NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Penguasa Langit

Reinkarnasi Penguasa Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.

Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Pesta di Ambang Badai

Ibu Kota Kerajaan Durja tampak seperti kota mati. Obor-obor di dinding benteng menyala redup, kalah oleh aura kegelapan yang menyelimuti perbatasan kota. Di kejauhan, ribuan tenda pasukan Kerajaan Mahesa dan Sekte Bayangan Neraka terlihat seperti lautan api yang siap menelan apa pun.

Namun, di dalam dapur istana yang luas, pemandangannya sangat kontras. Ranu sedang duduk di atas meja kayu besar, kakinya yang panjang berayun-ayun santai. Di tangannya terdapat paha kambing guling yang besar, sementara di depannya bertumpuk bakul nasi hangat dan sambal terasi.

"Gusti Diajeng, apakah kau yakin pemuda ini adalah penyelamat kita?" bisik seorang tetua istana kepada Diajeng Sekar Arum yang berdiri di pojok dapur dengan cemas. "Musuh sudah menyiapkan meriam pemecah sukma, dan dia malah sibuk menambah porsi nasi?"

Diajeng Sekar Arum hanya bisa menghela napas. "Biarkan saja, Paman Sesepuh. Dia bilang energinya butuh bahan bakar."

Ranu menelan suapan terakhirnya, lalu menyeka mulutnya dengan punggung tangan. Ia melompat turun dari meja dengan sangat ringan, seolah-olah berat badannya tidak lebih dari sehelai bulu.

"Sastro, kau sudah kenyang?" tanya Ranu pada Ki Sastro yang juga baru selesai menghabiskan tiga mangkuk sup ayam.

"Sudah, Den Ranu. Perut hamba sudah keras seperti gendang," jawab Sastro sambil menepuk perutnya.

"Bagus. Kalau begitu, mari kita pergi," ucap Ranu. Ia berjalan menuju pintu keluar dapur, melewati para jenderal dan pendekar istana yang menatapnya dengan ragu.

Ranu berhenti sejenak di depan Prabu Dirja yang sudah menunggu di aula utama dengan zirah lengkap. Sang Raja tampak jauh lebih kuat dibandingkan delapan tahun lalu, namun wajahnya tetap penuh kekhawatiran.

"Ranu Wara, pasukan mereka bukan hanya manusia. Mereka membawa Banaspati dan roh-roh penasaran yang dibangkitkan oleh Sekte Bayangan Neraka," ucap Prabu Dirja dengan suara berat.

Ranu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat menawan namun menyimpan bahaya. "Baginda, roh-roh itu hanya butuh tempat untuk pulang. Dan aku adalah jalan keluar bagi mereka."

Di luar gerbang kota, pasukan Mahesa yang dipimpin oleh Prabu Mahesa mulai bergerak maju. Di samping Prabu Mahesa, berdiri seorang pria misterius dengan jubah hitam yang menutupi wajahnya—Eyang Jagad Satru, pemimpin Sekte Bayangan Neraka.

"Hancurkan gerbangnya!" teriak Prabu Mahesa.

Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar bukan dari gerbang, melainkan dari langit. Sebuah bola cahaya perak melesat jatuh tepat di tengah-tengah antara pasukan Mahesa dan gerbang kota Durja. Ledakan energi murni menciptakan kawah besar dan memukul mundur barisan depan prajurit musuh.

Saat debu menghilang, tampak seorang pemuda berdiri di tengah kawah itu. Ia tidak membawa pedang, tidak membawa perisai. Tangannya hanya dimasukkan ke dalam saku jubah biru tuanya.

"Anak muda, siapa kau?!" teriak Prabu Mahesa dari atas kudanya.

"Namaku Ranu," jawab pemuda itu dengan suara yang terdengar jernih di telinga setiap prajurit meski di tengah kebisingan perang. "Aku datang untuk memberi saran. Pulanglah, mumpung aku baru saja kenyang dan suasana hatiku sedang bagus."

Eyang Jagad Satru melangkah maju, tawa dingin keluar dari balik jubahnya. "Hahaha! Jadi ini bocah titisan dewa yang dibicarakan itu? Sekarang kau sudah besar, tapi jiwamu masih tetap bodoh. Rasakan ini, Jurus Ribuan Tangan Arwah!"

