Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.
Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.
Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Mereka baru saja tiba di depan rumah ketika suara Sulastri menyusul dari teras.
“ Alvar…”
Alvar menoleh, wajah ibunya tampak tegang, bukan karena lelah, melainkan karena kabar yang baru saja diterimanya.
“Paman Aiman meninggal,” ucap Sulastri pelan. “Kakaknya ayahmu. Barusan dapat kabar. Kita diminta ke desa sebelah, nggak jauh…”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan,
“Bapak, sudah lebih dulu ke sana.”
Alvar mengangguk perlahan,
“Innalillahi,” katanya lirih.
Kiara yang berdiri di sampingnya ikut menunduk. Tangannya refleks menyentuh lengan Alvar, memberi dukungan kecil tanpa suara. Sulastri lalu mengalihkan pandangannya ke Kiara. Tatapannya lembut, tapi jelas menyimpan kehati-hatian.
“Kiara…” panggilnya pelan. “Ibu boleh minta satu hal?”
Kiara segera mengangguk. “Iya, Bu.”
“Di sana keluarganya almarhum itu cukup agamis,” kata Sulastri dengan nada sopan. “Kalau berkenan, bisa pakai baju yang lebih panjang. Bukan apa-apa, Nak. Hanya untuk menghormati keluarga yang sedang berduka.”
Kiara terdiam, bukan karena keberatan, melainkan karena satu kenyataan kecil yang baru ia sadari, ia tidak punya baju panjang.
Tangannya mengencang di sisi tubuh. Alvar menangkap perubahan ekspresi itu dan meliriknya sebentar.
Sulastri segera menyadarinya. Tanpa membuat Kiara semakin canggung, ia melangkah mendekat dan menggandeng tangan menantunya.
“Masuk sebentar ya, Nak.”
Di dalam kamar, Sulastri mengambil sebuah gamis sederhana berwarna krem pucat, longgar, bersih, dan rapi, dia menyerahkannya pada Kiara.
“Ini punya ibu,” katanya lembut. “Kalau kamu tidak keberatan.”
Kiara menerima gamis itu dengan dua tangan, dadanya terasa hangat.
“Tidak, Bu,” jawabnya tulus. “Saya tidak keberatan sama sekali.”
Sulastri tersenyum kecil, lega.
“Terima kasih ya, Nak. Ibu tahu ini mendadak. Kalau acara pernikahan, ibu nggak masalah. Tapi ini lagi berduka … kita jaga sopan santun saja.”
“Iya, Bu. Saya mengerti,” kata Kiara pelan.
Beberapa menit kemudian, Kiara keluar mengenakan gamis itu. Sederhana, tapi anggun. Alvar menatapnya tanpa sadar terlalu lama. Ada rasa bangga yang tak ia ucapkan, bercampur kesadaran bahwa istrinya sedang belajar masuk ke dunia yang asing baginya.
Sulastri mengangguk pelan.
“Terima kasih sudah mau menyesuaikan diri, Nak.”
Kiara tersenyum kecil.
“Sama-sama, Bu.”
Mobil Pak kades, yang di kendarai Alvar berhenti tak jauh dari rumah duka.
Alvar turun lebih dulu, lalu berbalik dan membuka pintu di sisi Kiara. Perempuan itu melangkah turun dengan gamis krem pucat yang jatuh anggun hingga mata kaki. Selendang tipis menutup kepalanya, sederhana dan tidak mencolok, tapi justru itulah yang membuatnya terlihat berbeda.
Beberapa warga yang duduk di kursi bambu menoleh bersamaan.
“Masyaallah…”
“Cantik ya istri Mas Alvar…”
“Pantes Pak Kades bangga…”
Bisik-bisik itu mengalir pelan, bukan gosip melainkan kekaguman yang jujur.
Kiara menunduk sopan, kedua tangannya terlipat di depan perut. Ia menyalami satu per satu orang yang dilewatinya, suaranya lembut, geraknya tertata. Tidak ada jejak gadis kota yang dulu sering disebut orang-orang yang ada hanya seorang istri yang tahu menempatkan diri.
Alvar berjalan di sampingnya, tatapannya jatuh pada Kiara lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena kecantikannya semata, tapi karena bagaimana perempuan itu bisa beradaptasi dan tanpa mengeluh, tanpa bertanya, tanpa menuntut pengertian.
Dan entah sejak kapan, dada Alvar terasa hangat oleh rasa bangga yang pelan-pelan tumbuh.
Di dalam rumah, Pak Yono menoleh ketika melihat mereka datang.
