Ragnar Aditya van Der Veen—pria berdarah campuran Indonesia–Belanda—memiliki segalanya: karier mapan di Jakarta, wajah tampan, dan masa lalu yang penuh gemerlap. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka dan penyesalan yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebuah kesalahan di masa lalu membuatnya kehilangan arah, hingga akhirnya ia memilih kembali pada jalan yang lebih tenang: hijrah, memperbaiki diri, dan mencari pendamping hidup melalui ta’aruf.
Di Ciwidey yang sejuk dan berselimut kebun teh, ia dipertemukan dengan Yasmin Salsabila—gadis Sunda yang lembut, sederhana, dan menjaga prinsipnya dengan teguh. Yasmin bukan perempuan yang mudah terpesona oleh penampilan atau harta. Baginya, pernikahan bukan sekadar cinta, tapi ibadah panjang yang harus dibangun dengan kejujuran dan keimanan.
Pertemuan mereka dimulai tanpa sentuhan, tanpa janji manis berlebihan—hanya percakapan-percakapan penuh makna yang perlahan mengikat hati. Namun perjalanan ta’aruf mereka tak semulus jalan tol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Kecil, Do'a Besar
Rumah Kecil, Doa Besar
Malam pertama sebagai suami istri tidak diwarnai gemerlap lampu atau pesta panjang. Setelah semua tamu pulang dan suara kendaraan terakhir menjauh dari halaman, rumah Yasmin kembali tenang. Hanya terdengar suara jangkrik dari kebun teh dan angin yang menyentuh dedaunan.
Yasmin duduk di tepi ranjang kamar yang kini terasa berbeda. Bukan karena perabotnya berubah, tapi karena statusnya telah berubah. Tangannya masih memegang buku nikah yang tadi sempat ia pandangi berulang kali.
Sah.
Satu kata sederhana yang mengubah segalanya.
Pintu kamar diketuk pelan.
“Assalamu’alaikum,” suara Ragnar terdengar lembut dari luar.
Yasmin tersenyum kecil. “Wa’alaikumussalam.”
Ragnar masuk dengan langkah hati-hati, seolah takut memecah keheningan. Ia duduk tidak terlalu dekat, menjaga kenyamanan.
Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap dan tertawa kecil karena sama-sama canggung.
“Rasanya aneh,” ujar Ragnar akhirnya.
“Aneh bagaimana?” tanya Yasmin.
“Aku sudah memanggilmu ‘Fi’ selama ini. Sekarang kamu istriku.”
Yasmin menunduk malu.
Ragnar menarik napas dalam. “Boleh kita mulai dengan salat dua rakaat?”
Yasmin mengangguk tanpa ragu.
Mereka berdiri berdampingan. Ragnar menjadi imam. Suaranya sedikit bergetar saat membaca ayat, bukan karena lupa, tapi karena sadar akan tanggung jawab baru di pundaknya.
Setelah salam terakhir, mereka berdoa dalam diam. Ragnar memimpin doa dengan suara pelan.
“Ya Allah, jadikan rumah tangga ini tempat kami belajar sabar. Jika ada kekurangan dalam diri kami, ajarkan kami memperbaikinya bersama.”
Air mata Yasmin kembali jatuh—kali ini bukan karena takut atau cemas, melainkan karena haru.
Malam itu tidak dipenuhi kata-kata panjang. Hanya percakapan sederhana tentang harapan, tentang impian kecil yang ingin mereka capai bersama.
Rumah kecil yang akan mereka tempati di pinggir Ciwidey.
Ragnar sudah memutuskan untuk lebih sering bekerja jarak jauh. Ia tidak ingin meninggalkan Yasmin sendirian terlalu lama di awal pernikahan.
“Aku ingin rumah kita sederhana saja,” kata Yasmin pelan. “Tapi hangat.”
Ragnar tersenyum. “Rumah hangat bukan soal ukuran. Tapi siapa yang ada di dalamnya.”
________________________________________
Beberapa minggu setelah pernikahan, mereka resmi pindah ke rumah kecil yang dibeli Ragnar tak jauh dari kebun teh. Tidak besar, tapi cukup untuk memulai hidup baru.
Hari pertama di rumah itu, Yasmin sibuk mengatur dapur. Ragnar membantu memasang rak dan memperbaiki lampu teras.
“Suamiku ternyata bisa juga pegang obeng,” goda Yasmin dari dapur.
Ragnar tertawa. “Dulu aku lebih sering pegang laptop. Sekarang aku belajar pegang tanggung jawab.”
