"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 The Doctor’s Analysis
Malam itu, ketegangan di kediaman Kim tidak luruh begitu saja setelah Jungkook melangkah keluar gerbang. Suga, dengan jubah putihnya yang tampak seperti baju zirah di bawah lampu neon, tidak bisa membiarkan logika medisnya dikalahkan oleh "perasaan" atau "takdir". Baginya, segala sesuatu harus bisa diukur dengan angka, sel, dan data.
Keesokan harinya, atas perintah rahasia yang bahkan tidak diketahui Jin, RM menjemput Jungkook dari restorannya lebih awal. Bukan untuk konfrontasi di ruang tamu, melainkan menuju sebuah sayap bangunan di rumah sakit milik keluarga Kim yang terisolasi—laboratorium pribadi Min Yoongi, atau yang lebih dikenal sebagai Dokter Suga.
Jungkook melangkah masuk ke dalam ruangan yang didominasi warna perak dan putih. Udara di sini dingin, berbau ozon dan alkohol pembersih. Di tengah ruangan, Suga berdiri di depan deretan layar monitor yang menampilkan grafik gelombang otak dan detak jantung yang bergerak konstan.
"Duduk," ucap Suga tanpa menoleh. Suaranya datar, tanpa emosi, tipikal seorang dokter yang sedang menghadapi spesimen eksperimen.
Jungkook duduk di kursi logam yang dingin. Ia merasa seperti kriminal yang akan dieksekusi, namun matanya tetap tenang. "Anda ingin membuktikan bahwa saya berbahaya bagi Shine, Dokter?"
Suga akhirnya berbalik. Ia menarik kursi putar dan duduk tepat di hadapan Jungkook, hanya berjarak satu meter. Mata sipitnya memindai Jungkook dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Aku ingin membuktikan apa kau ini manusia atau sekadar parasit yang kebetulan punya kecocokan frekuensi dengan adikku."
Suga mengambil sebuah jarum suntik steril. "Aku perlu darahmu. Dan aku perlu melakukan pemindaian resonansi pada telapak tanganmu. Shine adalah Oracle, tubuhnya adalah wadah energi yang bocor setiap kali dia menggunakan mantranya. Selama ini, aku dan Jin-Hyung bertindak sebagai 'tambal sulam' sementara. Tapi kau... kau berbeda."
Jungkook mengulurkan lengannya tanpa ragu. "Lakukan apa pun yang Anda mau. Saya hanya ingin memastikan dia tidak kesakitan lagi."
Suga mendengus sinis saat menarik darah Jungkook ke dalam tabung vakum. "Pahlawan sekali. Mari kita lihat apakah sel-selmu setuju dengan bualanmu itu."
Proses itu berlangsung selama tiga jam yang membosankan sekaligus menegangkan. Jungkook harus meletakkan tangannya di atas sebuah alat sensor yang memancarkan cahaya biru samar. Sementara itu, di layar monitor, grafik energi mulai terbentuk.
Suga terdiam. Matanya melebar saat melihat hasil pemindaian yang muncul di layar. Ia mendekat ke monitor, jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, melakukan komparasi data dengan data milik Shine yang sudah ia hafal di luar kepala.
"Tidak mungkin..." gumam Suga.
"Ada apa?" tanya Jungkook, mulai merasa gelisah.
Suga tidak menjawab. Ia justru mengambil hasil cetak laboratorium dan membacanya dengan saksama. Wajahnya yang biasanya pucat kini terlihat sedikit lebih pucat lagi. Ia melepas kacamata bacanya, lalu menatap Jungkook dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa tidak percaya dan kekalahan medis yang pahit.
"Secara biologis, kau manusia biasa, Jungkook. Tapi secara energetik, kau adalah katalisator murni," Suga menarik napas panjang, mencoba menormalkan suaranya. "Darahmu mengandung tingkat mitokondria yang bereaksi sepuluh kali lebih cepat terhadap frekuensi seluler Shine. Jika aku dan Jin adalah baterai biasa, kau adalah reaktor nuklir yang tidak terbatas."
Suga memutar kursinya, menunjuk pada sebuah grafik yang menunjukkan dua gelombang yang saling mengunci dengan sempurna. "Ini adalah resonansi langka. Dalam sejarah Oracle, biasanya mereka butuh sepuluh hingga dua puluh pria tampan untuk menjaga stabilitas energi mereka. Tapi kau... kau sendiri cukup untuk membuatnya bertahan seumur hidup. Bahkan, energi yang kau berikan bisa meregenerasi sel-selnya yang rusak akibat mantra."
