kekuatannya menyebabkan dia bisa mengendalikan boneka tapi semakin sering ia menggunakannya ia pun mulai di Kendalikan oleh kekuatan sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pencarian Akar Kekosongan dan Bisikan Lain
Keesokan paginya di Benteng Aethel, suasana berbeda. Kabut hitam yang semalam menyelimuti benteng telah sirna, digantikan oleh cahaya matahari yang malu-malu menembus celah-celah tebal awan. Lembah Cahaya di bawah benteng, yang sempat diselimuti kegelapan pekat, kini kembali terlihat, meskipun diselimuti sisa-sisa embun yang seolah menjadi saksi bisu pertarungan semalam. Kelegaan meliputi semua orang, namun tak ada yang berani menyebutnya kemenangan. Mereka semua tahu, ini hanyalah jeda.
Ryo terbangun di kamarnya, yang kini terasa lebih nyaman. Lyra telah memberinya ramuan tidur yang menenangkan, dan ia mendapatkan istirahat yang sangat dibutuhkan setelah pertarungan batin yang intens. Lyra sendiri duduk di sampingnya, memeriksa gulungan-gulungan kuno, wajahnya tampak serius.
"Bagaimana perasaanmu, Ryo?" tanya Lyra lembut, meletakkan salah satu gulungan.
Ryo menghela napas panjang, meregangkan otot-ototnya yang kaku. "Lelah, tapi... lebih tenang. Anyaman Suci itu bekerja. Dan aku merasakan Kekosongan itu mundur. Tapi ia tidak hancur."
"Tidak," Lyra mengangguk. "Gulungan ini menyebutkan bahwa entitas seperti Kekosongan tidak dapat dihancurkan dengan kekuatan murni. Ia hanya dapat didorong kembali, atau... diisi. Diisi dengan kebalikannya."
"Diisi?" Ryo mengernyit. "Maksudmu, dengan kehidupan? Dengan jiwa?"
"Bukan secara literal," Lyra menjelaskan, menunjuk pada sebuah diagram rumit di perkamen. "Anyaman Suci yang Anda ciptakan adalah perisai. Ia memproyeksikan benang-benang yang terikat, yang harmonis. Kekosongan, sebagai pemutus benang, tidak dapat mencabut anyaman yang begitu kuat. Ia mundur karena tidak bisa menyerapnya, dan malah terasa seperti tercekik oleh energi yang harmonis itu."
"Jadi, kita mengusirnya dengan 'suara' harmoni, bukan dengan 'pukulan' kekuatan," Ryo menyimpulkan, pemahaman mulai menyebar di benaknya. "Tapi, kita tidak bisa selamanya mempertahankan Anyaman Suci. Ini terlalu menghabiskan energi."
"Tepat," kata Lyra. "Anyaman Suci hanyalah penundaan. Kita membutuhkan solusi permanen. Gulungan ini menyebutkan bahwa untuk 'mengisi' entitas kosong, seseorang harus menemukan 'akar' dari kekosongan itu. Sebuah titik singularitas di mana kehampaan itu bermula."
"Akar Kekosongan," Ryo merenung. "Aku merasakan Kekosongan itu bergerak dari utara, dari Pegunungan Shadowfell."
Master Eldrin, yang masuk tak lama kemudian dengan secangkir ramuan herbal hangat untuk Ryo, mengangguk. "Legenda lama menceritakan tentang sebuah tempat di Pegunungan Shadowfell, di mana tirai antara alam menjadi tipis. Sebuah gerbang ke 'kekosongan' yang lebih besar. Beberapa menyebutnya 'Mulut Jurang', yang lain menyebutnya 'Titik Tanpa Batas'."
"Apakah ada yang pernah mencarinya?" tanya Lyra.
"Beberapa ekspedisi telah dikirim selama berabad-abad," jawab Eldrin, meminum ramuannya. "Tidak ada yang kembali. Bahkan penyihir terkuat pun tidak berani terlalu jauh ke sana. Dikatakan bahwa pikiran akan terkuras, jiwa akan hampa, jika terlalu dekat dengan Mulut Jurang."
Ryo memegang boneka kayunya, benang Elara yang samar terasa lebih jelas. "Saya telah merasakan benang Kekosongan itu mencoba mencabut kesadaran saya. Itu memang terasa seperti tarikan ke dalam kehampaan."
"Tapi jika itulah akar Kekosongan, maka di sanalah kita harus menghentikannya," Lyra bersikeras. "Kita tidak bisa hanya bertahan. Kita harus menyerang ke sumbernya."
"Dan bagaimana kita menyerang kehampaan?" tanya Eldrin, skeptis. "Kita bahkan tidak tahu bagaimana bentuknya di sana."
