"Jika dunia membuangmu, ingatlah ada satu orang yang akan menghancurkan dunia demi menjemputmu kembali."
Bagi Kyrania Ruella, masa kecil di desa Sukamaju adalah satu-satunya memori indah yang tersisa. Di sana ada Herjuno Allegra, bocah dekil pembawa ketapel yang selalu melindunginya dari nyamuk hingga anak-anak nakal. Namun, takdir memisahkan mereka secara paksa saat Kyra diseret kembali ke kota oleh ayahnya yang serakah. Hidup Kyra bak di neraka. Menjadi istri dari Nathan Sagara, pria kaya yang patriarki dan pelit, Kyra diperlakukan lebih rendah dari pelayan. Ia terjebak dalam pernikahan hampa, bahkan nyaris dijual oleh suaminya sendiri demi menutupi hutang keluarga.
Di saat Kyra nyaris menyerah pada hidupnya, Juno kembali. Namun, ia bukan lagi bocah desa pembawa ketapel. Ia kini adalah Herjuno Allegra, pewaris tunggal kerajaan bisnis raksasa yang dingin, berkuasa, dan sangat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkota di Atas Puing-Puing Keangkuhan 21+
Jakarta, Gerbang Utama Kediaman Allegra.
Hujan rintik-rintik mengguyur Jakarta, namun tidak menghalangi kemegahan di depan gerbang raksasa kediaman Allegra. Hari ini adalah hari pernikahan Herjuno Allegra dan Kyrania Ruella—sebuah acara yang disebut-sebut sebagai Wedding of the Century.
Di luar gerbang, seorang pria paruh baya dengan pakaian lusuh dan wajah yang tampak menua sepuluh tahun berdiri gemetar. Ia adalah Ayah Kyra. Di sampingnya, Kenzo dan ibu tirinya tertunduk lesu, dijaga ketat oleh dua petugas keamanan berseragam lengkap.
"Tolong... biarkan saya masuk. Saya ayahnya! Saya ingin meminta maaf pada anak saya!" teriak Ayah Kyra saat sebuah mobil Rolls-Royce hitam melambat di depan gerbang.
Kaca mobil itu turun perlahan. Juno duduk di sana, tampak sangat tampan dengan tuksedo hitam pekat. Di sampingnya, Kyra tampil memukau dengan gaun pengantin bertahtakan berlian asli, wajahnya tertutup cadar tipis namun binar matanya tetap terlihat.
"Juno! Kyra! Maafkan Ayah, Nak!" Ayah Kyra berlutut di aspal yang basah. "Ayah salah! Ayah tidak tahu kalau Nathan sejahat itu! Tolong... hentikan penyitaan rumah kami. Kami tidak punya tempat tinggal lagi!"
Juno menatap pria itu tanpa ekspresi. Tatapannya sedingin es kutub. "Anda meminta maaf karena menyesal, atau karena sekarang Anda tidak punya uang?"
"Ayah tulus, Juno! Kenzo juga minta maaf, kan Kenzo?" Ayah Kyra menarik lengan Kenzo agar ikut berlutut.
Kyra menatap ayahnya dari balik jendela mobil. Hatinya yang dulu penuh luka kini terasa hambar. Rasa sayangnya sudah habis dikikis oleh pengkhianatan demi pengkhianatan.
"Ayah," suara Kyra terdengar tenang namun berwibawa melalui jendela yang terbuka sedikit. "Dulu aku menangis di kakimu agar tidak dijual pada Nathan, tapi Ayah malah mendorongku. Sekarang, Ayah berlutut di kakiku hanya karena rumah Ayah disita? Di mana hati nurani Ayah saat itu?"
"Kyra, tolong... Mas Nathan sudah dipenjara di Singapura, aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk membiayai hidupku!" teriak ibu tirinya dengan tidak tahu malu.
Juno menyeringai, ia menggenggam tangan Kyra erat. "Bram," panggil Juno pada asistennya yang berdiri di luar. "Berikan mereka 'hadiah' pernikahan dariku."
