Ragnar Aditya van Der Veen—pria berdarah campuran Indonesia–Belanda—memiliki segalanya: karier mapan di Jakarta, wajah tampan, dan masa lalu yang penuh gemerlap. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka dan penyesalan yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebuah kesalahan di masa lalu membuatnya kehilangan arah, hingga akhirnya ia memilih kembali pada jalan yang lebih tenang: hijrah, memperbaiki diri, dan mencari pendamping hidup melalui ta’aruf.
Di Ciwidey yang sejuk dan berselimut kebun teh, ia dipertemukan dengan Yasmin Salsabila—gadis Sunda yang lembut, sederhana, dan menjaga prinsipnya dengan teguh. Yasmin bukan perempuan yang mudah terpesona oleh penampilan atau harta. Baginya, pernikahan bukan sekadar cinta, tapi ibadah panjang yang harus dibangun dengan kejujuran dan keimanan.
Pertemuan mereka dimulai tanpa sentuhan, tanpa janji manis berlebihan—hanya percakapan-percakapan penuh makna yang perlahan mengikat hati. Namun perjalanan ta’aruf mereka tak semulus jalan tol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istikharah di Tengah Badai
Kabut pagi Ciwidey turun lebih tebal dari biasanya. Embun menggantung di pucuk daun teh seperti air mata yang enggan jatuh. Yasmin berdiri di jendela kamarnya setelah salat Subuh, mukenanya masih terlipat di tangan. Matanya sembap, bukan karena kurang tidur—melainkan karena terlalu banyak berpikir.
Semalaman ia bersujud lebih lama.
Meminta petunjuk.
Meminta keteguhan.
Meminta kejelasan.
Di sisi lain kota, Ragnar duduk sendirian di dalam mobilnya yang terparkir di tepi jalan kecil menghadap hamparan kebun teh. Ia tidak berani datang ke rumah Yasmin pagi itu. Ia ingin memberi ruang. Tapi jarak terasa seperti hukuman yang pelan-pelan menggerogoti dadanya.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari pengacaranya:
Pemeriksaan awal dijadwalkan minggu depan. Media mulai mencium kasus ini.
Ragnar mengembuskan napas panjang. Ia tahu, ini bukan lagi sekadar ancaman reputasi. Ini bisa menjadi badai yang menyeret siapa pun yang berada di dekatnya.
Termasuk Yasmin.
________________________________________
Siang harinya, Rafi datang ke rumah Yasmin. Wajahnya serius.
“Aku dengar soal kasus itu,” katanya tanpa basa-basi ketika mereka duduk di teras.
Yasmin mengangguk pelan.
“Kamu masih mau lanjut?”
Pertanyaan itu terasa seperti batu yang dilempar ke dada Yasmin.
“Aku belum tahu,” jawabnya jujur. “Aku sedang istikharah.”
Rafi menghela napas. “Aku tidak pernah sepenuhnya percaya pada orang kota seperti dia. Terlalu rapi. Terlalu sempurna.”
“Dia tidak sempurna,” potong Yasmin lembut. “Dan sekarang aku tahu itu.”
Rafi menatapnya. “Masalahnya bukan sempurna atau tidak. Tapi apakah kamu siap hidup dengan konsekuensi masa lalunya?”
Yasmin terdiam.
Ia membayangkan kemungkinan terburuk: sidang, berita, gunjingan tetangga, keluarga yang malu, pernikahan yang dimulai dengan tekanan sosial.
“Cinta saja tidak cukup, Min,” lanjut Rafi pelan. “Kamu harus realistis.”
Yasmin menunduk. “Ini bukan hanya tentang cinta.”
“Lalu?”
“Ini tentang tanggung jawab. Tentang keberanian mengakui kesalahan. Dan tentang apakah aku mampu berjalan bersamanya jika jalannya berbatu.”
Rafi tidak menjawab lagi.
________________________________________
Di Jakarta, Clara duduk di sebuah kafe dengan laptop terbuka di depannya. Berita kecil tentang kasus lama perusahaan Ragnar mulai muncul di beberapa portal bisnis.
Ia membaca komentar-komentar netizen.
Sebagian menyalahkan manajemen lama.
Sebagian lagi menyebut nama Ragnar secara langsung.
Clara menutup laptopnya perlahan.
Ia tidak menyangka prosesnya akan secepat ini.
Hatinya terasa campur aduk. Ada kepuasan kecil—ya. Tapi juga rasa bersalah yang mulai menggerogoti.
Ia teringat percakapan terakhirnya dengan Yasmin. Tatapan gadis Sunda itu tidak penuh kebencian. Hanya ketenangan.
Dan ketenangan itu justru membuat Clara merasa kecil.
________________________________________
Sore itu, Yasmin akhirnya menghubungi Ragnar.
“Bisakah kita bertemu?” tanyanya singkat.
Ragnar datang tanpa banyak bicara. Wajahnya lebih pucat dari biasanya.
Mereka duduk di saung kecil di tengah kebun teh. Langit berwarna jingga redup.
“Aku sudah istikharah,” kata Yasmin pelan.