"Dengan Dalang Jiwa," Lyra menoleh ke Ryo. "Anda bisa merasakan benang-benang Kekosongan. Anda bisa merasakan inti dari kehampaan itu. Jika kita menemukan Mulut Jurang, Anda bisa mencoba 'mengikat'nya. Mengikat inti kehampaan itu dengan benang-benang yang harmonis, mengisi kekosongan itu dengan kehadiran, dengan kehidupan."
Ryo merasakan benang-benang itu. Sebuah konsep yang berani, dan sangat berbahaya. Mengikat kehampaan itu sendiri? Memaksa keberadaan pada sesuatu yang ingin menghapus keberadaan?
"Ini membutuhkan kekuatan Dalang yang sangat besar," Ryo bergumam. "Dan membutuhkan jangkar yang lebih kuat lagi."
Lyra maju selangkah, menatap Ryo dengan tatapan mantap. "Aku akan menjadi jangkarmu, Ryo. Selalu."
Sebuah rencana pun mulai terbentuk. Ryo, Lyra, dan Kapten Kael akan memimpin ekspedisi kecil menuju Pegunungan Shadowfell. Kapten Kael akan memimpin prajurit pilihan untuk melindungi Ryo dan Lyra secara fisik, sementara Ryo dan Lyra akan fokus pada ancaman eterik. Master Eldrin akan tetap di Benteng Aethel, menjaga Anyaman Suci yang sementara aktif, dan mencoba menemukan artefak atau mantra lain yang mungkin berguna.
"Kami akan mencari akar Kekosongan," Ryo mengumumkan kepada Ksatria Templar yang tersisa. "Dan kami akan menghentikannya untuk selamanya."
Meskipun ekspedisi itu berisiko tinggi, Ryo merasakan gelombang dukungan dari para Ksatria. Setelah menyaksikan bagaimana Ryo menahan Kekosongan semalam, ketakutan mereka pada Dalang Jiwa telah berubah menjadi rasa hormat dan kepercayaan yang mendalam. Mereka telah melihat Pangeran mereka menghadapi kegelapan dan bertahan.
Perjalanan ke Pegunungan Shadowfell adalah ujian yang berbeda. Tidak ada pertempuran frontal, tetapi ada ancaman yang lebih halus: kehampaan yang perlahan merayapi pikiran. Semakin dalam mereka melangkah ke pegunungan, semakin dingin udara, semakin sunyi hutan. Benang-benang eterik kehidupan di sekitar mereka semakin menipis, seolah-olah Kekosongan itu telah membersihkan jalan untuk kedatangannya.
Ryo harus terus-menerus memproyeksikan kesadarannya, menahan bisikan-bisikan kehampaan yang mencoba mengosongkan pikirannya. Ia merasakan Kekosongan itu seperti hampa yang tidak hanya menarik, tetapi juga mencoba memecah belah, menciptakan keraguan dan ketakutan paling dalam di hati setiap orang. Lyra, yang berjalan di sampingnya, kadang-kadang harus berpegangan erat pada Ryo, merasakan tekanan mental yang begitu kuat hingga hampir memecah konsentrasinya.
"Aku merasakan ilusi," Kapten Kael berbisik suatu malam, saat mereka berkemah di sebuah gua yang sempit. "Aku melihat bayangan anakku... memanggilku."
Ryo segera mengalirkan energinya melalui benang Kael, memperkuat tekadnya. "Itu bukan dia, Kael. Itu adalah Kekosongan yang mencoba memecah belahmu. Fokus pada benang intimu, pada sumpahmu."
Kael mengangguk, keringat dingin membasahi dahinya. Ia adalah prajurit yang tangguh, namun ancaman spiritual ini adalah sesuatu yang belum pernah ia hadapi.
Lyra mengamati Ryo. Pangeran itu semakin kurus, matanya cekung, namun ia tidak menunjukkan tanda-tanda patah semangat. Bahkan, ada kilatan baru di matanya, sebuah pemahaman yang semakin dalam tentang musuh mereka.
"Kau merasakan sesuatu, Ryo?" Lyra bertanya, saat mereka mendaki melewati puncak yang tertutup salju.
"Aku merasakan 'Mulut Jurang'," Ryo menjawab, suaranya pelan. "Ia bukan lubang fisik, Lyra. Ia adalah celah. Sebuah celah di antara realitas, di mana kehampaan itu mengalir masuk. Dan aku merasakan inti dari Kekosongan itu, berdenyut di baliknya."
Akhirnya, setelah berminggu-minggu perjalanan yang melelahkan, mereka tiba di sebuah lembah tersembunyi yang diselimuti kabut abadi. Di tengah lembah itu, berdiri sebuah formasi batu purba, tampak seperti pilar-pilar raksasa yang menembus langit, mengelilingi sebuah area yang gelap gulita. Bahkan sinar matahari pun enggan menembus area itu. Udara di sana sangat dingin, dan perasaan hampa begitu kuat sehingga hampir memekakkan telinga. Itu adalah Mulut Jurang.
