NovelToon NovelToon
Warisan Pedang Naga

Warisan Pedang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Reijii

Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.

Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16: Perjalanan Ke Klan Naga Merah

Sinar matahari pagi menyinari gerbang utama Kota Yunlong saat rombongan kecil siap berangkat. Chen Feng berdiri di depan lima prajurit terpilih, bersama dengan Ye Linglong dan Ye Chen. Mereka membawa persediaan untuk perjalanan ke wilayah barat, tempat klan pemburu naga terbesar kedua di Tanah Seribu Pegunungan—Klan Naga Merah—berada.

“Klan Naga Merah selalu menjaga jarak dari konflik luar,” jelas Ye Tianhong sebelum mereka berangkat. “Mereka tinggal di lereng Gunung Api Merah, terlindungi oleh medan yang sulit dijangkau dan kekuatan api yang mereka kuasai. Jika kita bisa mendapatkan dukungan mereka, peluang kita untuk menghadapi ancaman yang akan datang akan jauh lebih besar.”

Feng mengangguk dengan tegas, Pedang Naga yang kini disimpan dalam sarung kayu khusus tergantung di pundaknya. “Kita tidak akan menggunakan kekerasan jika tidak perlu,” katanya. “Kita datang dengan tujuan untuk menyatukan, bukan untuk memaksa.”

Perjalanan ke wilayah barat memakan waktu tiga hari penuh. Jalannya semakin terjal dan berbahaya saat mereka mendekati Gunung Api Merah. Udara menjadi lebih panas, dan asap tipis dari kawah aktif bisa dilihat menjulang ke langit. Di sepanjang jalan, rerumputan kering dan batu-batu yang terbakar menunjukkan kekuatan alam yang dahsyat di wilayah ini.

“Kita sudah memasuki wilayah Klan Naga Merah,” bisik Ye Chen sambil mengamati sekeliling dengan cermat. “Jangan menyentuh apa pun yang tidak perlu—mereka telah menanam jebakan sihir di setiap sudut wilayah mereka.”

Tiba-tiba, tembakan batu yang menyala api muncul dari balik semak-semak, menyilang udara dengan cepat. Feng segera mengeluarkan Pedang Naga, dan bidang energi keemasan muncul untuk membendung serangan itu. Batu-batu itu melemparkan percikan api saat mengenai bidang energi, tapi tidak mampu melaluinya.

“Siapa yang berani memasuki wilayah Klan Naga Merah tanpa izin?” suara keras terdengar dari atas tebing tinggi. Seorang wanita dengan rambut merah seperti nyala api dan mata berwarna emas muncul dengan sikap tegas, bersama dengan sepuluh prajurit berpakaian merah dengan senjata yang menyala api.

“Ia adalah Li Mei, pemimpin muda Klan Naga Merah,” bisik Linglong kepada Feng. “Mereka bilang dia adalah pengendali api terkuat yang pernah ada di klan mereka.”

Feng melangkah ke depan dengan tangannya terangkat sebagai tanda perdamaian. “Kami datang dengan damai, Puan Li Mei. Saya adalah Chen Feng, keturunan Keluarga Chen. Kami ingin berbicara dengan pemimpin klan Anda tentang aliansi untuk melindungi Tanah Seribu Pegunungan.”

Li Mei hanya menyeringai dan mengangkat tangan kanannya. Api merah menyala di telapak tangannya. “Keluarga Chen dan Keluarga Ye selalu mengklaim bahwa mereka adalah pelindung tanah ini. Tapi apa yang telah kamu lakukan selain membawa kehancuran dan konflik?”

Tanpa berlama-lama, dia menyerang dengan bola api besar yang melesat ke arah Feng. Namun kali ini, Feng tidak membendung dengan kekuatan—dia hanya menghindari dengan tenang, lalu mengangkat Pedang Naga yang mulai menyala dengan cahaya keemasan yang lembut.

“Kekuatanmu memang hebat,” ujar Feng dengan suara yang tenang. “Namun kamu menggunakan api hanya untuk menghancurkan. Bukankah api juga bisa memberikan kehangatan dan kehidupan?”

Dia menggerakkan Pedang Naga dengan gerakan yang lambat dan anggun. Energi keemasan dari pedangnya menyatu dengan udara sekitarnya, dan dari tanah yang kering mulai tumbuh tunas hijau yang kecil. Api yang menyala di sekitar mereka tidak membakar tunas itu—justru memberikan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh.

Li Mei terkejut melihat pemandangan itu. Dia telah menghabiskan hidupnya belajar mengendalikan kekuatan api untuk menghancurkan musuh, tapi tidak pernah menyadari bahwa kekuatan yang sama bisa memberikan kehidupan.

“Bagaimana kamu bisa melakukan itu?” bisiknya dengan suara tidak percaya.

“Karena setiap kekuatan memiliki dua sisi,” jawab Feng dengan senyum lembut. “Kita hanya perlu memilih sisi mana yang akan kita gunakan.”