Yasmin keluar membawa dua gelas teh hangat. Mereka duduk di lantai ruang tamu yang masih kosong dari banyak perabot.
“Aku bahagia,” ujar Yasmin tiba-tiba.
Ragnar menatapnya.
“Bukan karena rumahnya,” lanjut Yasmin, “tapi karena kita sampai di titik ini tanpa mengorbankan prinsip.”
Ragnar terdiam beberapa saat.
“Aku hampir kehilangan semuanya dulu,” katanya pelan. “Karier, reputasi… bahkan kepercayaan diriku sendiri. Tapi mungkin aku memang harus jatuh dulu supaya tahu caranya berdiri.”
Yasmin menggenggam tangannya.
“Yang penting sekarang kamu tidak berjalan sendirian.”
________________________________________
Namun pernikahan tidak selalu tentang momen manis.
Suatu sore, Ragnar mendapat panggilan mendadak dari Jakarta. Ia harus hadir sebagai saksi dalam sidang lanjutan selama beberapa hari.
Wajahnya terlihat berat saat menyampaikan kabar itu pada Yasmin.
“Aku tidak ingin meninggalkanmu terlalu lama,” katanya.
Yasmin tersenyum menenangkan. “Pergilah. Selesaikan apa yang harus diselesaikan. Aku di sini.”
Meski ia berkata demikian, malam pertama Ragnar pergi, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Yasmin duduk di ruang tamu, menatap kursi kosong tempat Ragnar biasa duduk.
Ia baru menyadari—pernikahan bukan hanya tentang kebersamaan fisik, tapi juga tentang kesiapan menghadapi jarak.
Ia mengambil ponsel dan mengirim pesan.
Jangan lupa makan dan istirahat.
Balasan Ragnar datang cepat.
Istriku cerewet juga ternyata.
Yasmin tersenyum kecil.
Bukan cerewet. Peduli.
Beberapa hari itu terasa lebih panjang, tapi Yasmin mengisi waktunya dengan membantu ibunya dan mengajar anak-anak mengaji di sekitar rumah.
Ia tidak ingin kesepian menguasai pikirannya.
Di Jakarta, Ragnar menjalani proses sidang dengan tenang. Kali ini ia tidak merasa sendirian. Ada doa Yasmin yang ia rasakan menguatkan.
Suatu malam setelah sidang, ia duduk sendirian di kamar hotel dan memandangi cincin di jarinya.
Dulu, ia mengejar kesuksesan tanpa memikirkan siapa yang berjalan bersamanya.
Sekarang, ia ingin sukses sebagai suami yang amanah.
________________________________________
Ketika Ragnar kembali ke Ciwidey, Yasmin menyambutnya di depan rumah dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.
“Kamu kelihatan lebih kurus,” komentar Yasmin sambil tertawa kecil.
“Karena tidak ada yang mengingatkanku makan tepat waktu,” balas Ragnar.
Yasmin menggeleng, lalu berkata lembut, “Mulai sekarang, kamu bukan hanya bertanggung jawab pada dirimu sendiri.”
Ragnar mengangguk serius.
“Aku tahu.”
Malam itu mereka duduk di teras rumah kecil mereka, menikmati udara dingin Ciwidey.
Ragnar memandang langit penuh bintang.
“Aku tidak tahu bagaimana masa depan kita,” katanya pelan. “Tapi aku tahu satu hal—aku tidak ingin kembali menjadi lelaki yang lari dari masalah.”
Yasmin bersandar ringan di bahunya.
“Kita akan belajar bersama,” ucapnya.
Angin malam berembus lembut.
Rumah kecil itu mungkin sederhana.
Hidup mereka mungkin tidak selalu mudah.
Tapi di dalamnya ada doa-doa yang dipanjatkan bersama, ada kesalahan yang diakui dengan jujur, ada luka yang disembuhkan perlahan.
Dan Yasmin menyadari—
Ta’aruf terindah bukan berhenti saat akad terucap.
Ia terus tumbuh dalam keseharian.
Dalam obrolan ringan di dapur.
Dalam pesan singkat saat berjauhan.
Dalam keputusan kecil untuk saling memahami.
Di bawah langit Ciwidey yang tenang, rumah kecil itu menjadi saksi bahwa cinta yang dibangun dengan niat baik akan menemukan caranya untuk bertahan.
Bukan karena tanpa masalah.
Tapi karena mereka memilih untuk tidak menyerah.
TAMAT