Bram memberikan sebuah amplop cokelat. Ayah Kyra membukanya dengan tangan gemetar, berharap itu cek uang. Namun, isinya hanyalah tiket bus satu kali jalan menuju desa Sukamaju.
"Itu tempat asal kalian, dan ke sanalah kalian harus kembali," ucap Juno dingin. "Rumah, aset, dan semua kemewahan yang kalian dapat dari menjual Kyra sudah aku ambil kembali. Mulai hari ini, nama Ruella tidak lagi ada di jajaran elit Jakarta. Pergilah sebelum aku berubah pikiran dan mengirim kalian ke sel yang sama dengan Nathan."
"Juno, jangan kejam begitu!" ratap Ayah Kyra.
"Kejam?" Juno mencondongkan tubuhnya ke arah jendela. "Anda belum melihat apa itu kejam. Kejam adalah membiarkan anak kandung sendiri diperkosa rekan bisnis hanya demi kontrak. Berterima kasihlah pada Kyra, karena berkat hatinya yang masih terlalu baik, aku tidak menghabisi kalian hari ini."
Juno memberi kode, dan jendela mobil naik kembali. Mobil itu meluncur masuk ke dalam halaman yang dipenuhi ribuan bunga lili putih, meninggalkan kerumunan orang-orang serakah itu di balik jeruji gerbang yang tertutup rapat.
Malam Resepsi, Grand Ballroom.
Pesta itu luar biasa. Ribuan lampu kristal, musik orkestra, dan tamu-tamu penting dari berbagai belahan dunia hadir. Namun, bagi Juno dan Kyra, dunia hanya milik mereka berdua saat mereka berdansa di tengah lantai dansa.
"Akhirnya, Ra. Kamu benar-benar Nyonya Allegra sekarang," bisik Juno di telinga Kyra.
"Aku merasa seperti bermimpi, Jun. Terima kasih sudah mengembalikan harga diriku," jawab Kyra sambil menyandarkan kepalanya di bahu Juno.
"Jangan berterima kasih. Kamu adalah pemilik kerajaan ini, dan aku hanyalah pengawalmu yang setia," Juno mencium dahi Kyra lama sekali, mengabaikan ribuan pasang mata yang menatap mereka dengan iri dan kagum.
Malam Pertama Pernikahan.
Setelah pesta pernikahan yang melelahkan, Juno membawa Kyra ke kamar pengantin mereka yang sudah ditaburi kelopak mawar merah segar di atas seprai sutra putih. Aroma bunga dan lilin beraroma vanila memenuhi udara, menciptakan suasana romantis yang segera berubah menjadi api gairah. Juno menutup pintu dengan pelan, matanya tak lepas dari Kyra yang masih mengenakan gaun pengantin putih panjang, berat, dan mewah. Ia mendekat, tangannya gemetar sedikit karena campuran cinta dan nafsu yang membara.
Juno tidak membuang waktu. Ia mulai membuka resleting gaun itu dari belakang, bibirnya menyentuh leher Kyra, meninggalkan jejak ciuman basah yang membuatnya menggigil. "Malam ini, tidak ada lagi trauma. Hanya ada aku dan kamu," gumam Juno, suaranya dalam dan penuh janji saat gaun itu meluncur ke lantai, memperlihatkan tubuh Kyra yang telanjang kecuali korset renda putih dan stoking sutra. Kulitnya mulus, bebas dari bekas luka masa lalu, dan Juno menciumi setiap inci—dari bahu, turun ke punggung, hingga pinggul—seolah ingin menghapus setiap kenangan buruk dengan sentuhan lembut tapi posesif.
Kyra menoleh, matanya berkaca-kaca karena emosi dan kelelahan pesta. "Jun... kamu selalu tahu cara membuatku merasa aman," bisiknya, tangannya meraih wajah Juno, menariknya untuk ciuman dalam yang penuh rasa syukur. Tapi ciuman itu segera berubah ganas; lidah Juno menyerbu mulut Kyra, gigitannya ringan di bibir bawahnya membuat Kyra mendesah pelan, "Mmm... Jun..."