Mereka dibawa ke pemukiman Klan Naga Merah yang terletak di lereng tengah Gunung Api Merah. Pemukiman itu dibangun dengan cerdas di antara celah batu dan gua, dengan bangunan yang terbuat dari batu bata yang tahan api dan kayu yang diperlakukan khusus. Di tengah pemukiman berdiri sebuah kuil besar dengan atap berbentuk ekor naga yang menyala dengan nyala api yang terkendali.

Di dalam kuil, pemimpin klan yang lebih tua bernama Li Guang berdiri dengan sikap tegas. Wajahnya penuh dengan kedalaman pengalaman, dan matanya menyala dengan api yang tenang.

“Kita telah mendengar tentangmu, Chen Feng,” ujarnya dengan suara yang dalam dan jelas. “Kamu telah mengalahkan Sekte Ular Hitam dan menunjukkan bahwa kekuatan bisa digunakan untuk kebaikan. Namun mengapa kita harus bergabung denganmu? Klan kita telah hidup damai selama berabad-abad dengan menjaga jarak dari konflik luar.”

“Ancaman yang akan datang tidak akan memandang siapa kita atau dari mana kita berasal,” jawab Feng dengan tegas. “Sekte Ular Hitam telah bergabung dengan kekuatan yang lebih besar—kekuatan yang tidak hanya akan menghancurkan klan kita, tapi juga semua kehidupan di Tanah Seribu Pegunungan.”

Dia mengambil Pedang Naga dan memaparkannya dengan hati-hati. Cahaya keemasan dari bilahnya menyala dengan terang, dan gambar-gambar tentang ancaman yang akan datang mulai muncul di permukaan bilah itu—gambar kehancuran yang melanda seluruh tanah, dan sosok besar yang menyerupai naga hitam yang mengerikan.

Pemimpin klan dan seluruh anggota Klan Naga Merah yang hadir terkejut melihatnya. Mereka bisa merasakan kekuatan yang luar biasa dari pedang itu, serta kebenaran dari gambar-gambar yang muncul.

“Kita tidak bisa terus bersembunyi,” ujar Li Mei dengan suara yang jelas. Dia telah berdiri di belakang Feng, wajahnya penuh dengan tekad baru. “Kekuatan yang kita miliki diberikan bukan hanya untuk melindungi diri sendiri, tapi juga untuk melindungi yang lemah.”

Setelah beberapa saat berpikir, Li Guang mengangguk dengan keputusan yang tegas. “Klan Naga Merah akan bergabung denganmu. Kita akan memberikan dukungan penuh untuk membangun aliansi yang kuat. Namun ada satu syarat—kita harus mengajarkan kepada semua anggota aliansi bahwa kekuatan harus digunakan dengan hati yang benar.”

Malam itu, perayaan besar diadakan di pemukiman Klan Naga Merah. Api unggun menyala tinggi di tengah pemukiman, dan musik serta tarian khas klan mereka mengisi udara. Feng berdiri di samping Li Mei dan Linglong, menyaksikan kegembiraan yang ada di sekitar mereka.

“Kau telah mengubah pandangan kita tentang kekuatan,” ujar Li Mei kepada Feng dengan suara yang lembut. “Kita selalu berpikir bahwa kekuatan harus digunakan untuk menunjukkan dominasi, tapi kau telah menunjukkan bahwa kekuatan sejati adalah untuk menyatukan dan melindungi.”

Feng menyanggupi dengan senyum. “Kita semua memiliki kekuatan dalam diri kita yang bisa digunakan untuk kebaikan. Hanya perlu seseorang untuk menunjukkan jalan yang benar.”

Di kejauhan, Li Guang berdiri bersama dengan Ye Chen, menyaksikan pemandangan itu. “Mungkin masa depan Tanah Seribu Pegunungan tidak sesuram yang kita khawatirkan,” ujarnya dengan suara yang penuh harapan. “Seperti api yang bisa menghancurkan atau memberikan kehidupan, masa depan kita ada di tangan kita semua.”

Keesokan paginya, sebagian besar prajurit Klan Naga Merah siap berangkat bersama Feng dan rombongannya ke Kota Yunlong. Mereka membawa persediaan, senjata, dan pengetahuan tentang kekuatan api yang bisa digunakan untuk melindungi dan membangun. Jalannya panjang masih menunggu mereka, namun kini mereka tidak lagi sendirian—mereka memiliki sekutu yang kuat dan harapan baru yang menyala seperti api yang tidak pernah padam.

 

1
andi
luar biasa
sambo
👌👌👌
lukman
krren
ciko
luar biasa
bara
mantap
Nanik S
Lanjut terus
Nanik S
Untungnya Ye Fang masih selamat
adul
kerrn
adul
lanjut
zaka
kerrn
dfos
mantap
fajar
👍👍👍
fajar
✊️✊️✊️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!