“Alvar,” panggilnya pelan.
Alvar segera mendekat, menyalami ayahnya dengan takzim. Kiara ikut menunduk hormat, mencium tangan mertuanya.
“Terima kasih sudah datang, Nak.” Katanya pada Kiara. Belum sempat mereka duduk, suara langkah lain terdengar dari luar.
Beberapa kepala kembali menoleh, Dokter Hesti datang.
Perempuan itu mengenakan busana hitam sederhana, rambutnya tertata rapi. Wajahnya tenang, namun sorot matanya berubah ketika menangkap sosok Alvar lalu berhenti pada Kiara.
Beberapa orang berbisik pelan.
“Dokter Hesti…”
“Iya … beliau dekat sekali dulu sama almarhum Paman Aiman.”
“Istrinya Paman Aiman memang sahabatnya sejak lama.”
Hesti melangkah masuk, menyalami keluarga satu per satu. Sikapnya penuh empati dan tak dibuat-buat. Ia menunduk lama di depan jenazah, menahan napas sejenak, seolah mengenang banyak hal yang tak terucap.
Ketika ia menoleh, tatapannya kembali bertemu Alvar.
Di sudut rumah duka, suara bisik-bisik mulai terdengar. Pelan, tapi cukup jelas untuk ditangkap telinga yang peka.
“Pengantin baru kok datang ke tempat berduka…”
“Pamali itu … nanti susah punya anak.” Ucapan itu membuat langkah Kiara terhenti sesaat.
Matanya melebar refleks, lalu ia menoleh ke Alvar. Bukan marah, lebih kepada cemas yang jujur. Ia tahu, kepercayaan seperti itu masih sangat hidup di desa. Dan ia juga tahu, ucapan seperti itu bukan sekadar mitos, tapi bisa berubah menjadi cap sosial.
Alvar menangkap tatapan itu. Rahangnya mengeras, namun sebelum ia sempat membuka suara, Sulastri sudah lebih dulu berdiri.
“Pamali itu urusan orang,” ujar Sulastri dengan suara tenang tapi tajam.
“Kalau soal anak, itu kehendak Allah.”
Beberapa warga terdiam.
“Lagipula,” lanjut Sulastri sambil melirik sekilas ke arah Hesti, “Alvar dan Kiara juga belum terburu-buru. Mereka mau saling mengenal dulu. Pacaran setelah menikah itu lebih terhormat daripada pacaran lama tapi akhirnya nikah karena terpaksa.”
Nada itu terdengar ringan namun sindirannya jelas.
Kiara menangkap arah lirikan itu. Ada sesuatu yang mengendap di sikap mertuanya setiap kali nama Hesti tersirat. Luka lama, mungkin. Atau kekecewaan yang belum selesai.
Alvar melangkah mendekat ke ibunya, suaranya rendah tapi tegas.
“Bu … sudah. Ini rumah orang lagi berduka. Nggak enak kalau jadi ribut.”
Sulastri mendengus pelan, lalu mengangguk singkat.
“Ya sudah,” katanya, kembali duduk. “Ibu juga cuma mengingatkan.”
Alvar kembali berdiri di sisi Kiara. Tidak berkata apa-apa, tapi posisinya jelas ia memilih berdiri bersama istrinya.
Kiara duduk di antara beberapa ibu-ibu desa, tangannya terlipat rapi di atas pangkuan. Ia lebih banyak diam, sesekali mengangguk kecil saat diajak bicara. Wajahnya tenang, tapi telinganya tetap siaga.
Tak lama, Sulastri berdiri dan melangkah masuk ke bagian dalam rumah, menemui istri dari Paman Alvar. Begitu Sulastri pergi, suara-suara yang semula tertahan perlahan mencuat.
“Bu Sulastri itu masih marah, ya…”
“Iya, kayaknya gara-gara kejadian dulu.”
Kiara menoleh pelan, dadanya menghangat oleh rasa penasaran yang tiba-tiba muncul.
Namun, sebelum ia sempat menangkap lebih jauh, salah satu ibu lain langsung berdehem pelan.
“Husss … Bu, jangan bicara sembarangan. Ada menantunya di sini, nggak enak.”
Suasana seketika hening. Beberapa pasang mata melirik Kiara bukan dengan sinis, melainkan canggung. Kiara tersenyum tipis, seolah tak mendengar apa pun. Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
'Apa yang terjadi dulu antara Ibu sama Dokter Hesti?' gumam Kiara dalam hatinya.
outhor nih selalu aja g suka liat alvar seneng