Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.
Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.
Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."
Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Target Tercapai
## Bab 5: Target Tercapai
Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah ventilasi kamar Rafi tampak lebih terang dari biasanya. Meski matanya masih terasa berat dan perih akibat begadang mengetik tugas Doni hingga jam tiga pagi, ada sebuah dorongan adrenalin yang membuat Rafi langsung terduduk tegak begitu alarm HP-nya berbunyi.
Ia tidak langsung beranjak ke kamar mandi. Matanya tertuju pada sebuah amplop putih lusuh yang terselip di bawah tumpukan buku sejarahnya. Dengan tangan sedikit gemetar karena kelelahan, ia mengambil amplop itu. Di dalamnya, ada selembar uang lima puluh ribu rupiah yang masih kaku—upah dari Doni yang diterimanya tadi pagi di sekolah.
Rafi menarik napas panjang, lalu ia berlutut di samping tempat tidurnya. Ia mengambil kembali celengan ayam merah yang bagian bawahnya sudah ditambal selotip hitam tebal. Ia membedahnya sekali lagi. Kali ini, ia tidak melakukannya dengan rasa cemas, melainkan dengan ketelitian seorang jenderal yang sedang menghitung pasukan sebelum maju ke medan perang.
Satu per satu uang logam dan kertas kumal itu ia susun di atas kasur. Ia menambahkan uang lima puluh ribu dari Doni, ditambah sisa uang jajan yang ia simpan dengan sangat ketat selama dua hari terakhir.
"Seratus... dua ratus... dua ratus lima puluh... dua ratus sembilan puluh... tiga ratus... tiga ratus sepuluh... tiga ratus lima belas," bisik Rafi.
Suaranya bergetar. Angka itu bukan sekadar angka. Tiga ratus lima belas ribu rupiah adalah hasil dari enam bulan menahan lapar, menahan malu, dan menguras tenaga di depan laptop rongsokan. Secara analitis, ia telah melampaui target awalnya sebesar lima belas ribu rupiah. Sebuah "dana taktis" yang sangat berharga di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu seperti sekarang.
Rafi mengambil secarik kertas coret-coretan yang sudah mulai kusam karena sering ia bolak-balik. Di sana, ia menuliskan rincian biaya final dengan sangat presisi. Ia tahu, di dunia nyata, harga-harga di Tanjung Balai dan Kisaran seringkali tidak bersahabat bagi kantong pelajar.
**Rincian Biaya Final "Misi Kisaran":**
**Transportasi (BusAntar Kota PP):** 40.000 (Estimasi tarif ekonomi terbaru, termasuk cadangan kenaikan tarif mendadak).
**Konsumsi (Irian Kisaran):** 120.000 (Target: Paket panas 2 porsi, 2 es krim cone, dan pajak 10%).
**Hiburan (Bioskop 5D):** 80.000 (Tiket akhir pekan biasanya lebih mahal, ia mengasumsikan harga tertinggi).
**Cadangan / Dana Darurat:** 75.000 (Untuk ongkos becak jika hujan, beli minum botolan di jalan, atau retribusi terminal).
**Total Pengeluaran: 315.000**
Rafi menatap kertas itu dengan pandangan skeptis sekaligus bangga. Secara logis, ia tidak boleh melenceng satu rupiah pun dari rencana ini. Jika Nisa tiba-tiba ingin membeli sesuatu yang di luar daftar ini, Rafi harus memutar otak untuk menolaknya secara halus tanpa terlihat seperti cowok pelit. Budaya *gadget* dan gaya hidup pamer di media sosial seringkali membuat standar kencan menjadi tidak masuk akal, tapi Rafi sudah menetapkan batas kemampuannya.
"Tujuh puluh lima ribu cadangan," gumamnya. Angka itu memberinya sedikit ketenangan. Jika ban bus bocor, ia punya uang. Jika Nisa haus di tengah Mall, ia bisa membelikannya air mineral tanpa harus mengorbankan uang pulang.
