Raka Adiyaksa adalah definisi nyata dari "Sobat Misqueen". Mahasiswa biasa yang rela makan mie instan diremas setiap akhir bulan demi menabung untuk gebetannya, Tiara. Namun, pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan. Di malam konser yang seharusnya menjadi momen pernyataan cintanya, Raka justru melihat Tiara turun dari mobil mewah milik Kevin, anak orang kaya yang sombong, sementara Raka ditinggalkan sendirian di trotoar GBK dengan dua tiket yang hangus.
Di titik terendah hidupnya, saat harga dirinya diinjak-injak, sebuah suara mekanis berbunyi di kepalanya.
[DING! Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas Telah Diaktifkan!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Tur Kampus dan Jalur Orang Dalem
|Boulevard Universitas Mulia (UM) - Depan Stand BEM|
Suasana di sekitar stand pendaftaran BEM FEB mendadak berubah menjadi arena drama live action.
Bella Anindya, sang Primadona Kampus yang biasanya jual mahal, kini terang-terangan sedang melakukan "serangan fajar" terhadap seorang Mahasiswa Baru.
Postur tubuhnya yang membungkuk di jendela mobil McLaren Raka, kancing kemejanya yang terbuka strategis, dan tatapan matanya yang memuja, semuanya menjadi tontonan gratis bagi ratusan mahasiswa yang ada di sana.
Bisik-bisik tetangga mulai terdengar riuh, bercampur dengan suara hati yang retak.
"Gila... Enak banget jadi orang kaya," gumam seorang senior cowok sambil menatap nanar. "Gue juga pengen dapet view sebagus itu dari dalem mobil."
"Iri bos, iri! Liat tuh Kak Bella, senyumnya lebar banget. Biasanya kalau sama kita senyumnya irit kayak lagi sariawan."
Di sisi lain, para anggota BEM junior (cewek) yang berdiri di belakang Bella hanya bisa melongo.
"Anjir... Kak Bella beneran turun gunung," bisik Rini pada temannya. "Setahun ini dia nge-freeze cowok-cowok yang deketin dia. Giliran ada Maba bawa McLaren, langsung cair kayak es krim dijemur."
"Liat tuh strateginya! Lipstik merah, kancing dibuka... Itu mah bukan rekrutmen, itu seduction!"
"Kak Bella emang suhu. Teorinya kenceng, prakteknya lebih kenceng. Liat aja tuh si Maba, matanya udah nggak fokus."
Para junior itu mendengus kesal. "Yah... pupus harapan gue. Mana bisa gue bersaing sama Kak Bella? Aset gue rata, aset dia... offside."
Sementara itu, di dalam kokpit McLaren yang sejuk, Raka memang sedang menikmati pemandangan.
Matanya, sebagai laki-laki normal yang sehat walafiat, tentu saja tidak bisa menolak suguhan yang disajikan Bella tepat di depan hidungnya.
Putih. Mulus. Dan... penuh.
Raka menelan ludah. Aroma parfum Bella yang manis dan floral memenuhi kabin mobil, bercampur dengan wangi kulit jok mobil barunya.
"Kak Bella," panggil Raka, berusaha tetap cool meski jantungnya berdesir. "Saya Raka. Maba Manajemen. Kebetulan saya emang niat gabung BEM."
Bella tersenyum semakin lebar. Dia menegakkan tubuhnya sedikit, lalu dengan gerakan yang sangat natural dan slow motion, dia menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga. Gerakan sederhana yang mengekspos leher jenjangnya.
"Kebetulan yang indah," ucap Bella dengan suara merdu. "Kalau gitu, turun dong. Biar Kakak ajak keliling. Kakak kenal semua orang di sini."
Raka mengangguk. "Boleh. Makasih ya, Kak."
Raka memarkirkan dan mematikan mesin mobil. Pintu butterfly terangkat ke atas. Raka melangkah keluar.
Tingginya yang 183 cm membuatnya berdiri sejajar, bahkan sedikit lebih tinggi dari Bella yang memakai heels. Kombinasi visual mereka Cowok Sultan Ganteng dan Senior Cantik Seksi langsung membuat mereka terlihat seperti Power Couple kampus.
Bella tanpa ragu mengulurkan tangannya. "Selamat datang di UM, Raka."
Raka menyambut uluran tangan itu. "Salam kenal, Kak Bella."
Tangan Bella terasa halus dan hangat. Dan dia tidak segera melepaskannya. Dia menahan tangan Raka beberapa detik lebih lama dari durasi salaman normal, sambil menatap mata Raka dalam-dalam.
