Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.
Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.
Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.
"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"
Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ganti mempelai
Suasana di dalam bridal suite hotel bintang lima itu terasa mencekam, kontras dengan aroma mawar putih yang memenuhi ruangan. Suara bentakan keras merobek kesunyian.
"Kau harus melakukannya, Gia! Tidak ada pilihan lain!"
Gia gadis dua puluh tahun itu tersentak. Bahunya yang kecil bergetar di balik gaun pengantin berbahan lace mahal yang tampak terlalu besar untuk tubuh rampingnya. Ia menatap Ibu tirinya, Sarah, dengan mata yang sudah sembap.
"Tapi Ma, ini pernikahan Kak Siska. Tuan Ares mengharapkan Kak Siska karena dia mencintai Kak Siska, bukan aku. Aku hanya orang asing bagi mereka!" suara Gia hampir hilang, tercekat oleh rasa takut.
"Kakakmu itu bodoh! Dia malah kabur sama laki-laki tidak jelas itu tepat satu jam sebelum pernikahan! Padahal dia sudah dicintai Tuan Ardiansyah yang kaya raya!" Sarah mencengkeram lengan Gia kuat-kuat hingga gadis rapuh itu meringis kesakitan.
"Keluarga Ardiansyah juga sudah menginvestasikan miliaran rupiah ke bisnis Papamu. Kalau sampai pernikahan ini batal karena Siska kabur, kita semua hancur! Kamu mau kita gelandangan? Kamu mau Nenekmu celaka? Kamu mau membayar hutang budi karena kami sudah menampungmu selama ini, bukan?"
Hutang budi. Kata-kata itu selalu menjadi cambuk yang melecut punggung Gia sejak Ibunya meninggal.
Dia yang disebut anak haram dari Papanya, harus tinggal bersama istri pertama Papanya, yaitu Sarah, setelah Ibunya meninggal.
Gia menjadi pelampiasan dendam sarah pada Ibunya. Selama tinggal di rumah Sarah, Gia diperlakukan bak pembantu meski saat datang ke rumah itu, Gia masih berusia dua belas tahun.
Gia tidak pernah merasakan yang namanya bahagia mulai saat itu. Hidupnya hanya penuh tekanan dan tekanan. Pernah Gia mencoba kabur, namun Sarah berhasil menemukannya.
Sarah selalu mengancam Gia dengan Neneknya yang berada di kampung. Katanya, Sarah akan membuat hidup Neneknya lebih menderita kalau Gia berani melarikan diri.
Jangan tanya bagaimana sikap Papanya, walau Papanya tau betul hidup Gia menderita di sana, Papanya tak bisa berbuat apa-apa. Papanya cendrung takut pada Sarah dan tak bisa membelanya. Pernah sekali Papanya memberi uang pada Gina secara diam-diam, namun berujung Gia dikunci dalam gudang selama dua hari tanpa makan.
Hal itu membuat Papanya lebih baik mengabaikan Gia daripada harus menunjukkan kasih sayangnya pada Gia. Papanya sendiri tak punya kuasa apa-apa karena sesungguhnya perusahaan yang Papanya pimpin adalah milik keluarga Sarah.
"Tapi Tuan Aresta... d-dia pria yang berkuasa. Bagaimana kalau dia marah saat melihatku?" Gia masih sana ketakutan. Dia takut kalau Tuan penguasa yang terkenal kejam itu menyakiti dirinya karena berani membohonginya.
Semua orang tau bagaimana seorang Aresta Ardiansyah. Berani berurusan dengan pria itu, sama saja dengan cari m*ti.
"Tutup wajahmu dengan veil. Pakai ini, diam, dan berjalanlah ke altar. Dia tidak akan sadar kalau kamu bukan Siska. Setelah sah, dia tidak akan bisa membatalkannya begitu saja!" Sarah benar-benar sudah tidak memiliki cara lain lagi untuk menghadapi Tuan Ardiansyah.
Daripada harus menerima kemarahan Tuan Ardiansyah karena tidak adanya mempelai wanita di atas altar, dia lebih baik mengorbankan anak haram dari suaminya itu. Baru kali ini Sarah merasa beruntung menampung Gia selama ini.
Pintu kamar diketuk keras. "Waktunya sepuluh menit lagi. Mempelai pria sudah menunggu di altar!" Suara petugas hotel terdengar tegas.
Gia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Gadis malang dengan gaun pinjaman. Gaun yang sama sekali tidak pas di tubuh kecilnya. Ia merasa seperti domba yang sedang diantar ke sarang serigala. Rumor tentang Aresta Ardiansyah yang dingin, kaku, dan berusia jauh di atasnya membuat lututnya lemas. Dia benar-benar ketakutan, dia ingin sekali melarikan diri dari sana saat ini juga.
Musik organ mulai mengalun megah. Pintu besar terbuka, menampakkan lorong panjang menuju altar. Di ujung sana, seorang pria berdiri dengan gagah.
Dialah Aresta Ardiansyah pria matang berusia tiga puluh lima tahun. Setelan tuksedo hitamnya melekat sempurna pada tubuh tegapnya. Wajahnya tegas, rahangnya keras, dan tatapan matanya tajam namun tenang. Ia tidak menoleh sedikit pun sampai Gia berada tepat di sampingnya.
Gia menunduk dalam, tangannya yang memegang buket bunga lili gemetar hebat. Ia bisa merasakan aura dominan dari pria di sebelahnya.
Saat pendeta mulai berbicara, Gia memberanikan diri melirik ke samping. Ia menatap sosok tinggi tegap di berbalut tuksedo mahal itu. Napas pria itu terdengar teratur tak menunjukkan kegugupan sama sekali. Gia hanya berharap kalau Ares tidak akan menyadari dirinya bukan Siska.
Rasanya Gia ingin tenggelam ke dalam samudera hingga tidak ada yang bisa menemukannya lagi. Dia ingin ada keajaiban saat ini dimana Kakaknya datang membatalkan pernikahan itu seperti dalam cerita-cerita klasik yang sering ia baca.
Gia memejamkan mata sampai keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Dia bahkan sampai tidak bisa mendengar suara pendeta yang berdiri tepat di depannya.
Gia tersentak, nyaris menjatuhkan bunganya. Ia kembali memberanikan diri melirik dari balik kain tipis.
Aresta tidak terlihat marah. Sudut bibirnya justru terangkat sangat tipis, sebuah senyum yang hanya bisa dilihat oleh Gia.
"Bernapaslah!" bisik Aresta dengan suara bariton yang berat namun sangat lembut di telinga Gia.
"Ikuti saja kataku. Semua akan baik-baik saja, kau aman bersamaku!"
Gia terpaku. Kalimat itu bukan ancaman. Itu adalah sebuah janji.
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus