Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Bayang-Bayang di Balik Prestasi
Satu bulan sejak kenaikan jabatannya menjadi Manajer Senior Strategi Keuangan, Hana mulai menyadari bahwa kursi kepemimpinan tidak hanya menawarkan kenyamanan, tetapi juga duri-duri yang lebih tajam. Kantor pusat di Jakarta memberikan tekanan yang luar biasa besar untuk proyek ekspansi regional, dan Hana berada tepat di pusat badai tersebut. Kesibukannya kini bukan lagi sekadar mengolah data, melainkan mengelola manusia dan ekspektasi.
Pagi itu, Hana sedang memeriksa laporan audit dari tim lapangan ketika Maya, asistennya, masuk dengan wajah yang sedikit cemas. Maya tampak ragu untuk berbicara, jarinya meremas pinggiran buku catatannya.
"Bu Hana, maaf mengganggu. Ada tamu di lobi bawah. Dia bersikeras ingin bertemu Ibu," ujar Maya pelan. "Dia mengaku sebagai perwakilan dari keluarga besar Pak Aris."
Hana meletakkan pulpennya. Jantungnya berdesir sesaat, namun ia segera menenangkan diri. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir sisa-sisa kegelisahan yang muncul setiap kali nama itu disebut. Ternyata, meskipun pengadilan sudah mengetuk palu, sisa-sisa masa lalu itu masih mencoba mencari celah untuk masuk.
"Siapa tepatnya, Maya?" tanya Hana tenang.
"Seorang pria paruh baya, namanya Pak Mulyono. Katanya dia paman dari mantan suami Ibu."
Hana teringat sosok itu. Pak Mulyono adalah sosok yang dituakan di keluarga Aris, pria yang dulu sering memberikan ceramah panjang tentang "kesalehan istri" di setiap acara keluarga, sementara ia sendiri membiarkan keponakannya berperilaku semena-mena. Hana tahu, jika Pak Mulyono yang datang jauh-jauh ke Sudirman, ini bukan sekadar kunjungan silaturahmi.
"Bawa dia ke ruang tamu kecil di sayap kanan, Maya. Beri saya waktu lima menit," ujar Hana. Ia tidak ingin menunjukkan wajah lelahnya. Ia merapikan blazer hitamnya di depan cermin, memastikan penampilannya memancarkan kendali penuh.
Di ruang tamu, Pak Mulyono duduk dengan punggung tegak dan wajah kaku. Saat Hana masuk, pria itu tidak berdiri untuk menyambutnya, melainkan hanya menatap Hana dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang menghakimi.
"Jadi, begini rasanya menjadi orang sukses, Hana? Sampai-sampai kamu lupa cara menghormati orang tua?" suara Pak Mulyono terdengar berat, kental dengan nada sindiran yang sudah sangat akrab di telinga Hana.
Hana duduk di hadapannya, menjaga jarak yang sopan namun tetap menunjukkan batas. "Selamat pagi, Pak Mulyono. Ada keperluan apa Bapak datang ke kantor saya di jam kerja yang cukup padat ini?"
"Kantormu?" Pak Mulyono tertawa sinis, matanya menyapu ruangan yang elegan itu. "Hana, ingatlah. Semua kesuksesan yang kamu nikmati sekarang ini tidak lepas dari doa-doa keluarga saat kalian masih bersama. Sekarang, setelah kamu berada di atas, kamu tega membiarkan Aris dan ibunya hidup kesulitan? Ibu Aris masuk rumah sakit lagi semalam, dan kali ini kondisinya sangat memprihatinkan."
Hana tetap tenang, meski ada rasa perih yang sempat mencubit hatinya mendengar kabar mantan mertuanya. Namun, ia sudah belajar membedakan antara empati dan manipulasi.
"Pak Mulyono, saya sudah mengirimkan bantuan untuk pengobatan Ibu bulan lalu sebagai bentuk kemanusiaan. Namun, secara hukum dan personal, saya sudah tidak memiliki kewajiban lagi untuk menopang finansial keluarga Aris. Aris adalah pria dewasa yang sehat, dia memiliki kemampuan untuk bekerja dan mengurus ibunya sendiri."