Tanah di sekitar Ranu tiba-tiba meledak, dan ratusan tangan hitam yang membusuk muncul dari dalam tanah, mencoba menarik kaki Ranu masuk ke dalam bumi. Bau bangkai yang menyengat memenuhi udara.

Ranu tidak bergeming. Ia hanya menghentakkan kaki kanannya pelan ke tanah.

"Bintang Ketiga: Pemurnian Jagat!"

Seketika, cahaya perak berpola rasi bintang memancar dari bawah kaki Ranu, merambat di atas tanah seperti air yang mengalir. Saat cahaya itu menyentuh tangan-tangan hitam tersebut, suara pekikan ngeri terdengar. Tangan-tangan arwah itu tidak hancur karena kekerasan, melainkan menguap menjadi cahaya putih yang tenang.

"Sekte yang membosankan," gumam Ranu. "Menggunakan mereka yang sudah mati untuk berperang adalah penghinaan terhadap hukum alam."

Ranu kemudian menatap ke arah Eyang Jagad Satru. Mata peraknya menyala terang. Ia melangkah maju dengan santai, namun setiap langkahnya membuat pasukan Mahesa mundur dengan ketakutan.

"Sastro! Ambilkan aku kerikil di dekat kakimu!" teriak Ranu tanpa menoleh.

Ki Sastro yang menonton dari atas tembok benteng segera memungut kerikil dan melemparkannya ke arah Ranu. Ranu menangkapnya dengan jari telunjuk dan jempol.

"Pak Tua Mahesa, lihat ini. Ini adalah harga dari keserahanmu," ucap Ranu.

Ranu menyentil kerikil itu. ZING! Kerikil itu melesat dengan kecepatan cahaya, membelah udara hingga menciptakan api karena gesekan atmosfer. Kerikil itu menghantam mahkota di kepala Prabu Mahesa, menghancurkannya menjadi serpihan tanpa melukai kulit kepalanya sedikit pun.

Prabu Mahesa jatuh tersungkur dari kudanya, gemetar hebat. Mahkotanya hilang, dan keberaniannya ikut lenyap.

"Sekarang, giliranmu, Eyang yang kurang kerjaan," ucap Ranu sambil menatap pemimpin sekte hitam itu.

Eyang Jagad Satru mulai panik. Ia mengeluarkan sebuah belati hitam dan mencoba menusukkannya ke jantungnya sendiri untuk melakukan ritual pengorbanan darah. Namun, tangannya membeku di udara. Ia tidak bisa bergerak sama sekali.

"Di hadapan Dewa Tertinggi, kau bahkan tidak punya izin untuk mati tanpa perintahku," bisik Ranu yang tiba-tiba sudah berada di belakang Eyang Jagad Satru.

Ranu menyentuh pundak pria berjubah hitam itu. "Kembalilah ke tempat asalmu."

BOOM!

Bukan ledakan darah, melainkan ledakan cahaya putih yang menghapus keberadaan Eyang Jagad Satru dari dunia fana. Tidak ada sisa, tidak ada debu. Hanya jubah hitam kosong yang jatuh ke tanah.

Melihat pemimpin sekte mereka lenyap dalam sekejap, ribuan prajurit Mahesa langsung membuang senjata mereka dan bersujud di tanah. Suasana medan perang yang tadinya mencekam mendadak menjadi hening sesunyi kuburan.

Ranu berbalik ke arah tembok kota Durja. Ia melihat Diajeng Sekar Arum yang menatapnya dengan penuh kekaguman. Ranu melambaikan tangannya dengan santai.

"Sastro! Apakah di dapur masih ada sisa kambing tadi? Sepertinya aku lapar lagi!" teriak Ranu, menghancurkan suasana agung yang baru saja ia ciptakan.

Ki Sastro tertawa terbahak-bahak dari atas tembok. "Masih banyak, Den Ranu! Bahkan Nyai Sumi sedang membuatkan kolak pisang untukmu!"

Ranu berjalan santai menuju gerbang kota, melewati ribuan musuh yang masih bersujud. Di punggungnya, bintang keempat mulai memberikan getaran hangat. Jalan untuk kembali ke alam dewa semakin dekat, namun di dunia ini, masih banyak rasa masakan manusia yang harus ia coba.

......................

1
JUNG KARYA
bantu supportnya kak 🙏
JUNG KARYA
Komentarnya dong kak, juga satu like kalian sangat berarti untuk semangat author ini lho, apalagi kalau mau beri rating di novel ini 😁...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!