Jungkook tertegun. Ia tahu ia merasa "tertarik" pada Shine, tapi ia tidak tahu bahwa secara biologis mereka memang diciptakan untuk saling melengkapi. "Jadi, itu berarti saya bisa menyembuhkannya?"
"Bukan menyembuhkan secara total, tapi kau bisa mencegahnya dari kematian dini," jawab Suga dengan nada yang sangat berat, seolah kata-kata itu melukai harga dirinya sebagai kakak sekaligus dokter. "Setiap kali Shine memelukmu, dia mendapatkan pasokan energi yang begitu bersih sehingga mantranya tidak akan menyedot sisa hidupnya lagi."
Suga berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman rumah sakit. Ia membelakangi Jungkook.
"Aku membencimu," ucap Suga tiba-tiba. Suaranya serak. "Aku membencimu karena kau datang dan merebut satu-satunya hal yang membuatku merasa berguna bagi adikku. Selama bertahun-tahun, aku belajar kedokteran hanya untuk menjaganya tetap hidup. Aku adalah dokter pribadinya, satu-satunya orang yang dia butuhkan saat dia pingsan."
Suga berbalik, matanya sedikit memerah. "Tapi sekarang, dataku mengatakan bahwa dia tidak lagi membutuhkanku seperti dulu. Dia hanya membutuhkanmu."
Jungkook berdiri, merasa iba sekaligus hormat pada pria dingin di hadapannya ini. Ia menyadari bahwa kebencian Suga lahir dari cinta yang terlalu besar pada Shine. "Dokter, saya tidak bermaksud menggantikan Anda sebagai kakaknya. Saya hanya ingin menjadi orang yang memegang tangannya saat Anda sedang sibuk mengobatinya. Anda tetap keluarganya. Saya hanya... sumber energinya."
Suga terdiam lama. Keheningan itu terasa berat. Akhirnya, ia menghela napas panjang dan melempar jas putihnya ke atas meja.
"Dengar baik-baik, Jeon Jungkook. Demi alasan medis dan kelangsungan hidup Shine, aku akan memberikan izin bagimu untuk berada di dekatnya. Aku akan memberitahu Jin-Hyung bahwa keberadaanmu adalah 'resep wajib' mulai sekarang," Suga melangkah mendekat, memberikan tatapan paling mematikan yang pernah ia miliki.
"Tapi jangan salah paham. Ini bukan restu pernikahan. Ini adalah perintah medis. Kau akan tinggal di rumah ini, di bawah pengawasanku 24 jam. Jika kau berani menyakitinya, atau jika energi yang kau berikan mulai menurun, aku akan mengusirmu tanpa peduli meski Shine menangis darah. Mengerti?"
Jungkook tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang tenang. "Sangat mengerti, Dokter Min. Kapan saya bisa pindah?"
"Hari ini juga. RM akan menjemput barang-barangmu," sahut Suga sambil berjalan keluar ruangan. Namun sebelum ia benar-benar pergi, ia berhenti di pintu. "Dan satu lagi... jangan panggil aku 'Dokter' lagi. Di rumah ini, kau adalah bawahanku. Panggil aku Suga-Hyung, atau jangan bicara padaku sama sekali."
Sementara itu, di kediaman Kim, Shine berdiri di balkon kamarnya. Ia merasakan sebuah getaran aneh yang menyenangkan di hatinya—seperti sebuah sinyal bahwa sesuatu yang besar baru saja disetujui.
Ia tidak tahu bahwa kakaknya yang paling dingin baru saja menyerah pada takdir. Ia hanya tahu bahwa mulai malam ini, ia tidak perlu lagi bermimpi dalam kedinginan. Karena koki itu, pria dengan energi matahari itu, akan segera menjadi bagian dari hari-harinya.
Namun, di balik kegembiraan itu, sebuah bayangan hitam melintas di penglihatan Shine. Ia melihat Suga sedang memegang sebuah botol obat kosong di masa depan, dan Jungkook yang sedang berteriak di tengah hujan.
Resonansi ini tidak hanya membawa kesembuhan, tapi juga membuka pintu misteri yang lebih gelap dari masa lalu mereka.
...****************...