Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.
Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.
Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.
Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Nick menemukan bukti itu kurang dari satu jam.
Rekaman CCTV dari area sekitar rumah Tessa.
Mobil hitam yang sama berputar dua kali. Nomor yang mengirim pesan terhubung dengan jaringan yang memang pernah bekerja untuk Madam Tifanny.
Ancaman itu nyata.
Sangat nyata.
Nick bersandar di kursinya. Tatapannya kosong beberapa detik.
Lalu ia menutup laptopnya.
Ia tidak menelepon kembali.
Tidak mengirim pesan.
Tidak melakukan apa pun.
“Bukan urusanku,” gumamnya pelan.
Ia sudah terlalu sering terjebak dalam masalah orang lain. Terlalu sering dimanfaatkan dengan alasan kasihan, alasan butuh perlindungan. Ia tidak akan jatuh lagi.
Bahkan jika kali ini mungkin berbeda.
Keesokan paginya, Nick kembali menjadi dirinya yang biasa. Rapi. Dingin. Terstruktur.
Sampai suara yang paling ia hindari muncul di ruang kerjanya.
“Nickolas.”
Ia mengangkat kepala.
Ayahnya berdiri di ambang pintu.
Pria itu tidak menunggu izin untuk masuk.
“Kita perlu bicara.”
Nick menghembuskan napas panjang. “Kalau soal calon istri lagi, aku sudah bosan.”
“Justru itu,” balas ayahnya. “Keluarga Wijaya sudah menunggu kepastian. Kamu tidak bisa terus menolak tanpa alasan jelas.”
“Aku sudah bilang, aku tidak tertarik.”
“Kamu butuh pasangan yang setara. Bukan sekretaris, bukan karyawan, bukan perempuan acak yang kamu temui di luar sana.”
Rahang Nick mengeras.
“Ayah bahkan tidak tahu siapa yang aku temui.”
“Kalau memang ada, perkenalkan.”
Itu dia.
Tantangan yang sama.
Tekanan yang sama.
Berbulan-bulan.
Nick berdiri. “Aku muak dijodohkan seperti aset perusahaan.”
“Ini bukan soal jodoh. Ini soal reputasi keluarga.”
“Reputasi?” Nick tertawa tanpa humor. “Ayah lebih peduli reputasi daripada apa yang aku mau.”
“Ayah peduli masa depanmu!”
“Aku sudah punya masa depan.”
“Sendiri?” suara ayahnya meninggi. “Sampai kapan kamu mau hidup seperti ini?”
Sesuatu di dalam diri Nick akhirnya pecah.
Tekanan. Amarah. Ego.
Dan tanpa berpikir panjang, kalimat itu meluncur begitu saja.
“Aku sudah menikah, Ayah.”
Sunyi.
Ruangan itu mendadak terasa sesak.
Ayahnya membeku. “Apa?”
Nick sendiri terdiam. Kata-katanya menggantung di udara.
Ia bahkan tidak merencanakannya.
“Aku sudah menikah,” ulangnya, kali ini lebih tegas, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri.
“Dengan siapa?” suara ayahnya berubah dingin.
Nick menelan ludah.
Nama itu muncul begitu saja di pikirannya.
Tessa.
Sial.
“Urusan pribadiku bukan konsumsi keluarga,” katanya cepat. “Tapi jelas, aku tidak bisa dijodohkan lagi.”
Ayahnya menatapnya lama. Tidak percaya. Marah. Tersinggung.
“Kamu akan memperkenalkan istrimu dalam waktu dekat.”
Itu bukan permintaan. Itu perintah.
Setelah pria itu pergi, Nick berdiri sendirian di ruangannya.
Ia mengumpat pelan.
“Bodoh.”
Ini adalah kebodohan terbesar yang pernah ia lakukan.
Sekarang bukan hanya soal reputasi keluarga. Jika kabar ini keluar, dunia bisnis akan tahu. Media bisa tahu. Keluarga besar akan menuntut penjelasan.
Dan satu-satunya nama yang bisa ia gunakan,
Tessa.
Nick langsung meraih ponselnya.
Ia menelepon.
Tidak aktif.
Ia mengirim pesan.
Tidak terkirim.
Perasaan tidak enak yang semalam ia abaikan kembali muncul. Lebih kuat.
