"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: NAFAS DI BALIK KEMATIAN
Dingin. Hal pertama yang kurasakan bukan lagi rasa sakit, melainkan dingin yang menusuk tulang. Aku merasa seolah sedang melayang di tengah samudra tanpa dasar. Suara-suara di sekitarku terdengar seperti gema dari dunia lain jauh, terdistorsi, dan tidak nyata.
"Denyut nadinya sangat lemah. Kita hampir kehilangannya," sebuah suara pria, berat dan tenang, menembus kabut di kepalaku.
"Tolong dia, Tuan... Tolong Non Yati..." Itu suara Mbok Nah. Suaranya gemetar karena tangis.
Aku mencoba membuka mata, tapi kelopak mataku terasa seperti dilem. Setiap saraf di tubuhku seolah berteriak memprotes sekecil apa pun gerakan yang kucoba lakukan. Namun, ingatan terakhir itu tendangan Stevanus, darah yang mengalir di paha, dan tawa dinginnya menghantamku seperti ombak besar.
"Bayiku..." suaraku hanya berupa bisikan kering yang nyaris tak terdengar.
Tiba-tiba, sebuah tangan yang hangat namun kokoh menggenggam jemariku yang kaku. "Anakmu sudah tenang, Yati. Sekarang, giliranmu untuk memilih. Apakah kamu ingin menyusulnya, atau tetap di sini dan memastikan mereka yang membunuhnya membayar harganya?"
Kata 'membayarnya' memicu sesuatu di dalam dadaku. Seperti percikan api di tengah tumpukan jerami kering. Aku memaksa mataku terbuka. Cahaya lampu yang terang membuatku mengerjap. Aku tidak berada di rumah sakit umum. Ruangan ini terlihat seperti klinik pribadi yang sangat canggih dan tersembunyi.
Aku menoleh ke samping. Mbok Nah duduk di sudut ruangan, wajahnya sembap. Di samping tempat tidurku, berdiri seorang pria tinggi tegap dengan setelan jas hitam yang sempurna. Wajahnya tegas, dengan tatapan mata yang seolah bisa menembus dinding pertahananku.
"Siapa... kamu?" tanyaku serak.
"Namaku Aris. Aku adalah orang yang seharusnya mengaudit perusahaan suamimu dua tahun lalu sebelum dia menjebakku hingga masuk penjara," pria itu melepaskan genggamannya. "Aku mengawasi rumah itu selama berbulan-bulan, menunggu saat yang tepat untuk membalas dendam pada Stevanus. Aku tidak menyangka akan menemukanmu dalam kondisi seperti itu di dasar tangga."
Aku memejamkan mata. Jadi, aku diselamatkan oleh musuh suamiku. Sebuah ironi yang pahit.
"Stevanus... dia pikir aku sudah mati?"
"Ya. Mbok Nah mengikuti instruksiku. Dia berteriak seolah menemukan mayatmu, lalu saat Stevanus pergi untuk menelepon polisi dan mengatur skenario 'kecelakaan rumah tangga', aku membawa tubuhmu keluar lewat pintu belakang. Sekarang, secara hukum dan di mata dunia, Yati telah tiada. Stevanus sedang menyiapkan pemakaman dengan peti mati kosong hari ini."
Mendengar itu, dadaku terasa sesak. Dia bahkan tidak menunggu sehari untuk menguburkanku. Dia terburu-buru ingin menghapus jejakku agar bisa segera bersanding dengan Maya.
Rasa sakit fisik yang kurasakan perlahan mulai tertutup oleh rasa benci yang membeku. Aku mencoba menyentuh perutku. Terasa datar. Kosong. Hampa. Sesuatu di dalam diriku ikut mati bersama janin itu. Yati yang lemah, Yati yang penuh cinta, Yati yang selalu mengalah... dia benar-benar sudah terkubur di bawah tangga rumah itu.
"Aku kehilangan segalanya, Aris," ucapku, air mata mengalir perlahan, namun kali ini tanpa suara isakan. "Hargaku, hartaku, bahkan anakku. Aku tidak punya apa-apa lagi."
