NovelToon NovelToon
SIAN TARUTUNG TU MEDAN : LUKA DIBALIK JABU

SIAN TARUTUNG TU MEDAN : LUKA DIBALIK JABU

Status: tamat
Genre:Keluarga / Tamat
Popularitas:498
Nilai: 5
Nama Author: Raymond Siahaan

"Di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang merayap, aku tidak hanya mengikat janji pada Mama, tapi juga pada takdir yang sedang mengujiku."

Bagi Raymond, pindah dari Gang Serayu ke Perumnas Mandala adalah sebuah harapan akan kemerdekaan. Di sana, ia melihat Bapaknya—seorang PNS yang resik—berusaha membangun dunia baru melalui kandang-kandang ayam yang ditandai dengan cat di kakinya. Sebuah simbol kepemilikan dan harga diri yang coba dijaga di tengah tanah perantauan.

Namun, udara Mandala yang asri pelan-pelan berubah menjadi pekat oleh asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel. Bapak yang dulu dipuja sebagai pahlawan, kini berubah menjadi "Si Teleng"—seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya: gaji bulanan, perabotan rumah, hingga keselamatan keluarganya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raymond Siahaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Akar yang Tumbuh, Langkah yang Menguat

Tangisan kecil itu masih terngiang di telingaku bahkan setelah kami kembali ke rumah. Bayi perempuan kami tertidur di boks sederhana yang kami letakkan di samping tempat tidur. Wajahnya tenang, napasnya halus, seperti embun yang belum tersentuh matahari.

Kami menamainya Naomi—sebuah nama yang berarti kelembutan dan kenyamanan. Maria yang memilihnya. Katanya, ia ingin anak kami tumbuh menjadi perempuan yang kuat, tetapi tetap hangat.

Hari-hari pertama sebagai orang tua terasa seperti memasuki dunia baru yang tidak pernah benar-benar bisa dipelajari sebelumnya. Buku-buku parenting yang sempat kami baca hanya menjadi teori. Kenyataannya jauh lebih melelahkan—dan jauh lebih indah.

Aku belajar mengganti popok dengan tangan gemetar. Belajar menggendong dengan posisi yang benar. Belajar bangun tengah malam tanpa mengeluh, meski keesokan harinya harus tetap bekerja.

Suatu malam, ketika Naomi menangis tanpa henti, Maria terlihat hampir putus asa.

“Aku takut tidak bisa jadi ibu yang baik,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Aku memeluknya dari belakang, sementara Naomi akhirnya tertidur di dadaku.

“Kita sama-sama belajar,” jawabku pelan. “Tidak ada orang tua yang langsung ahli.”

Maria tersenyum lemah. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar memahami makna menjadi tim dalam arti paling nyata.

Biaya hidup bertambah. Susu, popok, kebutuhan kesehatan—semuanya membuat kami harus lebih cermat mengatur keuangan. Gaji dari kenaikan jabatanku memang membantu, tetapi tetap saja ada tekanan.

Aku mulai mengambil beberapa proyek tambahan di kantor. Pulang lebih malam. Terkadang Naomi sudah tertidur saat aku tiba.

Suatu malam, Maria menungguku di ruang tamu.

“Kamu capek,” katanya.

“Tidak apa-apa,” jawabku cepat.

Ia menatapku dengan lembut, tetapi tegas. “Aku tahu kamu ingin jadi ayah yang bertanggung jawab. Tapi Naomi juga butuh kehadiranmu, bukan hanya penghasilanmu.”

Kalimat itu menusuk, bukan karena menyakitkan, tetapi karena benar.

Sejak saat itu, aku mulai menata ulang prioritas. Proyek tambahan tetap kuambil, tetapi tidak sebanyak sebelumnya. Aku belajar pulang tepat waktu. Belajar mematikan ponsel kantor saat akhir pekan.

Setiap Sabtu pagi, aku membawa Naomi berjalan-jalan kecil di kompleks menggunakan motor bekasku—tentu dengan hati-hati. Ia duduk di depan, dipeluk erat di antara tanganku dan setang. Angin menyentuh wajah kecilnya, dan ia tertawa riang.

Motor tua itu kembali menjadi saksi perjalanan hidupku—kali ini dengan beban yang lebih manis.