"Inilah dia," Lyra berbisik, memegang erat tangan Ryo.
Ryo menutup matanya, membiarkan benang-benang eterik mengalir ke dalam dirinya. Ia merasakan Mulut Jurang itu, bukan sebagai objek fisik, tetapi sebagai titik singularitas yang menarik segala sesuatu ke dalamnya. Di baliknya, ia merasakan "inti" Kekosongan itu—bukan sebuah entitas dengan jiwa, tetapi sebuah ketiadaan yang berkehendak. Sebuah kehampaan yang mencoba menghapus semua keberadaan.
"Aku harus masuk," kata Ryo, matanya terbuka, memancarkan tekad membara.
"Tidak!" Lyra berseru. "Kau tidak bisa masuk sendirian! Gulungan itu berkata, 'Jika benang inti Dalang bersentuhan langsung dengan inti kehampaan, ia akan tercabut'."
"Aku tidak bisa mengikat sesuatu yang tidak memiliki benang untuk diikat dari luar," Ryo membalas, suaranya tenang namun tegas. "Aku harus merasakan inti kehampaan itu secara langsung, menyentuhnya dengan benang intiku, dan mengikatnya. Mengikatnya dengan benang keberadaan, dengan harmoni."
Kapten Kael melangkah maju. "Pangeran, kami akan melindungi Anda dari segala ancaman fisik. Tapi ini..." Ia menatap Mulut Jurang, lalu ke Ryo. "Ini adalah pertempuran yang hanya Anda yang bisa lakukan."
Ryo menatap Kael, lalu ke Lyra. Lyra merasakan benang-benang Ryo yang bergetar, benang keberanian, benang tekad, dan benang ketakutan. Kali ini, ketakutan itu bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan ketakutan akan kegagalan, ketakutan akan kehancuran Aethelgard.
"Aku akan ikut," Lyra berkata, tanpa ragu. "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian. Aku adalah jangkarmu, Ryo. Jika kau tersesat, aku akan menarikmu kembali. Jika kau mulai menjadi hampa, aku akan mengisi kekosonganmu."
Ryo menatap Lyra, dan di matanya, ia melihat bukan hanya seorang tabib, bukan hanya seorang sekutu, tetapi seseorang yang siap mempertaruhkan segalanya untuknya. Seseorang yang memegang benang intinya dengan kepercayaan penuh. Seseorang yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari benang intinya sendiri.
Ia mengangguk, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. "Baiklah. Bersama-sama."
Mereka berdua melangkah maju, menuju kegelapan Mulut Jurang. Kapten Kael dan pasukannya berjaga di belakang, siap menghadapi apa pun yang mungkin keluar dari kehampaan itu. Lyra memegang erat tangan Ryo, merasakan dingin yang menusuk dari Mulut Jurang, namun ia fokus pada kehangatan tangan Ryo. Ryo memegang erat boneka kayu Elara, benang Elara yang samar, kini tidak lagi menjadi pengingat kegagalan, tetapi pengingat akan kekuatan untuk melindungi.
Saat mereka melangkah lebih jauh ke dalam kehampaan, Ryo memejamkan mata. Ia memproyeksikan benang intinya, mencoba menyentuh inti dari Kekosongan itu. Ia merasakan kehampaan yang tak terbatas, sebuah ketiadaan yang begitu kuat hingga hampir melahapnya. Ia merasakan benang intinya sendiri ditarik, meregang hingga nyaris putus. Ia merasakan godaan untuk menyerah, untuk membiarkan dirinya larut dalam kehampaan itu.
Namun, ia merasakan genggaman tangan Lyra. Ia merasakan benang Lyra yang kuat dan hangat, menyalurkan energi dan keberadaan. Ia merasakan benang Elara di bonekanya, bisikan lembut yang mengingatkannya akan apa yang telah hilang, dan mengapa ia tidak boleh membiarkan hal itu terjadi lagi.
"Tidak," Ryo berbisik, suaranya dipenuhi tekad membara. "Aku tidak akan menjadi kosong. Aku akan mengikatmu."
Ia menarik semua kekuatannya, semua yang ia pelajari dari benang-benang Aethelgard, dari benang Ksatria, dari benang Lyra, dan bahkan dari benang Elara. Ia membentuk simpul. Simpul benang eterik, bukan untuk mengendalikan, tetapi untuk mengikat. Untuk mengisi kehampaan dengan keberadaan.
Pertarungan batin yang paling dahsyat pun dimulai, di ambang Mulut Jurang, antara Dalang Jiwa dan Ketiadaan yang Berkehendak. Nasib Aethelgard, dan mungkin seluruh alam, kini bergantung pada keberanian dua jiwa yang saling terikat, dalam upaya mereka mengikat kehampaan itu sendiri.