"Yuk, ikut Kakak," ajak Bella.
Bukannya melepaskan tangan, Bella justru mengubah posisinya. Dia berjalan di samping Raka, dan secara "tidak sengaja" membiarkan bahu dan lengan atasnya menempel pada lengan Raka.
Grep.
Sensasi lembut dan kenyal dari "aset" Bella yang menyenggol lengan Raka membuat Raka tersentak pelan.
Anjir... ini senior agresif banget. Pelayanan bintang lima.
Raka tersenyum miring. Dia tidak menolak. Dia membiarkan dirinya dipandu oleh Bella membelah kerumunan mahasiswa yang menatap mereka dengan tatapan iri dengki level dewa.
"Itu... Kak Bella gandeng tangan dia?" "Bukan gandeng lagi woy! Itu ditempel! Nempel banget!"
"Bangsat! Gue mau di posisi itu!" "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat good looking doang emang!"
Bella mengabaikan semua tatapan itu. Baginya, berjalan di samping Raka adalah statement. Dia ingin menunjukkan kepada seluruh kampus: "Cowok ini target gue. Minggir kalian semua."
Mereka masuk ke gedung utama.
"Nah, Raka. Ini markas Departemen Akademik," Bella menunjuk sebuah ruangan kaca yang berisi mahasiswa berkacamata yang sedang sibuk dengan laptop. "Isinya anak-anak pinter, IPK 4.0 semua. Tapi agak ngebosenin sih, kerjanya belajar mulu."
Bella menjelaskan setiap departemen dengan santai, tidak menjelekkan, tapi jelas memberikan bias bahwa departemen lain tidak seasik departemennya.
"Kalau yang di sana, itu Departemen Advokasi. Isinya orang-orang yang suka demo dan debat. Kalau kamu suka ribut, cocok di sana."
Sepanjang tur singkat itu, Bella tidak melepaskan "kuncian"-nya di lengan Raka. Setiap kali dia menunjuk sesuatu, tubuhnya akan condong ke arah Raka, memberikan fan service eksklusif berupa aroma tubuh dan sentuhan fisik.
Raka merasa seperti raja yang sedang diajak keliling istana oleh selir kesayangannya.
Akhirnya, mereka sampai di area lapangan olahraga indoor.
"Nah, ini Departemen Olahraga," kata Bella.
Di sana, sekelompok mahasiswa bertubuh atletis sedang berkumpul. Salah satu dari mereka, cowok berotot dengan kaos sleeveless yang memamerkan bicep-nya, melihat Bella dan langsung berjalan mendekat.
Namanya Leo. Ketua Departemen Olahraga. Dia sudah lama naksir Bella, tapi selalu ditolak halus.
"Woy, Bel! Tumben mampir," sapa Leo sok asik, lalu matanya melirik sinis ke arah Raka. "Siapa nih? Maba titipan?"
Para anggota cewek di Departemen Olahraga langsung kasak-kusuk melihat Raka. "Ganteng banget..." "Tipe gue banget anjir."
Bella tersenyum manis pada Leo, tapi tangannya makin erat memegang lengan Raka.
"Kenalin, ini Raka. Maba potensial," jawab Bella bangga. "Raka, ini Leo. Abang otot kita."
Leo mengulurkan tangan dengan gaya macho, berniat meremas tangan Raka saat salaman untuk show off kekuatan. "Leo."
Raka menyambut tangan itu. "Raka."
Leo meremas kuat. Tapi Raka, yang sudah memiliki skill [MMA Mastery] dan [Transformasi Fisik Adonis], hanya tersenyum santai. Tangannya terasa seperti besi beton. Dia membalas remasan Leo sedikit saja.
Krek.
Wajah Leo berubah merah padam menahan sakit. Dia merasa seperti meremas tiang listrik.
"Oke... Salam kenal," Leo buru-buru menarik tangannya, mengibas-ngibaskannya di belakang punggung. Gila, tangannya keras banget. Anak gym mana nih?
"Raka, kamu minat olahraga?" tanya Leo, mencoba mencari celah lain.
"Minat sih," jawab Raka.
"Masuk departemen gue aja. Kita butuh cowok laki. Nggak kayak departemen lain yang lembek," promosi Leo sambil melirik Bella.
"Eh, apa maksud lo lembek?" Bella langsung menyela, tidak terima. "Udah ah, Leo. Raka belum selesai turnya. Jangan maksa."
Bella menarik Raka pergi sebelum Leo sempat ngomong lagi.
