Berawal dari utang panci 1.500 koin emas, Feng—murid "sampah" Level Nol tanpa sihir—justru memutarbalikkan tatanan tiga alam semesta!
Bersenjatakan Sistem Dewa Asal Mula yang menukar kalori makanan menjadi kekuatan fisik pembelah surga, serta ditemani Buntel, naga buncit yang menjadikan pedang pusaka dan zirah dewa sebagai camilan renyah, Feng memulai perjalanan kultivasi paling brutal.
Dari meratakan Balai Penegak Hukum sekte, mengacaukan turnamen elit demi akses kantin gratis, merampok gudang senjata di Alam Dewa, hingga akhirnya meninju Sang Pencipta Kosmos di ujung semesta. Semuanya membuktikan satu hukum mutlak: Sihir paling sakti sekalipun akan hancur lebur di hadapan tamparan sandal jepit orang yang sedang kelaparan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NAGA BUNCIT MEMAKAN PEDANG PUSAKA LELUHUR
"I-itu... Pedang Angin Ribut!" jerit salah satu Tetua elit sambil menunjuk dengan jari gemetar. Wajah keriputnya seketika pucat pasi seperti mayat. "Itu hadiah utama turnamen besok!"
Long Chen, sang murid jenius, melebarkan matanya. Wajahnya yang biasa dingin dan sombong kini berubah merah padam. Aura es meledak dari tubuhnya, membuat suhu ruangan mendadak turun drastis.
"Sampah! Apa yang peliharaanmu lakukan?!" bentak Long Chen sambil menghunuskan pedang es kebanggaannya. "Muntahkan pedang itu sekarang, atau aku akan membelah perut naga jelek itu!"
Namun, Buntel sama sekali tidak peduli. Naga perak yang perutnya makin buncit itu justru mendongak ke atas, lalu menelan sisa gagang pedang biru tersebut dalam satu tegukan besar.
*GULP.*
Ruangan pusaka lantai dua mendadak sunyi. Semua orang menahan napas.
"Kyuuk..." Buntel memiringkan kepalanya. Wajahnya terlihat aneh.
Tiba-tiba, perut Buntel berbunyi sangat keras.
*HIK!*
Buntel cegukan. Namun, yang keluar dari mulutnya bukanlah udara biasa. Sebuah badai tornado kecil berwarna biru melesat keluar, menghantam langit-langit gudang hingga bebatuan runtuh berjatuhan.
"Waaah!" Dua orang Tetua terpental ke dinding akibat dorongan angin yang sangat kuat.
"Sistem! Apa yang terjadi?!" seru Feng sambil menutupi wajahnya dari debu dan serpihan batu.
SISTEM MUNCUL DENGAN NOTIFIKASI KUNING BERKEDIP: PERINGATAN. TARGET MENELAN PEDANG ANGIN RIBUT. ENERGI BADAI DI DALAM PEDANG TIDAK BISA DICERNA DENGAN CEPAT. SETIAP CEGUKAN AKAN MELEPASKAN ANGIN TOPAN.
RISIKO KEHANCURAN GUDANG: 90%.
BIAYA KALORI UNTUK MENEKAN BADAI SECARA PAKSA: 15 JAM WAKTU HIDUP.
"Lima belas jam cuma buat menahan angin ngoroknya?! Rugi bandar!"
Feng langsung berlari ke arah Buntel. Dia melompat dan mendarat tepat di punggung naga itu. Kedua lengan Feng langsung melingkar erat di perut buncit Buntel.
"Buntel! Muntahkan! Jangan ditelan semua, bahaya!" teriak Feng sambil menekan perut naga itu sekuat tenaga.
*HIK!*
Satu tornado lagi melesat dari mulut Buntel. Kali ini anginnya menyambar rak senjata di sebelah kiri, menerbangkan puluhan perisai perak ke segala arah layaknya piring terbang.
"Awas kepala!" teriak Feng.
Long Chen menangkis perisai yang terbang ke arahnya dengan pedang esnya. Kesabarannya sudah benar-benar habis.
"Minggir, Feng! Biar aku yang membelah perutnya!" Long Chen melesat maju. Pedang esnya memancarkan cahaya biru terang, mengincar leher Buntel. "Jurus Tebasan Es Membeku!"
Feng yang sedang memeluk perut Buntel tidak bisa menghindar cepat. Tapi sebelum dia sempat bereaksi, Buntel menoleh. Mata perak naga itu menatap tajam ke arah pedang Long Chen dengan ekspresi lapar yang sangat familiar.
Tanpa rasa takut, Buntel memanjangkan lehernya dan menyambut tebasan mematikan itu dengan mulut terbuka lebar.
