NovelToon NovelToon
Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Ruang Ajaib
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.

Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.

"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."

Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.

Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.

Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.

"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.

Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.

"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."

Ruang itu bersinar.

Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 - MATA YANG MENGAWASI

'Itu yang dibilang ayahmu.'

Lily membaca kalimat itu sampai empat kali dan setiap kali matanya sampai di kata terakhir, ada sesuatu di perutnya yang bergerak seperti tanah yang bergeser.

Bukan serangan jantung.

Atau, bukan hanya serangan jantung.

Atau lebih buruk dari itu, bukan serangan jantung sama sekali.

Dia mengetik balas. [Maksudnya apa?]

Hendra membutuhkan waktu menjawab, dan kali ini Lily tidak memaksakan diri untuk sabar menunggu tanpa melakukan apa-apa. Dia berdiri dari kursi, berjalan ke sisi ruangan, menyentuh dinding batu dengan telapak tangannya yang dingin. Berpikir.

Mama sakit waktu Lily tujuh tahun. Meninggal waktu Lily delapan. Satu tahun yang datang tiba-tiba, sebelumnya Mama baik-baik saja, atau setidaknya kelihatan begitu. Dokter bilang serangan jantung. Ayahnya tidak pernah mempertanyakan itu. Tidak ada autopsi, tidak ada pemeriksaan lebih lanjut, tidak ada yang merasa perlu mempertanyakan apa pun.

Lily waktu itu delapan tahun. Tidak punya alat untuk curiga.

Ponselnya bergetar. Hendra, [Aku tidak bisa bicara soal ini lewat pesan. Terlalu panjang dan terlalu mudah disalahartikan tanpa konteks. Kita perlu ketemu langsung. Besok bisa?]

Lily menimbang. [Di mana?]

[Warung kopi di Jalan Kenari. Yang ada pohon beringin di depannya. Jam dua siang. Kamu bisa keluar?]

Lily memikirkan jadwal besok. Tante Sari biasanya keluar arisan hari Rabu siang. Nindi istirahat. Ayahnya di kantor.

[Bisa.]

Jangan cerita ke siapa pun dulu, Lily. Termasuk Bibi Rah.

Lily hampir mengetik kenapa Bibi Rah,ntapi menahan diri. Besok. Semua pertanyaan itu bisa menunggu sampai besok.

Dia keluar dari ruang rahasia, menutup pintu kecil di belakangnya, dan berjalan kembali ke kamarnya di bawah langit yang masih gelap.

Pagi berikutnya datang seperti pagi-pagi sebelumnya. Lily bangun sebelum subuh, ke dapur, mulai menyiapkan sarapan. Tapi sesuatu sudah berbeda di caranya bergerak di ruangan itu. Lebih sadar. Lebih memperhatikan.

Termasuk memperhatikan Tante Sari yang pagi itu turun lebih awal dari biasanya, duduk di meja makan dengan ponsel di tangan, dan tidak menyentuh sarapannya selama hampir sepuluh menit.

Lily mengamati dari sudut mata saat menyajikan teh.

Tante Sari sedang mengetik sesuatu. Wajahnya tidak bisa dibaca, tapi ada ketegangan kecil di rahangnya yang biasanya tidak ada di pagi hari. Biasanya pagi adalah waktu di mana Tante Sari paling santai, paling tidak waspada.

Pagi ini dia waspada.

Karena semalam, pikir Lily. Karena firma ayahku mengakses arsip Mama dan sekarang dia tahu ada yang bergerak.

Tante Sari akhirnya meletakkan ponselnya dan mengangkat wajah.

"Lily."

"Iya, Tante."

"Kamu kemarin ketemu siapa?"

Pertanyaan yang langsung. Tanpa basa-basi pembuka, tanpa nada yang disembunyikan di balik keramahan. Ini versi Tante Sari yang tidak sering muncul di depan Lily. Lebih direct, lebih dari seseorang yang sudah tidak mau buang waktu untuk bermain halus.

"Teman lama keluarga," jawab Lily. Kalimat yang sama dengan kemarin.

"Namanya Hendra."

Bukan pertanyaan. Pernyataan.

Lily menatapnya. "Iya."

