NovelToon NovelToon
Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Duda / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23: Kelahiran Sang Pelangi

Jakarta memasuki bulan Maret. Musim hujan mulai bergeser, digantikan pancaroba yang tak menentu. Kadang panas menyengat, kadang hujan turun tiba-tiba. Tapi di dalam apartemen The Rosewood, suasana hangat dan penuh harap.

Usia kehamilan Aira memasuki minggu ke-39. Perutnya besar, sesekali janin menendang aktif. Dokter sudah bilang, kapan saja bisa lahir.

Aira duduk di ruang tamu, ditemani Ibu Rosmini. Raka sedang di kantor, tapi sudah siap siaga setiap saat. Arka di sekolah, tapi setiap pulang selalu bertanya, "Mama, adek udah lahir belum?"

Ibu Rosmini mengusap kaki Aira yang sedikit bengkak.

"Neng, sabar ya. Sebentar lagi."

Aira tersenyum. "Iya, Bu. Saya sabar."

Tiba-tiba Aira merasakan sesuatu. Perutnya mengencang. Lalu rasa sakit menjalar dari punggung ke perut bawah.

"Bu... Bu... kayaknya..."

Ibu Rosmini langsung siaga. "Kontraksi, Neng?"

Aira mengangguk, meringis kesakitan. "Iya, Bu. Kayaknya ini waktunya."

Ibu Rosmini segera mengambil ponsel. Telepon Raka.

"Raka, cepat pulang! Aira mau lahiran!"

Raka yang sedang rapat, langsung bangkit. "Aku segera ke rumah! Bawa Aira ke rumah sakit! Aku ke sana langsung!"

Ia berlari keluar ruangan, meninggalkan rapat yang bengong.

Ibu Rosmini membantu Aira berdiri. Tas yang sudah disiapkan sejak sebulan lalu, langsung diambil. Taksi dipanggil. Dalam 10 menit, mereka sudah dalam perjalanan ke rumah sakit.

Aira meringis di kursi belakang. Tangannya memegang perut.

"Bu... sakit sekali..."

Ibu Rosmini menggenggam tangannya. "Sabar, Neng. Sebentar lagi. Neng kuat."

Di rumah sakit, tim dokter sudah siap. Aira langsung dibawa ke ruang bersalin. Raka tiba 5 menit kemudian, berlari dengan napas terengah.

"Di mana istri saya?" tanyanya pada suster.

"Di ruang bersalin, Pak. Silakan tunggu."

Raka duduk di kursi tunggu. Tangannya gemetar. Ibu Rosmini duduk di sampingnya.

"Tenang, Nak. Aira kuat."

Raka menghela nafas. "Aku takut, Bu. Takut terjadi apa-apa."

"Doakan saja, Nak. Tuhan pasti jaga."

Dari ruang bersalin, terdengar teriakan Aira. Raka mengepalkan tangan. Air matanya jatuh.

"Kuat, Sayang... kuat..."

---

Satu jam berlalu. Dua jam. Masih belum ada kabar.

Arka dijemput Bi Inah dari sekolah dan langsung dibawa ke rumah sakit. Ia duduk di samping Raka, memegang tangan bapaknya.

"Bapak, Mama kenapa lama?"

"Mama lagi berjuang, Nak. Mau keluarin adek."

Arka mengangguk. "Mama hebat ya?"

Raka tersenyum meski hatinya cemas. "Iya, Nak. Mama hebat."

Tiba-tiba pintu ruang bersalin terbuka. Seorang suster keluar dengan senyum lebar.

"Selamat, Pak. Ibu Aira melahirkan bayi perempuan dengan selamat. Berat 3,2 kg, panjang 49 cm. Bayi dan ibu sehat."

Raka menangis. Ia memeluk Ibu Rosmini, lalu memeluk Arka.

"Adek lahir! Adek lahir!" teriak Arka.

"Boleh saya lihat?" tanya Raka.

"Sebentar, Pak. Bayi masih dibersihkan. Ibu Aira juga butuh istirahat sebentar. Nanti dipanggil."

Raka mengangguk. Ia duduk lagi, tapi kali dengan senyum bahagia.

---

30 menit kemudian, mereka dipersilakan masuk. Aira terbaring di tempat tidur, wajahnya pucat tapi tersenyum. Di sampingnya, sebuah boks kecil berisi bayi mungil terbungkus selimut putih.

Raka mendekat. Mencium kening Aira.