Ia membuka kembali rekaman CCTV. Mobil hitam itu muncul lagi, kali ini berhenti lebih lama di ujung jalan.
Wajah Nick berubah.
Ia mengambil jasnya tanpa berpikir dua kali.
Sementara itu,
Tessa tidak pernah sampai ke tempat aman.
Ia baru berjalan beberapa blok ketika sebuah mobil berhenti pelan di sampingnya.
Awalnya ia tidak peduli.
Sampai pintu belakang terbuka.
“Tolong ikut kami dengan baik-baik, Nona.”
Dua pria turun. Rapi. Sopan. Tapi sorot mata mereka tidak memberi pilihan.
“Aku tidak kenal kalian.”
“Kami hanya menjalankan perintah Madam.”
Nama itu membuat langkah Tessa terhenti.
“Aku tidak akan ikut.”
“Sebaiknya jangan membuat keributan.”
Jalanan malam terlalu sepi untuk berharap pertolongan.
Tangan dingin mencengkeram lengannya.
Ia melawan. Tapi tas kecilnya jatuh. Ponselnya terlepas. Layar retak saat menghantam aspal.
“Lepaskan aku!”
Satu tangan menutup mulutnya.
Pintu mobil tertutup.
Dan kota kembali sunyi.
Mobil itu melaju ke sebuah rumah megah yang berdiri di pinggiran kota.
Gerbang tinggi. Lampu taman menyala terang. Bangunan putih dengan jendela-jendela tinggi yang terlihat indah dari luar, dan menakutkan dari dalam.
Tessa didorong masuk ke aula luas.
Seorang perempuan berdiri di tengah ruangan.
Elegan. Tenang. Tersenyum tipis.
“Selamat datang,” ucap Madam Tifanny lembut.
Tessa menatapnya dengan kebencian yang tidak ia sembunyikan.
“Aku tidak akan bekerja untukmu.”
“Oh, bukan bekerja,” jawab perempuan itu ringan.
“Kamu hanya akan… membantu. Sampai hutang keluargamu lunas.”
“Aku bukan jaminan.”
“Tentu bukan,” Madam tersenyum lebih lebar.
“Kamu investasi.”
Tessa merasakan dingin menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Dan percayalah,” lanjut Madam pelan, “Siapapun yang kamu hubungi semalam tidak akan datang menyelamatkanmu.”
Kalimat itu seperti pisau.
Karena di suatu tempat di kota,
Nick baru saja tiba di jalan tempat Tessa terakhir terlihat.
Yang ia temukan hanya tas kecil tergeletak di trotoar.
Dan layar ponsel yang retak.
Nick membeku.
Terlambat.
Nick masuk ke mobilnya, menelepon seseorang.
“Lacak mobil itu,” perintahnya singkat. “Plat nomor ini.”
“Baik, Pak.”
“Saya mau lokasi terakhirnya dalam satu jam.”
Ia memutus panggilan.
Tangannya masih menggenggam ponsel terlalu erat.
Ia tahu persis jaringan seperti apa yang melibatkan Madam Tifanny. Bukan sekadar lintah darat kelas kecil. Perempuan itu membangun sistem. Orang-orangnya loyal karena uang. Dan karena takut.
Nick menutup mata sebentar.
Semalam ia bisa menghentikan ini.
Satu panggilan balik saja.
Satu keputusan kecil untuk peduli.
Tapi ia memilih tidak.
Karena ego.
Karena pengalaman buruk.
Karena ia tidak ingin terlihat bodoh.
Dan sekarang, Tessa mungkin membayar harga dari ketidakpeduliannya.
Di jalanan kota yang tidak terlalu ramai, mobil Nick melaju lebih cepat dari biasanya.
“Pak,” suara asistennya terdengar dari speaker.
“Mobil itu terakhir terdeteksi menuju kawasan Bukit Arwana.”
Nick membeku.
Bukit Arwana.
Daerah itu hanya punya satu properti besar yang terkenal dengan gerbang tinggi dan keamanan ketat.
Rumah Madam Tifanny.
Tangannya mengepal.
Sekarang ia tahu.
Dan untuk pertama kalinya, ini benar-benar sudah menjadi urusannya.
capek banget keknya jadi tessa
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna