Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Hari Pembalasan dan Karma Instan
"Sialan. Hari ini hari sial atau gimana sih?" batin Banyu.
Barusan dia disemprot cewek cantik di rumah sakit, sekarang dicegat preman kampung di jembatan. Sepertinya semesta sedang menguji kesabarannya. Atau mungkin, semesta sedang memberinya samsak hidup untuk melampiaskan kekesalan.
Banyu menatap Joni dan lima kacungnya dengan wajah datar, tapi matanya berkilat dingin.
"Oke. Kita selesaikan," kata Banyu singkat. "Jangan di sini, banyak orang lewat. Ke gang senggol aja."
Joni sedikit kaget melihat Banyu yang justru nantangin duluan. Biasanya korban pemalakan bakal gemetar atau minta ampun. Tapi Joni menepis keraguannya. Ah, paling cuma sok keras. Gue bawa lima orang, plus pentungan kayu. Aman, pikirnya.
"Nyali lu gede juga. Jalan!" perintah Joni sok berkuasa.
Mereka menggiring Banyu masuk ke gang sempit yang lembab dan bau got di belakang pos ronda. Gang ini jalan buntu, tembok kiri-kanan tinggi, sepi, dan suram. Tempat favorit buat gebugan.
Banyu berjalan santai dengan kedua tangan di saku celana. Di dalam saku, jempolnya diam-diam meraba layar HP barunya, membuka aplikasi Voice Recorder, dan menekan tombol merah: REC.
Sampai di ujung gang, Joni dan anak buahnya membentuk formasi setengah lingkaran, mengepung Banyu. Mereka menyeringai, memamerkan gigi kuning dan tato norak. Dua orang di belakang Joni sudah memukulkan pentungan kayu ke telapak tangan, plok-plok, gaya intimidasi klasik.
Banyu berdiri tegak, santai. "Jadi, mau apa nih? Arisan?"
Joni maju selangkah, menatap Banyu dengan tatapan meremehkan. "Denger-denger lu abis panen duit di hotel. Kita sebagai 'keamanan' kampung mau minta jatah. Gak banyak, cukup tiga atau lima juta aja buat uang rokok."
"Tiga juta? Uang rokok apa uang muka KPR?" sindir Banyu. "Kalau gue gak mau ngasih gimana?"
Wajah Joni berubah garang. "Jangan macem-macem lu! Kalau gak mau ngasih baik-baik, jangan salahin kalau muka lu ancur, terus duitnya kita ambil paksa!"
"Berarti kalian mau ngerampok dong?" pancing Banyu.
"Iya! Emang kenapa?! Kita rampok lu sekarang!" bentak Joni habis kesabaran. "Serahin dompet lu atau gue patahin kaki lu!"
Gotcha.
Banyu tersenyum tipis. Rekaman suara Joni yang mengaku "merampok" sudah tersimpan rapi. Bukti digital yang valid kalau nanti harus berurusan dengan polisi.
Banyu mematikan rekaman di saku celananya. Dia mengangkat wajah, menatap Joni lurus-lurus.
"Lu ngaku ngerampok, berarti gue boleh self-defense dong? Oke, fair."
Firasat buruk tiba-tiba menyergap Joni. Tapi terlambat.
"Sikat dia!" teriak Joni.
Perintah itu menjadi pemicu ledakan.
Banyu bergerak lebih dulu. Bukan gerakan orang panik, tapi gerakan predator.
Kaki kanannya melesat lurus ke depan sebuah tendangan front kick telak ke ulu hati kacung terdekat.
BUGH!
Suaranya berat dan menyakitkan. Kacung itu bahkan tidak sempat teriak. Tubuhnya melayang mundur dua meter, menabrak tembok, lalu merosot jatuh seperti karung beras bocor. Pingsan di tempat.
Empat orang sisanya terbelalak kaget. Satu detik hening, lalu salah satu kacung yang memegang balok kayu berteriak marah dan mengayunkan senjatanya ke kepala Banyu.
WOOSH!
Ayunan itu kencang, niat membunuh. Bagi orang biasa, itu tidak mungkin dihindari.
Tapi di mata Banyu, ayunan itu terlihat... lambat. Seperti menonton video Youtube di kecepatan 0.5x.
Banyu hanya perlu memiringkan kepalanya sedikit ke kiri. Balok kayu itu lewat hanya satu senti dari telinganya.
Detik berikutnya, tangan kanan Banyu meluncur lurus. Sebuah jab keras mendarat tepat di hidung si pemegang balok.
KRETEK!
Bunyi tulang rawan patah terdengar ngeri. Darah muncrat.
"AAAAARGHH!!" Orang itu menjerit, menjatuhkan baloknya, dan mundur sambil memegangi hidungnya yang kini bengkok ke arah jam dua.
Banyu dengan santai menangkap balok kayu yang jatuh itu sebelum menyentuh tanah.
"Pinjem bentar," katanya dingin.
Sekarang, Banyu bersenjata. Tiga orang yang tersisa, termasuk Joni, mulai gemetar lututnya.
"Maju," tantang Banyu pelan.
Dua kacung nekat maju bersamaan. Banyu menyambut mereka dengan tarian brutal.
Pletak! Buk! Buk!
Gerakan Banyu efisien dan mematikan. Dia memukul paha, bahu, dan punggung mereka dengan presisi ahli bedah tapi kekuatan kuli pelabuhan. Kayu di tangannya bergerak cepat seperti baling-baling.