"Jangan dengerin dia, Rak. Anak olahraga emang gitu, all brawn no brain," bisik Bella jahat. "Bau keringet lagi. Mending sama Kakak."
Raka tertawa kecil. "Kak Bella posesif juga ya."
"Harus dong. Barang bagus harus dijaga," Bella mengedipkan mata.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah ruangan yang didekorasi artistik dengan lukisan dan alat musik.
Departemen Seni dan Budaya (Art Dept).
"Nah... Welcome to my kingdom," Bella merentangkan tangan, melepaskan Raka sejenak.
"Ini departemen yang Kakak pimpin. Di sini kita ngurusin pensi, pameran, konser kampus... pokoknya yang seru-seru dan glamor."
Para anggota departemen seni yang rata-rata modis dan *good looking langsung menyapa Bella.
"Halo Kak Bella! Bawa siapa tuh?"
Bella tersenyum bangga. "Calon bintang kita."
Dia membawa Raka ke sudut ruangan yang lebih sepi, di dekat sebuah Grand Piano.
"Gimana, Rak? Tertarik masuk sini?" tanya Bella, menatap Raka dengan tatapan intens. "Di sini isinya cewek-cewek cantik loh. Dan kegiatannya santai, nggak kaku kayak yang lain."
Raka melihat sekeliling. "Keliatannya asik. Tapi Kak, saya denger masuk sini harus audisi ya? Tes main alat musik atau nyanyi?"
Raka melirik gitar dan piano di sana. Meskipun dia kemarin sempat nyanyi bareng Vania, dia malas kalau harus ikut prosedur ribet antre audisi bareng maba lain.
Bella tertawa kecil. Dia melangkah maju, mempersempit jarak hingga ujung sepatu mereka bersentuhan.
Dia berjinjit sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Raka. Aroma napasnya yang wangi mint menggelitik kulit Raka.
"Itu buat yang lain, Raka..." bisik Bella dengan suara rendah yang menggoda. "Kalau buat kamu... Kakak bisa kasih Jalur Khusus. Kamu nggak perlu audisi. Kakak langsung acc kamu jadi staf inti."
"Jalur VIP?" tanya Raka.
"Lebih dari VIP. Jalur... Orang Dalem," jawab Bella. "Asalkan... kamu mau jadi asisten pribadi Kakak. Gimana?"
Raka menaikkan alis. "Kak, ini namanya penyalahgunaan kekuasaan loh. Nepotisme."
Bella memukul dada bidang Raka pelan, lalu cemberut manja.
"Ih! Apaan sih nepotisme! Bahasanya berat banget!" protes Bella. "Ini namanya Talent Scouting! Kakak tau kamu punya bakat. Bakat jadi... partner Kakak."
"Kamu tau nggak susahnya masuk sini? Yang lain harus ngantre, harus tes bakat, harus wawancara mental. Kamu Kakak kasih karpet merah. Masih mau nolak?"
Raka menatap Bella. Wanita ini benar-benar ular yang cantik. Manipulatif, tapi dengan cara yang menyenangkan.
Dan mengingat misi sistemnya adalah [Bergabung dengan Organisasi Kampus]... tawaran "Jalur Orang Dalem" ini adalah jalan pintas terbaik.
"Oke," Raka tersenyum miring. "Tawaran diterima. Saya gabung Departemen Seni."
"Serius?!" mata Bella berbinar. "Yes!"
"Tapi inget ya, Kak," Raka mencondongkan tubuhnya, membalas bisikan Bella. "Saya nggak suka disuruh-suruh yang aneh-aneh. Kecuali... reward-nya setimpal."
Wajah Bella memerah. Jantungnya berdegup kencang. Dia merasa tertantang. Maba ini... bukan domba yang bisa digiring. Dia serigala berbulu domba.
"Tenang aja..." bisik Bella balik. "Kakak punya banyak reward buat anak baik."
"Deal."
Raka mengulurkan tangan. Bella menyambutnya dengan genggaman erat.
Detik berikutnya, panel holografik meledak di pandangan Raka.
[DING!]
[MISI SELESAI: PENGUASA KAMPUS]
[Status: Berhasil bergabung dengan Departemen Seni BEM FEB melalui Jalur Khusus (Privilege).]
[Hadiah Diterima:] [1. Tiket Gacha x10 (Premium)] [2. Reputasi Kampus: +500 (Famous)]
Raka menyeringai puas. Masuk organisasi? Cek. Dapet senior cantik? Cek. Dapet Gacha gratis? Cek.
Hidup ini mudah kalau lo ganteng dan kaya, batin Raka.