Waktu berjalan cepat. Naomi mulai merangkak, lalu berjalan dengan langkah goyah yang membuat kami bertepuk tangan setiap kali ia berhasil menyeimbangkan diri.

Mama sering datang membantu. Ia terlihat jauh lebih lembut sejak menjadi opung. Ketakutan-ketakutan yang dulu ia simpan seolah menguap, digantikan oleh kebahagiaan sederhana melihat cucunya tumbuh.

Suatu sore, mama duduk di teras bersamaku.

“Kamu sudah jauh berubah,” katanya pelan.

“Apa dulu aku seburuk itu, Ma?” candaku.

Mama tertawa kecil. “Bukan buruk. Hanya keras kepala.”

Aku mengangguk, mengakui.

“Sekarang mama melihat kamu lebih sabar. Lebih tenang.”

Aku memandang Naomi yang sedang bermain di ruang tamu bersama Maria.

“Mungkin karena aku pernah hampir kehilangan arah,” jawabku. “Dan aku tidak ingin mengulanginya.”

Mama menepuk bahuku. Tidak ada lagi jarak seperti dulu. Hubungan kami kini dipenuhi saling pengertian.

Ketika Naomi berusia dua tahun, Maria akhirnya menyelesaikan S2-nya. Hari wisudanya menjadi momen yang sangat membanggakan bagiku.

Ia berdiri di panggung dengan toga, senyum lebar menghiasi wajahnya. Naomi duduk di pangkuanku, bertepuk tangan kecil tanpa benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi.

“Kita berhasil,” bisik Maria setelah acara selesai.

“Kita memang selalu berhasil,” jawabku.

Keberhasilan itu bukan hanya soal gelar. Itu tentang komitmen untuk saling mendukung.

Beberapa bulan setelahnya, Maria mendapat tawaran pekerjaan baru dengan posisi yang lebih baik. Artinya, ia harus bekerja lebih serius dan mungkin pulang sedikit lebih malam.

Kami kembali berdiskusi panjang.

“Kalau kamu ambil ini, aku siap lebih banyak di rumah,” kataku.

“Kamu yakin?” tanyanya.

“Dulu kamu mendukungku. Sekarang giliranku.”

Dan begitulah kami berjalan—saling bergantian memikul beban tanpa merasa dirugikan.

Namun hidup tidak pernah sepenuhnya mulus.

Suatu hari, perusahaan tempatku bekerja mengalami restrukturisasi besar. Beberapa divisi digabungkan. Posisi-posisi dipangkas.

Namaku termasuk dalam daftar yang terdampak.

Aku duduk lama di ruang HR dengan pikiran kosong. Kata-kata “efisiensi” dan “kebijakan perusahaan” terdengar seperti gema yang jauh.

Saat pulang, aku berhenti sejenak sebelum masuk rumah. Motor bekasku terparkir seperti biasa. Ia tampak tak berubah, meski duniaku baru saja terguncang.

Maria menyadari sesuatu dari wajahku.

“Ada apa?” tanyanya pelan.

Aku menarik napas panjang. “Aku harus cari pekerjaan baru.”

Ia tidak panik. Tidak marah. Tidak menyalahkan.

Ia hanya mendekat dan menggenggam tanganku.

“Kita hadapi bersama.”

Malam itu kami duduk menghitung ulang tabungan. Tidak banyak, tetapi cukup untuk beberapa bulan ke depan. Kami sepakat mengurangi pengeluaran yang tidak perlu.

Aku mulai mengirim lamaran ke berbagai tempat. Mengikuti wawancara. Beberapa kali ditolak.

Ada hari-hari ketika rasa percaya diriku menurun. Aku merasa gagal sebagai kepala keluarga.

Suatu malam, Naomi mendatangiku dengan langkah kecilnya.

“Papa sedih?” tanyanya polos.

Aku tersenyum dan mengangkatnya ke pangkuan.

“Tidak. Papa cuma lagi belajar.”

Maria menatapku dari kejauhan dengan mata penuh keyakinan. Ia tidak pernah meragukanku, bahkan ketika aku sendiri meragukan diriku.

Tiga bulan kemudian, sebuah perusahaan rintisan menghubungiku. Posisi yang ditawarkan tidak setinggi jabatan lamaku, tetapi memiliki potensi berkembang.

Aku menerima tantangan itu.