"Kamu hebat, Sayang. Terima kasih."

Aira tersenyum lemah. "Lihat anakmu."

Raka menunduk. Bayi itu kecil, merah, dengan rambut tipis. Matanya terpejam, tidur pulas.

"Dia cantik," bisik Raka. "Seperti ibunya."

Arka berjinjit, mencoba melihat. "Bapak, angkat Arka! Arka mau lihat adek!"

Raka menggendong Arka. Arka menatap adeknya dengan takjub.

"Dek, ini Arka, kakak kamu. Nanti Arka ajarin main mobil-mobilan ya."

Semua tertawa. Ibu Rosmini menangis haru.

"Ini cucu saya," bisiknya. "Cucu saya."

Aira meraih tangan ibu Rosmini. "Ibu, ini cucu Ibu. Namanya... kami ingin Ibu yang kasih nama."

Ibu Rosmini terkejut. "Neng, betulan?"

Raka mengangguk. "Iya, Bu. Ibu yang beri nama."

Ibu Rosmini berpikir. Matanya berkaca-kaca. Lalu berkata, "Kalau begitu... beri nama Pelangi."

"Pelangi?" tanya Aira.

"Iya. Karena dia lahir setelah badai. Setelah semua ujian yang kalian lalui. Pelangi simbol harapan, simbol keindahan setelah hujan."

Aira dan Raka saling pandang. Tersenyum.

"Nama yang indah, Bu. Pelangi Aira Pramana."

Mereka semua menatap bayi mungil itu. Pelangi. Anak ketiga dalam keluarga ini. Setelah badai panjang, pelangi akhirnya datang.

---

Tiga hari kemudian, mereka pulang ke rumah. Arka sibuk menunjukkan kamar bayi yang sudah disiapkan.

"Ini tempat tidur adek! Ini mainan adek! Ini baju adek!"

Aira tersenyum. "Ark, sayang adek ya?"

"Sayang banget! Arka jagain adek!"

Raka menggendong Pelangi. Bayi itu tidur pulas di dadanya.

"Aira, kita berhasil."

Aira mengangguk. "Iya. Kita berhasil."

Malam itu, setelah semua tidur, Aira duduk di balkon. Memandangi langit Jakarta yang berkelap-kelip. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Lita.

"Selamat, Aira. Aku dengar kabar gembira. Semoga bayinya sehat dan jadi anak saleh."

Aira tersenyum. Membalas:

"Terima kasih, Lita. Semoga kau baik-baik saja di sana."

Lita membalas:

"Aku baik. Aku sedang belajar jadi orang baik. Mungkin suatu saat kita bisa bertemu lagi. Bukan sebagai musuh, tapi sebagai..."

Aira menunggu. Pesan berikutnya masuk.

"...sebagai saudara."

Aira terharu. Ia mengetik:

"Aku tunggu hari itu, Lita."

Percakapan selesai. Aira memandangi langit. Ada bintang di sana. Berkelip lembut.

Mungkin itu pertanda. Pertanda bahwa masa depan masih panjang, tapi akan indah.

---

Di kamar, Raka terbangun. Melihat Aira tak di sampingnya, ia keluar. Menemukannya di balkon.

"Tak tidur, Sayang?"

Aira menoleh. Tersenyum.

"Lihat bintang, Raka. Cantik."

Raka mendekat. Memeluknya dari belakang.

"Kita punya bintang kecil di dalam sana. Pelangi."

Aira mengangguk. "Iya. Pelangi kita."

Mereka berpelukan. Di bawah langit Jakarta yang luas.

Keluarga kecil itu utuh. Setelah semua badai, mereka menemukan pelabuhan. Dan di pelabuhan itu, mereka akan berlabuh selamanya.

---

1
falea sezi
suka deh endingnya g ada cerita lagi kah Thor karena bagus q ksih hadiah
Q. Zlatan Ibrahim: makasihh...udah tamat..membuat novel drama romansa lebih sulit dibanding yg lain.
total 1 replies
falea sezi
lanjut klo aaja raka tergoda vanya berarti dia goblokkk buang berlian demi batu kali
Amy
ayo beraksi aira, laki-laki kalau cuma di ingatkan tdak akan berhasil, mreka harus liat bukti bahwa merek itu kadang cuma di manfaatkan
ayooo sebelum dia tmbah nyaman dgn ulat bulu itu
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Q. Zlatan Ibrahim: terimakasih tapi yang ini sudah tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!