Ragnar menahan napas.
“Apa pun keputusanmu, aku terima,” ucapnya.
Yasmin menatap lurus ke matanya.
“Aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena kamu pernah salah.”
Jantung Ragnar berdegup keras.
“Tapi,” lanjut Yasmin, “aku juga tidak akan menutup mata atas kesalahan itu.”
Ragnar mengangguk perlahan.
“Aku ingin kamu menghadapi ini sepenuhnya. Tanpa lari. Tanpa mencari celah. Jika memang harus bertanggung jawab, lakukan dengan jujur. Aku tidak ingin menikah dengan lelaki yang menyembunyikan dosa di balik kata hijrah.”
Kata-kata itu menusuk, tapi jujur.
“Aku akan lakukan,” jawab Ragnar mantap. “Aku sudah lelah lari dari masa lalu.”
Yasmin menarik napas dalam.
“Dan satu lagi.”
Ragnar menunggu.
“Jika kasus ini memburuk… jika kamu harus menjalani proses panjang… aku ingin kita menunda rencana pernikahan.”
Ragnar terdiam beberapa detik.
Bukan karena tidak setuju.
Tapi karena ia sadar—ini berarti Yasmin memilih mendampinginya, bukan meninggalkannya.
“Baik,” katanya pelan. “Aku tidak ingin kamu menikah dalam tekanan.”
Air mata Yasmin jatuh, tapi kali ini bukan karena takut.
Melainkan karena lega.
“Aku tidak tahu apa akhir dari semua ini, Kang,” bisiknya. “Tapi aku ingin keputusan kita lahir dari ketenangan, bukan kepanikan.”
Ragnar menggenggam tangannya—dengan jarak yang tetap terjaga.
“Terima kasih sudah tidak menyerah padaku.”
________________________________________
Beberapa hari kemudian, berita tentang kasus itu semakin meluas. Wartawan mulai menghubungi nomor lama Ragnar. Beberapa kolega lama menjauh.
Media sosial tidak pernah ramah pada orang yang tersandung isu keuangan.
Di Ciwidey, beberapa tetangga mulai berbisik.
“Calon suaminya bermasalah, ya?”
“Kasihan Yasmin…”
Ibunya mendengar sebagian komentar itu, tapi ia memilih diam.
Suatu malam, ibunya mendekati Yasmin.
“Kamu yakin tetap ingin melanjutkan?”
Yasmin tersenyum kecil. “Ibu dulu menikah dengan ayah dalam keadaan bagaimana?”
Ibunya tertawa pelan. “Ayahmu waktu itu hanya guru honorer dengan sepeda tua.”
“Tapi Ibu tetap memilihnya.”
“Karena Ibu melihat tanggung jawab dalam dirinya,” jawab ibunya lembut.
Yasmin mengangguk. “Aku juga sedang melihat itu pada Ragnar.”
Ibunya menggenggam tangan putrinya. “Kalau begitu, kuatkan dirimu.”
________________________________________
Di Jakarta, Clara akhirnya mengirim pesan pada Ragnar.
Kita perlu bicara. Tatap muka.
Ragnar tahu pertemuan itu tidak bisa dihindari.
Ia pergi ke Jakarta keesokan harinya.
Di sebuah ruangan privat restoran, mereka duduk berhadapan untuk pertama kalinya sejak lama.
“Kamu yang membuka kasus itu?” tanya Ragnar langsung.
Clara tidak menyangkal. “Aku hanya menyerahkan dokumen yang memang seharusnya diserahkan.”
“Kamu ingin menghancurkanku?”
Clara menatapnya lama. “Aku ingin kamu berhenti lari dari kesalahanmu.”
Ragnar terdiam.
“Aku sudah berhenti,” jawabnya pelan. “Dan aku siap bertanggung jawab.”
Clara menatap wajahnya—wajah yang kini jauh berbeda dari lelaki ambisius yang dulu ia kenal.
“Apa kamu benar-benar mencintainya?” tanya Clara tiba-tiba.
Ragnar tidak ragu. “Ya.”
Keheningan panjang menggantung.
Untuk pertama kalinya, Clara menyadari—
Ia mungkin telah kehilangan Ragnar bukan karena Yasmin.
Tapi karena ia sendiri tidak pernah memberi ruang bagi Ragnar untuk berubah.
________________________________________
Malam itu, Yasmin kembali berdiri di kebun teh.
Langit cerah. Bintang bertaburan.
Ia tidak tahu bagaimana akhir dari kasus itu.
Ia tidak tahu apakah pernikahannya nanti akan sederhana atau penuh sorotan.
Tapi satu hal ia tahu pasti:
Cinta yang ia pilih bukan cinta yang bebas dari masalah.
Melainkan cinta yang diuji—dan tetap memilih bertahan dengan cara yang benar.
Dan di Jakarta, Clara duduk sendirian, memandangi pesan terakhir Ragnar.
Untuk pertama kalinya, ia mempertimbangkan satu hal:
Mungkin kartu terakhir yang ia pegang… bukan untuk menghancurkan.
Tapi untuk mengakhiri semuanya dengan benar.