Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Distraksi di Tengah Diskusi
Lampu apartemen Airin yang hangat menyinari ruang tamu minimalis tempat mereka berempat kini lesehan. Tumpukan buku referensi, laptop, dan sisa bungkus camilan berserakan di atas karpet.
"Jadi, intinya di bab ini Pak Jehan mau kita paham soal Corporate Social Responsibility. Tapi kalau Pak Jordan yang tanya besok, pasti pertanyaannya lebih ke arah efisiensi biaya," jelas Airin dengan suara lembutnya yang khas.
Tepat saat Airin hendak melanjutkan penjelasannya, ponselnya yang tergeletak di samping buku bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul.
+62811-xxxx-xxxx
Sudah makan malam? Jangan belajar terlalu larut, nanti kamu sakit.
Mata Airin mengerjap. Ia tahu itu nomor Jordan. Ia ragu sejenak, namun karena sifat polosnya, ia merasa tidak sopan jika tidak membalas. Dengan jemari lentiknya, ia mengetik cepat.
Sudah, Pak. Ini sedang belajar bersama teman-teman. Terima kasih.
"Ehem! Fokus, Rin, fokus!" sindir Dion yang sejak tadi memperhatikan Airin. "Dari tadi lo bolak-balik ngetik di HP terus. Ada apa sih? Cowok ya?"
"Bukan, Dion. Hanya... urusan penting," jawab Airin tenang, meski pipinya sedikit merona. Ia langsung membalikkan ponselnya agar layarnya menghadap ke bawah.
"Halah, rahasia-rahasiaan terus. Kita ini kan sahabat lo, Rin. Masa siapa yang bikin lo senyum-senyum ke layar HP aja kita nggak boleh tahu?" Thea ikut memanasi, wajahnya sudah sangat kepo.
"Sudah, ayo lanjut. Kalau kalian mau lulus presentasi besok, perhatikan bagian ini," potong Airin tegas namun tetap lembut, berusaha mengalihkan perhatian mereka. Teman-temannya hanya bisa mendengus jengkel melihat sikap Airin yang begitu tertutup, namun mereka akhirnya kembali fokus pada materi karena ancaman nilai dari Jordan memang lebih menakutkan.
Sementara itu, di sebuah penthouse mewah di pusat kota, Jordan Abraham duduk di sofa kulitnya dengan segelas wiski di tangan. Di layar ponselnya, ia membaca balasan singkat dari Airin berulang kali.
Sudah, Pak. Ini sedang belajar bersama teman-teman. Terima kasih.
"Polos sekali," gumam Jordan. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyum lebar sesuatu yang sangat langka terlihat di wajah sangarnya.
Ia bisa membayangkan bagaimana wajah Airin saat mengetik pesan itu pasti dengan kening yang sedikit berkerut dan ekspresi serius yang menggemaskan. Jordan menyesap minumannya, matanya menatap pemandangan lampu kota dari balik jendela kaca besar.
Biasanya, ia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan dalam dunia bisnis dengan cara yang dingin dan tak kenal ampun. Namun, menghadapi Airin terasa berbeda. Gadis itu seperti teka-teki yang dilapisi kelembutan. Ada keinginan posesif yang tiba-tiba muncul di dalam dadanya sebuah hasrat kuat untuk melindungi dan menjadikan Airin miliknya seutuhnya, tanpa ada yang boleh menyentuh atau bahkan melihat kecantikannya selain dirinya sendiri.
Jordan kembali mengetik pesan, rasa ingin tahunya yang "aneh" mulai muncul lagi.
Teman-temanmu laki-laki atau perempuan? Pastikan mereka tidak mengganggumu.
Setelah mengirim pesan itu, Jordan tertawa kecil pada dirinya sendiri. "Dasar gila. Sejak kapan aku jadi dosen posesif yang menanyakan hal tidak penting seperti ini?"
Namun, ia tidak peduli. Baginya, Airin Rodriguez bukan sekadar mahasiswi, melainkan distraksi paling indah yang pernah masuk ke dalam hidupnya yang kaku.
Jangan lupa bintang 5 untuk author, dan nantikan karya-karya baru author yang lainnya, love u all 💞