Ia merapikan uang-uang tersebut. Lembaran yang paling baru ia letakkan di bagian paling depan dompetnya, sementara uang logam ia masukkan ke dalam kantong kain kecil agar tidak berisik saat ia berjalan. Secara struktural, persiapan finansialnya sudah mencapai 100%.
Namun, rasa puas itu segera berganti dengan kecemasan baru. Uang sudah ada di tangan, tetapi variabel terbesar dalam rencana ini belum memberikan kepastian: Nisa.
Rafi mengambil HP-nya. Layarnya yang retak di sudut kiri bawah menampilkan *wallpaper* standar. Ia membuka aplikasi WhatsApp. Nama "Nisa SMK" berada di urutan atas dalam daftar pencariannya, meski tidak ada riwayat percakapan baru di sana. Terakhir mereka berkomunikasi adalah sebulan lalu, itu pun hanya membahas soal tugas bersama.
Secara emosional, Rafi merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang. Ia punya modalnya, ia punya keberaniannya, tapi ia tidak tahu apakah Nisa akan membuka pintu untuknya. Di masyarakat saat ini, mengajak kencan lewat chat adalah sebuah seni yang berisiko tinggi. Salah ketik sedikit saja, atau terlihat terlalu "berusaha keras", bisa berujung pada *block* atau yang lebih menyakitkan: hanya dibaca.
Rafi duduk di kursi belajarnya, menatap dinding kamar yang catnya mulai mengelupas. Pikirannya melayang pada kencan impian itu. Ia membayangkan dirinya berdiri di depan gerbang Irian Kisaran dengan gagah, mengenakan kemeja terbaiknya, dan membayar semua tagihan dengan tenang. Ia ingin Nisa melihat bahwa meski ia anak SMA 3 yang sederhana, ia punya tanggung jawab dan persiapan yang matang.
"Tiga ratus lima belas ribu," ucapnya lagi, kali ini dengan nada yang lebih mantap.
Ia melipat kertas rincian biayanya dan menyimpannya di bagian rahasia dompetnya. Kertas itu adalah jimatnya. Pengingat bahwa setiap rupiah yang ada di dompetnya adalah hasil dari tetesan keringat dan rasa asin nasi garam.
Rafi tahu, krisis ekonomi kecil di keluarganya telah membentuknya menjadi orang yang sangat perhitungan. Dan dalam cinta, terkadang menjadi perhitungan adalah satu-satunya cara untuk bertahan. Ia tidak punya motor *sport* seperti cowok-cowok lain, ia tidak punya baju-baju bermerek. Yang ia miliki hanyalah uang tiga ratus lima belas ribu rupiah dan sebuah rencana yang telah disusun dengan rigoritas maksimal.
Ia bangkit, berjalan menuju cermin kecil yang buram di atas lemarinya. Ia melihat bayangan dirinya sendiri—seorang remaja dengan mata yang sedikit hitam karena kurang tidur, tapi dengan sorot mata yang penuh determinasi.
"Target tercapai, Rafi," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Sekarang tinggal satu langkah lagi. Langkah paling berat."
Ia mengambil HP-nya kembali. Jempolnya melayang di atas ikon WhatsApp. Jantungnya berdebu kencang, suaranya terdengar jelas di telinganya sendiri. Secara analitis, kesempatan terbaik untuk mengirim pesan adalah sore nanti, saat Nisa baru saja pulang magang dan sedang santai.
Babak persiapan ekonomi telah ditutup. Sekarang, babak diplomasi digital akan dimulai. Rafi meletakkan HP-nya di meja dengan posisi tengkurap. Ia butuh waktu sejenak untuk menenangkan sarafnya sebelum mengetik kalimat yang akan menentukan nasib tiga ratus lima belas ribunya.
Langkah berikutnya bukan lagi soal berapa banyak uang yang ia miliki, tapi soal seberapa berani ia menghadapi kemungkinan ditolak setelah semua pengorbanan ini.
---