*KLAK!*
Gigi-gigi tajam Buntel menggigit ujung pedang es Long Chen dengan sangat presisi, menghentikan laju pedang itu seketika.
"Apa?!" Long Chen terbelalak. Dia berusaha menarik gagang pedangnya dengan sekuat tenaga, tapi gigitan naga itu terlalu kuat seperti jepitan baja.
Buntel mengunyah pelan.
*KRAAAK.*
Suara retakan terdengar sangat jelas di tengah kekacauan ruangan. Sepertiga ujung pedang pusaka Long Chen retak dan hancur di dalam mulut Buntel, ditelan layaknya es batu.
Long Chen mematung. Matanya kosong menatap pedangnya yang kini buntung dan tidak lagi memancarkan hawa dingin. "P-pedangku... Pedang pusaka turun-temurun keluargaku..."
"Mas Long Chen, sudah saya bilang, jangan pamer barang mengkilap di depan Buntel!" Feng menggelengkan kepalanya pasrah. "Dia lagi masa pertumbuhan, suka gigit-gigit sembarangan. Simpan saja sisanya buat kenang-kenangan."
"AKU AKAN MEMBUNUHMUUUU!" Long Chen meraung histeris, nyaris kehilangan akal sehatnya. Dia membuang sisa pedangnya ke lantai dan bersiap menyerang Feng dengan tangan kosong.
Namun, sebelum tinju Long Chen mengenai wajah Feng, sebuah tekanan gravitasi yang luar biasa berat mendadak menekan seluruh ruangan. Langit-langit yang sudah retak terasa makin mau rubuh. Semua Tetua elit langsung jatuh berlutut sambil memegangi dada mereka, berkeringat dingin menahan tekanan.
Suara yang sangat dalam dan mengancam bergema langsung di kepala Feng.
*"FENG!"*
Itu suara Patriark.
*"Jika kau tidak mengeluarkan Pedang Angin Ribut itu dalam tiga detik, aku bersumpah demi langit... aku benar-benar akan mencincang kalian berdua jadi sate babi dan membuangnya ke jurang!"*
Suara itu sangat dingin. Tidak ada keraguan sedikit pun. Patriark sedang tidak bercanda. Jika benda itu tidak keluar, hidup Feng akan tamat hari ini juga.
Feng menelan ludah kasar. Bulu kuduknya berdiri semua. "Sistem! Alirkan semua tenaga ke lenganku! Bodo amat harganya! Cepat!"
SISTEM MERESPON CEPAT: MENGAKTIFKAN KEKUATAN FISIK MAKSIMAL PADA LENGAN. BIAYA: 5 JAM WAKTU HIDUP.
Otot lengan Feng langsung mengembang seketika. Urat-uratnya menonjol seperti kawat baja di balik lengan jubahnya. Dia menarik napas dalam-dalam, mengunci perut Buntel kuat-kuat dari belakang. Ini adalah teknik penyelamatan tersedak, tapi versi kekuatan level nol yang sangat brutal.
"Satu... dua... KELUAAAAR!"
Feng menghentakkan lengannya ke belakang dengan tarikan mutlak.
"KYUUUUUK!" Mata Buntel melotot kaget. Perutnya tertekan begitu hebat hingga tubuhnya terangkat dari lantai.
*HOOOEEEK!*
Sebuah benda biru melesat keluar dari tenggorokan Buntel bagaikan peluru meriam lepas landas. Benda itu menghantam altar batu giok putih di seberang ruangan dengan suara dentuman sangat keras.
Ruangan mendadak sunyi senyap. Tornado kecil tak lagi bermunculan.
Semua orang perlahan berdiri, menatap ke arah altar dengan dada berdebar kencang. Long Chen dan para Tetua melangkah maju dengan hati-hati.
Di atas altar itu, tergeletak Pedang Angin Ribut.
Namun, bentuknya sudah tidak karuan. Bilah pedang lurus nan elegan itu kini bengkok melengkung seperti pisau pemotong pisang. Warnanya yang biru kristal memudar kusam, tertutup oleh lendir perak yang sangat kental dan bau. Bau logam yang bercampur dengan bau naga purba. Angin ribut di sekitarnya sudah mati total.
"Hancur..." gumam seorang Tetua elit sambil jatuh terduduk. Air mata mengalir perlahan di pipi keriputnya. "Pusaka leluhur kita... jadi rongsokan berlendir."
Feng melepaskan pelukannya. Buntel terlihat sangat lemas, bersandar di kaki Feng sambil mengelus perutnya yang kini kempes kembali.