Gairah mereka meledak lebih dahsyat dari malam-malam sebelumnya. Juno melepaskan baju pengantinnya sendiri dengan cepat, tubuh atletisnya yang terbentuk dari tahun-tahun kerja keras. Ia mengangkat Kyra ke pelukannya, membawanya ke ranjang di mana kelopak mawar beterbangan, dan meletakkannya telentang. "Kau istriku sekarang, Ra. Aku mau rasain setiap bagianmu malam ini," katanya, suaranya parau saat ia merobek korset itu, Juno menunduk, mulutnya langsung menyedot puting kanan membuat Kyra melengkung. "Ahh... Jun... ohh, ya... hisap lebih kuat..." Kyra mengerang, tangannya meremas seprai, pinggulnya bergoyang saat jari Juno menyusup ke selangkangan yang sudah basah licin. Ia menggosok klitorisnya pelan, lalu memasukkan dua jari ke dalam, merasakan dinding hangat yang meremasnya. "Kamu sudah siap buat aku, ya? Basah banget, istriku..." goda Juno, suaranya bergetar nafsu.
Kyra mengangguk lemah, napasnya tersengal. "Tolong... Jun... aku butuh kamu di dalem..." Juno tersenyum nakal, menarik jarinya keluar dan menggantinya dengan batangnya yang tebal. Ia menggesek ujungnya di bibir liang Kyra, membasahinya dengan cairannya sendiri, sebelum mendorong masuk pelan. "Ughh... Ra... sempitnya... ahh, sial... ketat banget..." Juno mengerang panjang, wajahnya menegang saat setiap inci ditelan oleh dinding milik Kyra yang hangat dan licin, meremasnya seperti tak ingin melepaskan.
Sensasi ketat itu membuat Juno gemetar, tapi ia mulai bergerak, pinggulnya menghentak pelan dulu, menikmati bagaimana milik Kyra menjepit batangnya. "Ohh... Jun... besar... penuh... ahh, gerak lebih cepat!" Kyra menjerit kecil, kakinya melingkar di pinggang Juno, mendorongnya lebih dalam. Bunyi basah 'slap-slap' mulai terdengar saat Juno mempercepat ritme, batang itu keluar-masuk dengan tenaga penuh, menghantam titik sensitif di dalam Kyra berulang-ulang.
Juno menangkap bibir Kyra lagi, ciumannya brutal sambil tangannya meremas payudara satunya, memilin putingnya hingga Kyra menggelinjang. "Kamu enak banget, Ra... hisapannya erat banget... ahh, jangan berhenti..." desah Juno, keringat menetes dari tubuhnya saat ia merasakan kontraksi pertama dari Kyra. "Jun... aku... mau... ahhhh!" Kyra berteriak, tubuhnya menegang cairan hangatnya membanjiri dan membuat gesekan semakin licin.
"Jun... pelan sedikit... aku benar-benar lelah," rengek Kyra saat Juno kembali memposisikannya untuk ronde berikutnya.
"Tadi kamu bilang mau menebus waktu belasan tahun yang hilang, kan?" goda Juno sambil mengecup bibir Kyra yang bengkak karena ciuman. "Aku baru mulai, Sayang. Kita punya waktu seumur hidup, tapi aku ingin memulainya dengan sangat intens malam ini."
Kyra hanya bisa pasrah dalam nikmat yang luar biasa, membiarkan suaminya—si bocah desa yang kini menjadi rajanya—menjelajahi surga di dalam dirinya hingga fajar menyingsing.
😍😍😍
didunia nyata ada gak sihh cowok kayak juno 🤭🤭🤭
kasihan kyra udah terlalu banyak menderita apalagi lg hamil skrng 🥹🙏
cintanya ugal-ugalan bet daahh....
baguslah.... buang eek ayam dapet berlian nih si Kyra.. /Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
daripada sama cowok pelit/Bye-Bye/