"Kamu bicara soal hukum?" Pak Mulyono condong ke depan, matanya menyempit penuh ancaman. "Keluarga kami sedang mempertimbangkan untuk membawa masalah ini ke permukaan. Kami punya cara untuk memberi tahu orang-orang bagaimana kamu menelantarkan keluarga demi mengejar karier dan kehidupan mewah. Kamu tentu tahu betapa pentingnya nama baik di posisi seperti ini, bukan?"
Hana merasakan sedikit ketegangan di lehernya, namun ia tidak mundur. Ini adalah pemerasan yang dibungkus dengan alasan moralitas.
"Silakan, Pak," jawab Hana singkat.
Pak Mulyono tertegun, tidak menyangka reaksinya akan sedingin itu. "Apa maksudmu?"
"Silakan jika Bapak merasa itu langkah yang benar. Tapi perlu Bapak ketahui, perusahaan ini memiliki tim hukum yang sangat ketat mengenai pencemaran nama baik karyawannya. Dan saya bukan lagi Hana yang dulu hanya bisa diam saat dipojokkan," Hana berdiri, menandakan pertemuan itu berakhir. "Maya akan mengantar Bapak keluar."
Setelah Pak Mulyono pergi, Hana kembali ke ruangannya. Ia menyandarkan punggungnya ke pintu yang tertutup, memejamkan mata sejenak. Ia menyadari bahwa kesuksesan yang ia raih saat ini seperti sebuah menara gading; indah dilihat dari luar, namun menjadi sasaran empuk bagi mereka yang ingin mengambil keuntungan dengan cara yang licik.
Tak lama kemudian, Adrian masuk ke ruangan Hana. Pria itu tampak membawa beberapa berkas, namun segera menyadari ada yang tidak beres dengan ekspresi Hana.
"Saya lihat pria itu di lobi tadi. Paman Aris, kan?" tanya Adrian lembut.
Hana menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Adrian mendengarkan dengan seksama, rahangnya mengeras menunjukkan ketidaksukaan.
"Mereka menggunakan taktik lama, Hana. Menyerang reputasimu karena mereka tahu itu aset berhargamu sekarang," kata Adrian. "Tapi ada satu hal yang mungkin harus kamu ketahui. Tim audit kami menemukan laporan bahwa diler tempat Aris bekerja sempat bermasalah karena ada oknum yang mencatut nama perusahaan kita untuk mendapatkan komisi ilegal. Saya khawatir Aris terlibat di dalamnya dan sekarang dia dalam posisi terdesak."
Hana membelalak. "Mencatut nama perusahaan kita? Itu sudah masuk ranah pidana, Adrian."
"Ya. Itulah kenapa mereka datang padamu sekarang. Mereka butuh uang untuk menyelesaikan masalah itu, atau mereka butuh kamu untuk menarik tuntutan jika hal itu sampai ke meja hijau," jelas Adrian.
Hana berjalan menuju jendela besar yang menghadap jalanan Sudirman yang sibuk. Ia mulai menyadari bahwa babak baru dalam hidupnya ini tidak akan semudah yang ia bayangkan. Kesuksesan ternyata membawa musuh-musuh baru yang lebih cerdik dan berbahaya.
"Saya tidak akan membiarkan mereka menyeret saya kembali ke lumpur itu, Adrian," bisik Hana dengan nada bicara yang penuh tekad. "Saya sudah membayar mahal untuk kebebasan ini, dan saya tidak akan menyerahkannya begitu saja."
Malam itu, Hana lembur hingga larut. Di tengah tumpukan berkas keuangan, ia mulai menyusun rencana perlindungan dirinya. Ia menyadari bahwa ia harus menjadi lebih dari sekadar pintar; ia harus menjadi tangguh dan tak tersentuh. Kegelapan di luar jendela tampak pekat, namun di dalam hatinya, api semangat untuk mempertahankan apa yang telah ia bangun justru semakin berkobar