"Nah, sudah keluar kan?" Feng menepuk-nepuk tangannya yang kotor ke celananya. "Bentuknya memang agak melengkung dikit, wajar kena asam lambung. Tapi masih tajam kok kalau diasah lagi. Bau lendirnya nanti dicuci pakai sabun mandi juga hilang."
"Kau... kau benar-benar iblis," desis Long Chen. Dia menatap Feng dengan tatapan penuh dendam, tapi kali ini dia tidak berani mendekat karena takut Buntel tiba-tiba bangun dan menggigitnya lagi.
Tak lama kemudian, langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah tangga utama. Tetua Agung Yue berlari masuk dengan napas memburu, diikuti oleh beberapa murid dari panitia pendaftaran turnamen yang membawa gulungan perkamen.
Tetua Agung Yue melihat kondisi ruangan yang hancur berantakan, menatap pedang Long Chen yang patah, lalu menatap pedang bengkok di atas altar. Wanita anggun itu langsung memijat keningnya yang mulai pusing.
"Feng... belum ada sehari kau di Puncak Utama, kau sudah merusak dua bangunan penting dan satu pusaka leluhur," keluh Tetua Agung Yue pasrah.
"Bukan saya, Tetua. Itu murni salah Buntel," Feng menunjuk naganya yang sekarang pura-pura tidur mengorok di lantai. "Dia yang makan, saya yang repot. Oya, urusan itu sudah selesai. Kartu VIP saya sudah jadi belum?"
Ketua Panitia, seorang murid senior yang wajahnya seputih kapas, maju dengan tubuh bergetar hebat. Dia memegang sebuah medali emas VIP dengan kedua tangan, seolah sedang menyerahkan sesajen pada dewa maut yang siap mencabut nyawanya.
"I-ini medali Anda, Tuan Muda Feng..." ucap panitia itu terbata-bata.
Feng mengambil medali itu dengan senyum cerah. "Terima kasih, Mas! Berarti besok pagi saya langsung ke kantin utama kan? Boleh pesan porsi ganda?"
"T-tunggu dulu, Feng," potong Tetua Agung Yue. Wajahnya terlihat sangat serius dan sedikit cemas. Dia mengeluarkan sebuah gulungan pesan spiritual yang bersinar emas dari balik lengan jubahnya.
"Ada apa lagi, Tetua? Jangan bilang saya disuruh bayar ganti rugi pedang bengkok ini. Tolong ya, gigi babi saya sudah habis dipakai bayar gedung tadi. Saya benar-benar bangkrut."
"Ini bukan soal utang uang. Ini pesan langsung dari Patriark," kata Tetua Agung Yue. Dia membuka gulungan itu dan membacakan isinya perlahan. "Sebagai hukuman atas pengrusakan hadiah utama turnamen, Patriark secara sepihak mengubah syarat keikutsertaanmu."
Feng memicingkan mata, merasa ada yang tidak beres. "Syarat apa?"
Long Chen dan para Tetua elit di sana langsung tersenyum sinis. Mereka sepertinya sudah bisa menebak apa isi hukumannya.
"Besok, di babak enam belas besar, kau tidak akan melawan murid sekte biasa," lanjut Tetua Agung Yue, suaranya sedikit bergetar karena ragu. "Kau akan ditempatkan di arena khusus... bertarung melawan Monster Penjaga Arena Tingkat Raja."
Mata Feng melebar maksimal. "Tingkat Raja? Lho, itu kan levelnya di atas Daulat! Ini turnamen bela diri atau tempat potong hewan? Kok lawannya monster?"
"Bukan itu saja," tambah Tetua Agung Yue, menggulung pesan itu dengan raut wajah muram. "Patriark menambahkan satu aturan mutlak untukmu. Kau harus bertarung sendirian, dengan tangan kosong, dan tanpa bantuan Buntel. Jika kau kalah atau menolak..."
Tetua Agung Yue menelan ludah.
"...Buntel akan disita secara paksa oleh sekte untuk dijadikan tunggangan para Tetua, dan kau akan diusir dari sekte tanpa membawa apa-apa."
Feng menatap Buntel yang masih pura-pura tidur dengan mulut berliur di dekat kakinya. Lalu dia menatap medali VIP di tangannya. Bayangan makan daging kerbau langit gratis seumur hidup mulai terasa sangat mahal, tertutup oleh ancaman monster raksasa tingkat raja dan intrik sekte yang sangat menyebalkan.
Feng terdiam cukup lama, membuat suasana kembali menegang. Lalu, dia perlahan menoleh ke arah ketua panitia yang masih gemetar.
"Mas," ucap Feng dengan nada datar yang mengerikan. "Di kantin VIP besok pagi, ada menu daging monster Tingkat Raja tidak? Kalau tidak ada, saya terpaksa bawa bekal sendiri dari arena besok."