Kekuatan Banyu terlalu besar. Saat dia memukul punggung salah satu kacung, balok kayu setebal lengan itu patah jadi dua.
PRAK!
"Ups. Kayunya jelek," komentar Banyu datar.
Tiga menit. Hanya butuh tiga menit untuk membuat lima orang bergelimpangan di tanah gang sempit itu. Mereka mengerang, memegangi perut, kaki, atau muka yang babak belur. Untungnya Banyu masih punya hati nurani untuk tidak memukul titik fatal. Kalau tidak, ini sudah jadi TKP pembunuhan.
Joni berdiri mematung di ujung gang. Dia satu-satunya yang masih berdiri, tapi wajahnya pucat pasi seperti melihat hantu. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras.
Imajinasinya tentang Banyu si "penyakitan" hancur lebur. Yang di depannya ini bukan petani sawi, tapi monster.
Banyu membuang sisa patahan kayu di tangannya, lalu menatap Joni.
"Gimana, Jon? Masih mau minta duit rokok?"
Pertanyaan itu menyentak kesadaran Joni. Preman kampung itu balik kanan dan lari terbirit-birit sekencang-kencangnya.
"Kaburrr!!"
"Ck. Pengecut," decih Banyu.
Dia memungut sisa patahan kayu tadi, menimbangnya sebentar di tangan, lalu melemparnya seperti atlet lempar lembing.
Wuuuut.... TAK!
Kayu itu melayang akurat, menghantam punggung Joni yang sedang lari.
"ADUH!" Joni tersungkur, wajahnya mencium aspal dengan mesra. Dia berguling-guling kesakitan.
Sebelum Joni sempat bangun, sebuah sepatu kets dekil sudah menginjak pipinya, menekan wajahnya ke tanah yang kotor.
Banyu berdiri di atasnya, menatap ke bawah dengan tatapan dingin.
"Gue tanya sekali lagi. Masih mau 'minjem' duit?"
Joni menangis. Beneran nangis. Harga dirinya sebagai preman sudah minus. "Ampun, Nyu... eh, Bang Banyu! Ampun! Kagak! Sumpah gue tobat!"
"Bagus," kata Banyu. "Tapi ada denda telat bayar."
Banyu menarik kakinya mundur sedikit, lalu mengayunkan tendangan sepak bola keras tepat ke rahang Joni.
DUAGH!
Joni menjerit tertahan. Dia memuntahkan darah campur dua butir gigi geraham ke aspal.
Banyu merapikan kerah bajunya yang sedikit berantakan. Dia merasa lega. Emosinya pada Siska si wanita arogan tadi sudah tersalurkan lunas ke Joni.
"Inget, Jon. Sekali lagi lu ganggu gue, gigi lu abis semua. Camkan itu."
Banyu melangkahi tubuh Joni, berjalan keluar gang dengan santai sambil bersiul, seolah habis jalan-jalan sore.
---
Sementara itu, di ujung gang yang lain.
Rudi sedang mengintip dari balik tiang listrik. Dia memang sengaja ambil cuti sakit hari ini cuma buat membuntuti Joni. Dia ingin melihat pemandangan indah: Banyu yang babak belur, memohon ampun sambil menyerahkan uang.
Dari posisinya, Rudi cuma mendengar suara teriakan dan buk-bak-buk. Dia tersenyum puas.
"Mampus lu, Banyu. Itu akibatnya cari gara-gara sama gue. Rasain tuh bogem mentah Joni."
Suara keributan mereda. Rudi mengira "eksekusi" sudah selesai. Dengan hati berbunga-bunga, dia melangkah masuk ke gang, ingin pura-pura lewat dan menertawakan Banyu.
Tapi baru beberapa langkah masuk, dia melihat segerombolan orang berjalan terpincang-pincang ke arahnya. Wajah mereka bengkak, baju robek, dan ada yang hidungnya miring.
Di depan rombongan zombie itu, ada Joni yang mulutnya berdarah-darah.
Rudi bengong. Otaknya loading lambat.
"Lho? Bang Joni? Kok... kok babak belur?"
Rudi yang polos dan bodoh malah bertanya dengan suara keras. "Mana si Banyu? Udah mati? Duitnya dapet berapa, Bang?"
Mendengar nama "Banyu" dan melihat muka cengengesan Rudi, amarah Joni yang tadi tertahan karena takut, kini meledak dan mencari pelampiasan.
Joni sadar, ide memalak Banyu ini awalnya dikompori oleh Rudi yang bilang kalau Banyu punya banyak duit tunai.
"BAJINGAN!!" Joni meraung. Matanya merah menyala menatap Rudi. "Ini semua gara-gara lu, Setan! Lu bilang dia lemah! Lu bilang dia gampang diperes!"
Rudi mundur ketakutan. "Eh... Bang... sabar Bang..."
"Sabar ndasmu! Anak buah gue patah tulang! Gigi gue rontok! Lu harus ganti rugi!!"
Joni memberi kode pada anak buahnya yang masih sadar. "Sikat dia! Lampiasin semuanya ke dia!"
Empat preman yang sedang kesakitan dan emosi itu langsung menerjang Rudi.
"Tunggu! Jangan! AAAAAAA!!!"
Jeritan Rudi yang melengking tinggi memenuhi lorong gang sore itu. Karma memang tidak punya deadline. Dia datang instan, secepat paket ekspedisi kilat.
Hari itu, Banyu pulang dengan hati lega, sementara Rudi pulang dengan wajah yang... yah, sebut saja abstrak.