Aris mendekat, wajahnya hanya beberapa senti dari wajahku. "Kamu salah. Kamu punya sesuatu yang lebih berharga dari uang atau status. Kamu punya kemarahan seorang ibu yang kehilangan anaknya. Dan di tanganku, kemarahan itu bisa menjadi senjata yang paling mematikan."
Dia mengeluarkan sebuah cermin kecil dan menyodorkannya ke depan wajahku. Aku tersentak melihat bayanganku sendiri. Kepalaku dibalut perban, wajahku pucat pasi seperti mayat, dan yang paling mengerikan adalah mataku. Tidak ada lagi binar kehidupan di sana. Hanya ada kegelapan yang dalam.
"Stevanus menciptakan monster ini," Aris berbisik. "Sekarang, biarkan monster ini menghancurkannya."
Selama seminggu berikutnya, aku menjalani perawatan intensif. Aris menyediakan segalanya dokter terbaik, makanan bergizi, dan keamanan ketat. Namun, yang paling sering dia berikan padaku adalah informasi. Dia memberiku tablet yang berisi semua data kejahatan Stevanus, foto-foto kemesraan suamiku dengan Maya di depan makam "kosong"-ku, dan bagaimana mereka mulai merencanakan pesta pertunangan mewah hanya dua minggu setelah kematianku.
Setiap foto yang kulihat adalah bahan bakar bagi api dendamku. Aku melihat mereka tertawa, seolah-olah kematianku adalah berita paling membahagiakan dalam hidup mereka.
"Aku ingin mereka merasakan apa yang kurasakan," kataku suatu malam pada Aris saat dia masuk ke ruanganku. "Aku ingin mereka kehilangan segalanya saat mereka merasa berada di puncak dunia."
Aris tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh arti. "Untuk itu, kamu tidak bisa kembali sebagai Yati. Kamu harus lahir kembali. Kamu butuh wajah baru, identitas baru, dan hati yang terbuat dari baja."
"Lakukan apa saja," jawabku tanpa ragu. "Hancurkan wajah ini, ubah namaku, hapus masa laluku. Selama aku bisa melihat Stevanus berlutut di kakiku dan memohon kematian, aku akan melakukannya."
Proses transformasi itu dimulai. Bukan hanya fisik lewat operasi plastik untuk menghilangkan bekas luka dan sedikit mengubah fitur wajahku agar tak dikenali, tapi juga transformasi mental. Aris melatihku cara berbicara, cara berjalan, cara memanipulasi emosi orang, dan yang terpenting: bagaimana menyembunyikan kebencian di balik senyuman yang menawan.
Tiga bulan berlalu.
Aku berdiri di depan jendela besar di apartemen rahasia Aris yang menghadap langsung ke gedung perkantoran milik Stevanus. Tubuhku kini lebih berisi dan tegap. Rambutku yang dulu panjang dan kusam kini dipotong pendek dengan gaya chic yang elegan dan dicat warna cokelat madu.
Wajah di cermin bukan lagi Yati. Dia adalah wanita asing yang cantik, dingin, dan misterius.
"Sudah siap, 'Widya'?" tanya Aris yang berdiri di ambang pintu.
Aku memutar tubuhku, mengenakan kacamata hitam mahal. Senyumku kini terlihat sempurna, namun mataku tetap sedingin es.
"Widya tidak hanya siap, Aris," jawabku dengan suara yang lebih dalam dan penuh percaya diri. "Dia lapar. Dan Stevanus adalah hidangan utamanya."
Pagi itu, sebuah mobil mewah berhenti di depan lobi kantor Stevanus. Seorang wanita dengan gaun merah menyala keluar, membuat semua mata tertuju padanya. Di ruang kerjanya, Stevanus sedang tertawa bersama Maya, tidak menyadari bahwa wanita yang ia anggap telah membusuk di tanah, kini sedang melangkah masuk ke dalam lift menuju ruangannya dengan membawa undangan kehancuran.
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰
Like Setiap Bab Kalau selesai 👍
Rate Bintang 5 🌟
Vote setiap hari Senin 🙏
Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹
Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️
Makaseh banya samua 🙇🙏😇
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
sakit jiwa nih lakik...