Lingkungan kerja baru terasa berbeda—lebih dinamis, lebih menuntut kreativitas. Aku harus belajar lagi dari awal, beradaptasi dengan sistem yang lebih modern.

Namun perlahan, aku menemukan kembali semangat yang sempat hilang.

Setahun kemudian, perusahaan itu berkembang pesat. Kerjaku diakui. Aku kembali dipercaya memimpin tim kecil.

Suatu malam, saat makan malam bersama, aku berkata pada Maria,

“Kalau dulu aku tidak kehilangan pekerjaan itu, mungkin aku tidak akan sampai di sini.”

Maria tersenyum. “Kadang kita perlu didorong keluar dari zona nyaman.”

Aku teringat masa lalu—tentang cinta yang harus kulepaskan agar bisa menemukan yang lebih tepat. Tentang restu yang datang setelah kedewasaan. Tentang kehilangan yang ternyata membuka pintu baru.

Naomi kini berusia lima tahun. Ia mulai bertanya banyak hal.

“Papa, kenapa kita harus berdoa?”

“Papa, kenapa orang bisa berbeda-beda?”

Aku menjawab dengan sederhana, mencoba menanamkan nilai tanpa memaksakan. Aku tidak ingin menjadi ayah yang hanya memberi aturan tanpa penjelasan.

Suatu malam sebelum tidur, Naomi berkata,

“Papa dan Mama saling sayang terus ya?”

Aku dan Maria saling pandang, lalu tertawa kecil.

“Iya,” jawabku. “Tapi kalau Papa dan Mama beda pendapat, itu bukan berarti tidak sayang.”

Naomi mengangguk, seolah memahami.

Beberapa tahun kemudian, kami akhirnya mengganti motor bekasku dengan yang baru. Keputusan itu terasa simbolis.

Saat pembeli datang mengambil motor lama itu, aku menatapnya lebih lama dari yang seharusnya.

“Terima kasih,” gumamku dalam hati.

Ia telah menemaniku dari masa lajang yang penuh gejolak hingga menjadi ayah dari dua anak—karena ya, beberapa waktu lalu Maria melahirkan anak kedua kami, seorang laki-laki yang kami beri nama Daniel.

Motor baru memang lebih nyaman. Lebih cepat. Lebih modern.

Tapi kenangan pada yang lama tetap hidup.

Suatu sore, aku duduk bersama Maria di teras—tempat yang sama seperti bertahun-tahun lalu.

Anak-anak bermain di halaman. Tawa mereka memenuhi udara.

“Kamu pernah menyesal?” tanya Maria tiba-tiba.

“Menyesal apa?”

“Menyesal pernah melalui semua yang berat itu.”

Aku menggeleng pelan.

“Kalau tidak ada perjalanan itu, aku mungkin tidak akan jadi lelaki seperti sekarang.”

Maria menggenggam tanganku.

“Kita sudah berjalan jauh.”

Aku tersenyum.

“Dan perjalanan belum selesai.”

Langit sore perlahan berubah warna. Angin berhembus lembut, membawa aroma tanah dan suara anak-anak yang berlari.

Aku menatap keluargaku—istriku yang setia, anak-anakku yang sehat, mama yang kini lebih sering tertawa daripada khawatir.

Hidup memang tidak pernah sempurna.

Ada luka.

Ada kehilangan.

Ada ketakutan.

Namun di antara semua itu, ada pertumbuhan.

Aku pernah berpikir kebahagiaan adalah tujuan akhir. Kini aku tahu, kebahagiaan adalah proses yang terus dibangun setiap hari—melalui pilihan kecil, pengorbanan sederhana, dan keberanian untuk tetap melangkah.

Restu yang dulu kucari di ujung perjalanan ternyata tidak pernah benar-benar jauh.

Ia ada dalam doa seorang ibu.

Dalam kesabaran seorang istri.

Dalam tawa anak-anak.

Dalam keberanian untuk bangkit setelah jatuh.

Dan kini, ketika aku menatap jalan panjang di depan, aku tidak lagi bertanya apakah aku siap.

Karena hidup tidak menunggu kesiapan sempurna.

Ia hanya meminta kita untuk berjalan.

Dan kali ini, aku melangkah bukan dengan ragu.

Melainkan dengan keyakinan bahwa setiap langkah—seberat apa pun—akan selalu membentuk akar yang membuatku semakin kuat.

1
Aisyah Suyuti
nenarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!