"Dari pihak ibumu."

"Iya."

Tante Sari meletakkan sendok tehnya di tatakan dengan bunyi yang pelan tapi disengaja. "Lily, aku ingin kamu tahu satu hal." Suaranya turun, jadi jenis suara yang ingin terdengar seperti kepedulian tapi nadanya tidak cukup hangat untuk sampai ke sana. "Orang-orang dari masa lalu ibumu tidak semuanya punya niat baik ke kamu. Ada yang datang karena agenda mereka sendiri."

"Seperti siapa, Tante?"

"Seperti orang yang tiba-tiba muncul bertahun-tahun setelah ibumu meninggal dan langsung mencari-cari kamu."

Lily mengangguk pelan, seperti mempertimbangkan. "Aku akan hati-hati."

Tante Sari menatapnya tiga detik, mencari sesuatu di wajah Lily yang tidak dia temukan. Lalu mengangguk dan kembali ke ponselnya.

Lily membawa nampan kosong ke dapur.

Di balik pintu dapur, dia menarik napas pelan.

Tante Sari tahu nama Hendra. Bukan dari semalam di teras ... waktu itu Hendra memperkenalkan dirinya dengan nama depan saja. Artinya Tante Sari mencari tahu setelah itu.

Atau sudah tahu sebelumnya.

Jam dua kurang seperempat, Lily keluar dari rumah dengan alasan belanja ke pasar.

Alasan yang sudah dipakai ratusan kali, tidak mencurigakan, dan memberikan waktu yang cukup untuk pergi dan kembali tanpa ada yang bertanya lebih jauh. Lily membawa kantong belanja kosong dan dompet yang berisi uang belanja yang memang perlu dibelanjakan supaya alibinya masuk akal saat pulang.

Warung kopi Jalan Kenari ada di ujung jalan kecil yang masuk dari arah pasar, Lily bisa ke sana dan ke pasar dalam satu perjalanan tanpa rute yang aneh.

Hendra sudah ada di sana ketika Lily tiba. Duduk di meja sudut, menghadap ke pintu, dengan dua gelas kopi yang sudah dipesan di depannya. Dia melihat Lily masuk dan mengangguk sedikit.

Lily duduk.

"Tante Sari tahu namamu," kata Lily tanpa pembuka. "Lebih dari yang dia harusnya tahu dari pertemuan kemarin."

Hendra tidak kelihatan terkejut. "Aku sudah duga. Dia punya orang."

"Orang?"

"Informan. Mungkin lebih dari satu. Di sekitar kamu, di sekitar rumah itu." Hendra membungkuk sedikit ke depan, suaranya lebih rendah. "Lily, perempuan itu sudah menyiapkan posisinya di keluargamu jauh sebelum ibumu meninggal. Dia bukan orang yang bergerak tanpa jaringan."

Lily memegang gelasnya tapi tidak minum. "Cerita soal Mama. Yang tadi malam kamu mulai."

Hendra menatap mejanya sebentar. Lalu mengangkat wajah.

"Ibumu sakit mendadak waktu dia mulai aktif berkonsultasi dengan pengacara, Pak Syarif soal warisan nenekmu yang belum dibagi. Timing-nya terlalu rapat untuk kebetulan. Tiga bulan setelah pertemuan pertama dengan Pak Syarif, ibumu mulai sakit. Enam bulan setelahnya, dia pergi."

Lily mendengarkan tanpa bergerak.

"Aku tidak punya bukti bahwa ada yang sengaja menyakitinya," lanjut Hendra. Suaranya hati-hati, memilih kata dengan teliti. "Yang aku punya adalah timeline yang tidak nyaman dan beberapa hal yang Pak Syarif catat tapi tidak pernah dilaporkan ke mana pun karena tidak ada yang mau mendengarkan."

"Apa yang dia catat?"

"Bahwa dua minggu sebelum ibumu sakit, ada seseorang yang menemani ayahmu dalam sebuah pertemuan di kantor Pak Syarif yang seharusnya hanya untuk ibumu dan pengacara. Seseorang yang tidak diundang dan tidak dikenal Pak Syarif waktu itu."

