakukan kontraksi penuh yang memungkinkan paru-paru mengembang maksimal. Sebaliknya, aku hanya melakukan pernapasan klavikular—napas pendek dan dangkal yang hanya mengisi bagian atas paru-paru.

Efeknya sistemik. Kadar karbon dioksida dalam darahku meningkat, memicu sinyal panik ke batang otak, yang kemudian mempercepat denyut jantungku melampaui ritme musik panggung yang sudah gila.

Aku melakukan observasi internal. Setiap tarikan napas terasa seperti mencoba menghirup udara melalui sedotan yang tersumbat. Oksigen tidak mengalir ke otak dengan kecepatan yang dibutuhkan untuk memproses keberanian. Aku merasa pening. Hypoxia ringan mulai mendistorsi persepsiku terhadap jarak antara jempol dan layar ponsel.

"Tenang, Arka. Tarik napas," perintahku pada diri sendiri, sebuah perintah yang lebih merupakan analisis teknis daripada saran emosional.

Aku mencoba menerapkan teknik box breathing—sebuah protokol taktis yang digunakan oleh operator lapangan untuk menstabilkan sistem saraf otonom dalam tekanan tinggi.

* Inhalasi: Empat detik. Aku mencoba menghirup udara Bundaran HI yang berat oleh karbon monoksida dan aroma jagung bakar (Bab 2). Baru di detik kedua, dadaku terasa sesak.

* Tahan: Empat detik. Di sini, aku merasakan tekanan intra-toraks yang tinggi. Jantungku berdentum di balik tulang rusuk, seolah-olah ingin melepaskan diri dari kurungan kulit.

* Ekshalasi: Empat detik. Aku membuang napas perlahan melalui bibir yang pecah-pecah.

* Tahan: Empat detik. Kosong. Hampa.

Namun, Bundaran HI menolak memberikan keheningan yang dibutuhkan untuk prosedur ini.

Tepat di detik ketiga ekshalasiku, sekelompok remaja di belakang kami mulai melakukan hitung mundur prematur secara acak.

"SEPULUH! SEMBILAN! DELAPAN!"

Suara riuh itu merusak ritme pernapasan kotakku. Gelombang suara yang tidak teratur masuk melalui kanal pendengaran, memicu refleks kejut yang membuatku kembali menghirup napas dengan sentakan tiba-tiba. Gagal. Teknik pernapasan yang seharusnya menenangkan saraf justru menjadi sumber stres baru karena aku tidak mampu menyinkronkannya dengan lingkungan yang kacau.

Secara mikroskopis, aku merasakan alveoli di paru-paruku berjuang mendapatkan setiap molekul oksigen di tengah panasnya gesekan bahu antar manusia. Suhu udara yang panas (Bab 2) membuat setiap hirupan terasa membakar tenggorokanku. Aku menyadari bahwa jika aku tidak bisa menguasai napasku dalam tiga puluh detik ke depan, aku akan mengalami hiperventilasi ringan sebelum sempat menekan satu pun karakter.

Aku melirik ke arah Lala. Gadis itu bernapas dengan ritme yang sangat kontras—lambat, dalam, dan tenang. Aku bisa melihat pergerakan halus di dadanya, sebuah sinkronisasi alami dengan alam semesta yang seolah-olah tidak terpengaruh oleh kebisingan sekitar. Mengapa sistem biologisnya begitu stabil sementara sistemku sedang mengalami system failure? Apakah karena dia tidak memiliki beban rahasia yang menghambat pertukaran gas di dalam parunya?

"Ka, muka kamu pucat banget. Sesak ya?" Lala bertanya, tangannya sedikit bergerak, hampir menyentuh lenganku namun kemudian ditarik kembali.

"Cuma... kurang oksigen. Terlalu ramai," jawabku dengan suara yang terdengar tipis, seolah-olah setiap kata menguras sisa udara terakhir di paru-paruku.

Analisis kognitifku memberikan peringatan: Kekurangan oksigen akan menurunkan presisi motorik halus. Jika napasku tetap tersengal, kemungkinan jempolku meleset saat menekan huruf 'L' meningkat hingga 40%. Aku tidak bisa membiarkan hukum biologi merusak rencana yang telah kususun selama sepuluh tahun.

Aku mencoba sekali lagi. Kali ini, aku mengabaikan hitung mundur palsu itu. Aku menutup mata sejenak, membayangkan molekul oksigen masuk ke aliran darah, menuju ke ujung-ujung jari, memberikan tenaga pada otot flexor jempolku. Aku berhenti mencoba melakukan pernapasan kotak yang kaku. Aku membiarkan tubuhku mengambil apa yang ia butuhkan, namun dengan paksaan kesadaran untuk tidak melakukannya secara terburu-buru.

Perlahan, rasa pening di kepalaku berkurang. Bintik-bintik hitam sisa kilatan kamera (Bab 11) mulai memudar, digantikan oleh kejernihan yang dingin. Aku merasakan paru-paruku mulai sedikit lebih patuh.

Napas yang tersengal ini sebenarnya adalah simbol dari sisa-sisa pertahanan terakhirku. Ia adalah udara yang terjebak di antara masa lalu (Bab 9) dan masa depan yang tidak pasti. Setiap tarikan napas adalah sebuah pernyataan bahwa aku masih hidup, masih berdiri di sini, dan masih memiliki kendali—meskipun sangat tipis—atas takdirku sendiri.

Aku menatap jam di layar ponsel. 23:48:50. Sepuluh detik terakhir di menit yang menghakimi ini akan segera dimulai.

Napas yang tersengal kini berubah menjadi napas yang terfokus. Aku tidak lagi bernapas untuk bertahan hidup; aku bernapas untuk bertindak.

Aku merasakan oksigen akhirnya mencapai saraf-saraf di ujung jempolku. Tremor yang sejak tadi menghantuiku kini mereda menjadi sebuah ketegangan statis yang siap dilepaskan.

Bundaran HI seolah-olah senyap di kepalaku, meskipun pada kenyataannya kebisingannya sedang menuju puncak absolut. Aku sudah tidak peduli pada terompet (Bab 6), pada aspal yang keras (Bab 12), atau pada kegelapan (Bab 8). Yang ada hanyalah aku, kursor yang berkedip (Bab 10), dan satu tarikan napas panjang terakhir yang akan mengiringi karakter pertama.

Aku menarik napas itu sekarang. Dalam. Dingin. Penuh.

Aku menahannya di puncak paru-paru. Inilah titik tertinggi dari tekanan internal yang bisa kutahan.

Aku tidak akan membuang napas ini sampai karakter pertama muncul di layar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!