"Siapa?"

Hendra menaruh tangannya di meja, jari-jarinya mengepal tipis. "Perempuan. Muda waktu itu. Pak Syarif baru tahu namanya bertahun-tahun kemudian dari konteks yang berbeda."

Lily sudah tahu jawabannya sebelum Hendra mengucapkannya. Tapi tetap saja, waktu nama itu keluar, ada sesuatu yang dingin merayap dari belakang lehernya ke bawah.

"Sari," kata Hendra.

Di luar warung kopi, dari seberang jalan, seseorang berdiri di depan toko yang tutup dengan ponsel di telinga.

Lily tidak melihatnya waktu masuk.

Tapi Hendra melihatnya sekarang dan di bawah meja, tanpa membuat gerakan yang kelihatan, kakinya menyentuh kaki Lily sekali.

Kode.

Lily tidak menoleh ke jendela. Dia mengangkat gelasnya dan minum, gerakan paling normal yang bisa dia lakukan sementara di sudut matanya dia memindai pantulan di permukaan kaca etalase di sisi lain ruangan.

Seseorang di luar. Menghadap ke arah mereka.

Tubuhnya tidak dia kenal.

Tapi jaket yang dipakai orang itu ... merah bata, model lama, ada tambalan di siku kiri.

Lily kenal jaket itu.

Itu jaket Bibi Rah.

1
sunaryati jarum
Ayah pengecut membiarkan putri kandung jadi pembantu untuk ibu tiri dan adik tiri di rumah peninggalan neneknya
sunaryati jarum
Semoga semua yang menjadi hakmu kembali
sunaryati jarum
Berarti ayahmu,Sari,Nindi dan Wulan tidak punya hak atas rumah peninggalan nenekmu.Benar- benar ayah tidak tahu diri
sunaryati jarum
Emak bingung terlambat dua puluh tahun, maksudnya
Erchapram: Maksudnya terlambat mengakui selama 20 tahun lamanya
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga tidak membayakan dirimu , Lyli
sunaryati jarum
Itu berita untuk membuat kamu goyah Lyli, teruslah maju
WeGe
kenapa ruang rahasia di gudang jadi nggak aman? semoga memindahkan dokumen ke kantor pak Syarif bukan sebuah jebakan. 😐
WeGe
ya karena ketahuan. coba kalau Lily diam sj, kan keenakan punya pembantu gratis. hukum juga sari ini lah Thor. enak aja lolos gitu doang/Smug/
WeGe
semoga
WeGe
aku masih nggak percaya padanya Lily. jangan lengah.
WeGe
pasti ada saja rencana jahat nya. hati" Lily.
asih
sudah masuk 40 bab .. mau ngejar baca tp waktunya g ada .. sudah sampai 70 bab sekarang ..Thor jangan ngebut updatenya
Erchapram: Gpp santai saja, baca kalo ada waktu. Aku kejar mau tamat sebelum lebaran. Terima kasih.
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah ada firasat bahwa gugatan Lyli akan berhasil
sunaryati jarum
Reynaldo selalu mengawasi Lyli,Lyli jadi semakin kuat dan tangguh serta selalu waspada
sunaryati jarum
Reynaldo mulai takut kalah ,semua nego untuk Lyli ditolak, orang tamak kini saatnya kau kalah dari generasi ketiga Nenek Suwarni
sunaryati jarum
Semakin menarik namun berat bagi emak
sunaryati jarum
Ayah pengecut tidak bisa melindungi istri dan putrinya pilih meyelamatkan diri, sekarang waktunya kau menebus Suharto walau kau masuk bui lakukan!!!
sunaryati jarum
Banyak dokumen resmi untuk mengambil hak Lyli yang diklaim orang lain, semoga bermanfaat,Lyli dan ada titik terang
sunaryati jarum
Ayah durhaka putri kandung dijadikan pembantu anak tiri dijadikan ratu, diakhir cerita ayah Lyli, Sari dan Nindi harus mendapatkan karma.Untuk Reynaldo dan kroninya harus dapat balasan setimpal
sunaryati jarum
Segera selesai dengan selamat, semua hak Lyli dapat dimilikinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!